
Seusai makan malam, Jasmeen mengikuti langkah Zayn untuk masuk kedalam kamar mereka, sebelum itu, Jasmeen sempat ingin membantu bi Iyem untuk membersihkan sisa makan tadi, namun bi Iyem menolak bantuan darinya, wanita itu tetap berusaha memohon kepada Jasmeen agar tidak menyentuh pekerjaan itu, sampai - sampai Jasmeen mendapat teguran dari laki laki yang sah menjadi suaminya itu dengan menarik tangan Jasmeen menuju ke kamar mereka.
Jasmeen merasa kesal karena tangannya ditarik begitu saja oleh laki - laki yang ada didepannya saat ini.
" Kenapa aku tidak boleh bantu bibi itu? " Jasmeen bertanya ketika mereka sudah sampai didalam kamar. Zayn tetap diam dengan menampakkan ekspresi yang sulit ditebak olehnya.
Jasmeen menghela nafas pasrah, merasa percuma bertanya kepada laki - laki itu. Jasmeen akhirnya berjalan mendekati ranjang berukuran king size dan menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, gadis itu sedari bergumam kesal mengutuki laki - laki yang saat ini sedang duduk disofa dan fokus kepada laptopnya.
" Percuma aku bertanya kepada dia, sampai kapanpun tidak akan dijawab, menyebalkan, " gerutu Jasmeen, namun sebenarnya Zayn sedikit mendengar gerutuan dari gadis itu.
Jam sudah menunjukan pukul 22.30. Zayn segera menutup laptopnya karena ia rasa pekerjaannya sudah beres, karena sedikit lelah Zayn memutuskan untuk tidur namun pada saat ia menoleh pada ranjangnya ia sedikit terkejut bahkan laki - laki itu lupa kalau dia sudah punya istri.
" Astaga sampai aku lupa kalau aku sudah menikah, " batin Zayn sambil memegangi pangkal hidungnya yang terasa sedikit pusing.
Zayn tersenyum tipis kala itu, karena ia mendapati istrinya sudah terlelap dari tidurnya, perlahan Zayn mendekati ranjang itu dan berbaring disamping Jasmeen.
Tanpa sepengetahuan Jasmeen, diam - diam Zayn mengamati setiap inchi wajah cantik Jasmeen.
" Cantik, " gumam Zayn sembari tersenyum, lalu perlahan mengusap pipinya, seharusnya bagi mereka ini adalah malam pertama, namun Zayn mengurungkan niat itu karena ia tahu jika istrinya itu sedang kelelahan.
Akhirnya mereka sama - sama tertidur dan melewati malam panjangnya.
***
Pagi hari.
Setelah Zayn dan Jasmeen melakukan sarapan paginya, kini mereka berdua harus pergi meninggalkan Villa tersebut, berhubung kantor Zayn sangat jauh dari tempat itu. Zayn harus membawa Jasmeen tinggal di Apartemen pribadinya, karena hanya Apartemen itulah yang dekat dengan perusahaan Zayn.
" Kita mau kemana? " tanya Jasmeen kepada Zayn ketika gadis itu melihat Vano sudah menunggu mereka didepan Vila tersebut.
" Pulang. " Zayn menjawab sembari berjalan mendekati Vano dan diikuti oleh Jasmeen.
Ketika mendengar jawaban itu Jasmeen dibuat bertanya tanya. " Pulang? bukannya kita akan tetap tinggal disini? " tanya Jasmeen lagi.
" Tidak, kita akan pulang ke Apartemen, " jawab Zayn datar.
" Selamat pagi tuan, " sambil tersenyum ramah dan mengedipkan satu mata, seolah Vano berpikir bahwa mood Zayn hari ini sangatlah baik karena ia mengira kalau tuannya semalam habis menikmati malam yang panjang.
Jasmeen yang mendengarnya merasa geli, gadis itu mulai masuk ke dalam mobil terlebih dahulu lalu diikuti oleh Zayn.
__ADS_1
" Jangan banyak bicara Vano, ayo berangkat! " seru Zayn kepada Vano, karena laki - laki itu tahu kalau Vano sedang meledek dirinya.
" Haha siap, " balas Vano dengan tawa ledeknya.
Disepanjang perjalanan mereka bertiga kembali terdiam, tidak ada satu obrolanpun yang keluar dari mulut ketiga orang tersebut.
Bunyi dering ponsel menggema membuat ketiga orang di dalam mobil itu langsung tersadar, ternyata ponsel itu milik Jasmeen, tertera dilayar ikon kontak miliknya bernama Bellva.
" Astaga sampai aku lupa dengan Bellva, sampai dia menelfonku, " gumam Jasmeen sambil menepuk jidatnya.
" Kenapa? " tanya Zayn datar, karena ia meliaht raut wajah Jasmeen yang terlihat begitu panik.
" Em adikku menelfon dan aku lupa tidak mengabarinya, pasti dia bingung mencariku. " Balas Jasmeen dengan memandangi Zayn sekilas lalu menatap ponselnya lagi yang masil berdering.
" Angkat saja, bicara yang tenang! " seru Zayn santai, dan Jasmeenpun menurutinya.
" Hallo dek, " sapa Jasmeen dengan bibir yang terasa kelu.
