Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Cinta Dalam Diam


__ADS_3

‘Hari minggu enaknya ngapain ya?’ Lion bermonolog.


Baru saja ia berpikir untuk mencari kegiatan di hari libur, Tiba-tiba nomor tidak di kenal masuk dan mengirim chat ke nomornya.


Tidak lama nomor tersebut memasukkannya ke dalam sebuah grub chat yang anggotanya hanya empat orang termasuk dirinya.


“Hari minggu nih, jalan yuk,” ajak nomor tanpa nama itu di grub chat.


“Lu siapa?” balas Lion.


“Candra.”


“Astaga, sejak kapan lu punya nomor gua?”


“Di kasih sama Mala,” balasnya dengan menyebut kontak Mala di chat tersebut.


“Azlan mana? Woy nongol dong lu. Statusnya online tapi gak nongol!” seru Candra dalam grub chat.


“Apaan sih berisik!” balas Azlan.


“Jalan yuk, gua jemput dah. Tapi gua jemput my Princess dulu,” balasnya dengan menyertakan nama kontak Mala lagi.


“Bucin lu keterlaluan,” balas Lion dengan menambahkan emoji tertawa.


“Siap-siap deh lu semua bentar lagi gua berangkat nih.”


“Lah Can, main jemput aja gua belum mandi baru juga bangun,” balas Lion.


“Can! Candra!”


Chat dari Lion tidak di balas oleh Candra dan tidak lama Mala pun membalas chat dari Lion.


“Lion, Candra sudah di rumah aku,” balas Mala.


“Anjir cepet banget! Gua mandi dulu.”


Lion pun menutup obrolannya di grub chat dan bergegas mandi lalu berganti pakaian. Sekitar setengah jam kemudian terlihat Candra dan Mala sudah berada di ruang tamu bersama Anggi.


“Liona teman-teman kamu udah datang sayang,” ucap Anggi.


Luon pun mengambil tas dan bergegas turun ke ruang tamu. 


“Mau jalan kemana sih?” tanya Lion sembari menuruni anak tangga.


“Pantai lah,” ucap Candra.


“Tante mau ikut gak, rame-rame sama kita,” ucap Candra.


“Enggak lah, Tante masih ada kerjaan yang belum selesai.”


Mereka semua pun berpamitan dan keluar rumah untuk menemui Azlan yang sedari tadi tidak memunculkan barang hidungnya.


Mereka berjalan kaki menuju rumah dengan pagar tinggi itu. 


“Bang Azlan nya ada gak?” tanya Lion pada penjaga di rumah Azlan.


“Ada, kalian siapa?”

__ADS_1


“Temen sekelasnya,” ucap Candra.


“Saya keponakannya tante Anggi,” sahut Lion.


“Ohh tetangga sebelah, ya sudah masuk. Orangnya ada di dalam,” ucapnya sembari membuka pintu kecil yang ada di samping pagar.


“Duh halamannya luas banget cape jalan kakinya,” eluh Candra.


“Udah lu gak usah banyak protes!” sahut Lion.


“Mala, kamu capek? Kalau capek bilang ya biar pangeran muda ini yang akan menggendong mu,” ucap Candra.


“Pangeran apaan pangeran kodok,” olok Lion sambil tertawa.


“Gak Candra aku udah biasa kok jalan kaki.”


“Ppptthhhh hahaha, kali ini pangeran muda ini tertolak ajakannya,” ucap Lion.


Hingga mereka pun sampai di depan pintu, batu akan mengetuk pintu tjba-tiba seseorang membuka pintu tersebut.


“Liona,” ucapnya.


“Eh Bima, baru aja gua mau ngetuk pintu udah di buka duluan,” ucap Lion.


“Oh iya Azlan ada?” tanya Lion.


“Ada di dalam, kalian masuk aja,” ajal Bima.


“Tumben lu ngomong sopan ke orang,” ucap Candra.


“Berisik lu!”


“Kalian duduk aja dulu, biar aku panggilkan Azlan.”


Bima pun naik ke lantai atas, terlihat anak tangga yang beralaskan karpet premium itu begitu elegan cukup berbeda dengan rumah yang di tempati Lion walaupun sama-sama rumah mewah tapi kediaman Bima tersebut terkenal sangat elegan.


“Kalo anak-anak di kelas tahu Azlan se kaya ini pasti banyak banget yang deketin,” ucap Candra.


“Mala, kok kamu diam aja sih?” tanya Lion.


“Enggak apa-apa Lion,” sahut Mala tersenyum.


“Mala lagi malu soalnya deket sama pangeran tampan kaya gua,” ucap Candra.


“Mau muntah gua dengernya,” sahut Lion.


Mala pun tertawa mendengar ucapan Lion. 


Tidak lama Azlan dan Bima turun dan menghampiri mereka yang tengah bercanda.


