
Liona tengah sibuk melihat daftar nama yang ada di papan pengumuman, wajah seriusnya itu berubah menjadi semringah ketika melihat namanya berada di daftar lima besar siswa dengan nilai terbaik.
Liona langsung girang dan berloncat-loncat karena dia bisa lulus dengan nilai yang memuaskan, begitu pula dengan Chandra dan juga Azlan.
Mereka bertiga pun mendatangi Mala dan mengucapkan selamat kepadanya karena telah menduduki peringkat pertama.
“Mala lu memang hebat, gue sebagai teman lu bangga rasanya,” ucap Liona.
“Nah sekarang kita mau gimana?” tanya Candra.
“Gimana apanya?”
“Ya kedepannya, kalau gue sih mau ikut kemana pun My princess Mala pergi,” ucap Chandra.
“Gue mau kuliah dan belajar bisnis,” sahut Azlan.
“Nah kalu elu gimana?” tanya Candra pada Liona.
“Gue bakalan ikut Daren ke luar negeri,” sahut Liona.
Seketika mereka semua terdiam, mereka mengira jika Liona akan tetap berada di Indonesia dan mereka akan tetap bersama.
Namun rupanya Lion memiliki rencana lain yang mau tidak mau harus mereka terima.
“Gue akan tetap menunggu lu, dan kalau pun lu gak balik ke sini gue bakalan memuin lu suatu saat nanti,” ucap Azlan.
“Oh ya, kalau gitu kalau lu bisa nemuin gue, gue bakalan nikah sama lu,” sahut Lion sambil tertawa.
“Oke gue pegang janji lu,” sahut Azlan.
“Lalu aku gimana? My princess Mala, mau kah kamu bersama pangeranmu ini?” ucap Candra.
Mala hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu, sementara itu Chandra meloncat kegirangan.
Di saat yang sama, terdengar suara riuh dari lapangan sekolah, banyak murid berkerumun di tempat itu.
“Ada apaan sih?” tanya Chandra sambil melihat ke arah lapangan.
Saat itu terlihat beberapa orang tengah berjalan dan di depan mereka ada seorang pria mengenakan stelan jas, dia berjalan dengan tegap.
Perlahan orang-orang itu berjalan ke arah Mala.
“Mala lu kenapa?” tanya Lion yang melihat Mala seakan bersembunyi di belakangnya.
“Kalian siapa?” tanya Lion.
“Nona Nirmala, kami ke sini untuk menjemput anda,” ucap pria itu.
“Gak! Aku gak mau!” ucap Mala.
Dengan cepat Lion, Azlan dan juga Chandra membuat benteng pertahanan untuk melindungi Mala.
“Kalian mau ngapain? Jangan coba berani menyentuh Mala!” bentak Lion.
“Begini saja, kalian juga ikut dengan kami. Kami hanya menjalankan tugas untuk menjemput Nona Nirmala dan membawanya pulang,” ucapnya.
“Kami mohon Nona Nirmala harus cepat pulang, ini perintah dari Oma anda,” pintanya lagi.
“Oma? Apa Oma baik-baik saja?” ucap Mala.
__ADS_1
“Itu sebabnya kami ke sini. Nona juga bisa mengajak teman-teman Nona,” pintanya.
Akhirnya Mala pun mau dan mengajak Lion serta yang lainnya untuk ikut bersamanya.
Dengan menaiki mobil mewah mereka semua di antar ke sebuah rumah besar dan sangat luas.
“Wah rumahnya lebih gede dari rumah gue,” ucap Candra.
“Mala, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Lion.
Mala hanya terdiam menunduk dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Hingga mobil itu sampai dan mereka semua keluar mobil.
Mala dan yang lainnya di tuntun ke sebuah kamar dengan pintu yang cukup besar, di atas kasur terlihat seorang wanita paruh baya berbaring dengan selang infus di tangannya.
“Oma? Oma kenapa?” ucap Mala.
“Nirmala, kamu pulang sayang,” ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
“Oma sakit apa?” tanya Mala.
“Oma baik-baik saja, lama sekali oma tidak melihat cucu oma. Kamu kenapa tidak pulang, padahal oma sudah menyuruh Lukman untuk menjemputmu,” ucapnya.
“Papa tidak pernah mencari Mala Oma, Papa tidak ingin Mala berada di rumah ini,” ucap Mala menangis tersedu.
“Kurang ajar, pantas saja dia selalu menutup nutupi keberadaan kamu dan selalu mengalihkan pembicaraan jika aku membahas tentang kamu. Menantu tidak tahu diuntung!” ucapnya geram.
“Untung ada yang melihat kamu dan melaporkannya kepada Oma. Kalau saja oma todak pulang ke indonesia Oma tidak akan tahu kamu di perlakukan buruk oleh papa tiri kamu itu,” sambungnya.
“Papa yang mengantar Mala ke sana, dan menitipkan Mala sama Pak Wisnu,” sahut Mala.
“Wisnu? Wisnu si tukang kebun?”
“Kalian teman cucu saya?”
“Iya Oma, saya Liona, ini Azlan dan ini-”
“Saya Chandra Oma, pangerangnya Princess Mala,” sahut Chandra yang langsung memotong ucapan Lion.
“Ppppthhh,” Lion menahan tawanya.
