
Jasmeen menangis, gadis itu sangat kecewa setelah melihat perilaku dari pamannya terhadap dirinya tadi, dia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Bagaimana tidak? gadis itu telah berhasil diusir seperti sampah ketika didalam kantor milik pamannya.
Sekarang Jasmeen hanya bisa pasrah dan kembali menemui ibunya dirumah sakit dengan langkah lesu dan matanya yang sembab.
Setibanya Jasmeen diruangan ibu Andini, gadis itu terdiam ketika berdiri didepan ruang rawat ibunya, matanya langsung tertuju kepada pintu yang masih tertutup rapat.
Setelah berhasil membuka pintu, gadis itu segera melangkahkan kakinya mendekati ibunya. Ibu Andini masih tidur lelap dengan keadaannya yang semakin melemah. Jasmeen sungguh tak tega melihat keadaan ibunya yang seperti ini.
Jasmeen tak ingin menganggu tidur ibunya, gadis itu datang hanya untuk mencium kening ibu Andini, kemudian Jasmeen keluar dari ruangan ibunya dengan perasaannya yang begitu kacau.
Disisi lain Jasmeen tidak sanggup jika harus melihat ibunya dalam keadaan seperti sekarang, dia merawat ibunya sendirian, sedangkan adiknya Bellva, dia tidak peduli dengan sakit yang diderita ibunya tersebut.
Jasmeen melepas handel pintu, berbalik pergi dan berjalan keluar tanpa tujuan, gadis itu berjalan menyelusuri lorong rumah sakit dengan langkah lesu.
Tuhan bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, tolong aku tuhan hiks.
Jasmeen terus melangkahkan kakinya, kini gadis itu tidak tahu harus kemana, intinya Jasmeen hanya ingin menjauhi sebentar kamar ibunya, dia benar - benar tidak tega jika harus melihat keadaan ibunya yang semakin memburuk.
Jasmeen memilih duduk di kursi panjang dekat koridor rumah sakit, seketika gadis itu melamun lagi entah pikirannya tertuju kemana, dia menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong.
Terlihat sepasang mata sedari tadi mengawasi Jasmeen lalu mendekati gadis itu.
" Kakaknya Bellva! " seruan seorang laki - laki telah berhasil membuyarkan lamunan Jasmeen.
Sontak gadis itu langsung terperanjat kaget dan menoleh ke sumber suara. Jasmeen mengernyitkan dahinya saat mengetahui siapa laki - laki yang telah membuyarkan lamunannya itu, ternyata lelaki tersebut ialah Daven Steve.
" Ya." Jasmeen membalas laki - laki itu dengan cetus, gadis itu berkata tanpa menoleh ke arah Daven yang berada didekatnya.
__ADS_1
" Maafkan aku atas perbuatanku yang kemarin, aku telah mengganggu adikmu dan sudah membuatmu kesal. " Daven berucap sembari ikut duduk disebelah Jasmeen.
Jasmeen hanya diam, gadis itu tak menjawab perkataan Daven, Jasmeen menggeser tubuhnya agak menjauh dari Daven yang ikut duduk di sampingnya.
" Baiklah jika kau tak mau berbicara denganku, kelihatannya kau benar - benar masih marah kepadaku, ya sudah hari ini aku tak mau mengganggumu, kita bicara lain kali saja, aku pergi dulu. " pamit Daven sembari berdiri dari diduduknya lalu meninggalkan Jasmeen yang masih dengan posisi tak bergeming.
Daven pergi meninggalkan Jasmeen yang masih duduk terdiam disana, sesekali mata Daven menoleh ke arah Jasmeen, namun gadis itu tak mengindahkan Daven.
Ada apa dengan gadis itu ya, kenapa dia terlihat begitu kacau, semetara Bellva, dia saja selalu terlihat senang bahkan tanpa terlihat ada beban apapun dipikirannya.
Daven bergumam sendiri memikirkan kakak beradik yang sedikit aneh dipikirannya itu.
