
Beberapa menit kemudian Hans dan Jasmeen menghampiri mobil Alpard Hitam milik Zayn dihalaman RS yang sepi dan jarang ada orang berlalu lalang, mereka memilih menjemput Jasmeen ditempat itu karena mereka menghindari orang-orang yang sengaja ingin menggali informasi mengenai tuan mudanya.
" Maaf bos muda, " hanya itu yang keluar dari mulut Hans, ia tahu jika kali ini bosnya akan marah karena sudah membuat dirinya menunggu lama.
Zayn mendesah kesal. Vano yang berada di kemudi depan mengarahkan matanya kepada Hans, agar lelaki itu segera membawa Jasmeen masuk kedalam mobil.
Hans mengangguk samar dan mengerti, segera ia membukakan pintu mobil untuk Jasmeen, sementara Zayn sedari tadi hanya diam dan memasang wajah datar dan dingin, bahkan ia juga tak menoleh ke arah Hans maupun Jasmeen.
Jasmeen hanya menundukkan kepalanya, gadis itu juga tak berani menatap ke arah lelaki angkuh yang katanya akan menjadi suaminya itu, meskipun agak berat rasanya bagi Jasmeen untuk menerima ini semua, namun bagaimana lagi seolah semuanya sudah menjadi takdir untuk dirinya, karena tuhan akan memberikan garis yang tepat untuk umatnya dan Jasmeen percaya itu.
Astaga apa benar lelaki ini yang akan menikah dengan ku, ya tuhan dia menyeramkan sekali.
" Mari nona silahkan masuk! " Hans berseru kepada Jasmeen dengan sopan, agar gadis itu segera memasuki mobil yang berada didepannya.
Dengan langkah berat Jasmeen pun menuruti perkataan Hans, segera ia memasuki mobil milik Zayn. Jasmeen duduk disamping Zayn dengan menundukkan kepalanya, takut-takut Zayn akan memarahinya karena Jasmeen sudah membuat lelaki itu menunggu dirinya terlalu lama.
Vano yang sedang berada dikemudi itu pun juga memasang wajah sama datarnya, Jasmeen semakin dibuat gemetaran, bahkan belum juga ada satu menit dia duduk disana, suasana didalam mobil itu sungguh mengerikan.
Ketika Jasmeen sudah memasuki mobil itu, Hans langsung menutup pintu mobil kembali, dan segera ia bergegas menuju mobil dibelakangnya untuk mengikutinya.
***
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, mereka bertiga hanya diam saja tanpa berbicara sepatah katapun, Jasmeen tak berani menoleh kepada orang yang duduk disampingnya, ia takut untuk menatapnya, jangankan menatapnya melirik saja Jasmeen tak berani, selama di perjalanan gadis itu memilih menatap ke arah luar jendela mobil.
Jasmeen meremas kuat tangannya, ketika ia merasakan perjalanan yang cukup jauh, sesekali Jasmeen memberanikan diri untuk melirik kearah lelaki angkuh yang berada di sampingnya itu, Zayn yang mendapat lirikan dari Jasmeen tetap tak berkutip, ia masih sama dengan memasang wajah datar dan dingin khasnya, Jasmeen yang sedari tadi tak sengaja melihatnya pun langsung merinding bahkan ia juga begidik ngeri.
Bagaimana aku bisa hidup dengannya, dia saja sangat dingin dan angkuh begitu, ya tuhan sungguh benar-benar manusia yang menyeramkan. pikir Jasmeen dalam hati.
Jasmeen berganti beralih memandangi area luar mobil lagi, menatap ke arah pemandangan di sekitar, tanpa memperdulikan susana mobil yang terlihat begitu sunyi dan mengerikan baginya, suasana diluar pun sungguh ramai, bahkan saat ini jalanan di area ibu kota sedikit padat dan macet, terlihat banyak pengendara berlalu lalang tak ada hentinya, membuat kepala Jasmeen sedikit pusing dan mengantuk, tanpa disadari gadis itu sudah tertidur didalam mobil.
__ADS_1
Entah sudah beberapa lama Jasmeen tertidur, sekarang ia terbangun ketika terusik dengan suara seseorang berbicara, saat Jasmeen merasa mobilnya tak bersuara ia segera membuka matanya.
Jasmeen sedikit tersentak saat melihat Zayn yang tiba-tiba sudah menuruni mobil dengan disambut oleh Vano dan juga beberapa bodyguard lainnya.
Lelaki berparas tampan itu menuruni mobil yang sudah dibukakan oleh Vano, ia terlihat sangat gagah, memakai kaos putih dengan setelan jas hitam dipadukan celana jeans coklat, tak lupa juga memakai sepatu Sneakers putih serta rambutnya yang klimis, dan juga bau harum parfum mahal JAR Bolt of Lightning menusuk indra penciuman setiap orang yang tidak sengaja melewati dirinya, dengan disertai tatapan dingin dari sang empunya menambah ketampanan dari laki-laki itu, namun saat ini Jasmeen hanya bisa menatap kearah punggung lelaki itu, lelaki itu menuruni mobil tanpa mengajak bicara ataupun sekedar menegur Jasmeen selama diperjalanan.
