
Ponsel Lion bergetar, chat dari Bima masuk.
“Aku sudah menyelesaikan tugasku. Jadi malam ini aku akan menagih janjiku,” tulus Bima dalam pesan.
“Iya, kamu tentuin aja tempatnya,” balas Lion.
Di tempat lain, Bima tersenyum simpul di depan meja kerjanya karena balasan chat dari Lion.
Sekretaris yang saat itu berada di depannya itu pun merasa heran karena tidak biasanya Bima tersenyum.
“Anda tersenyum? Ini kejadian yang langka apa boleh saya abadikan?” ucapnya sembari mengeluarkan ponselnya.
Seketika lirikan mata elang itu menusuk tajam ke arah sekretarisnya tersebut.
“Oke lupain aja, saya cuma bercanda,” ucapnya yang paham dengan tatapan tajam Bima.
“Oh iya hari ini ada pertemuan dengan salah satu penerus DG group untuk membahas masalah lahan mereka yang masih bersengketa dengan kita,” ucapnya sambil tangannya menggulir catatan scedule yang ada di ponselnya.
“Batalkan aja. Malam ini aku sibuk.”
“Tapi bukannya kita sudah sepakat akan bertemu?”
“Kalau begitu aku mengutusmu untuk menghadirinya, aku akan bayar kamu dia kali lipat,” sahut Bima.
“Baik kalau begitu.”
“Tapi kamu harus berhati-hati. Mereka akan melakukan cara licik untuk mendapatkan itu dan kamu harus lebih pintar dari mereka,” pinta Bima.
“Masalah itu tenang saja, saya bisa menanganinya,” sahutnya.
“Ya sudah kembali ke ruanganmu.”
***
__ADS_1
Sore hari saat pulang dari rumah sakit, Lion di kejutkan oleh beberapa kotak misterius berwarna merah muda yang di letakkan di atas kasurnya.
‘Apaan nih? Apa ini dari papa?’ batin Lion.
Karena penasaran Lion pun membuka kotak itu, di dalamnya terdapat sepasang sepatu hak tinggi berwarna nude dan sebuah dress.
Midi dress berwarna putih dengan kerah tidak terlalu rendah, Lion cukup menyukai dress tersebut karena menurutnya dress itu nyaman di gunakan.
“Suka?” ucap Angginyang menyandarkan bahunya di ambang pintu sambil tersenyum ke arah Lion.
“Suka banget, dari papa ya?” ucap Lion.
“Salah, ini dari Bima,” sahut Anggi.
“Hah? Bima?”
“Kalian kayaknya deket banget ya sampai-sampai Bima tahu selera kamu,” ucap tante Anggi.
“Gak lah tan, Lion cuma minta tolong dia kemarin dan Lion janjiin kalau dia mau nolongin bakalan Lion traktir makan,” ucap Lion.
“Tante bukan gitu! Tante salah paham!”
“Iya iya, tante juga pernah muda jadi gak apa,” sahut Anggi sambil tertawa.
Lion mendengus kesal, ia tidak ingin tantenya itu berpikiran yang bukan-bukan tentang dirinya.
Sudah pukul tujuh, Lion pun sudah bersiap memakai dress dan juga sepatu yang di berikan oleh Bima.
Bima membukakan pintu untuk Lion dan berpamitan dengan Anggi.
“Tante kami berangkat ya,” ucap Bima.
“Iya, kalian hati-hati. Pulangnya jangan terlalu malam ya,” pinta Anggi.
__ADS_1
Bima pun tersenyum sambil menganggukan kepalanya lalu masuk ke dalam mobilnya.
“Ah ... beruntung Lion dapat cowok tajir dan ganteng. Coba aja aku masih SMA mungkin aku gaet itu anak,” ucap Anggi sambil tertawa geli.
Saat di dalam mobil, Lion protes dengan apa yang di lakukan Bima untuknya.
“Bima, kenapa sih lu harus repot-repot kasih gua baju ini. Gua kan juga punya banyak baju,” ucap Lion.
“Menurutku kamu cantik jika pakai baju itu jadi aku putuskan untuk beli dan kasih ke kamu,” sahut Bima.
“Tapi Bima, kan gua yang traktir lu. Kok elu malah kaya gini.”
“Apa kamu nggak suka? Ya sudah kalau begitu aku gak akan kasih lagi,” sahut Bima.
“Bukan gitu maksud gua! Gua gak suka aja di kasih-kasih baju, sepatu cuma buat makan doang. seakan-akan lu kaya gak suka dengan apa yang gua pakai dan gua harus pakai sesuai apa yang lu suka,” Lion menatap Bima sambil menyanyikan alisnya.
“Maaf aku gak bermaksud begitu,” sahut Bima.
Lion meredakan emosinya, “Udahlah lupain aja apa yang gua ucapin barusan.”
Sepanjang jalan mereka saling terdiam, suasana yang harusnya penuh obrolan hangat kini tiba-tiba menjadi dingin.
Hingga sampai di sebuah restoran pun mereka saling diam, Bima hanya bisa menatap Lion dalam diam, ia tidak ingin memulai pembicaraan karena takut akan membuat Lion menjadi marah kepadanya.
Makanan yang di pesan pun habis mereka makan, Lion meminta bill pada pelayan dan membayarnya.
Mereka pun pulang ke rumah, saat sampai didepan pagar rumah Lion Bima mulai berani berbicara.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti apa yang kamu pikirkan. Aku pikir wanita akan senang jika di beri barang yang mereka suka. Makanya aku memberikannya,” tutur Bima.
“Iya, lupain aja. Ya udah gua masuk.”
Lion langsung masuk ke dalam rumah, bahkan Lion tidak menyapa Anggi yang saat itu berdiri di luar untuk menyambutnya. Lion masuk begitu saja dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
“Lion kenapa? Kalian berantem?” tanya Anggi.