
“Nanti seragam kamu aku balikin ya, biar aku cuci,” ucap Mala.
“Udah buat lu aja, lagian itu masih baru kok baru satu hari gua pakai,” ucap Lion.
“Gak Lion aku gak bisa menerimanya aku tetap harus balikin,” ucap Mala yang bersikeras.
“Ya udah, lu balikinnya kapan-kapan aja gak apa-apa,” sahut Lion.
Denting bel sekolah berbunyi, tugas kelompok yang mereka kerjakan pun telah selesai dan dikumpulkan.
“Semuanya sudah dikumpulkan, lusa akan kita bahas ber sama-sama,” ucap guru itu.
Jam istirahat pun tiba, Lion mengajak Mala untuk makan di kantin.
“Mala temenin gua ke kantin dong, lu kan hari ini gak bawa bekal,” pinta Lion.
“Gua ikut,” Azlan tiba-tiba menghampiri Lion dan Mala.
“Gua juga deh ikutan, bosan juga makan sendirian,” ucap Candra.
“Nah ya udah kita ke kantin rame-rame, Ayo Mala,” ucap Lion seraya menarik tangan Mala.
Mereka berempat pun berjalan menuju kantin, mereka melewati lorong demi lorong sekolah dan turun ke lantai dasar.
Sepanjang mereka berjalan siswa lain tak henti-hentinya menyapa Candra dan juga Azlan.
“Lu berdua artis ya? Kok banyak yang pada nyapa?” tanya Lion.
“Kita kan populer di sekolah ini ya gak,” ucap Candra sambil merangkul pundak Azlan.
Saat hampir sampai di kantin tiba-tiba segerombolan siswi menghampiri.
“Wah wah ... Mala sekarang berani keluar kandang biasanya dekem di kelas terus,” ucap siswi berperawakan tinggi menjulang itu.
“Iya nih Mala rupanya ada duit,” sahut yang lain.
“Eh Mala, pulang sekolah samperin kita ya jangan lupa,” ucapnya lagi dan pergi meninggalkan Lion dan yang lainnya.
“Siapa La? Temen Lu?” tanya Lion.
“I-iya teman waktu SMP dulu satu kelas,” sahut Mala.
Lion mulai melihat gerak-gerik aneh Mala yang menunduk saat melihat tiga orang siswi itu.
“Lu ada masalah?” tanya Lion.
“E-enggak mereka baik kok,” sahut Mala.
Lion pun tidak terlalu mempermasalahkan hal itu ia berpikir memang sifat Mala saya yang pemalu dan selalu menunduk jika bertemu orang lain.
Sesampainya di kantin Lion memesan makanan begitu juga dengan Azlan dan juga Candra, sedangkan Mala hanya duduk diam sembari menunduk.
Dari kejauhan tampilan Mala saat itu cukup berbeda dari siswi kebanyakan. Roknya terlihat warnanya sudah sedikit pudar dengan kerudung yang sedikit terlihat menguning.
‘Apa Mala gak punya uang buat beli makan? Tapi kenapa dia gak bilang sama gua?’ batin Lion.
“Eh Azlan, lu kan sekelas ama Mala, nah biasanya dia kalau istirahat ngapain aja?” tanya Lion.
“Setahu gua ya di kelas, gak pernah beranjak dari tempat duduknya,” sahut Azlan.
“Lu gak mau nanya gua?” ucap Candra sambil menunjuk dirinya.
__ADS_1
“Ogah gua, lu aja gak tahu gua murid baru apa lagi masalah si Mala,” sahut Lion.
“Eh sini bagi gua duit lima ribu!” pinta Lion pada Azlan dan Candra.
“Buat apaan? Lu gak bawa duit?”
“Nih,” tiba-tiba Azlan memberikan uang sepuluh ribu kepada Lion.
“Nah, Azlan lu ambil dah tu uang lima ribu nya ke Candra ya,” ucap Lion.
Lion pun mengeluarkan uang yang ada di sakunya sebesar lima ribu dan memesan sepiring nasi goreng dan juga es teh manis.
Mereka semua pun duduk di tempat yang sudah di jaga sebelumnya oleh Mala agar tidak di duduki orang lain.
“Mala, nih makan si ibunya bilang gak ada kembalian ya udah gua pesan ini, dan gak mungkin gua makan ini yang ada perut gua meledak. Jadi ini buat lu aja ya,” ucap Lion.
Azlan dan Candra pun tersenyum melihat sikap Lion yang tidak mereka duga.
“Ini buat aku?” tanya Mala.
“Iya lah, gak mungkin buat mereka. Tuh lihat piring mereka aja penuh gitu mana bisa makan ini. Jadi lu makan aja,” ucap Lion.
“Ya udah deh, makasih ya Lion,” ucap Mala.
“Udah jangan kebanyakan Terima kasih.”
Mereka pun menikmati kamanan yang mereka pesan, saat makan beberapa siswa memperhatikan mereka berempat dan mempertanyakan siapa yang bersama Azlan dan juga Candra.
“Eh siapa tuh yang sama Azlan,” ucap siswi yang duduknya cukup jauh namun ucapan itu masih bisa di dengar oleh mereka.