Jasmeen pun kebingungan, ia sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat keluar jendela, saat Jasmeen melihat pemandangan didepannya ia begitu terpukau ketika melihat sebuah Mansion mewah serta taman yang begitu indah, halamannya luas sebagian dipenuhi dengan berbagai macam bunga warna-warni cantik membuat setiap pasang mata yang melihatnya akan terpesona, tak lupa juga dengan dikelilingi berbagai kupu-kupu berterbangan dimana-mana.
" Ehem, maaf nona kita sudah sampai, mari nona silahkan turun. " Suara Vano menyadarkan kekaguman Jasmeen, seketika gadis itu tersentak.
" Oh em iya. " Jasmeen segera keluar dari mobil itu dan mengikuti arahan Vano.
Ah apa ini? sebuah Mansion mewah, em tapi Mansion ini milik siapa ya, kenapa aku diajak kesini. Jasmeen bergumam dalam hatinya.
Gadis itu masih tertegun ketika melihat Mansion yang besar ini, ia sangat lama tidak merasakan atau menginjakkan kakinya dikediaman mewah lagi, dulu Jasmeen pernah tinggal dirumah besar milik keluarganya namun tidak sebesar Mansion yang di ijaknya ini, pada saat ayahnya masih hidup Jasmeen dan keluarganya tidak serba kekurangan seperti sekarang.
Ah sudahlah itu hanya masalalu keluargaku.
Zayn yang sedari tadi melihat raut wajah Jasmeen berubah sedih sembari mengernyit, lelaki itu tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis didepannya sekarang.
" Ehem. " Zayn berdehem sedikit keras, membuat gadis itu tersentak dan tersadar dari kesedihannya.
" Eh maaf, " lirih Jasmeen dan langsung menundukkan kepala.
Tanpa menjawab ucapan Jasmeen, lelaki itu tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah Jasmeen, Gadis itu terkejut, terlihat pancaran aura kebingungan muncul di wajahnya.
Apa-apa an ini, kenapa dia malah mengulurkan tangannya kepadaku ?
Zayn yang tak sabaran segera manarik tangan Jasmeen dengan kasar, membawa gadisnya masuk kedalam Mansion milik keluarganya, Jasmeen yang marasa ditarik sebenarnya sedikit kesal, langkah Zayn yang panjang membuat Jasmeen begitu sulit untuk menyamainya, namun Jasmeen tak berani berbicara atau memprotesnya, ia hanya bisa mengikuti lelaki angkuh yang saat ini ada didepannya.
__ADS_1
Setibanya di depan pintu, mereka berdua sudah di sambut oleh kepala pelayan yang berada didalam Mansion itu.
" Selamat datang tuan muda dan nona. " Kepala pelayan berujar sembari menundukkan kepalanya hormat.
Wah jadi dia pemilik Mansion ini, pantas saja seperti berkuasa dimana mana, semua menyambutnya dengan hormat begitu.
" Kemana mereka semua? " Zayn bertanya dengan nada dingin.
Kepala pelayan langsung mengerti, siapa lagi yang dimaksud oleh tuan mudanya jika bukan keluarganya, segera kepala pelayan itu menjawab pertanyaan Zayn dengan cepat.
" Tuan besar, nyonya besar dan nona Vannya sedang berkumpul di ruang keluarga tuan, kalau nona muda sudah dari tadi pagi berangkat ke kampus. " Kepala pelayan menjelaskan kepada Zayn dengan suara lembut, nona muda yang dimaksud tersebut tak lain ialah Rena.
Tanpa membalas ucapan kepala pelayan itu, Zayn segera menarik tangan Jasmeen kembali, namun tarikan yang ini sedikit berbeda.
" Ayo masuk. " Ajaknya, seraya menggandeng tangan Jasmeen.
Jasmeen terkejut ketika melihat isi dalam Mansionnya itu, setiap ruangannya benar-benar sangat besar, dalamnya sungguh sangat megah, dindingnya ber-cat cream keemasan dengan disertai hiasan dinding yang mahal-mahal, tatanannya sangat rapi dan indah, barang-barang didalamnya mengikuti trend masa kini, semuanya serba mewah.
" Setelah ketemu keluargaku, kamu harus benar-benar berakting jadi calon istriku, ingat jangan sampai membuat kesalahan atau gagal, ibumu yang akan menjadi sasaranku, " ujar Zayn tanpa menatap kearah Jasmeen, seketika gadis itu langsung terkejut menatap ke arah Zayn dengan gemetaran.
Ya tuhan pria macam apa dia ini, penuh pemaksaan.
Jasmeen membalas dengan mengangguk, Zayn yang sudah menerima jawaban dari Jasmeen sedikit menyunggingkan senyumnya, lelaki itu puas ketika melihat gadisnya menjadi penurut.
" Anak pintar! " seru Zayn, kemudian mereka berdua melanjutkan menuju ke ruang keluarga, dimana keluarganya sedang berkumpul disana.
***
Halo para Radersš¤ terimakasih sudah mau nyempetin baca di cerita ini, saya akan fokus dan melanjutkan novel ini sampai tamat, mohon dukungannya dari Raders semuaš tinggalin like, komen dan vote buat saya, saya akan berterima kasih banyak kepada kalian, jangan lupa Rate bintang 5 ya kakakš„°, thanks you all, aku sayang kalianšā¤ā¤
__ADS_1