
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok.
“Masuk!” ucap kepala sekolah.
“Bapak manggil saya?” tanya Rizal.
Beberapa menit kemudian Mega pun datang ke ruangan itu.
Mereka semua berkumpul di ruangan yang tidak terlalu luas itu.
“Baik, pertama-tama saya ingin meminta penjelasan tentang video yang kamu sebar kemarin,” ucap Bima pada Mega.
“Video? Video apa maksudnya?” tanya Mega.
Bima pun mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang ia dapat dari Candra. Saat suasana hening tiba-tiba terdengar suara getaran dari ponsel.
Mega kaget dan langsung mengangkat telepon itu tanpa Mega tau jika yang menghubungi nomornya adalah Bima.
“Halo?” ucap Mega saat mengangkat telepon.
“Seharusnya kamu lebih pintar lagi, kenapa tidak kamu buang saja nomor itu,” ucap Bima dan suaranya masuk ke dalam telepon yang tengah diangkat oleh Mega.
Seketika Mega terkejut, ia juga terlihat sangat gugup. Rupanya kepala sekolah itu sangat peka dan langsung memandang Mega dengan tatapan amarah.
“Ini sebenarnya ada apa pak? Kenapa dengan anak saya?” tanya Rizal bingung.
__ADS_1
“Bapak bisa tanyakan langsung sama anak Bapak,” ucap Bima.
“Dan sekarang saya minta penjelasan tentang video Mala yang kamu sebar,” sambung Bima.
“Jadi benar kamu yang menyebarkannya Mega?” tanya kepala sekolah.
Mega hanya terdiam, tangannya menggenggam kuat ponsel yang baru saja ia keluarkan dari sakunya tadi sembari tertunduk lesu.
“Itu tidak mungkin Pak. Mega anak saya ini anak baik-baik bahkan semasa sekolah dia tidak pernah membuat masalah,” Rizal membela anak sekaligus muridnya itu.
“Itu hanya di depan Anda, apa anda tau di belakang anda dia seperti apa?” ucap Bima.
“Bahkan saya tahu dia sering ke klub malam bersama teman-temannya,” sambung Bima.
“Siapa kamu? Apa hal mu berbicara buruk tentang anak saya,” Rizal mulai naik pitam wajahnya bahkan merah padam.
“Maksud kamu apa Mega?” tanya Rizal.
“Semua guru memujinya, bahkan Mala bisa dekat dengan Candra dan Azlan. Dan Bapak, bapak selalu membanding-bandingkan aku dengan Mala. Mala, Mala dan Mala terus! Aku muak!” ucap Mega.
“Aku ingin Mala keluar dari sekolah ini makanya aku mencuri Video itu dan menyebarkannya ke semua kontak ku,” sambung Mega.
“Mega kenapa kamu bisa berbuat hal memalukan seperti ini hah?” ucap Rizal.
“Ini semua karena Bapak. Bapak tidak pernah melihat perjuanganku untuk mendapat nilai terbaik. Bahkan di dalam kelas Bapak selalu memuji Mala. Apa Bapak tau perasaanku? Anak Bapak itu sebenarnya Mega atau Mala pak!”
Plak!
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat ke pipi Mega, Kepala sekolah pun terkejut dibuatnya.
“Rizal! Apa yang kamu lakukan!” bentak kepala sekolah.
“Baik, masalah sudah selesai. Oh iya, sepertinya anda harus mengusut masalah ini, anak ini bilang dia mencurinya dan berarti sebelum video ini tersebar ada yang sengaja menyimpannya.”
“Baiklah kalau begitu, tapi apa saya boleh tahu sebenarnya anda tahu dari mana masalah ini?” tanya kepala sekolah.
“Kebetulan keponakan saya sekolah di sini dan satu kelas dengan anak yang bernama Mala dan tetangga saya teman baik Mala,” sahut Bima.
“Keponakan? Siapa?”
“Azlan dan Liona adalah tetangga saya, kalau begitu saya permisi dulu.”
Bima beranjak dari tempat itu dan keluar dari gerbang sekolah. Bima pun masuk ke dalam mobil di susul oleh seseorang yang sedari tadi mengikutinya.
“Hari ini jam tiga sore pimpinan perusahaan Wils group akan berkunjung ke perusahaan kita,” ucap pria di sebelah Bima.
“Wils? Tumben. Kenapa mereka ke perusahaan kita? Apa ini terkait kerja sama?” tanya Bima.
“Benar, mereka bilang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita.”
“Kita harus menyambutnya dengan baik,” sahut Bima.
Mobil Bima melaju menuju ke sebuah gedung pencakar langit yang terletak di pusat kota.
Suasana gedung perkantoran itu cukup ramai, banyak orang-orang berpakaian rapi berlalu lalang di sekitar gedung tersebut.
__ADS_1