“Yang mana?”
“Itu yang gak pakai baju seragam,” ucap yang lain.
“Eh itu bukannya si cupu? Ngapain ikutan nimbrung sama si Azlan dan Candra.”
Lion pun menghela nafas beberapa kali karena kesal dengan sebutan mereka kepada Mala.
“Udah Mala jangan di dengerin mulut-mulut netizen,” ucap Candra.
tiba-tiba terdengar lagi seorang siswi menyebut rumor tentang Mala.
“Eh kalian ingat kan tentang masalah si cupu waktu pertama masuk SMA ini?”
“Masalah apaan?”
“Masa gak tahu, dia tampilannya begitu buat alibi doang. Nyatanya di luar sekolah dia liat banget.”
Mendengar hal itu Lion menjadi emosi, dan dengan sengaja menjatuhkan se mangkuk mie ayam yang baru setengah ia makan.
Prang!
Seketika semua pandangan memilih kepada Lion.
“Yah tangan gua kepleset, untung ni mangkok jatuhnya kebawah gak terbang kesamping! Mana enak lagi pedes-pedesnya sepedas mulut tetangga julid!” ucap Lion dengan nada cukup nyaring.
Seketika beberapa siswi yang saat itu duduk di samping bangku Lion itu pun terdiam dan memilih pergi dari kantin itu.
Tatapan tajam Lion mengiringi langkah para siswi itu, ia sangat kesal namun tidak bisa berbuat apa pun.
“Lion kamu makan punya aku aja ya,” ucap Mala.
__ADS_1
“Udah, gua lagi pengen banget mie ayam. Gua pesan lagi aja.”
Lion pun berjalan menuju dagangan mie ayam yang ada di kantin itu.
“Pak maaf ya, saya numpahin mie ayam ke lantai. Saya pesan lagi ya satu porsi,” ucap Lion sambil memegangi mangkuk yang kosong.
“Oalah, gak apa-apa nak nanti ada yang bersihkan kok,” sahutnya.
Lion pun kembali dan memakan makanan yang ia pesan, setelahnya mereka pun kembali ke dalam kelas.
“Ya ampun! Ini tas kamu kenapa Mala?” ucap Lion terkejut melihat tas yang ia belikan untuk Mala robek dengan banyak sayatan.
Seketika Mala menitikkan air matanya yang sedari tadi ia tahan.
“Gila ya memang! Siapa yang rusakin tas Mala?” teriak Lion dengan nada cukup nyaring dan membuat seisi kelas terdiam.
Seisi kelas hening seketika dan tidak ada yang melihat atau pun mengetahui siapa pelakunya.
Hingga seorang guru memasuki kelas dan bingung melihat Mala yang menangis tersedu.
“Loh ada apa ini? Apa ada yang berkelahi?” tanya pria berbadan tinggi dan mengenakan peci hitam itu.
“Gak Pak, tapi ada yang sengaja rusakin tas Mala,” ucap Candra.
Guru itu pun menghampiri Mala dan melihat kondisi tasnya yang sudah robek serta talinya yang seakan di gunting.
“Siapa dari kalian yang melihat orang yang melakukan ini?” tanya guru itu.
“Tadi saya lihat Sasa yang terakhir kali duduk di bangku Mala pak,” ucap seorang murid.
“Eh Yoga! Kamu jangan asal nuduh ya!” pekik Sasa.
“Lah, aku gak nuduh aku cuma bilang kamu yang terakhir kali duduk di bangku Mala,” sahut Yoga
“Betul itu Sasa?” tanya pak guru.
“I-iya Pak, tapi saya kan cuma duduk!” ucap Sasa membela diri.
“Ngapain lu duduk di bangku Mala? Bukannya kelompok lu ada duduk di depan lu?” tanya Lion.
“Y-ya aku pengen aja, memang kenapa? Salah?” ucap Sasa berdalih.
“Terus ini apaan?”
Lion menemukan sebuah gunting kecil di bawah kursi Mala gagangnya berwarna merah muda dan bertuliskan nama Sasa di atas gagangnya.
“Sasa kami ikut Bapak ke kantor sekarang! Dan Mala kamu ikut Bapak juga,” pinta pak guru itu.
Sasa dan juga Mala pun dibawa ke ruang guru, di sana Sasa di tanyakan kenapa melakukan hal tidak terpuji itu.
“Sasa kamu sudah memiliki banyak catatan melanggar peraturan, sekarang kamu merusak barang milik teman sekelasmu. Kenapa kamu melakukan ini?”
“I-itu Mala mengambil tas saya pak. Itu tas saya kemarin dia saya ajak ke rumah dan tas saya hilang,” ucap Sasa berdalih.
“Enggak aku bahkan gak tahu rumah kamu Sa,” ucap Mala.
“Bohong, jelas-jelas kemarin kamu datang ke rumahku!” pekik Sasa.
“Sasa kamu kok gitu?” ucap Mala sembari menangis.
“Jadi benar Mala, tas itu milik Sasa?”
__ADS_1
“Enggak Pak, tas ini milik saya,” ucap Mala.
“Bohong! Pak Mala kan miskin dan tas ini branded dan mahal mana mampu Mala beli tas ini!”