
Azlan duduk di samping Lion, penuh dengan keingintahuan. Ia ingin tahu kenapa Lion lebih memilih Bima daripada dirinya. Dengan hati-hati, Azlan pun mengajukan pertanyaan kepada Lion.
"Maaf Lion, gue penasaran. kenapa lu lebih memilih Bima ketimbang gue sih?" tanya Azlan dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
Lion mengangkat kepalanya dan melihat Azlan dengan ekspresi serius. "Azlan, sebenarnya gue gak memilih Bima atau siapa pun. gue hanya menganggap Bima sebagai pribadi yang baik sama gue," jelas Lion dengan tegas.
“Lagi pula gue rasa, gue juga gak terlalu cocok sama dia. Ya ... walaupun awalnya gue tersanjung sama apa yang selama ini dia lakuin tapi gue belum bisa melangkah ke hubungan serius seperti itu. Gue masih mau main bareng kalian, masih mau bercandaan gak baperan kaya Bima,” sambung Lion.
“Terus kapan lu mau seriusnya?” tanya Azlan lagi.
“Gue masih mau lanjut sekolah lebih tinggi, ngikutin jejak Daren. Gue juga punya cita-vita yang harus gue capai.”
“Kalau gitu gue bakalan nunggu lu,” ucap Azlan.
__ADS_1
“Lu nunggu gue? Kalau misalkan gue ke luar negeri itu bakalan makan waktu lama Azlan bahkan gue punya angan-angan pengen meniti karir disana,” ucap Lion.
“Gue bakal cari lu. Kita taruhan aja deh. Kalau misalkan gue bisa nemuin keberadaan lu. Lu harus siap nikah sama gue.”
“Dih ... apaan belum lulus sekolah juga udah ngomongin nikah,” sahut Lion tertawa.
“Terserah lu mau mikir apa, tapi lu harus terima taruhan dari gue,” sahut Azlan.
“Oke, gue terima taruhan dari lu,” sahut Lion.
Azlan menyadari bahwa dia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada Lion bahwa dia juga bisa menjadi orang yang baik baginya. Dia memutuskan untuk berusaha lebih keras lagi, menunjukkan perhatian, kesetiaan, dan rasa sayangnya kepada Lion.
Azlan berkomitmen untuk memperjuangkan hati Lion, dengan harapan bahwa suatu hari nanti Lion akan melihat betapa berharganya dia sebagai teman dan mungkin lebih dari itu.
__ADS_1
Sementara itu, Candra juga tengah berusaha meyakinkan Mala jika ia benar-benar menyukai Mala.
“Mala my princess, aku serius. Ini dari lubuk hatiku yang paling dalam.” Ucap Candra.
“Tapi kenapa kamu bisa suka sama aku?” tanya Mala.
“Sebenarnya aku suka kamu udah lama, saat kuta SMP dulu. Dan aku bertekat kemana pun kamu pergi aku bakalan mengikuti kamu. Makanya aku selalu duduk di kursi belakang biar aku bisa terus mandangin kamu,” ucap Candra.
Candra memegang tangan Mala dengan penuh kelembutan, “Mala, aku gak akan maksa kamu buat terima aku hari ini. Aku bakalan nunggu kamu dan aku akan terus berada di sisi kamu kemana pun kamu pergi.”
Mata Mala berkaca-kaca, ia tidak tahu harus berkata apa. Ucapan Candra itu membuatnya seakan memiliki seseorang yang mendukungnya karena selama ini Mala selalu di perlakukan buruk bahkan oleh keluarganya sendiri.
“Candra terima kasih, kamu sudah sebaik ini sama aku. Tapi aku juga harus memantapkan hatiku lagi,” sahut Mala.
__ADS_1
“Aku bakalan menunggu jawaban dari kamu. Tapi jangan pernah mendorongku pergi dari sisi kamu.”
Kata-kata Candra itu begitu dalam dan membuat Mala terharu, mata beningnya itu ktak henti-hentinya berkaca-kaca hingga setetes air mata jatuh di pipinya.