
Selamat membaca semoga suka....
Jangan lupa likenya ya 💕
***
Disisi lain.
Seorang wanita barusan turun dari mobilnya sambil tersenyum tipis, kemudian mengambil ponsel di tas brandednya yang mahal, kemudian wanita itu sedikit memberikan pesan singkat kepada seseorang pria.
" Hello bby. "
Ting.
Pesan pun sudah terkirim, namun tak ada balasan dari orang tersebut, lalu wanita itu berdecak kesal ketika tahu kalau pesannya tidak dibalas.
" Ck, besok antarkan aku menuju ke negara XX, aku akan ke kantor Matja Group, " titahnya kepada salah satu bodygouard miliknya.
" Siap nona muda. " menundukkan kepala hormat setelah itu sedikit menjauh dari wanita itu.
Wanita itu pun menyeringai dengan membentuk senyum tipis di bibirnya.
***
Sementara di kediaman keluarga Jakson.
" Papa! papa tidak bisa begini dong, " teriak seorang wanita cantik yang berumur menginjak hampir 40 tahun.
" Gak bisa begini bagaimana ma? " jawab seorang pria paruh baya dengan santainya.
" Papa gak bisa nolak Zayn agar melamar Vannya! bagaimana pun juga Vannya itu anaknya sopan juga terlahir dari keluarga baik, dan ibunya itu teman sosialita mama. " Ucapnya dengan setengah berteriak lagi, mama Inne tidak terima jika suaminya tidak menyukai Vannya dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal.
Memang di keluarga besar Abda Jakson itu hanya mama Inne saja yang menyukai Vannya, sementara Zayn, adik perempuan Zayn yang bernama Rena dan suaminya tidak menyukai gadis seperti Vannya.
Papa Abda menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya kesabarannya sudah mulai terkuras oleh istrinya.
" Papa tidak menyetujui mereka karena papa masih mencari anak dari Alm teman papa, mama sudah pernah papa jelasin berkali-kali kan?, bagaimana pun papa dulu juga sudah berjanji dengannya akan menjodohkan Zayn dengan anaknya, ini amanah ma, amanah! " teriak papa Abda yang tak mau kalah dengan istrinya.
Mama Inne yang mendengarnya hanya mengecutkan bibirnya kesal.
" Ya mama tahu, lagian anak temen papa itu juga belom ketemu kan pa, memang kurangnya Vannya dari mana sih pa? secara langsung dia itu cantik, model lagi, memang anak temen papa itu kayak apa sih sampai papa tetap ingin menikahkan Zayn dengannya. " Balas mama Inne sembari melipat kedua tangannya, dengan menatap suaminya yang sedang duduk dengan membaca koran yang di pegangnya.
" Ini bukan soal anak temen papa kayak gimana mama, yang jelas ini masalah Amanah! ya amanah! mama dulu juga sudah tahu kan dia itu anak dari keluarga baik maa, dulu perusahaan papa hampir bangkrut yang menolong papa itu dia, dan saat ini papa masih berusaha mencari keberadaan istri dan anaknya namun sampai sekarang juga belum ketemu. " Jelas papa Abda dengan kembali mengingat masa-masa bersama Alm sahabatnya, bagaimana pun juga dulu keluarga papa Abda hampir bangkrut, namun beruntungnya segera dibantu oleh Alm.sahabatnya tersebut.
__ADS_1
" Gak mau pokoknya! mama maunya Zayn harus menikah dengan Vannya pa titik. " Ucap mama Inne yang masih tidak mau kalah dengan suaminya, ia tetap besikeras untuk melawan suaminya.
Papa Abda menghela nafas frustasi lagi.
" Oke begini saja ma, Papa akan menyetujui Zayn menikah dengan Vannya jika papa belum menemukan anak sahabat papa, tetapi jika papa sudah menemukan anak sahabat papa itu, Zayn harus menikah dengan dia! kalau papa juga belum menemukannya terserah mama sudah, mama mau jodohin Zayn dengan Vannya atau siapalah itu. " Ujar papa Abda akhirnya memberi keputusan yang tak bisa di ganggu gugat.
Mama Inne mempertimbangkan perkataan suami, sejujurnya mama Inne tidak terlalu setuju, tetapi bagaimana lagi keputusan dari suaminya sudah tak bisa di ganggu gugat, kemudian mama Inne berpikir jika anak temannya itu tidak akan ditemukan otomatis Vannya yang akan tetap menikah dengan Zayn.
" Em baiklah mama setuju pa. " Ujar mama inne yang akhirnya menyetujui keputusan sang suami.
Papa Abda yang melihat istrinya seperti itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan pada akhirnya perdebatan mereka berdua berhenti sampai disini.
***
POV Vannya.
" Tante, " rengekan manja yang di buat oleh Vannya kepada mamanya Zayn yaitu mama Inne.
Mama Inne terkejut melihat raut wajah calon menantunya berantakan seperti habis menangis.
" Ada apa sayang? " tanya mama Inne seraya menghampiri Vannya.
" Tante, Zayn hiks. "
" Tadi di kantor Zayn membentakku tante, Zayn jahat tan. " Ujar Vannya sedikit merengek.
