
Denting bel pelajaran terakhir pun berbunyi, seluruh siswa riuh karena sudah waktunya untuk pulang.
“Gimana kita berangkat sekarang?” tanya Candra.
“Ya udah ayo,” ajak Lion.
Mereka bertiga pun berjalan menuju luar gerbang sekolah dan pergi ke parkiran mobil.
“Lu bawa mobil juga?” tanya Azlan pada Candra.
“Enggak lah,” sahutnya.
“Lah terus?” tanya Lion.
“Ya gua mau nebeng sekalian minta antar pulang,” sahut Candra.
“Sekarang gua paham kenapa Candra antusias banget ikut ke rumah Mala, lu mau ikut nebeng balik kan?” ucap Lion.
“Ya itu juga, dan gua juga khawatir sama Mala,” sahutnya.
Azlan pun memandang ke arah Candra.
“Kenapa lu?” tanya Candra.
“Sejak kapan lu peduli sama orang?” tanya Azlan pada Candra.
“Udah-udah! Ayo masuk kita ke rumah Mala,” ucap Lion.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil, Azlan pun melaju mengendarai Mobilnya.
“Rumah Mala di mana sih?” tanya Azlan.
“Deket aja kok, itu kan ada jalan nah masuk ke situ.”
“Jalan di samping sekolah itu?” tanya Azlan.
“Iya,” sahut Lion.
“Terus masuknya jauh gak?” tanya Azlan.
__ADS_1
“Gak kok cuma 500 meter,” sahut Lion santai.
Beruntung Azlan belum menjalankan mobilnya, Azlan pun memandang ke arah Lion dan Candra.
“Ada apa lagi?” tanya Lion.
“Ngapain kita masuk mobil ayo keluar jalan kaki,” pinta Azlan.
“Iya juga sih kan deket, hahaha,” sahut Lion.
Azlan dan Lion pun keluar dari mobil, sedangkan Candra masih berada di dalam.
“Lu ngapain di dalam?” tanya Lion.
“Gak jadi pakai mobil?”
“Ngapain kan deket,” ucap Lion.
“Yah ... padahal gua mau ngadem sebentar,” sahutnya.
Mereka bertiga pun berjalan masuk ke sebuah gang kecil yang ada di samping sekolah mereka, hingga mereka berhenti di sebuah rumah paling ujung.
“Ini rumah Mala?” tanya Azlan sembari menatap rumah sederhana berbahan kayu itu tanpa berkedip.
“Kenapa? Lu alergi masuk ke rumah kaya begini?” tanya Candra.
“Enggak, rumah ini mengingatkan gua sama rumah nenek gua zaman dulu,” sahut Azlan.
Lion pun berjalan mendekati pintu dan mengetuk nya beberapa kali, rumah itu nampak sepi namun sepertinya ada orang di dalam.
Setelah beberapa kali Lion mengetuk akhirnya ada jawaban dari dalam seperti suara perempuan.
Pintu pun terbuka, “Cari siapa?”
“Mala nya ada Kak?” tanya Lion pada seorang wanita yang umurnya tidak jauh beda dengan Lion.
“Kalian teman sekelasnya?” tanyanya.
“Iya kita-”
__ADS_1
“Siapa Kak?” terdengar suara Mala dari dalam rumah yang memotong ucapan Lion.
Lion pun melihat ke arah dalam rumah itu, “Mala!” pekik Lion.
“Li-lion!” ucap Mala langsung menutupi kepalanya dengan kerudung.
“Kak Mala kenapa?” tanya Lion.
“Kalian masuk saja dulu,” pintanya.
Lion begitu terkejut melihat keadaan Mala, rambutnya yang waktu itu ia lihat panjang serta lurus dan beraturan kini terlihat terpotong sangat pendek.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Mala dan duduk di lantai.
“Mala kenapa rambut kamu?” tanya Lion.
Mala hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
“Mala jawab!”
“Gak apa-apa, aku cuma pengen potong pendek biar gak gerah,” sahutnya.
“Mala, ternyata kalau begini kamu cantik juga ya,” puji Candra sembari terus menatap ke arah Mala.
Lion dan Azlan pun saling menatap satu sama lain seakan mengerti mengapa Candra begitu peduli dengan Mala.
Mendengar ucapan Candra itu Mala tersenyum simpul.
“Iya kamu jadi kelihatan lebih fresh,” sahut Lion.
Mata Mala memerah seakan tengah menahan tangisnya.
“Mala nanti jalan yuk,” ajak Candra spontan.
“Jalan?”
“Iya jalan, aku kan udah tau rumah kamu nanti aku jemput, nanti aku chat deh,” ucap Candra yang tiba-tiba berbicara formal.
“Cie panggilannya berubah nih jadi aku kamu, kemarin lu gua,” ledek Lion.
__ADS_1