
“Ini buat aku?”
“Udah kamu bawa aja, lumayan kan bisa ganti-ganti pas sekolah,” ucap Lion.
“Tapi ....”
“Udah gak usah kebanyakan mikir Mala nih bawa masuk gih gua mau balik entar tante gua ngomel,” ucap Lion.
“Sampe jumpa besok ya Mala!” teriak Lion dari balik jendela mobilnya.
Lion pun memacu mobilnya dan pulang ke rumah megah itu.
Saat sampai Lion memasukkan mobil itu ke dalam garasi.
“Tante Lion pulang!” ucap Lion dengan cukup keras.
“Eh ... ada tamu maaf gak sengaja Tan,” ucap Lion lagi saat melihat di ruang tamu ada beberapa orang tengah duduk.
“Nah ini keponakan aku Na, namanya Liona yang aku ceritain barusan,” ucap Anggi memperkenalkan Lion pada seorang wanita yang duduk di sebelahnya.
“Oh ini, ya ampun cantik ya.”
“Halo Tante,” ucap Lion menjabat tangan wanita itu.
“Ini Tante Ana, dia teman tante sekaligus tetangga sebelah rumah,” ucap Anggi.
“Terus ini Bima, anaknya tante Ana.”
“Halo gua Lion,” ucap Lion kepada pria berkulit putih itu.
“Tan, Lion masuk ke kamar dulu ya mau ganti baju.”
Lion pun naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya sembari membawa semua belanjaanya.
Baru saja Lion ingin mendaratkan bokongnya di kasur tiba-tiba ponselnya bergetar, rupanya itu notifikasi chat.
‘Si Azlan? Ngapain ngirim huruf p doang gak jelas banget,’ Lion bermonolog.
Lion pun tidak menghiraukan chat dari Azlan dan lebih memilih membongkar semua barang-batang yang ia beli.
Ada banyak barang yang Lion beli, dan semuanya kebanyakan perlengkapan untuk ke sekolah seperti sepatu, tas, dan lainnya.
***
Pagi hari menjelang, suara sahutan dari kokokan ayam jantan pun mulai terdengar. Lion sudah mandi dan memakai seragamnya.
“Pagi Tan,” sapa Lion seraya menuruni anak tangga.
“Pagi sayang, ayo sarapan dulu. Oh iya kamu ingat jalan menuju ke sekolah kan?” tanya Anggi.
“Ingat kok Tan.”
“Nah pagi ini tante ada urusan jadi gak bisa antar kamu.”
“Udah Lion bisa berangkat sendiri kok,” satunya.
“Oh iya Lion pakai motor Tante aja ya.”
__ADS_1
“Gak mau pakai mobil?”
“Gak ah, naik motor aja.”
Anggi pun menerima telepon dari seseorang lalu berpamitan kepada Lion dan menyuruh Lion untuk membawa kunci rumah karena ia akan pulang larut malam.
Lion pun menghabiskan sarapannya lalu berangkat dengan menaiki motor matik milik Anggi.
Saat sampai di sekolah, Lion pun duduk, terlihat Mala memakai semua yang ia belikan kemarin dari mulai tas, kaos kaki jam tangan dan pernak pernik alat tulis.
“Pagi Mala,” sapa Lion.
“Pagi Lion,” sahut Mala dengan suara pelannya.
Saat Lion sibuk mengeluarkan buku dan yang lainnya tiba-tiba Mia dan Sasa menghampiri Mala.
“Wah Mala kamu beli tas baru,” ucap Sasa.
“I-iya Sa,” sahutnya.
“Bukannya ini mahal ya? Habis dapat duit dimana nih? bagi-bagi kita dong,” ucap Mia.
“Enggak kok, aku di kasih,” sahut Mala.
“Hari gini siapa yang mau ngasih tas mahal secara cuma-cuma. Ah ... aku tahu pasti kamu nyolong kan,” ucap Sasa sembari tersenyum kecil.
“Wah ... pulpennya bagus Mala buat aku aja ya,” Sasa tiba-tiba saja mengambil bolpoin yang tengah Mala gunakan dengan paksa.
Lion beberapa kali menahan dirinya untuk tidak ikut campur, hingga guru pun datang dan Mia serta Sasa akhirnya kembali ke bangkunya.
“Mereka sering kaya gini?”
