
Setelah Jasmeen sampai di rumah sakit, gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar rawat ibunya, seperti biasa dia harus siap menghadapi semua ini sendirian.
Jasmeen duduk dikursi samping ranjang ibunya, mencium kening ibunya dengan lembut, tangan Jasmeen berpindah pada tangan ibu Andini yang telah di pasang dengan infus. Jasmeen menggenggam erat tangan ibunya dengan sedikit meneteskan air mata, merasakan kehangatan dari tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Beberapa menit kemudian.
Jasmeen memilih keluar dari ruang rawat ibunya, karena ibu Andini sedang tidur nyenyak, dia tidak mau menganggu istirahat sang ibu.
Saat Jasmeen melewati koridor rumah sakit, gadis itu sedari tadi melamun, sampai dia tidak menyadari telah berpapasan dengan seorang wanita yang mengenalnya, sampai wanita itu menyapa Jasmeen.
" Jasmeen? "
" Eh iya. " Jasmeen terkejut ketika dipanggil namanya, lalu gadis itu menoleh ke sumber suara.
" Lintang? " ujar Jasmeen tak percaya dengan perubahan Lintang, ternyata wanita yang memanggil Jasmeen itu adalah Lintang teman lama Jasmeen yang sudah lama tidak bertemu dari waktu perpisahan sekolah dasar, setelah itu mereka berdua berpelukan hangat.
" Ah Jasmeen lama sekali tidak bertemu denganmu " tutur Lintang dengan tersenyum ramah, kali ini Jasmeen juga membalas senyum Lintang tak kalah ramahnya.
" Iya Lintang, sudah lama kita nggak ketemu, gimana kabar kamu sehat? " tanya Jasmeen.
" Alhamdulillah aku sehat kok Jas, kalau kamu bagaimana? "
" Aku juga sehat kok Lintang! "
" Lo kok kamu sendirian, memangnya kamu mau kemana? kenapa kamu ada disini? " tanya Lintang, dan raut wajah Jasmeen seketika langsung berubah sedih.
" Em ibuku sedang sakit Lintang. " Jasmeen menjawab dengan sendu.
" Apa! tante Andini sakit, sakit apa Jas? "
" Iya ibuku terkena tumor otak, beliau harus segera di operasi dan aku sekarang lagi berusaha mencari pekerjaan agar mendapat uang untuk membiayai operasi ibu, tapi aku masih belum juga mendapat pekerjaan sampai sekarang. " balas Jasmeen dan Lintang menatap Jasmeen dengan tatapan iba.
" Oh begitu, kamu yang sabar ya Jasmeen, semoga ibumu cepat sembuh dan kamu juga segera mendapatkan pekerjaan. " tutur wanita itu dengan tulus.
" Em iya terima kasih Lintang, oh iya kamu tidak sekolah lagi kah? " tanya Jasmeen yang ingin mengalihkan pembicaraan.
Lantas Lintang langsung tersadar dari pikirannya.
" Eh... em aku sudah memutuskan sekolahku, sekarang aku sudah bekerja. " Jasmeen terdiam ketika mendengar jawaban dari Lintang, mungkin dia bisa meminta bantuan dengan Lintang.
" Lintang apa aku boleh bertanya? Em... apa ada lowongan pekerjaan untukku? " tanya Jasmeen dengan sedikit ragu.
Lintang terdiam kali ini dia sedang berpikir.
" Lowongan pekerjaan ya? sebentar kayaknya sih ada Jas. "
Ketika mendengar jawaban dari Lintang raut wajah Jasmeen langsung berubah sangat senang.
" Benarkah? boleh aku meminta nomor telpon mu, jika boleh kabari aku kalau ada lowongan pekerjaan, aku akan siap bekerja, " balas Jasmeen dengan antusias.
" Baiklah, ya sudah aku pergi dulu, semoga tante Andini cepat sembuh ya, byee Jasmeen. " Balas Lintang setelah berhasil bertukar nomor handphone dengan Jasmeen.
__ADS_1
***
Jasmeen berjalan keluar dari rumah sakit, namun langkahnya tiba - tiba terhenti, ketika dia teringat dengan pamannya, kakak dari ibu Andini.
