Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Di traktir Ayang


__ADS_3

“Mala, kamu udah masuk ternyata,” ucap Sandra yang tiba-tiba mendatangi meja kami.


“Sandra,” ucap Mala dengan raut sedikit takut.


“Tahun dari mana lu kalau Mala gak masuk kemarin?” tanya Candra.


“Dari Mega lah, katanya Mala gak masuk,” sahut Sandra.


“Ooh ... jadi Mega komplotan lu juga,” sahut Candra.


“Can, Desi katanya mau ngajak lu jalan gimana?” tanya Sandra.


“Ogah gua!”


“Kok gitu, kalian kan dulu waktu SMP sempat deket,” ucap Sandra sembari menatap ke arah Mala yang terus menunduk.


“Deket apanya, jangan halu deh lu,” sahut Candra sembari tertawa.


“Desi sendiri kok yang bilang ke gua. Lagian ngapain sih lu deket-deket sama Mala dia kan-”


“Apa? Mala kenapa?” ucap Lion yang langsung berdiri.


“Siapa lu, dan lu gak usah ikut campur deh,” sahut Sandra.


Tidak lama Desi pun datang menghampiri Sandra.


“Ada apaan nih?” ucap Desi.


“Nih temen lu lagi halu, masa dia bilang gua deket sama lu,” ucap Candra. Pada Desi.


“Loh kita.kan dulu deket Can,” ucap Desi.


“Deket apanya, bahkan kita beda kelas waktu SMP,” sahut Candra.


Rupanya Candra sudah lama mengenal Mala, mereka satu SMP begitu pula dengan Sandra dan juga Desi.


“Tapi kan waktu itu lu nolongin gua waktu di UKS,” sahut Desi.


“Ya elah itu kan gua lagi tugas ya gua tolong lah aneh banget sih lu, akrab juga enggak gua sama lu.”


Desi menghentakkan kakinya dan mendengus meninggalkan meja mereka, namun tidak dengan Sandra. Siswi tunggi berkulit hitam manis itu terus menatap ke arah Azlan.


“Azlan, lu pulang sekolah sibuk gak?” ucap Sandra.


Azlan hanya diam tanpa memandang bahkan membalas ucapan Sandra.


“Azlan kok diam sih. Azlan!” 


“Lu mau nambah lagi gak?” tanya Azlan pada Lion.


“Gak lah, ini aja belum habis tapi makasih ya udah traktir gua,” Sahut Lion.


Keberadaan Sandra seakan tidak mereka anggap, bahkan mereka memalingkan wajah, hal itu membuat Sandra kesal dan langsung mengambil gelas milik Lion yang berisi es jeruk itu.


Sandra berniat menumpahkan air itu ke kepala Lion, tapi bukan Lion namanya jika tidak menyadari hal itu.

__ADS_1


Dengan cepat Lion berdiri dan mentenggol tangan Sandra, seketika es jeruk yang masih penuh itu tumpah ke baju Sandra.


“Aaaaaa!” teriak Sandra.


“Lah kenapa lu?” ucap Lion.


“Yah es jeruh dari ayang tumpah deh,” ledek Candra.


“Awas kalian semua!” ucap Sandra sambil menunjuk ke arah Lion.


Sandra pun berlari pergi meninggalkan kantin dengan baju basahnya, Candra yang melihat hal itu pun tertawa terbahak.


“Untung gua tahu, kalo engak habis sudah gua yang basah,” ucap Lion.


“Lu tahu dia mau nyiram lu?”


“Ya tau lah, orang kaya gitu cuma semut kecil bagi gua,” sahut Lion.


“Gua penasaran, lu kenapa pindah ke sekolah ini bukannya sekolah lu yang dulu sekolah elit dan terbaik?” tanya Candra.


“Bokap gua yang mindahin gua ke sini.”


“Alasannya?”


“Sebelumnya gua berantem,” ucap Lion sambil mengunyah makananya.


“Berantem kenapa lu?”


“Mereka ganggu gua ya gua lawan lah. Satu orang masuk rumah sakit gara-gara gua tendang perutnya.”


Semua pun terdiam mendengar penjelasan dari Lion, mungkin mereka tidak menyangkan jika Lion bisa bertindak seperti itu.


“Tapi ... ada benernya juga sih. Makanya kenapa nama panggilan Lion itu melekat di gua,” sahutnya lagi dengan santai.


