Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Pergi ke rumah Lion


__ADS_3

Mala yang sedari tadi berusaha menutupi rambutnya itu pun mulai membuka kerudungnya karena pada dasarnya Mala tidak memakai kerudung jika di luar sekolah.


“Nah gitu dong La, gak usah malu lu cantik kok,” ucap Lion.


Sebenarnya Mala sendiri memiliki paras yang cantik, wajah yang putih dan bersih dengan bibir merah alami. Namun kecantikannya tertutup oleh kaca matanya yang cukup tebal serta sikapnya yang pendiam.


“Tunggu ya aku buatkan minum dulu,” ucap Mala.


Mala pun pergi ke dapur untuk membuatkan ketiga teman sekelasnya itu minuman.


Di sana hanya tertinggal seorang perempuan yang umurnya tidak jauh di atas Lion.


“Kalian teman sekelas Mala?” tanya perempuan  manis itu kepada mereka bertiga.


“Iya kak saya Lion murid baru dan ini Azlan dan yang merayu Mala tadi namanya Candra,” ucap Lion.


“Oh jadi kamu ya yang sering diceritakan oleh Mala, aku bersyukur sekali karena Mala masih memiliki teman-teman yang baik,” ucapnya.


“Kemarin Mala pulang ke rumah sambil menagis, aku bingung kenapa dia menangis, tapi saat ia buka kerudung baru aku sadar jika ia di buli lagi,” tuturnya.


“Di bulli? Sama siapa?” tanya Candra.


“Mala tidak mau bercerita sedikit pun biar aku paksa dia tetap diam seribu bahasa,” sahutnya.


“Apa sebelumnya Mala punya masalah sama murid lain kak?” tanya Lion.


“Kayaknya gak ada, karena Mala anak yang pendiam dan tidak pernah menggangu orang,” ucap perempuan itu dengan pelan.


Tidak lama Mala kembali sembari membawa bali berisikan gorengan dan juga satu teko es teh.


“Nih diminum ya jangan malu-malu,” ucap Mala.


“Wah pas banget gua lagi haus,” ucap Lion.

__ADS_1


“Oh iya nama Kakak siapa?” tanya Lion.


“Namaku Tina,” sahutnya.


Beberapa jam mereka berada di rumah Mala obrolan mereka mengalir seperti air, Mala pun merasa senang karena memiliki teman yang sesungguhnya.


“Mala main ke rumah gua yuk nanti pulangnya gua anter gimana?” pinta Lion.


“Memangnya gak apa-apa?” tanya Mala.


“Kak boleh kan?” tanya Lion pada Tina.


“Iya boleh, asal pulangnya jangan kemalaman aja,” sahut Tina.


“Tuh boleh,” ucap Lion.


“Ya udah kalo gitu gua ikut ke rumah Lion deh,” ucap Candra.


“Ya udah lu nanti sekalian gua antar pulang,” ucap Lion.


“Loh tante Anggi kemana?” tanya Azlan.


“Cie diam-diam kalian udah deket sejauh ini rupanya,” ledek Candra.


“Apaan sih lu berisik!” sahut Lion.


Akhirnya Mala pun setuju untuk ikut ke rumah Lion, Mala bersiap lalu berangkat.


Mereka berjalan kaki hingga keluar gang dan masuk ke dalam mobil yang terparkir di seberang sekolah.


Mobil pun melaju menuju ke kediamannya Lion, tidak butuh waktu lama mereka pun sampai, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan pagar ukiran yang cantik.


“Ini rumah lu?” tanya Candra.

__ADS_1


“Bukan ini rumah tante gua,” sahut Lion.


“Kalian masuk aja duluan gua mau masukin mobil ke rumah dulu,” ucap Azlan.


“Loh Azlan rumahnya dimana emang?” tanya Candra.


“Tuh di sebelah,” sahut Lion.


“Rumah putih yang gede itu? Jadi lu berdua tetanggaan?” Candra terheran.


“Iya, makanya kita sering nebeng satu sama lain,” sahut Lion.


Lion melihat ke arah Mala yang terus memandangi rumahnya.


“Ayo Mala masuk,” ucap Lion.


“Rumahnya bagus,” sahut Mala.


“Iya, rumah ini katanya tante gua sendiri yang desain,” sahut Lion.


Mereka semua masuk ke dalam rumah Lion dan duduk di ruang keluarga rumah itu.


“Kita santai sambil nonton film gimana? Lagi banyak film seru nih,” ucap Lion.


“Ya udah sini mana remotnya,” ucap Candra.


“Mala ayo duduk di sini, jangan diam aja,” ucap Lion.


“Memang boleh aku duduk?”


“Astaga Mala, siapa yang larang kamu duduk ayo sini kita nonton film,” ucap Lion sembari menarik tangan Mala untuk duduk di sofa berwarna abu-abu tua itu.


Mereka bertiga pun duduk santai sambil menonton film hingga Azlan pun datang dan membawa sesuatu.

__ADS_1


“Lion ini dari tante aku,” ucapnya sembari menyodorkan sekotak besar kue yang sudah di potong-potong.


“Wah, bilang sama tante lu makasih ya,” ucap Lion.


__ADS_2