
Jangan lupa likenya semoga suka.....
❤❤❤❤
***
Jam menunjukan pukul 8 pagi dimana acara meeting kantor akan segera dimulai. Semua karyawan perusahaan Matja Group sedang menjalankan aktivitas mereka masing-masing.
Terlihat seseorang pria muda tampan menduduki kursi utama yang berada di sebuah ruangan besar di perusahaanya, juga ditemani dengan berbagai Client yang sudah siap untuk memulai meeting pagi ini.
Pria itu tak lain ialah Zayn Jakson penerus perusahaan besar Matja Group milik kakeknya, serta memiliki perusahaan sendiri yang sudah diberi nama Jakson's Corps. Zayn menjelaskan secara detail tentang perusahannya dimana ia harus bisa mendapatkan hati para Clientnya tersebut.
Selesai mengakhiri meetting. Zayn berjabat tangan dengan para Clientnya, semua tampak puas setelah melihat presentasi yang dilakukan oleh Zayn, bahkan mereka semua menyetujui kerja sama dengannya, karena Zayn sudah menjelaskannya dengan sangat antusias dan detail tanpa ada satu katapun yang terlewatkan, hal itu justru membuat semua Clientnya merasa senang dan tertarik untuk berkerja sama dengan Zayn.
Zayn keluar ruangan tersebut dengan diikuti oleh Vano.
" Apa ada lagi jadwalku hari ini? " Zayn bertanya sembari berjalan dan diikuti oleh Vano dibelakang.
" Ada tuan, Client kita yang dari jepang, mereka meminta kita untuk bertemu di hotel Royale kota XX. " Tuturnya.
" Baiklah, kau atur pertemuanku hari ini, kita adakan 1 jam lagi lalu kita berangkat ke sana! " Vano mengiyakan dengan menundukkan kepalanya sopan.
Zayn seorang pria termuda yang memiliki karir yang sangat baik, bahkan ia sudah berhasil mendirikan perusahaan miliknya sendiri meskipun tidak sebesar perusahaan milik kakeknya. Zayn juga sangat kompeten dan cerdas dalam hal perkerjaan.
" Oh ya Vano, jangan lupa kau urus semua atas kejadian semalam, bawa wanita itu di hadapanku nanti malam. " Perintahnya dingin.
" Siap tuan, " kembali mengikuti langkah Zayn.
Epilog
Siang telah berganti malam, Jasmeen sedang berada di balkon ruang ibunya dirawat, Jasmeen menatap banyak bintang di langit yang berkelap kelip di atas sana.
" Apakah ayah bahagia disana? kami semua disini sangat merindukanmu ayah, jika ayah bahagia Jasmeen, Ibu dan Bellva juga ikut bahagia. " Jasmeen bergumam sendiri sembari melebarkan senyumnya.
Bertapa bahagianya dirinya di saat orang tuanya masih berkumpul menjadi satu, seolah ia tak mau menghilangkan kenangan manisnya itu pada saat mereka sedang bersama.
Jasmeen bersandar di pagar beranda balkon kemudian memejamkan matanya dan berdoa dalam hati agar ayahnya bahagia disisi tuhan, dan ibunya segera sembuh dari penyakit yang di deritanya.
Hati Jasmeen begitu lega setelah gadis itu benar - benar membulatkan keputusannya untuk menyetujui persyaratan dari paman Afrod, ibunya akan segera di operasi, Jasmeen benar - benar merasa senang, meskipun ada sedikit rasa kecewa dihatinya karena dirinya disuruh menikah dengan pria pilihan pamannya, tetapi Jasmeen sudah tak peduli lagi akan dirinya sendiri, karena memang sudah tidak ada pilihan lain baginya, hanya dengan cara ini, satu-satunya cara untuk bisa menyembuhkan ibu tercinta.
Setelah beberapa menit berlalu Jasmeen mengembalikkan badannya, ia berniatan untuk pulang kerumah menemui adiknya Bellva.
***
Di tempat lain.
__ADS_1
Malam yang begitu dingin dan mencengkram semua orang tidak ada yang berani berkata, bahkan membuka suaranya. Beberapa orang - orang gagah bersetelan Jas hitam rapi berdiri dengan tegaknya serta seseorang wanita tengah gemetaran karena takut untuk menatap mereka semua.
" Apa yang kau pikirkan saat itu. " Seorang pria berkata dengan dingin.
Wanita itu gemetaran tak berani menjawab bahkan membuka suaranya.
" JAWAB! " Katanya dengan tegas, suaranya yang begitu nyaring di telinga semua orang.
Dengan gemataran wanita itu menjawab.
" Ma-maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud membuat Jasmeen seperti itu, saya hanya dibutakan oleh uang dari pria kemarin, maafkan saya. " Ujarnya bersimpuh dengan menundukkan kepala bahkan tak berani menatap.