“Oh iya Mala, nanti pulang sekolah temenin gua ya,” ucap Lion lagi.


“Kemana?” tanya Mala.


“Biasa ke mall,” sahutnya sembari menyeringai.


“Ya sudah kalau begitu.”


Mereka pun menghabiskan semua makanan mereka dan kembali ke dalam kelas, saat ingin duduk rupanya Lion mendapati mejanya dan meja Mala penuh coretan dan juga sangat kotor.


“Sialan! Siapa nih yang ngotorin meja gua!” ucap Lion dengan nada tinggi.


Seketika kelas menjadi hening dan memandang ke arah Lion, beberapa siswa juga mendatangi mejanya dan melihat jika meja Lion serta Mala penuh dengan coretan.


“Kalian ada yang lihat siapa yang lakuin?” tanya Azlan.


“Gak, soalnya aku baru masuk,” sahut siswi lain.


Lion melihat ke arah pojok ruangan rupanya di bagian atas terdapat sebuah kamera CCTV, dengan cepat Lion keluar kelas dan mencari ruangan operator sekolah.


Hingga ia menemukan ruangan tersebut dan menghampiri seseorang yang tengah bertugas saat itu.

__ADS_1


“Permisi Pak,” ucap Lion.


“Iya ada apa?”


“Saya boleh lihat rekaman di kelas saya?” tanya Lion.


Lion pun menjelaskan permasalahannya dan memberi tahu kelasnya dimana, dengan sigap petugas itu membuka rekaman tersebut.


Saat rekaman itu diputar terlihat keadaan kelas itu masih sepi, hingga beberapa menit kemudian terlihat teman sekelasnya memasuki ruang kelas.


Bukannya duduk di kursinya, siswi itu malah menghampiri meja Mala lalu melakukan aksi tidak terpuji itu.


Siswi itu adalah Mia, Mia mencoret dan juga mengotori tempat duduk Lion dan juga Mala.


“Pak saya boleh minta rekamannya? Saya mau lapor ke wali kelas,” ucap Lion.


Operator itu pun langsung memberikan rekaman tersebut kepada Lion, selanjutnya Lion pergi ke ruang guru untuk menghampiri ibu Sarah, wali kelasnya.


“Permisi Bu Sarah,” ucap Lion.


“Masuk Liona,” ucap Bu Sarah.


Lion pun masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di depan meja bu Sarah, “Bu saya mau ngasih tahu ini.”


Lion memperlihatkan video yang dia dapatkan dari petugas operator sekolah, seketika raut wajah wali kelas itu berubah.


Bel pun berbunyi, pertanda jam istirahat telah berakhir Lion pun masuk ke dalam kelas dengan di temani oleh Bu Sarah.


Saat sampai di kelas, dengan wajah serius Bu Sarah memanggil Mia dan membawanya ke ruangannya.


“Mia, ikut ke ruangan Ibu sekarang,” ucap Bu Sarah tegas.


 Seisi kelas menatap ke arahnya dengan tatapan bingung, ada pula yang menatap dengan tatapan sinis.


Mia pun berdiri dan mengikuti Bu Sarah ke ruangannya.


“Mia kenapa tuh?” ucap siswa lain.


“Lu tadi datang sama Bu Sarah, memangnya Mia kenapa?” tanya Candra.


“Nih lu liat sendiri,” ucap Lion sembari memutar video yang ia dapat.


“Lah di kelas kita ada CCTV? Kok gua gak tau,” ucap Candra. 


“Jangakan CCTV di kelas, Lion ada aja lu gak tahu,” ucap Azlan.


“Gila si Mia cari gara-gara, mau nyusul si Sasa mungkin dia,” ucap Candra.


Beberapa siswa pun mendengar ucapan Candra dan berbondong-bondong mendekati Candra untuk melihat video tersebut.


Beberapa siswa ada yang menggunjing dan ada juga yang merasa itu sudah sopan Mia yang memang sudah buruk.


“Gak heran gua sama si Mia, emang sikapnya udah buruk,” ucap siswa lain.


“Gua aja males deket-deket dia, udah hobinya julid suka iri pula,” ucap siswi lain.

__ADS_1


“Iya sama tuh satu frekuensi dia sama si Sasa.”


“Eh udah udah! Bubar jangan ngerumpi ini orang di meja gua,” ucap Candra.


__ADS_2