“Bahkan Oma gak tau kalau cucu Oma ini punya pacar,” sahutnya.
“Bu-bukan begitu Oma.”
Dengan cepat Candra menghampiri Mala dan merangkul bahunya di hadapan wanita paruh baya itu.
“Oma tenang aja, saya berjanji akan melindungi Mala dengan segenap jiwa raga dan akan mencintai Mala dengan setulus hati saya. Saya tidak akan membiarkan orang lain menyakitinya,” ucap Candra.
Wanita itu hanya melempar senyum kepada Chandra yang berusaha merangkul bahu Mala.
“Syukurlah, kamu punya teman-teman yang baik, Oma sangat khawatir sama kamu Nirmala. Untung saja Oma cepat pulang ke sini kalau tidak mungkin Oma tidak bisa bertemu cucu Oma ini,” ucapnya.
“Oma jangan bilang begitu,” sahut Mala menggenggam erat tangan wanita tersebut.
Tiba-tiba seorang pria mengenakan jaket kulit berwarna hitam masuk ke dalam kamar tersebut.
“Kata Firman Ibu memanggil saya?” ucapnya mendekat ke ranjang tersebut.
__ADS_1
“Nirmala, kamu ajaklah teman-teman kamu untuk bersantai di kebun belakang. Kamu ingat pohon jeruk yang pernah kamu tanam saat kecil dulu, sekarang sedang berbuah lebat,” ucapnya.
Chandra yang paham dengan situasi langsung sigap mengajak Mala keluar dari kamar tersebut.
“Wah ayo kita ke sana sekarang, aku mau merasakan buah yang ditanam dari tangan cantik my princess,” ucapnya sambil menarik Mala.
Chandra juga memberi kode kepada Azlan dan juga Lion untuk ikut menarik Mala.
“Ayo Mala, katanya kalau buah yang langsung di petik dari pohon itu enak banget, apa lagi lu yang tanam,” ucap Liona yang juga menarik tangan Mala.
“Kami permisi dulu Oma,” ucap Azlan dengan sedikit membungkuk.
Saat mereka semua keluar dan pintu itu di tutup wanita itu mulai bangkit dari kasurnya.
“Bawa menantu tidak tahu diri itu ke hadapanku! Berani-beraninya dia mau menyingkirkan cucu ku,” pintanya.
“Baik Bu Marta,” sahut pria itu.
Beberapa menit kemudian seorang wanita mengenakan dress putih masuk ke dalam dan langsung menghampiri wanita itu.
“Marta kamu seharusnya tidak perlu berpura-pura seperti ini,” ucap wanita itu.
“Mau bagaimana lagi, aku takut cucuku itu akan pergi lagi, aku mengira dia kabur dari rumah ternyata tidak.”
“Aku tidak tahu kalau dia cucu mu, kalau dasa aku tahu aku sudah menghubungi kamu sejak awal,” ucapnya sambil melepas jarum infus yang masih terbenam di lengan Marta.
“Maksud kamu?”
“Anak perempuan yang tadi adalah keponakanku,” sahut Anggi tersenyum.
“Jadi maksud kamu anak perempuan tadi anaknya Wilman?” ucap Marta terkejut.
Anggi pun menganggukan kepalanya, “Untung saja Liona tidak melihatku, kalau dia melihatku aku akan lebih bingung untuk menjelaskannya,” sahut Anggi.
“Ya ... mereka masih muda, belum terlalu mengerti masakah politik dan bisnis seperti ini,” sahutnya.
“Baiklah, kamu bisa mulai hal ini beberapa bulan lagi. Sebentar saja sudah terlihat hasilnya kulitmu akan semakin cerah dan terlihat fresh,” ucap Anggi.
“Ibu Marta tidak sakit?” tanya pria yang sedari tadi berdiri tanpa diajak bicara sedikit pun itu.
“Ini cuma infus vitamin untuk kulit, kamu mau?” tanya Anggi.
“Ah ... tapi kamu udah ganteng gak perlu infus vitamin. Malahan hidup aku yang butuh vitamin, kamu mau jadi vitamin aku?” goda Anggi.
Marta hanya tertawa melihat Anggi menggoda pria tinggi berbadan tegap itu.
“Kamu ini jangan terus-terusan menggodanya, kalau dia sungguhan jatuh cinta sama kamu bagaimana,” ucap Marta.
“Aku ini sudah tua bagaimana bisa dia jatuh hati sama aku, masa iya aku sama berondong,” ucap Anggi tertawa.
Pria itu hanya tersenyum sembari menunduk, “kalau begitu baguskan yang muda ini bisa jadi vitamin awet muda untuk anda,” sahutnya.
“Nah apa aku bilang,” ucap Marta.
“Ya sudah kalau begitu aku harus pergi, aku takut Liona melihatku di sini,” ucap Anggi.
“Kalau begitu biar saya antar,” ucap pria itu yang mengikuti Anggi dari belakang.
“Jay, jangan lupakan tugasmu,” ucap Marta.
__ADS_1
“Baik Bu Marta,” sahutnya.
‘Hari ini aku sudah melihat beberapa orang yang lagi jatuh cinta, jadi rindu masa mudaku,’ Marta bermonolog sambil menatap pigura berukuran besar yang terpajang di dinding kamarnya.