Love From My Husband

Love From My Husband
Chapter 9 - Memenuhi Syarat


__ADS_3

Selamat membaca semoga suka....


Jangan lupa likenya ya 💕


***


Jasmeen berlari melewati koridor rumah sakit, sehingga menjadi sorotan pengunjung rumah sakit, karena Jasmeen masih menggunakan mini dress pemberian Lintang, beruntung tertutupi jas milik Zayn sehingga dapat menutupi bagian tubuhnya yang sedikit terbuka.


Sesampainya didepan ruangan ibunya dirawat. Jasmeen memejamkan matanya. Jasmeen ingin sekali putus asa ketika melihat keadaan ibunya yang semakin melemah, gadis itu terduduk lemas disebuah kursi panjang yang berada didepan ruang inap ibunya.


Ibu bertahanlah Jasmeen disini ibu, Jasmeen mohon bertahanlah bu, Hiks.


Beberapa menit kemudian Dokter pun keluar dengan diikuti para perawat dari belakang, seketika Jasmeen segera beranjak dari duduknya.


" Dok, bagaimana dengan keadaan ibu saya? " Jasmeen bertanya dengan raut wajah cemas.


" Pasien sudah tenang, beliau sudah kami beri obat penenang agar tidak sakit kepala lagi, saat ini beliau harus segera di operasi, jika tidak, nona sendiri sudah tahukan apa dampaknya, nona harus segera mengurus semuanya sebelum terlambat." Dokter menjelaskan kepada Jasmeen.


" Baiklah dok, saya akan lebih berusaha lagi untuk segera mendapatkan uang agar ibu saya cepat di operasi. " Ujar Jasmeen menatap Dokter.


" Baiklah kalau begitu nona, saya permisi dulu. " Pamit Dokter. Jasmeenpun mengangguk sebagai jawaban.


Setelah Dokter pergi, Jasmeen menghela nafas, seketika ia kembali duduk dengan lunglay, saat ini pikirannya sangat kalut.


Lagi-lagi aku tidak bisa mendapatkan uang. Arghh tuhan tolong bantu aku untuk mendapatkan pekerjaan agar aku bisa mendapatkan uang, tolong bantu sembuhkanlah ibuku tuhan, hiks.


" Ibuuuu. " lirihnya kembali menangis.


***


Ke-esokan harinya.


Jasmeen tertidur di sebelah ranjang ibunya, gadis itu menundukkan kepalanya dan bersandar di tangan ibunya. Ibu Andini yang sudah sadar tahu jika putrinya tertidur di sampingnya dengan perlahan beliau menggerakkan tangannya untuk menyentuh lembut kepala Jasmeen.


Jasmeen sejak semalam menunggu ibunya sadar, bahkan ia bersedih saat melihat keadaan ibunya yang semakin melemah. Jasmeen menggenggam tangan ibu Andini dengan erat, matanya sembab akibat kebanyakan menangis.


Ibu Andini menyadari jika putri sulungnya tengah berusaha keras untuk mencari biaya pengobatan dirinya.


Padahal dia sudah berusaha untuk menutupi sakit yang dideritanya kepada kedua anaknya, agar mereka tidak ada yang mengetahui soal penyakitnya. Namun ternyata semuanya sudah diluar dugaan.


Jasmeen merasa ada yang sedang menyentuh kepalanya, seketika ia terbangun dari tidurnya karena merasakan sentuhan lembut dari tangan seseorang.

__ADS_1


" Ibu, ibu sudah bangun? " Jasmeen bertanya sembari mengusap-usap matanya pelan, ibu Andini mengagguk dan tersenyum kepada Jasmeen, meskpun wajahnya terlihat sangat pucat.


" Jasmeen tidak masuk sekolah? " Ibu Andini bertanya dengan suara yang begitu lirih. Jasmeen yang mendengar pertanyaan ibunya menjadi bingung ingin menjawab apa.


" Eh em iya bu, Jasmeen sekolah kok tetapi sekarang Jasmeen meminta izin untuk menemani ibu disini. " Jasmeen menjawab dengan tersenyum agar ibunya tidak mencurigainya.


" Oh begitu nak, ya sudah kalau begitu " Ibu Andini percaya dengan penjelasan Jasmeen, Jasmeen pun langsung bisa bernafas dengan lega.


Huft syukurlah ibu percaya, maafin Jasmeen ya ibu, Jasmeen terpaksa berbohong kepada ibu.


Beberapa menit kemudian pintu itu terbuka, terlihat seorang suster datang dengan membawa makanan khusus untuk ibu Andini.


" Selamat pagi ibu Andini dan nona Jasmeen. " Sapa suster itu dengan tersenyum ramah sambil meletakkan makanan dinakas sebelah ibu Andini.


" Pagi juga suster. " Balas Jasmeen dengan tersenyum, ibu Andini juga membalas dengan senyuman, selesai meletakkan makanan tersebut, suster itu mendekat kearah Jasmeen dan ibunya, dan ternyata suster itu ingin mengecek infus milik ibu Andini. Selesai dengan cek up pagi, suster berpamitan keluar dari ruangan tersebut.


Setelah kepergian suster itu. Jasmeen segera mengambil makanan yang ada di nakas sebelah ranjang ibunya, kemudian gadis itu menyuapi ibu Andini dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


Selesai menyuapi ibu Andini, ponsel Jasmeen yang diletakkan diatas nakas tiba-tiba bergetar, pertanda ada pesan yang masuk disana.