" Vano! " serunya.
" Iya tuan. "
" Urus dia dan berikan sedikit pelajaran untuknya, agar tidak mengulanginya lagi! "
" Siap tuan. "
Vano menunduk hormat dan segera melakukan perintah tuan mudanya, Zayn membalikkan badannya dengan raut wajah yang sangat dingin dan angkuh untuk menuju ke arah mobil yang sudah menunggunya.
" Maafkan saya tuan. " Teriak Lintang.
Zayn tak mau mendengar teriakan wanita tersebut ia tetap berjalan seraya meninggalkan tempat itu.
***
Tok tok tok... Jasmeen mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada sahutan dari dalam.
Jasmeen teringat kalau dia selalu membawa kunci cadangan di dalam tasnya lalu segera mengambil kunci tersebut dan membuka pintunya.
Ceklek.
Jasmeen masuki rumahnya, kemudian kembali menutup pintunya.
" Bellva? dek dimana kamu? " Jasmeen memanggil nama adiknya dengan sedikit berteriak tetapi tak ada jawaban sama sekali.
" Anak ini kemana sih. " Gumamnya.
" Bellva, " teriaknya lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Jasmeen melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 malam tetapi Bellva masih juga belum pulang, kemudian Jasmeen melangkahkan kakinya menuju kamar adiknya, juga terlihat kosong tidak ada tanda-tanda Bellva ada disana.
Jasmeen segera mengambil ponsel miliknya, kemudian Jasmeen menghubungi ponsel Bellva.
Tut tut tut.... Tidak ada jawaban padahal nomor Bellva masih aktif. Jasmeen berusaha berulang kali menelpon Bellva tetapi hasilnya sama.
__ADS_1
Kemudian Jasmeen berdecak sebal.
" Dasar anak ini lama kelamaan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. "
Jasmeen memilih menunggu Bellva di sofa panjangnya namun lama kelamaan Jasmeen tertidur pulas karena kelelahan.
***
Ditempat lain.
" Eh lu nggak pulang aja Bell? sudah malam ini nanti kakak lo nyariin lagi. " Ujar salah satu teman Bellva yang bernama Lecya.
" Ah enggak nanti aja, kakak gue pasti lagi di rumah sakit, semalem dia gak pulang soalnya."
Lecya mendengus kesal, saat menghadapi tingkah sahabatnya yang sangat keras kepala ini.
" Ok baiklah, jika nanti elo pulang di marahi oleh kakak lo, gue gak mau tanggung pokoknya. "
" Hm iya-iya, bawel banget sih lo cya."
Setelah melakukan perdebatan kecil, mereka berdua kembali bersenang-senang disebuah acara pesta Club malam di Grenight Club bersama teman-temannya yang lain.
Meskipun Bellva tergolong anak yang nakal dan suka hura-hura bahkan sering bermain diclub-club malam, namun Bellva masih bisa menjaga kehormatannya sendiri, karena Bellva selalu mengingat ucapan dari Alm ayahnya untuk tetap menjaga kehormatannya dengan baik dalam kondisi apapun, terkecuali jika dia sudah menikah.
Bellva selalu menurut hanya kepada ayahnya, semenjak kepergian sang ayah, Bellva menjadi banyak berubah dia tidak mau lagi peduli dengan ibu dan kakaknya, Bellva selalu berfikir jika ibu dan kakaknya sudah tidak menyayangi ayahnya karena membiarkan ayahnya pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.50 WIB. Bellva diantar pulang oleh Lecya dan juga pacarnya.
" Woy ceret bangun, kita sudah sampai didepan rumah lo. " Lecya berusaha membangunkan Bellva di mobilnya namun Bellva tak kunjung bangun.
" Yah, sudah keenakan tidur ni anak. " Lecya beralih menatap ke arah kekasihnya yang bernama Galen.
" Coba kamu kasih air saja, nanti juga bakal bangun tu anak. " Lecya langsung mengernyit mendengar ide kekasihnya.
" Ckk. " Lecya berdecak, kemudian Lecya segera mengambil air mineral lalu mencipratkannya sedikit air kearah wajah Bellva, beberapa detik kemudian Bellva bangun karena terkejut dengan kelakuan sahabatnya itu.
" Hah hah hah kebanjiran. " Spontan Bellva mengucapkan kata itu, Lecya dan Galen yang melihat Bellva seperti itu sembari tertawa terbahak-bahak.
Bellva pun sadar, lalu ia melirik ke arah Lecya dan Galen dengan tatapan tajam.
" Puas kalian ngetawain gue." Cetusnya.
Lecya masih terkekeh, tak lama tawanya berhenti ia menoleh ke arah Bellva yang sendari tadi masih menatap dirinya dengan tatapan membunuh.
" Hehe maaf, gue bercanda Bell. "
__ADS_1
***