
Halo Author balik lagi.
Jangan lupa likenya ya💕.
***
Setelah acara makan siang di restoran tak jauh dari rumah sakit, kini Jasmeen dan Daven menjadi semakin akrab. Jasmeen berpikir jika Daven tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, tidak se-brengsek yang Jasmeen pikirkan namun sebaliknya, Daven ternyata orang yang sangat baik dan humoris meskipun terkadang sedikit menjengkelkan bagi Jasmeen.
" Oh ya aku lupa, kita kan belum kenalan satu sama lain. " Daven berbicara karena ingin memecahkan keheningannya dengan Jasmeen sambil berjalan menuju rumah sakit.
" Kan kau sudah kenal aku. " Jasmeen membalas acuh tak acuh.
" Tapi aku belum tahu namamu, aku hanya tahu kalau kamu itu kakaknya Bellva saja. "
Jasmeen berpikir sejenak, memang setiap kali mereka bertemu tidak ada yang memperkenalkan diri masing-masing.
" Oh iya kah, namaku Jasmeen. " Jasmeen membalas tanpa menoleh ke arah Daven.
" Jasmeen? nama yang cantik seperti orangnya." Daven menatap Jasmeen dengan tersenyum, Jasmeen yang mendengar pujian dari Daven seketika menjadi malu, pipi Jasmeen berubah merah merona seperti tomat.
" Sudah jangan malu begitu, lihat pipi kamu tuh merah kayak tomat. " Daven terkekeh sengaja untuk menggoda Jasmeen. Jasmeen semakin dibuat malu ia menundukkan kepalanya, bahkan tak berani untuk menatap Daven.
" Kalau namaku Daven Steve, panggil saja aku Daven si cowok tampan hehehe. " Imbuh Daven yang sengaja ingin menghibur Jasmeen, seketika Jasmeen langsung tertawa setelah mendengar kepedean si Daven.
" Ih pede amat sih, padahal jelek gitu, " ujar Jasmeen yang masih tertawa.
" Yee wajah tampan gini di bilang jelek! " seru Daven yang ikut tertawa, kemudian mereka berdua tertawa bersama.
" Kalo lagi senyum gini kamu kelihatan tambah cantik Jass, " batin Daven sembari tersenyum dengan tulus.
" Em Daven sebaiknya dari sini saja kau mengantarkanku ya, aku masih ada urusan sebentar. " Seketika Jasmeen menghentikan langkahnya lalu menatap Daven dengan sedikit memohon.
__ADS_1
Jasmeen hanya tidak mau jika Daven mengetahui tentang sakit yang diderita ibunya, meskipun sebenarnya Daven sudah tahu semuanya tanpa sepengetahuan dari Jasmeen, malah Daven ingin sekali membantu melunasi biaya operasi ibunya Jasmeen.
" Kenapa Jasmeen? " Daven bertanya seolah ia tidak mengetahui apapun tentang sakit yang di derita ibunya Jasmeen.
" Tidak apa-apa sih, em aku hanya.." dengan cepat Daven akhirnya memotong ucapan Jasmeen.
" Hem baiklah mungkin ada alasan sendiri bagimu, ya sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu ya Jass, kalau ada apa-apa bilang saja ke aku jangan sungkan-sungkan, nih aku kasih kartu namaku disitu ada nomor ponselku.
" Daven memberikan sebuah kartu nama kepada Jasmeen.
Kemudian Daven pergi meninggalkan Jasmeen sembari tersenyum dengan penuh arti, Jasmeen pun menerima kartu tersebut lalu ia membacanya.
'Daven Steve penerjemah bahasa, penerus perusahaan Steve Corp, nomor telpon xxxx'
" Apa maksudnya ini, katanya dia masih sekolah bahkan dia itu seumuranku? " Jasmeen bergumam dipikirannya sendiri.
" Ah biarlah aku tidak peduli Daven itu siapa, sekarang yang terpenting aku harus menemui ibu dulu, " guman Jasmeen seraya menepiskan pikiran tentang Daven. Jasmeen menyelipkan kartu nama tersebut disakunya, kemudian Jasmeen kembali berlari menuju ruangan ibu Andini.
***
Ya tuhan, semoga operasi ibuku berjalan dengan lancar. Amiin.
Jasmeen tak pernah berhenti bedoa untuk ibunya, meskipun sekarang Jasmeen sendirian ia tak peduli, saat ini yang Jasmeen pedulikan hanya tentang ibu Andini, setelah paman Afrod selesai melunasi biaya operasi ibu Andini, ibu Andini sudah bisa menjalani operasi, ada rasa senang dan sedih di hati Jasmeen berkecamuk menjadi satu.