“Mau kemana sih Can?” ucap Azlan.


“Pantai dong! Ayo cepetan!” ucap Candra yang bangkit dari sofa.


“Aku boleh ikut?” ucap Bima menawarkan diri.


“Boleh banget, makin banyak orang makin seru!” sahut Candra.

__ADS_1


“Lah ngapain lu ikutan?” ucap Azlan.


“Aku bosan, sepertinya ke pantai asik juga. Aku punya villa di sana kita bisa istirahat sejenak nanti di sana,” ucap Bima.


Mendengar hal itu Cabdra menjadi semakin semangat, mereka semua pun keluar dan berjalan kaki menuju mobil Candra yang terparkir di depan rumah Lion.


“Mala my Princess kamu duduk di samping aku ya,” ucap Candra.


“Aku duduk sama Lion aja ya Candra,” ucap Mala.


“Eh Can, lu nyetir sendir emang udah punya SIM?” tanya Azlan.


“Ya ... ada tapi SIM C hahaha,” ucapnya tertawa.


“Gimana sih lu, kita kan lewat pusat kota.”


“Biar aku yang nyetir,” ucap Bima.


Mereka semua pun bergegas masuk ke dalam mobil, kali ini Mala duduk bersama Lion dan Candra duduk sendirian di kursi paling belakang.


Mobil pun melaju menju pantai yang lokasinya tidak begitu jauh, butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai ke pantai itu.


Sebenarnya ini pertama kalinya bagi mereka semua pergi liburan bersama teman satu kelas, mengingat mereka semua adalah pribadi tidak terlalu mau dekat dengan orang lain.


Mala, si anak pendiam dan pemalu yang selalu menunduk ketika orang menghampiri atau mengajak bicara. 


Candra, si siswa yang tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya bahkan nama-nama teman sekelasnya pun ia tidak hafal.


Azlan, paling populer karena wajah tampannya namun tidak pernah mau bicara banyak dengan orang lain bahkan Azlan adalah pribadi yang sulit di dekati.


Bima, sikapnya hampir mirip dengan Azlan namun lebih dingin bahkan ekspresi wajahnya pun terlihat datar dan serius bahkan orang lain akan sangat sulit untuk mengajaknya bicara namun hal itu lah yang membuat banyak wanita penasaran dengannya.


Sedangkan Lion, ia baik kepada semua orang tapi tidak ingin dekat dengan orang-orang ia seakan menjaga jarak dalam memilih sendirian ketimbang berkumpul dengan teman sebayanya.


Mereka semua di pertemukan dan di satukan akibat sikap spontan Lion, terutama Candra dan Azlan yang tertarik untuk berteman dengan Lion yang bersikap apa adanya tanpa ada drama atau pun kepura-puraan.


Hal itu juga yang membuat Bima seakan tertarik kepada seseorang untuk pertama kalinya, baginya Lion sosok yang unik. Sikap spontan dan ucapannya yang seakan menganggapnya sama seperti yang lain adalah hal yang tidak pernah di dapatkan Bima.


Biasanya orang-orang terutama wanita akan bersikap sangat baik dan negeluh-eluhkan Bima karena ketampanan dan juga karirnya.


Pada dasarnya mereka semua memilik sifat uniknya masing-masing.


Terutama Mala, ada hak spesial yang dilihat oleh Candra ada di diri Mala.


Polos, berhati besar dan juga sangat sopan kepada siapa pun. Itulah kenapa sejak SMA Candra selalu memperhatikan Mala tanpa Mala sadari.


Berkat Lion, Candra jadi bisa menunjukkan sisi ketertarikannya yang ia pendam selama ini kepada Mala.


Hanya Mala yang tidak mengejar-ngejarnya, hanya Mala yang tidak menatap ke arahnya saat ia lewat dan hanya Mala yang sama sekali tidak bicara dengannya.


Saat masih SMP Candra berusaha agar dapat satu kelas dengan Mala ia bahkan meminta orang tuanya untuk bicara kepada guru agar di masukkan di kelas yang sama dengan Mala, dan Candra selalu memilih duduk di kursi pojok paling belakang agar bisa leluasa memperhatikan Mala.


Mala tidak menyadarinya, ia hanya merasa aneh kenapa selalu ada Candra dan sekelas dengannya sejak SMP namun Mala tidak pernah tegur sapa sama sekali dengan Candra begitu pula sebaliknya.


Mungkin ini seperti definisi mencintai dalam diam, mengikuti setiap langkah orang yang di sukainya tanpa orang itu menyadari kehadirannya di sekitarnya.


Diam namun terus menatap tanpa henti, tersenyum senang dalam hati ketika ada sedikit respon atau hanya menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Itu sebanya Candra selalu duduk diam di belakang sambil memperhatikan wanita yang ada di depannya.


__ADS_2