“Maaf ya Lion pulpen yang kamu kasih di ambil Sasa,” ucapnya.
“Udah gak apa-apa, nanti aku beli selusin tenag aja,” bisik Lion.
Kebaikan Lion kepada Mala bukan tanpa alasan, Lion merasa tidak nyaman karena teman sebangkunya memiliki barang-barang yang terlihat sudah sangat lama.
Saat pertama melihat Mala, Lion merasa bersyukur hidup serba berkecukupan.
Lion melihat tas selempang yang di gunakan Mala modelnya sudah sangat lama, ada beberapa noda menguning serta talinya ada banyak bekas dijahit.
Lion juga melihat sepatu Mala solnya terlihat terbuka dan warnanya pun pudar.
Mala terlihat di asingkan dari murid-murid lain, mereka terlihat berkelompok dan jarang menyapa Mala.
Pelajaran pun dimulai, guru meminta mereka mengerjakan soal berkelompok.
“Kerjakan dan pecahkan permasalahan soal ini, dan bentuk kelompok. Satu kelompok terdiri dari empat orang jadi silahkan kalian bergabung dengan kelompok kalian lalu selesaikan soal yang saya berikan di masing-masing kelompok.”
“Mala kita satu kelompok ya,” ucap Lion.
“Iya Lion, tapi masih kurang dia orang lagi.”
“Tenang, bentar gua cari dulu.”
Lion melihat ke arah Azlan yang sedari tadi hanya diam, beberapa orang mengajaknya bergabung namun Azlan seperti acuh tak acuh.
__ADS_1
“Eh ... lu ikut kelompok gua ya,” ucap Lion.
“Mala tulis nama Azlan di dalam kelompok kita, terus siapa lagi ya.”
“Eh lu kok gak tanya gua dulu main masuk-masukin aja,” protes Azlan.
“Halah lu dari tadi yang lain pada ngajakin lu gabung, lu malah gak respon ya mending gua ambil tindakan langsung lah. Udah lu sini bangku lu tarik ke samping Mala,” ucap Lion.
“Mega, lu udah ada kelompok belum?” tanya Lion.
“Udah nih sama Mia,” sahutnya.
Lion melihat ke sekeliling kelas, hingga matanya tertuju pada seorang siswa yang duduknya paling belakang.
Lion pun mendatangi murid tersebut.
“Eh nama lu siapa?”
“Siapa lu?” ucapnya.
“Lah malah balik nanya, nama lu siapa?”
“Candra, Candra Para yoga,” sahutnya.
“Mala, Candra masukin ke dalam kelompok kita!” terika Lion dari kursi ujung.
“Eh lu jangan asal masukin aja dong!”
“Udah lu jangan kebanyakan protes, cepetan bawa bangku lu ke meja Mala!”
Tanpa Candra sadari Candra mengikuti kemauan spontan dari Lion.
“Kok gua mau-mau aja sih narik bangku gua ke sini,” ucap Candra.
“Lu juga?” tanya Candra kepada Azlan.
“Iya, gua korban juga,” sahut Azlan.
“Oke sekarang kelompok kita udah lengkap, nah ini soalnya dari ibu guru tadi dari kalian bertiga nih mau kerjain yang mana? Kita bagi tugas biar adil.”
“Ini sih soal kuis minggu lalu, gua sih bisa yang ini,” ucap Candra.
Mereka berempat pun akhirnya memilih soal-soal yang nantinya akan di kerjakan sendiri-sendiri dan memilih soal yang akan di kerjakan bersama-sama.
Saat tengah sibuk mengerjakan soal Mia tiba-tiba datang menghampiri Azlan.
“Azlan, kamu mau tuker sama Yoga gak? Jadi kamu ikut kelompok kita gimana,” pinta Mia dengan lembut.
“Loh kok kamu gitu Mia, kan kamu yang ngajakin aku,” ucap murid yang bernama Yoga itu.
“Terus Candra kamu tuker sama Mega ya,” pintanya pada Candra.
“Emang lu siapa berani ngatur-ngatur gua?” ucap Candra tegas.
“E-enggak maksud aku dari pada sama mereka gak asik mending sama kita,” sahut Mala.
“Kita ini lagi ngerjain soal bukannya mau main!” ucap Azlan ketus.
__ADS_1
Mia pun kembali ke bangkunya dengan wajah cemberut sembari menatap tajam ke arah Lion dan juga Mala.