" Ahh iya, kan masih ada paman Afrod, kenapa aku bisa lupa kepadanya ya, mungkin aku bisa meminta bantuan dengannya." gumam Jasmeen lirih, gadis itu segera mengambil ponselnya dari saku lalu menghubungi pamannya.
" Semoga paman mau membantuku, " ujarnya dalam hati. Jasmeen segera mendekatkan benda pipih itu didaun telinganya.
Tut...Tut... Bunyi ponsel memanggil bergema ditelinga Jasmeen, beberapa saat kemudian panggilan dari Jasmeen itupun diterima.
" Ha - halo paman! " sapa Jasmeen sedikit terbata.
" Ya? " balas istri pamannya yang bernama Aleen dengan nada yang begitu ketus.
Jasmeen yang melihat respon bibinya seperti itu membuatnya sedikit takut untuk melanjutkan niatnya. Tetapi gadis itu juga sudah tidak ada pilihan lain selain meminta tolong kepada keluarga pamannya, dia tidak mungkin hanya akan mengandalkan kabar dari Lintang, kalau bukan dari pamannya bagaimana bisa Jasmeen mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat.
" Apa? " balas bibi dengan nada tidak suka.
" Bibi, paman ada? "
" Tidak! "
" Bibi Aleen, Jasmeen ingin sekali bertemu dengan paman, Jasmeen mohon bibi." Jasmeen berkata dengan parau, suara Jasmeen semakin berat, lama - lama gadis itu mulai terisak.
" Ada perlu apa mencari pamanmu? " bibi Aleen masih menjawab ketus.
" Bibi, ibuku sedang sakit. "
" Hem terus? " kata - kata yang keluar dari mulut bibi Aleen itu seolah berhasil mencekik tenggorokan Jasmeen.
" Bibi aku ingin meminjam uang! " ujar Jasmeen yang akhirnya tude point.
" Pinjam uang berapa? " suara bibi Aleen terlihat begitu santai seolah - olah dia sudah tidak terkejut dengan ucapan keponakannya itu.
" Em hanya 200 juta bi. "
Sontak bibi Aleen terkejut dan dia berteriak.
" What - what 200 juta!!! Tidak! pamanmu tidak ada uang segitu, lagian uang sebanyak itu kamu juga tidak akan bisa mengembalikkannya. "
Tut...
Tiba-tiba panggilan terputus begitu saja. Jasmeen merasakan sesak di dada, dia tak menyangka bahwa keluarga satu - satunya yang dia punya sangat tidak mempunyai hati nurani sama sekali.
Kenapa bibi Aleen sangat jahat sekali, seperti tidak menyukai keluargaku yang sedang mengalami kesulitan ini, kalian sungguh tega.
" Tidak, aku tidak boleh menyerah seperti ini, aku harus terus berusaha." Jasmeen menyeka air matanya, yang sempat mengalir dengan sendirinya.
" Aku harus bisa membujuk paman, tadi yang mengangkat telponku adalah bibi, mungkin kalau aku bertemu paman langsung, dia akan mau membantuku. " Jasmeen segera berlari meninggalkan rumah sakit tersebut untuk menemui pamannya.
***
__ADS_1
Jasmeen pergi menuju ke perusahaan AF Corp, perusahaan milik kakak ibunya yaitu paman Afrod. Jasmeen berjalan pelan menuju gedung kantor yang sudah ada didepan matanya, sedari tadi gadis itu mencari keberadaan pamannya.
Pada akhirnya Jasmeen berhasil menemukan keberadaan pamannya itu ketika bertanya kepada satpam yang berjaga didepan kantor AF Corp milik pamannya tersebut.
Jasmeen dengan ragu berjalan ke bagian resepsionis untuk menanyakan keberadaan pamannya saat ini.
" Mbak? " sapa Jasmeen ketika mendekati petugas Resepsionis, gadis itu sedikit gugup ketika bertanya.
" Iya mbak bisa saya bantu? "
" Em bolehkah saya bertemu dengan paman Afrod mbak? "
" Maaf, anda siapa ya? apakah anda sudah membuat janji dengan direktur kami? " tanya petugas Resepsionis itu lagi. Jasmeen merasa tak nyaman saat berada di kantor tersebut, karena Jasmeen hanya memakai pakaian anak rumahan.
