
“Gak kok, lu istirahat aja ya Mala,” sahut Lion.
Lion mengambil ponselnya untuk memberitahukan kepada bu Sarah jika Mala sudah sadar, Lion mengirim pesan chat kepada bu Sarah.
“Bu, Mala udah sadar,” tulis Lion di chat.
Beberapa menit kemudian bu Sarah membalas chat dari Lion.
“Syukurlah ibu lega dengarnya. Oh iya penyebar video Mala sudah di ketahui,” balas bu Sarah.
“Siapa bu?”
“Mega, dan sangat disayangkan dia melakukan hal tersebut. Padahal Mega murid yang juga berprestasi.”
“Siapa yang ngasih tahu Bu? Apa ada saksi yang lihat?” balas Lion yang masih tidak percaya.
“Kepala Sekolah bilang ke ibu, jika orang yang dulu pernah berbisnis dengannya memberi tahu kan hal itu dan orang itu adalah om nya Azlan.”
Dengan cepat Lion memberi tahu kan hal itu kepada Azlan dan Candra.
“Penyebar video Mala udah ketemu,” ucap Lion.
“Hah? Siapa?”
“Pelakunya Mega. Bener yang lu bilang Azlan kalau Bima bisa dengan cepat nemuin pelakunya,” ucap Lion.
“Kan sudah gua bilang.”
Tidak lama seseorang membuka pintu ruangan Mala. Saat itu Lion menoleh dan yang datang adalah Wilman.
__ADS_1
“Papa!” pekik Lion.
“Papa gak telat kan?” tanya Wilman.
Wilman datang dengan menenteng sekeranjang buah dan beberapa makanan.
“Halo Om,” sapa Candra.
“Ini teman-teman kamu?” tanya Wilman.
“Iya Pak, mereka teman sekelas Lion,” sahut Lion.
Papa memperhatikan Candra dengan seksama, “kamu anak Baskoro bukan?” tanya Wilman.
“Loh kok Om tau?” tanya Candra bingung.
“Berarti kamu Candra. Astaga aku sudah sebesar ini sekarang. Kamu masih ingat sama om gak? Dulu kamu suka main bareng sama anak om,” ucap Wilman.
“Om Wil, ini Om Wil?” ucap Candra.
“Nah itu ingat,” sahut Wilman.
“Lah berarti lu si cebol yang suka jitakin kepala gua dulu dong berarti!” ucap Candra.
“Hah? Elu siapa?” ucap Lion.
“Gua Incan! Panggilan lu ke gua!”
“Hahaha, lu Incan pantesan gua rada familiar sama sikap random lu,” ucap Lion tertawa geli.
__ADS_1
“Oh iya, siapa yang sakit?” tanya Wilman.
“Ini Mala Pa, temen sebangku Lion,” sahut Lion.
“Halo Om,” ucap Mala dengan wajah yang masih pucat.
Sementara itu Lion dan Candra masih ribut dengan pertemuan aneh mereka itu, mereka bahkan membahas masa-masa yang mereka lalui waktu masih kecil dulu.
“Kalau yang ini siapa?” tanya Wilman memecah suasana hati Azlan yang canggung itu.
“Ini Azlan Pa, temen sebangkunya si Incan,” sahut Lion.
“Eh lu kalo dikelas jangan pernah manggil gua begitu ya, gua coret lu dari daftar pertemanan gua!”
“Iya iya! Berisik.”
“Azlan? Kamu ....” ucapan Wilman terhenti.
“Kenapa Pa?” tanya Lion.
“Gak, gak apa-apa,” sahut papa.
‘Tumben papa aneh kaya gini, ada apa sih?’ batin Lion.
Wilman pun duduk di samping Mala, belum senpat ia bertanya kepada Mala perihal penyakitnya, matanya langsung tertuju pada leher Mala.
Bekas yang membiru melingkar di leher Mala, dari situ Wilman langsung tersentak dan menatap Mala dengan penuh rasa empati.
“Kuat! Kamu harus kuat! Dunia ini memang kejam tapi kalau kamu bisa melewatinya kamu pasti akan memetik hasilnya,” ucap Wilman.
__ADS_1
Seketika Mala menitikkan air matanya, untuk kali pertama ada orang yang berbicara seperti itu kepadanya.
“Lion memang mirip sekali dengan Om,” ucap Mala seraya mengusap air mata yang menetes di pipinya.