" Kakak kemana saja semalam tidak pulang, apa sepenting itu ibu bagi kakak sampai kakak melupakan aku, aku tidak punya uang jajan, dan kakak seharian penuh tidak memasakkanku, apakah kakak ini terlalu bodoh ya! " Seru Bellva marah - marah karena dia tidak mendapat jatah makanan dan uang jajan dari kakaknya. Jasmeen hanya diam mendengar ocehan yang dilontarkan oleh adiknya, beruntung Bellva masih mengira kalau ia menemani ibunya dirumah sakit.
Zayn sendiri yang mendengarkan percakapan mereka sedikit terkejut dengan sifat yang dimiliki oleh adiknya Jasmeen, dia berani berbiara kasar kepada kakaknya, namun Zayn tetap memasang tampang datarnya, seolah dia tidak memperdulikan perbincangan adik kakak itu.
Sesampainya ditempat tujuan. Zayn turun tanpa menegur Jasmeen, seperti biasa gadis itu ditinggal begitu saja. Vano yang baru selesai membuka pintu mobil untuk Zayn segera berlari mengintari mobil bergantian membuka pintu untuk Jasmeen.
Jasmeen menatap sekelilingnya, dia melihat hanya ada rumah besar dan tanah yang luas, seperti bukan Apartemen.
" Katanya mau ke Apartemen tapi kok kenapa jadi ke rumah besar ini? " batin Jasmeen bertanya tanya karena setahu Jasmeen itu Apartemen adalah bangunan berlantai tinggi yang ruangannya terbagi bagi.
" Nona! " tegur Vano saat Jasmeen masih diam ditempat, karena ia sudah melihat bos mudanya memasuki rumah itu.
Vano dan Jasmeen mengikuti Zayn, mereka bertiga memasuki rumah besar yang tadi sempat dibilang Apartemen oleh laki-laki itu, Vano ikut masuk karena membawakan barang-barang dari istri bosnya tersebut.
***
Ditempat lain.
Vannya masih tidak mau kalah, meskipun wanita itu sudah dilepaskan oleh Zayn, tetapi ia tetap ingin Zayn menjadi suaminya.
" Mam, pokoknya Vannya harus bisa memiliki Zayn, entah apa rencananya pkoknya Mam harus membantu Vannya! " seru wanita cantik dan bertubuh seksi itu kepada mamanya.
__ADS_1
Mama Mireya langsung menatap tajam putrinya tersebut, dengan diiringi gelengan kepala pelan.
" Kamu gila ya, beruntung si Zayn bisa memaafkan kita, kita hanya diberi kesempatan 1 kali saja Vannya, jangan aneh-aneh deh kamu, banyak laki-laki kaya selain Zayn, pikir 2 kali Van. "
" Tidak mam pkoknya Vannya harus bisa memiliki Zayn, pkoknya mama harus bantu aku, kita masih ada harapan untuk membujuk tante Inne kan, karena satu satunya jalan yang bisa membujuk Zayn hanya tante Inne, karena Zyan itu putranya. " kekeuh Vannya karena wanita itu tetap besikeras untuk mendapatkan Zyan, padahal Zayn sudah menikah dengan Jasmeen kemarin, tetapi Vannya dan mama Mireya tidak tahu, karena pernikahan mereka sudah disembunyikan rapat, meskipun Vannya tahu Zayn akan menikahi Jasmeen tetapi wanita itu tidak tahu kapan Zayn dan Jasmeen akan melaksankan pernikahannya.
Mama Mireya merasa pusing dengan permintaan putrinya tersebut. " Terserah kamu deh Van, mama tidak ikut-ikutan lagi, jika bersangkutan dengan laki laki itu! " ujar mama Mireya yang tetap tidak mau membantu putrinya tersebut.
" Jangan begitu dong mam, " sentak Vannya karena terkejut dengan apa yang barus saja dilontarkan oleh mama Mireya.
" Mama harus bantu aku pokoknya titik. "
Suara ponsel tiba-tiba berdering membuat perdebatan mereka berdua menjadi berhenti. Vannya mengangkat panggilan itu seraya mendekatkan benda pipih itu ditelinganya.
" Halo ada apa! " sapa Vannya terlebih dahulu dengan menggunakan nada sedikit kesal.
(...)
" Benarkah??? " Tiba-tiba raut wajah Vannya yang kesal tadi berubah menjadi bahagia, senyum menggembang muncul dibibir wanita cantik itu.
(...)
" Baiklah-baiklah aku bersedia, satu jam lagi aku kesana! " selepas berbicara seperti itu panggilan Vannya mengerti, mama Mireya yang melihat perubahan putrinya menjadi bahagia langsung keheranan.
" Kenapa kamu senyam-senyum sendiri Van? " tanya mama Mireya yang penasaran akan tingkah putrinya tersebut.
" Aku dapat job model lagi mam! "
" Benarkah? " mama Mireya merasa ikut senang ketika mendengar ucapan dari putrinya.
" Iya dong mam. " Vannya masih dengan raut wajah sama, ia merasa senang sampai lupa akan kekesalannya dengan mamanya soal perdebatan mengenai Zayn tadi.
" Syukurlah Van, ya sudah ayo mama bantu siap-siap, " ujar mama Mireya seraya menggandeng tangan putrinya tersebut untuk bersiap-siap bertemu dengan seseorang yang baru saja menelfon putrinya, dan Vannya langsung meniyakan ajakan mamanya.
***
Halo saya balik lagi nih😁, maaf kelamaan updatenya, jangan lupa tinggalin like, komen dan rate bintang 5-nya ya, oh ya jangan lupa vote juga kalau mau.
Terimakasih🧡
__ADS_1