" Em belum tapi saya sudah menelpon bibi Aleen, istrinya paman Afrod, saya ini keponakan paman Afrod! " seru Jasmeen dengan sedikit ragu, kemudian dibalas anggukan oleh petugas Resepsionis tersebut, lalu petugas itu segera menelfon Direkturnya.
" Hallo tuan Direktur, maaf sedikit mengganggu anda, disini ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan anda, katanya dia adalah keponakan anda."
(...)
" Baiklah tuan Direktur. " Lalu petugas itu meletakkan iphonenya.
" Mohon maaf, tuan Direktur sedang sibuk nona, saat ini tuan Direktur sedang bersama dengan client pentingnya, silahkan nona pulang terlebih dulu dan bertemu dilain waktu! " ujar petugas resepsionis itu dengan suara lembut.
" Tapi saya membutuhkan paman saya sekarang mbak, tolong pertemukanlah saya sebentar saja ya, saya mohon, " ujar Jasmeen dengan mengantupkan kedua telapak tangannya, namun jawaban petugas itu tetap sama, dia melarang Jasmeen untuk menemui Afrod dan menyuruhnya pulang.
Dengan berat hati Jasmeen menurutinya, gadis itu tak bisa melakukan apapun lagi, lalu dia pergi meninggalkan petugas Resepsionis.
Ketika Jasmeen hendak melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu, tiba - tiba Jasmeen mendengar bunyi pintu lift terbuka, sontak membuat Jasmeen langsung memutar tubuhnya menghadap kearah lift itu.
Saat lift itu sudah terbuka, Jasmeen terkejut sekaligus senang ketika melihat sosok yang dikenalnya, seorang pria paruh baya dan pria muda tampan yang terlihat dingin berada disebelahnya. Pria paruh baya itu tak lain ialah pamannya Jasmeen yaitu paman Aford.
" Paman Afrod! " seru Jasmeen dengan senangnya, hal itu membuat Afrod terkejut.
Gadis tengil ini ternyata belum pulang.
" Paman. " ucap Jasmeen lagi sembari mendekati pamannya, namun Afrod malah menatap keponakannya itu dengan tajam.
" Maaf. " imbuh Jasmeen dengan menundukkan kepalanya, karena gadis itu takut dengan tatapan mengintimidasi dari pamannya.
Afrod tanpa membuka suaranya segera memanggil dan mengisyaratkan satpam untuk menyeret Jasmeen keluar dari kantornya. Jasmeen yang diseret oleh satpam itu meronta - ronta meminta dilepaskan. Pria muda yang berada di samping paman Afrod itu hanya menatapnya dengan dingin dan datar.
" Siapa gadis itu kenapa kau usir? " tanya pria dingin itu, dia lebih sering di panggil dengan sebutan tuan Zayn dimana - mana, dan Afrod langsung bingung untuk menjawab pertannyaan dari laki-laki itu.
" Maaf tuan Zayn, jika anda sudah salah faham dengan gadis itu, dia itu bukan siapa - siapa saya, jadi itu tidak terlalu penting, mari kita lanjutkan pembahasan kerja sama kita. "
" Hemm baiklah, " balas Zayn dengan menampakkan ekspresi datar, ekspresi tersebut sulit ditebak orang.
Afrod tersenyum lega ketika mendengar ucapan dari laki-laki itu, kemudian Zayn keluar dengan melangkahkan kakinya mendahului Afrod.
" Oke kalau begitu kita cukup sampai disini tuan Afrod, kita bisa lanjutkan besok tuan, sekarang saya ada Janji penting dengan client lain di perusahaan saya, " pamit Zayn dengan ekspresi yang masih sama.
__ADS_1
" Baik tuan Zayn, terimakasih atas kedatangan anda kemari, sungguh kehormatan besar bagi saya, " ujar Afrod menyetujui permintaan laki - laki itu.
Zayn tak membalas ucapan Afrod, kemudian lelaki itu segera pergi keluar dari kantor tersebut dengan dijemput oleh mobil sedan hitam yang sedari tadi berhenti tepat didepan kantor Afrod, lalu meninggalkan Afrod yang mengantarkan dirinya didepan perusahaannya.