Jasmeen segera meletakkan sisa makanan ibunya lalu berganti mengambil alih ponselnya, setelah itu ia membaca isi pesan tersebut seketika Jasmeen langsung mengernyitkan dahinya ternyata yang mengirim pesan ialah paman Afrod.


" Jasmeen keluarlah, temui paman di balkon rumah sakit lantai tiga " - from paman Afrod.


" Ada apa nak? "


" Em tidak apa-apa bu, Jasmeen hanya kebelet pipis saja hehehe. " Jasmeen terpaksa berbohong lagi karena tidak mungkin ia harus mengatakan dengan jujur kalau akan bertemu dengan pamannya di rumah sakit ini.


" Ya sudah ibu, Jasmeen pergi ke kamar mandi dulu ya. " Pamit Jasmeen, ibu Andini mengangguk mengiyakan.


***


Jasmeen keluar ruangan ibu Andini, ia memegang handel pintu dan menariknya kemudian kembali menutup pintu dengan perlahan.


Jasmeen segera menuju kamar mandi, ia harus membersihkan muka dulu lalu menemui pamannya.


Sesampainya di balkon lantai tiga, Jasmeen melihat seorang pria paruh baya yang sudah menunggunya berdiri tegak dengan pandangan matanya tertuju ke arah pemandangan yang berada didepannya.


" Ada apa paman mengajakku kesini? " tanya Jasmeen dengan tiba-tiba.


" Kemarilah! " paman Afrod membuka suara, Jasmeen yang mendengarnya langsung mengernyit namun ia tetap menuruti kemauan pamanya

__ADS_1


" Kau lihat pemandangan di sampingmu itu? " Ujarnya seketika Jasmeen menoleh dengan berdiri persis seperti pamannya, Jasmeen melihat keindahan area perkotaan yang indah dari balkon lantai tiga, sejujurnya Jasmeen sangat terpukau melihat pemandangan yang ditunjukan oleh paman Afrod namun justru Jasmeen kembali bertanya tanya.


" Maksud paman apa? " Jasmeen bertanya tanpa menatap pamannya ia masih sibuk memandangi pamandangan indah yang ada di depannya.


" Apa kau masih akan putus asa? " Jasmeen yang mendengarnya semakin bingung ia tak tahu maksud perkataan pamannya.


" Apa kau merasa sedih melihat ibumu terbaring lemah tak berdaya seperti itu? " Tanyanya lagi tanpa menoleh ke arah Jasmeen.


Seketika Jasmeen menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tembok pertahanan yang telah dia bangun di dalam hatinya untuk terlihat tegar di hadapan semua orang kali ini runtuh begitu saja, kedua matanya kembali berkaca-kaca.


" Jasmeen mau ibu sembuh paman, " lirih Jasmeen menundukkan kepalanya.


Afrod menghela nafas. " Jika memang kau mau ibumu segera sembuh maka berusahalah Jasmeen, paman mau membantumu melunasi semua biaya operasi ibumu. "


Jasmeen sedikit tersentak setelah mendengar ucapan dari pamannya.


" Paman, paman serius? " Jasmeen menatap ke arah paman Afrod.


Afrod mengangguk membalas tatapan Jasmeen, " tapii... " Jawaban Afrod menggantung.


" Tapi apa paman? "


" Tapi ada syaratnya, apa kau mau memenuhi syarat dari paman? " Tanya Afrod lagi.


" Apa syaratnya paman, Jasmeen akan berusaha memenuhi syarat dari paman. " Balas Jasmeen tanpa berfikir panjang terlebih dahulu.


Afrod menatap Jasmeen dengan begitu dalam.


" Kamu harus mau menikah dengan pria yang sudah paman pilih untukmu Jasmeen. "


Dan dengan cara ini, kita semua impas Jasmeen !


Degg.... Jasmeen langsung terdiam.


" Maksud paman Jasmeen harus mau menikah dengan pria pilihan paman? ah tidak! tidak! Jasmeen tidak bisa paman, paman sendiri tahukan kalau Jasmeen masih sekolah, apa tidak ada syarat yang lain paman. " tutur Jasmeen dengan terkejut.


" Tidak! tidak ada, kalau kamu tidak mau ya sudah paman tidak akan mau membantu ibumu. " mendengar ucapan dari pamannya itu, membuat hati Jasmeen kembali sakit.


" Lagian saat ini kamu tidak bersekolahkan? apa kamu mau jika ibumu tahu, kalau kamu tetap menolak, paman akan mengadukan semua ini kepada ibumu, dan semua itu akan berdampak sangat buruk pada kesehatan ibumu, kamu mau? " ancam Afrod ketika pria itu sudah tidak ada cara lain untuk membujuk keponakannya tersebut.


" Tidak paman, jangan Jasmeen tidak mau sampai ibu tahu! " seru gadis itu dengan cepat. Jasmeen menatap pamannya dengan mata berkaca - kaca.

__ADS_1


" Beri Jasmeen waktu untuk memikirkan semua ini paman, " sambung gadis itu dengan lirih, akhirnya Afrod menyetujuinya, lalu meninggalkan gadis itu sendirian dibalkon lantai tiga.


***


__ADS_2