
“Udah sampai, ayo turun,” ucap Azlan.
“Kita makan di sini?” tanya Bima.
“Kenapa? Kan lu sendiri yang mau ikutan,” ucap Azlan seraya keluar dari mobil.
Mereka semua pun keluar dari mobil, namun ada pemandangan yang membuat Rima terheran.
Bima dan Azlan berebut untuk membukakan pintu mobil untuk Lion. Mereka berdua saling senggol sampai mereka tidak sadar jika Lion sudah keluar dari mobil lewat pintu yang lain.
“Lu berdua berantem mulu, ayo cepetan gue udah laper nih,” ucap Lion.
Rima berjalan dan ingin menghampiri Bima, namun sayang Bima malah menghampiri Lion yang saat itu posisinya berada di depan Rima.
Hal itu juga di ikuti oleh Azlan, kini Lion seperti di apit oleh dua ajudan tampan, sedangkan Rima menghela nafas karena hanya dia yang berjalan sendiri.
Mereka pun masuk ke dalam tenda kecil penjual seafood kaki lima itu, suasana di sana cukup ramai pembeli, bahkan para penjual itu seperti tidak ada jeda untuk istirahat.
Mereka semua tampak sibuk dengan setumpuk kertas kecil bertuliskan menu-menu yang di pesan oleh pelanggan.
Bima dan Azlan pergi untuk memesan, mereka memesan banyak menu yang di jual bahkan mereka memesan makanan khusus hanya untuk Lion.
Usai memesan mereka duduk dengan posisi Luon berada di tengah-tengah mereka berdua sadangkan Rima duduk di samping Mala dan berhadapan dengan Bima.
“Bima, lu kuliah?” tanya Rima yang ingin memulai obrolan bersama Bima.
“Gak,” sahut Bima singkat.
__ADS_1
“Oo, lu kerja berarti?”
“Gak juga,” sahut Bima lagi.
“Lah terus lu di rumah aja?”
“Gak juga.”
Hanya itu yang Bima ucapkan, sangat singkat bahkan pandangan Bima pun tidak mengarah kepadanya.
“Liona, aku sudah pesankan makanan kesukaan kamu,” ucap Bima.
“Gua juga, lu sika udang lada hitam kan?” ucap Azlan.
“Iya, apa pun yang kalian pesan bakalan gue makan tenang aja,” sahut Lion dengan senyum manisnya.
“Liona kamu mau minum?” ucap Bima yang membuka sebotol air mineral untuk Lion.
“Itu bukan buat kamu!” ucap Bima kesal.
“Ohh, nih Lion kamu haus?” tanya Azaln yang langsung menyodorkan air mineral yang baru saja ia minum.
“Gak lah, itu bekas lu Azlan,” sahut Lion.
“Nah Lion gak mau jadi buat gue aja,” ucap Azlan pada Bima.
“My princess Mala, mau minum?” tanya Candra.
__ADS_1
“Enggak Can, makasih,” sahut Mala.
“My princess kenapa sih kamu menghindar terus dari aku,” ucap Candra.
“E-enggak aku gak menghindar kok,” ucap Mala sembari memalingkan wajahnya.
“Mala kamu lihat ke arah aku dong, emang muka aku jelek ya.”
“Enggak, bukan gitu aku cuma malu aja,” sahut Mala.
“Kalian kenapa gak jadian aja sih?” ucap Lion.
“Hah?” Mala tersentak.
“Candra kan cuma bercanda Lion,” sambung Mala.
“Aku serius,” ucap Candra sambil memandang Mala.
Seketika susana menjadi hening, wajah Mala yang putih itu tiba-tiba berubah menjadi sedikit kemerahan.
“Ah lu Can, masa nembak Mala di sini sih. Yang romantis dong,” ucap Rima.
“Aku juga Liona,” ucap Bima sambil menatap Lion.
“Gue juga,” tiba-tiba Azlan pun mengucapkan hal yang sama.
“Ini kalian berdua kenapa sih, kita di sini mau makan bukan main tembak-tembakan,” ucap Lion.
__ADS_1
Bima tiba-tiba memegang tangan kanan Lion sedangkan Azlan memegang tangan kirinya.
“Lu berdua kenapa sih?” ucap Lion.