***
Jasmeen tetap duduk dikursi tersebut, matanya masih menatap kesembarang arah, dia sedikit merasa miris dengan hidupnya, ketika gadis - gadis seusianya bisa bermain bersama teman-temannya, namun gadis itu justru harus menjadi tulang punggung keluarga, meskipun dia mempunyai adik perempuan, tetapi Jasmeen tak mengharap adiknya akan seperti dirinya, karena ia tahu jika sifat adiknya itu sangat bertolak belakang dengan dirinya.
Jasmeen menarik nafasnya dalam - dalam tetapi gadis itu masih dengan posisi yang sama, beberapa kali dia selalu berpikir keras, jika ibunya benar - benar pergi meninggalkan dirinya dan sang adik. Jasmeen tak tahu harus bagaimana, cukup ditinggal seorang ayah saja sudah membuat hatinya sedih dan hancur berkeping - keping.
Gadis itu memejamkan matanya, merasakan air matanya yang menetes membasahi pipi, andai saja Jasmeen boleh putus asa, karena sampai saat ini gadis itu belum bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu yang singkat, bahkan pekerjaan saja dia juga tidak punya sampai sekarang, uang untuk biaya rumah sakit ibunya juga semakin menipis, Jasmeen juga sudah tak punya tabungan lagi, sungguh miris nasibnya.
Saat dirasa Jasmeen sudah cukup lama berada disitu, dia memutuskan untuk kembali menemui ibunya, namun saat melewati koridor rumah sakit langkah Jasmeen tiba-tiba berhenti karena ponsel miliknya berdering nyaring, terlihat di ikon layar kontaknya bernama Lintang.
" Ah Lintang." Jasmeen tersenyum lebar setelah dia melihat ternyata Lintang yang menelponya, gadis itu segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih ke daun telinganya.
" Halo Lintang? " sapa Jasmeen terlebih dulu.
" Halo Jasmeen, kamu dimana? aku ada kabar baik nih buat kamu, aku sudah mendapat lowongan pekerjaan, apakah kamu mau? Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang pas untukmu." Ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Lintang, senyum Jasmeen langsung mengembang.
__ADS_1
" Beneran kamu tidak becandakan Lintang? iya aku sangat mau dong Lintang."
" Oke baiklah kalau kamu mau Jasmeen, nanti kita bertemu di taman XX ya. " Ujar Lintang disebrang sana.
" Baiklah Lintang." Jawab Jasmeen penuh dengan semangat.
Kemudian panggilan mereka terputus.
***
Setelah mendapat kabar baik dari Lintang bahwa dia akan mendapat pekerjaan, gadis itu menjadi bersemangat kembali.
Sesampainya didepan ruangan ibunya. Jasmeen menghentikan langkahnya dan langsung terdiam, dia melihat paman dan bibinya sedang ada disana.
" Ngapain mereka kesini, " gumam Jasmeen dalam hati, sejujurnya Jasmeen masih sangat sakit hati dengan perilaku pamannya tadi siang saat dikantor, Jasmeen benar - benar telah dianggap seperti sampah waktu itu.
Sebelum paman dan bibi Jasmeeen masuk ke dalam ruang rawat ibu Andini. Jasmeen segera menghentikan langkah kedua orang tersebut.
" Paman, Bibi! " panggil Jasmeen dengan jarak yang agak berjauhan, sontak membuat paman dan bibinya menoleh ke sumber suara.
Jasmeen menatap kedua orang di depannya dengan tatapan aneh, bibi Aleen sangat menunjukan tatapan tajam ke arah Jasmeen. Jasmeen merasa jika paman dan bibinya saat itu sedang tidak baik - baik saja.
" Kemari lah Jasmeen. " Paman Afrod berkata dengan suara lembut, dan menunjukan tatapan ramah tamahnya, lalu pria baruh baya itu tersenyum kepada Jasmeen, tidak tahu apa arti dari senyuman itu. Apakah senyuman itu tulus ataukah palsu? sedangkan bibi Aleen saat ini sedang melipat kedua tangannya didada tanpa menoleh ke arah Jasmeen lagi.
Tubuh Jasmeen gemetaran, perlahan gadis itu melangkahkan kakinya pelan menuju ke arah saudara ibunya tersebut.
***
__ADS_1