Setelah 2 jam berlalu Dokter pun keluar ruangan, beserta dengan beberapa perawat yang membantu untuk mendorong brankar milik ibu Andini. Jasmeen yang melihatnya seketika tersentak, ia segera mendekat ke arah Dokter dengan perasaan cemas menyelimuti hatinya.
" Dokter, bagimana keadaan ibu saya sekarang? " Jasmeen bertanya sembari menghentikan langkah Dokter tersebut.
" Operasi ibu anda sudah berjalan dengan lancar nona, anda sudah tidak perlu mengkhawatirkan lagi tentang ibu anda, tuhan masih sayang kepadanya, ibu anda sangat kuat sehingga beliau bisa melewati masa operasi dengan mudah, " tutur Dokter menjelaskan kepada Jasmeen.
Jasmeen yang mendengarnya langsung bisa menghela nafas lega setelah faham dengan penjelasan dari Dokter tersebut.
__ADS_1
" Iya sudah, terima kasih ya Dok atas penjelasannya. " Jasmeen berkata dengan raut wajah senangnya, bahkan berkali-kali Jasmeen mengucapkan terima kasih kepada tuhan karena telah mengabulkan doanya.
Dokter pun menangguk tersenyum kepada Jasmeen, kemudian keduanya pergi meninggalkan tempat tersebut, kini Jasmeen kembali berjalan menuju ruang ibu Andini yang sudah di pindahkan.
Kekhawatiran Jasmeen tiba-tiba hilang setelah sekian lama ia berusaha mencari uang untuk biaya operasi ibu Andini akhirnya terkabulkan, meskipun dirinya telah menjadi korban pamannya, hal itu tidak masalah bagi Jasmeen, toh dia berpikir masih bisa bertemu dengan ibunya.
Jasmeen kembali tersenyum meskipun sesekali ia meneteskan air mata karena bahagia bisa melihat ibunya di rawat di ruangan kelas VIP, karena pamannya tadi yang menyuruh pihak rumah sakit untuk memindahkan ibu Andini di rawat diruang kelas atas tersebut.
Kini Jasmeen melihat ibu Andini yang sedang terbaring di kasur dengan nafas normal di dalam kamar dengan fasilitas yang lengkap dari kaca pintu kamar VIP yang ditempati ibu Andini.
Jasmeen hendak membuka pintu ruangan kemudian memegang handel pintu lalu mendorongnya, dan perlahan Jasmeen memasuki ruang ibu Andini dan menutup pintunya kembali.
Jasmeen segera mendekat ke arah ibu Andini, namun langkahnya berhenti sejenak saat tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka lagi dan ternyata yang masuk ialah seorang suster untuk memberitahu Jamseen.
" Nona. " Ujar suster lirih.
" Iya ada apa? "
" Nona sebaiknya jangan menemui ibu Andini terlebih dulu ya, supaya ibu Andini bisa istirahat dengan tenang, karena beliau memang benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup banyak seusai menjalankan operasi, " ujar suster tersebut menjelaskan pada Jasmeen sembari berdiri tepat didepan pintu.
Jasmeen tak bergeming, ia kembali menoleh ke arah ibu Andini yang sedang tertidur pulas, kemudian Jasmeen bergantian menoleh lagi kearah suster yang sedang menunggu dirinya dengan menangguk samar.
Jasmeen menghela nafasnya pelan, sejujurnya ia sangat rindu dengan ibunya, namun setelah mendengar perkataan suster tersebut Jasmeen kembali mengurungkan niatnya untuk menemui ibu Andini, saat ini ibu Andini benar-benar membutuhkan banyak istirahat setelah selesai menjalani operasi.
Kemudian tanpa berbicara sepatah katapun Jasmeen menangguk dan mengikuti arahan suster untuk keluar dari ruangan ibunya, suster itupun akhirnya bisa tersenyum lega ketika melihat Jasmeen menurut kepadanya.
Setelah Jasmeen keluar dari ruangan ibu Andini, ia kembali melangkahkan kakinya menuju koridor rumah sakit.
" Em mungkin aku pulang dulu kali ya untuk memberi kabar Bellva dan juga membiarkan ibu istirahat dulu, nanti sore aku kembali kesini lagi, " gumam Jasmeen dalam hatinya, dengan cepat Jasmeen kembali melangkah untuk kembali kerumahnya.
***
__ADS_1