
‘Kok Mala belum datang ya? Apa dia sakit?’ Lion bermonolog.
Hingga guru memasuki ruangan dan mulai mengabsen murid satu persatu.
“Antonio Petir?” ucap guru itu.
“Hadir bu!”
“Bella Santi?”
“Hadir bu!”
Hingga absen itu sampai pada nama Mala.
“Nirmala Galih? Nirmala?”
“Mala Gak hadir Bu,” sahut Lion.
“Apa ada surat yang di titipkan dari orang tuanya?”
“Enggak Bu, saya juga gak tahu kenapa Mala gak masuk,” sahut Lion.
“Ya sudah kalau begitu.”
Pengisian daftar hadir pun selesai, dan pelajaran pun akan dimulai.
Tiba-tiba Azlan berpindah tempat duduk, ia pindah ke samping Lion. Begitu pula dengan Candra yang dari bangku belakang pindah ke bangku Azlan.
“Kalian kenapa duduknya pindah-pindah?” tanya guru itu.
“Biar lebih fokus aja Bu,” sahut Candra sambil cengengesan.
“Ya sudah buka halaman 72 dan kalian lihat di sana ada penjelasan tentang sosialisasi dan juga penyimpangan sosial serta dampak-dampaknya. Kalian baca dan pahami setelahnya ibu akan menjelaskan contoh dan maksud penjelasan tersebut,” sahut guru sosiologi itu.
Kelas menjadi sedikit tenang, semua siswa fokus membaca penjelasan yang ada di buku tersebut namun tidak dengan Candra.
__ADS_1
“Stttt Lion!” panggil Candra pelan sambil menusuk-nusukkan belakang pulpennya ke bagian belakang Lion.
“Apaan sih Candra!”
“Si Mala kenapa gak masuk?” bisiknya.
“Gua gak tahu, Mala aja gak ada hubungin gua. Gua chat aja dia gak aktif,” sahur Lion.
“Apa dia sakit? Tapi kan kemarin perasaan baik-baik aja,” sahut Azlan.
“Sejak kapan lu perduli sama orang,” ucap Candra.
“Berisik lu!” sahut Azlan.
Tukkk! Sebuah spidol melayang ke meja Lion dan Azlan.
“Kalian bertiga keluar dari kelas ini sekarang!”
“Ahh ... elu sih!” eluh Lion pada Candra.
“Tapi Bu-”
Mereka bertiga pun keluar dari kelas dan duduk di bangku yang ada di koridor.
“Terus kita ngapain?” tanya Azlan.
“Kalau gua bisanya sih ke kantin atau ke belakang sekolah hahaha,” sahut Lion.
“Ya udah kita ke belakang sekolah aja, di sana ada pohon jambunya,” ucap Candra.
“Ayo kalo gitu!” ucap Lion antusias.
“Kalian gak nyesal udah di keluarin dari kelas?” tanya Azlan.
“Gua udah biasa, malahan gua yang kabur dari kelas pas jam pelajaran. Ayo ikut dari pada di sini lu entar kelihatan guru yang lain entar yang ada kita dibawa ke ruang BP mau lu?” ucap Lion.
__ADS_1
Azlan pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti Lion dan Candra hingga mereka sampai di belakang gedung sekolah.
“Mana pohon jambunya?” tanya Lion.
“Tuh lihat mana buahnya banyak,” ucap Candra sembari menunjuk pohon jambu air dengan buang yang memerah itu.
“Widihh ... rame banget buahnya,” ucap Lion mendekati pohon itu.
“Eh apaan nih?” ucap Azlan.
Lion menunduk dan melihat banyak potongan rambut di bawah pohon itu.
“Rambut, ini siapa yang potong rambut di sini?” ucap Lion.
“Ini rambut cewek, panjang banget soalnya.”
Hingga Lion menemukan sebuah benda yang sangan ia kenal yaitu sebuah ikat rambut berwarna biru muda dengan mutiara kecil di tengahnya. Ikat rambut itu yang ia belikan untuk Mala waktu itu.
“Ini kok kaya punya Mala,” ucap Lion.
“Tahu dari mana lu?” tanya Candra.
“Ini gua yang beliin buat dia, tuh kita aja samaan!” ucap Lion memperlihatkan ikat rambut yang sama dengan warna yang berbeda.
“Mungkin aja ada yang sama, ikat rambut ini kan gak cuma satu,” sahut Candra.
“Tapi ini punya Mala kan?” ucap Azlan memberikan sebuah pulpen berwarna hitam dengan nama Mala melingkar di pulpen itu.
“Kayaknya ada yang gak beres deh,” ucap Lion.
Lion menaruh pulpen dan juga ikat rambut itu ke tanah dan mengambil gambar.
“Buat apaan?” tanya Candra.
“Buat bukti, nanti kita pasti butuh ini,” ucap Lion.
__ADS_1
“Pulang sekolah kita harus ke rumah Mala,” pinta Lion.
Mereka bertiga pun sepakat akan pergi ke rumah Mala sehabis pulang sekolah, Lion merasa tidak tenang dan berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Mala.