" Astaga anak itu, maafin Zayn ya sayang, nanti kalau Zayn udah pulang biar tante marahin, " balas mama Inne sembari memeluk calon menantunya.
Vannya menggelengkan kepalanya. " Tidak usah di marahin Zaynnya tante, kasihan dia kan nanti pulang kerja pasti kecapekan. " Vannya mengusap bekas air matanya, kemudian tersenyum membalas pelukan mama Inne.
" Ya ampun sayang kamu ini baik banget sih, habis di bentak Zayn masih saja mau membelanya, memang kamu ini menantu idaman tante deh. " Tuturnya dengan tersenyum menatap Vannya.
" Hehe tante ini bisa aja. "
Yes berhasil kan, jangan anggap enteng melawanku kau Zayn, kau akan tetap menjadi milikku untuk selamanya dengan cara melewati tante Inne, hahaha.
" Ya sudah, jangan nangis lagi sayang, ayo kita makan siang pasti kamu belum makankan? " tanya mama Inne seraya mengajak calon menantu kesayangannya menuju meja makan.
" Hehe tante ini tahu aja, memang tante ini calon mertua idaman pokoknya, " balas Vannya tak kalah manisnya.
" Uh calon menantu tante bisa aja. " Mama Inne tersipu malu, " ya sudah ayo kita makan bersama sayang, bentar ya tante panggilin om dulu. " Tuturnya beranjak pergi menuju ruangan suaminya
" Rena kemana te? " tanya Vannya basa basi, meskipun Vannya tahu jika Rena itu tidak menyukai dirinya tetapi Vannya harus tetap berusaha untuk kelihatan baik di hadapan mama Inne.
__ADS_1
Rena adalah anak kedua dari keluarga Abda Jakson, umurnya 20 tahun, dia wanita yang berparas cantik dan berpendidikan tinggi, sifat dan karakternya sangat mirip dengan kakaknya yaitu Zyan Jakson, gadis ini mempunyai sifat yang sangat dingin, namun di sisi lain Rena mempunyai hati yang lembut. sayangnya dia tidak menyukai teman wanita yang terlalu bar-bar seperti Vannya.
" Rena masih kuliah dong sayang, " balas mama Inne dengan tersenyum. Vannya hanya mengangguk seraya membalas senyum dari wanita yang akan menjadi calon mertuanya tersebut.
" Bagus deh jika tidak ada anak tengil itu, coba kalo ada dia disini, aku ingin sekali mendampar wajahnya yang sangat sombong itu. " gumam Vannya dalam hatinya.
Mama Inne menaiki anak tangga untuk menuju ruang kerja suaminya, meskipun perusahaaan sepenuhnya sudah di pegang oleh putra sulungnya, tetapi papa Abad selalu mengawasi dan mengontrol kerja keras yang di lakukan oleh Zayn.
Tok tok tok..
Tanpa menunggu suaminya membukakan pintu, mama Inne segera mendorong handle pintu dan memasuki ruangan.
" Pa, ayo kita makan. " Mama Inne berkata sembari mendekat ke arah papa Abda
" Hmm iya ma sebentar lagi. " Jawabnya, tetapi papa Abad masih saja fokus ke layar laptopnya.
" Ah papa ini lama, ayo papa mumpung ada Vannya di bawah menunggu kita, " titahnya dengan tersenyum.
Seketika papa Abad langsung mengehentikkan aktivitasnya.
" Ngapain anak itu kemari, " balas papa Abda dengan sedikit cetus, mama Inne yang mendengarnya langsung mengernyit.
" Maksud papa apa bicara begitu, Vannya itu calon menantu kita jadi wajar lah dia kemari. " Balas mama Inne dengan nada sebal.
" Tidak, dia tidak akan menjadi menantuku, " balas papa Abda dengan cepat.
Mama Inne yang mendengar ucapan suaminya yang seperti itu menjadi geram, kemudian ia kembali keluar ruangan tersebut lalu menutup pintu dengan keras.
Brakkk!
Papa Abda tidak terkejut, ia hanya melirik istrinya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mama Inne menuruni anak tangga dengan menahan amarah, selama ini ia sabar dan berusaha sekeras mungkin untuk membujuk sang suami, agar mau menerima Vannya namun ternyata sia-sia suaminya masih mengotot untuk mencari anak dari Alm temannya.
Semenjak kejadian yang dialami keluarga Abda Jakson beberapa tahun yang lalu, kedua orang tua Zayn menjadi sangat posesif kepada Zayn, mengenai pendamping hidup Zayn.
" Lo tante, om kemana? " tanya Vannya yang melihat mama Inne berjalan menuruni anak tangga sendirian.
" Oh om, dia lagi banyak kerjaan sayang, ya sudah ayo kita makan sendiri saja, " balas tante Inne dengan sedikit tidak enak.
" Oh iya sudah kalau begitu tante, " balas Vannya, ia merasa ada yang tidak beres dengan calon mertuanya, Vannya hanya bisa mengiyakan saja, meskipun mama Inne terlihat sangat kesal, namun Vannya tak berani bertanya lagi.
Kemudian mereka berdua makan siang sendiri dengan keheningan.
__ADS_1
***