
Beberapa kali terdengar ponsel Lion berdering dan hal itu cukup mengganggunya.
Dan panggilan telepon tersebut dari satu orang yaitu Bima, cukup banyak jumlah panggilan yang Lion lewatkan. Bahkan saking kesalnya Lion mengubah mode ponselnya menjadi mode diam.
Di tempat lain Bima yang terus menerus mencoba menghubungi Lion namun tak pernah di angkat itu merasa frustrasi.
Wajahnya terlihat sangat kesal, atmosfer di ruangan Bima pun seperti penuh dengan aura gelap akibat dirinya yang begitu kesal.
Bahkan sang sekretaris yang tadinya ingin masuk ke ruangan Bima pun mengurungkan niatnya dan kembali ke mejanya.
‘Kenapa bisa Liona mengabaikan teleponku!’ batin Bima kesal.
‘Apa jangan-jangan Liona lagi asyik sama Azlan?’ gumamnya.
Bima menggaruk-garuk kepalanya dengan kedua tangannya, hal itu di saksikan oleh sekretarisnya yang saat itu mencoba masuk ke ruangan Bima lagi untuk melaporkan hasil pertemuan kemarin.
‘Bima kenapa sih? Apa dia lagi banyak masalah?’ batinnya.
“Mario! Ngapain kamu di depan pintu?” ucap Bima yang mengetahui jika sekretarisnya itu sedari tadi berdiri di depan pintu.
“Anu Bos, saya ingin melaporkan hasil pertemuan saya dengan DG group,” ucapnya.
“Ya sudah, apa yang mereka katakan?” tanya Bima.
“Begini Bos. Mereka mengklaim bahwa Bos lah yang ingin mempersulit mereka, mereka tidak terima jika tanah itu jatuh ke tangan kita padahal jelas-jelas dalam surat itu tertulis resmi milik perusahaan kita. Tapi anehnya mereka memberikan bukti konkret bahwa tanah itu atas nama DG group,” tutur Mario.
“Lalu?”
“Saya tidak percaya begitu saja Bos, saya menghubungi Jatmiko untuk memastikan jika mereka berdua benar-benar bertransaksi saat itu. Namun Jatmiko dengan tegas tidak pernah bertransaksi dalam bentuk apa pun dengan DG group,” ucapnya sembari memberikan sebuah map berwarna biru itu.
Bima pun membuka salinan yang di berkian oleh Mario, terlihat Bima tersenyum seakan dirinya mendapatkan kelemahan dari lawannya.
“Atur jadwalku, besok kita akan datang ke DG group,” ucap Bima seraya meletakkan map itu di meja setelan membacanya.
“Dan satu lagi, bisa kamu hubungi Jatmiko, dan beritahu dia aku mengajaknya makan malam,” ucap Bima.
“Baik Bos,” sahut Mario.
Mario pun melangkah pergi keluar dari ruangan Bima.
__ADS_1
Bima kembali mengambil ponselnya dan mengirim chat ke nomor Lion.
“Apa kamu masih marah?”
“Apa yang bisa aku lakukan biar kamu maafin aku?” tulis Bima dalam chat.
Terlihat akun Lion sedang online dan chatnya pun di baca oleh Lion, cukup lama Bima memandangi layar ponselnya itu namun tidak ada balasan dari Lion sama sekali, matanya sampai merah karena terus menghidupkan layar ponselnya.
Beberapa detik sekali Bima bahkan membuka ponselnya berharap Lion membalas chatnya.
Beberapa jam berlalu, tiba-tiba terdengar suara dentingan dari ponsel Bima.
Dengan secepat kilat Bima membuka ponselnya dan benar saja orang ia tunggu akhirnya membalas chatnya.
“Sorry gua lagi di rumah sakit jenguk Mala. Lu berisik banget nelponin gua mulu.”
“Gua udah maafin lu, puas kan,” balas Lion dalam pesan.
Saat chatnya di balas oleh Lion, Bima bahkan membayangkan bagaimana cara Lion saat marah dan mengomel kepadanya hingga membuatnya tersenyum.
‘Bahkan saat marah pun kamu sangat lucu,’ gumam Bima sembari menatap balasan chat dari Lion itu.
“Halo Bima, lama gak ketemu,” ucap seorang wanita berwajah blasteran dengan rambut panjang dan warna rambut blondenya.
Wanita itu terlihat sangat elegan serta berkelas, kulitnya putih bersih dengan bibir tipis merah mudanya.
“Viola? Kapan kamu datang?” ucap Bima.
“Kemarin, aku gak sempat hubungi kamu soalnya aku ada kerjaan mendadak,” sahutnya seraya duduk dengan anggun di sofa.
“Seharusnya kamu ketuk pintu sebelum masuk,” ucap Bima.
“Itu tidak terlalu penting, karena sebentar lagi kita akan bertunangan,” ucap Viola.
“Siapa bilang, aku bahkan tidak pernah berniat melamar kamu,” sahut Bima sambil menatap layar monitor yang ada di mejanya.
“Terserah, yang pasti kamu dan aku akan bertunangan. Kamu ingatkan jasa papa aku untuk perusahaan kamu jangan sampai kamu lupa dengan hal itu Bima.”
“So, kamu sebaiknya bersiap-siap,” ucap Viola sambil meraba dada Bima dari belakang.
__ADS_1
Seketika Bima berdiri, ia membenarkan jas serta dasinya lalu berjalan menunu pintu.
“Kamu mau kemana sih?” ucap Viola.
“Kalau kamu tidak mau keluar dari ruanganku, biar aku saja yang keluar.”
Bima berjalan dengan tatapan dinginnya menuju ruangan Mario.
“Loh Bos, ada apa?” tanya Mario yang melihat Bima masuk dan langsung berbaring di sofa yang ada di ruangannya.
“Viola ada di ruanganku,” ucap Bima.
“Viola? Putri dari pemilik Mall itu?” ucap Mario.
“Ya.”
“Untuk apa dia kemari? Bukannya perusahaan kita sudah tidak ada usuran lagi dengan Johan,” ucap Mario.
“Dia bilang sebentar lagi kami akan bertunangan, dia udah gak waras sepertinya,” ucap Bima.
“Bos, apa urusanmu dengan Johan belum selesai?” tanya Mario.
“Sahamnya masih 25 persen di perusahaan ini. aku ingin mengeluar Johan dari daftar pemilik saham tapi itu tidak mudah. Kita butuh banyak waktu dan persiapan untuk itu,” ucap Bima sambil meletakkan lengannya di atas jidatnya.
“Bos tenang saja, saya akan membantu dengan sekuat tenaga. Saya juga setuju jika Johan di keluarkan dari daftar pemilik saham karena saya memiliki firasat buruk jika Bos sampai menikah dengan Viola,” sahut Mario.
“Kamu memang temanku yang terbaik,” sahut Bima.
Bima masih berbaring di sofa itu, sedangkan Mario sibuk dengan pekerjaan hingga sore hari.
Bima terbangun karena ponselnya berdering, dan itu panggilan telepon dari Lion.
Dengan wajah semringah Bima mengangkat telepon tersebut.
“Halo Liona,” ucap Bima dengan lembut.
Rupanya hal itu membuat Mario yang saat itu sibuk pun terhenti dan terperangah mendengar sikap Bima yang lembut terhadap seseorang.
‘Tumben si Bima bisa selembut itu. Liona? Apa dia cewek Bima?’ batin Mario.
__ADS_1