
“Apa anda sudah tahu alasan sebenarnya saya mengundang anda malam ini?” tanya Bima.
“Tentu, ini pasti masalah DG group kan?” sahutnya.
“Ya, mereka mengklaim jika sudah melakukan transaksi serta penanda tanganan berkas perihal tanah yang sebenarnya atas nama perusahaan saya,” ucap Bima.
“Iya, saya tidak habis pikir bisa-bisanya mereka memakai nama saya untuk melawan anda saya sama sekali tidak pernah melakukan perjanjian apa pun terhadap DG group itu.”
“Mereka sama sekali tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa,” sambung Jatmiko.
“Ada satu hal lagi, ini cukup serius dan berisiko bagi perusahaan tapi saya harus melakukannya. Saya ingin mengeluarkan Johan dari daftar pemilik saham di perusahaan saya,” ucap Bima.
“Johan? saya setuju dengan itu. Karena dia sering semena-mena terhadap pemilik saham di bawahnya,” sahut Jatmiko.
“Aku bahkan mengendus permainan kotornya dalam perusahaan, tapi aku belum cukup bukti. Dan aku harus mencari orang yang mau berinvestasi lebih dari Johan,” ucap Bima.
“Ini cukup sulit, mengingat kondisi negara kita sekarang masih belum kondusif pasar modal pun pergerakannya masih belum stabil masih sering naik turun,” tutur Jatmiko.
“Ada satu orang, orang ini baru saja saya temui beberapa waktu lalu. Dia ingin berkerja sama dengan perusahaan kita. Tapi saya masih belum tahu berapa persen sah yang akan dia beli,” tutur Bima.
“Siapa? Apa saya mengenalnya?”
“Sangat kenal, bahkan ia memiliki perusahaan besar di ibu kota.”
Bima dan Jatmiko tengah serius membahas perusahaan, sedangkan Lion mua tidak mau harus diam karena ia tidak terlalu mengerti masalah perusahaan atau semacamnya walau pun ia seorang putri dari pemilik Wilman group.
Tidak lama makanan pun di tata di atas meja, meja berbentuk bulat dengan ukuran cukup besar itu pun kini penuh dengan berbagai macam makanan.
Bima mengambil beberapa potong daging dan menaruhnya di dalam hotpot lalu memberikannya kepada Lion.
Jatmiko tersenyum kecil melihat perlakuan Bima terhadap Lion. Semasa ia bergabung di perusahaan Jatmiko tidak pernah melihat Bima bersikap baik terhadap perempuan.
“Liona, apa kamu masih sekolah?” tanya Jatmiko.
__ADS_1
“Iya, saya kelas 11,” sahut Lion sambil mengambil daging dengan sumpitnya.
“Pantas kamu terlihat seperti masih sangat muda. Dari mana kalian bisa saling kenal?”
“Dia tetangga saya Om, mamanya teman tante saya,” sahut Lion.
“Siapa nama tante kamu?”
Jatmiko mulai merasa penasaran, karena Ana tidak sembarangan memilih teman. Jatmiko tahu seluk beluk keluarga Bima karena Jatmiko adalah teman dasi suami Ana.
“Anggi Siva,” sahut Lion.
“Anggi Siva? Siva Brahman?”
‘Kenapa om ini kaget banget denger nama tante?’ batin Lion.
“Iya Om, kenapa memangnya?” tanya Lion.
“Berarti kamu putri Wilman Brahman?” tanya Jatmiko lagi.
“Kamu anak dari Wilman Brahman?” tanya Bima lagi.
“Iya, memangnya kenapa sih?”
“G-gak apa-apa, aku cuma terkejut dan gak menyangka aja kalau dunia sekecil ini,” ucap Bima sembari menatap lembut Lion.
Mereka pun melanjutkan acara makan mereka hingga selesai, Bima dan Jatmiko pun berpisah di parkiran.
Bima pun memacu mobilnya menuju rumah mereka, di dalam perjalanan Bima bertanya kepada Lion kenapa bisa sampai bersekolah di kotanya.
“Kenapa kamu bisa sekolah di kota ini? Bukannya di ibu kota banyak sekolah elit,” tanya Bima.
“Ada alasannya dan ceritanya panjang. Gue lagi males bahasnya,” sahut Lion.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu. Sebenarnya kenapa aku terkejut saat aku tahu kamu putri dari Wilman, karena beberapa hari yang lalu aku baru saja bertemu dengannya dan membicarakan kerja sama dengan perusahaan Wilman group.”
‘Oh, jadi itu sebabnya papa ke kota ini,’ batin Lion.
Tiba-tiba ponsel Lion berdering, ada panggilan video yang masuk dan itu dari Daren kakak Lion yang tengah berada di luar negeri.
“Daren!” pekik Lion senang saat menerima panggila Vidio dari kakaknya itu.
“Gelap banget, lu dimana?” tanya Daren.
“gue lagi di mobil, lebih tepatnya lagi di jalan,” sahut Lion.
“Sama siapa lu?”
“Mau kenalan? Nih,” ucap Lion mengarahkan layar ponselnya ke arah Bima yang tengah sibuk menyerir.
Bima menoleh dan tiba-tiba menyenyitkan alisnya.
“Hah? Lu! Ngapain lu sama adik gue!” ucap Daren dengan penuh emosi.
“Lama gak ketemu Daren,” ucap Bima dengan senyum simpul.
“Gak! Lion lu keluar dari mobilnya sekarang!”
“Dih ... apaan sih Lu tiba-tiba marah!” sahut Lion kesal.
“Keluar sekara-”
Belum sempat Daren menyelesaikan ucapannya, panggilan telepon itu buru-buru dimatikan oleh Lion karena ia kesal Daren tiba-tiba marah padanya.
“Jadi Daren itu kakak kamu?” tanya Bima.
“Iya dia kakak gue.”
__ADS_1
‘Sepertinya jalanku gak mudah,’ batin Bima sembari menggaruk kepalanya.