
Selamat membaca semoga suka....
Jangan lupa likenya ya 💕
***
Pria paruh baya itu semakin tak bisa mengendalikan dirinya, membuat Jasmeen semakin ketakutan, Jasmeen berusaha memberontak, namun sia-sia pria itu mencengkram dagu Jasmeen dengan sangat kuat, merasakan emosi yang tinggi, karena sendari tadi Jasmeen tidak mau diam.
" Diam, jangan memberontak atau aku akan memperlakukanmu lebih kasar nantinya, dasar ****** sialan."
Kini Jasmeen menangis, isakannya semakin keras, apakah dirinya akan berakhir sampai disini? ataukah memang ini sudah menjadi takdirnya? mungkin jika Jasmeen boleh memilih dia akan mengakhiri hidupnya tetapi bukan dengan cara kotor seperti ini.
" Pergi kamuu, pergi bre**sek! " Jasmeen berteriak dengan sekuat tenaga, ia merasa sangat jijik dengan pria yang ada didepannya, namun sebelum pria itu menyeret Jasmeen masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan, tiba-tiba pria itu mendapat sebuah pukulan yang mendarat tepat diwajahnya sampai tubuhnya ikut jatuh tersungkar di atas lantai, sehingga membuat semua orang langsung terkejut melihatnya.
Jasmeen masih dalam isakannya tubuhnya bergetar karena takut, kini pandangan nya jatuh kepada pria yang telah menolongnya.
Siapa pria itu? kenapa dia mau menolongku. Ucap Jasmeen dalam hati, ia merasa tak asing dengan lelaki yang sudah menolongnya itu.
Ketika pria paruh baya itu melihat siapa sosok yang telah memukulnya dengan tiba-tiba, ia dibuat sangat terkejut bahkan matanya membulat sempura.
" Tuan Zayn Jakson."
Setelah ia mengetahui jika itu benar-benar Zayn Jakson pemilik perusahaan terkenal dan ternama di berbagai kota dan negara. Siapa yang tidak kenal dengan dia? pria muda tampan yang angkuh dan kaya, keturunan dari kakeknya yang bernama Matja Jakson sekaligus pemimpin terbesar di Mancanegara. Bahkan para awak media siap 24 jam ingin mendapatkan berita tentang Zayn, namun Zayn selalu menghindar, karena soal kepribadian Zayn tak ada satu pun yang mengetahuinya.
Suasana Club pun terasa memanas. Zayn kembali memukulinya tanpa ampun, dengan banyak tonjokan yang mendarat, dan seketika terjadi kericuhan di dalam Club tersebut.
Rangga si pemilik Club besar itu hanya diam saja, ia tak berani bergerak bahkan dia juga tak berani memisahkan mereka berdua. Rangga hanya menatap punggung Zayn yang sibuk memukuli pria brengsek itu, ia tak berani melerai pertengkaran ini, karena para bodyguard Zayn sedang mengawasinya dan ada dimana-mana. Vano sedari tadi berdiri tegak tak jauh dari Rangga memasang wajah datarnya, jika yang bertengkar itu bukan Zayn. Rangga berani melerainya bahkan mengusirnya, namun kali ini Rangga tak bisa berbuat apa-apa.
" Sial kenapa malah jadi begini. " Gerutu Rangga dalam hati.
Selesai membuat keributan, Zayn segera menarik tangan Jasmeen dengan kasar, membawanya keluar dari Club malam tersebut.
" Tunggu, saya mau dibawa kemana tuan? " namun Zayn tetap bergeming dan terlihat beberapa orang berjas hitam yang ada di belakang mengikutinya, kini Jasmeen hanya pasrah ia menghapus bekas air matanya lalu mengikuti langkah pria yang berada di depannya dengan cepat.
Ternyata yang mengikuti mereka ialah Vano sekertaris Zayn dan para pengawal lainnya, mereka semua mengikuti bos mudanya dari belakang dengan wajah yang sama dingin dan datar seperti Zayn, namun masih terlihat tenang.
__ADS_1
Setelah sampai keluar gedung Blackstar Club itu, Zayn melepaskan genggaman tangan Jasmeen, tanpa sepatah kata pun dan dengan ekspresinya yang dingin ia kembali memasuki mobil Alphard Hitam yang sudah menunggu di depan gedung Club tersebut, kemudian meninggalkan Jasmeen sendirian dan beberapa orang-orang berjas hitam juga mengikutinya menggunakan mobil lain.
Vano yang setia mengkuti Zayn dari belakang memberikan Jasmeen sebuah jas yang dikenakan Zayn tadi, untuk menutupi sebagian tubuh Jasmeen yang sedikit terbuka karena baju yang dikenakannya sangat minim. Vano memberikan jas milik Zayn itu atas dasar suruhan Zayn sendiri.
" Lain kali anda harus hati-hati nona. " bisik Vano kepada Jasmeen sambil berjalan, lalu pergi mengikuti mobil Zayn.
Jasmeen bergeming dengan perilaku orang - orang yang menurutnya aneh itu, gadis itu menatap mobil Zayn dengan masih tak percaya, bagaimana bisa setelah Jasmeen ditolong lalu gadis itu ditinggal begitu saja tanpa ada yang berbicara selain Vano yang membisikinnya tadi, sejujurnya Jasmeen ingin sekali mengucapkan banyak berterima kasih kepada Zayn yang sudah menolongnya.
Siapa ya sebenarnya mereka ini, sepertinya aku pernah bertemu, tapi dimana ya? ah sudahlah biarkan saja nanti kalau aku bertemu dengannya lagi aku akan berterima kasih kepadanya.
Mata Jasmeen kini kembali berkaca-kaca setelah mengingat jika Lintang yang telah tega menjual dirinya.
" Apa salahku kepadanya? aku tak menyangka kalau Lintang benar-benar tega menjualku. " Jasmeen bergumam dengan mata berkaca kaca, lalu ia mulai terisak.
***
POV ZAYN.
Zayn tetap dalam posisi sama, laki - laki itu merilekskan pikirannya di tempat bar milik Rangga, dia berada didalam ruangan khusus untuknya, dan hanya tempat ini yang bisa mengembalikan moodnya, meskipun lelaki itu tidak terlalu suka mengosumsi minuman yang berada didepannya sekarang ini.
" Eh bro lo tau nggak? " Rangga ikut membaringkan tubuhnya di sofa sebelah Zayn.
" Gak. " Zayn membalas dengan ketus.
Rangga berdecak sebal. Zayn selalu saja ketus seperti itu jika diajak bicara oleh Rangga.
" Dasar lo ini selalu tidak bisa diajak berbicara serius! " gerutu Rangga.
" Hm. "
Rangga menghela nafas lalu ia melanjutkan ucapannya.
" Aku baru kedatangan cewek baru nih, dari temannya tadi dia yang membawanya kesini, dia cantik men, aku sudah melihatnya. " Jelas Rangga yang masih menatap Zayn.
Namun tak ada reaksi apapun dari Zayn, laki - laki itu tetap bergeming ditempat. Rangga lalu menicibir pelan setelah melihat reaksi Zayn yang tak merespon.
__ADS_1
" Jika kau tahu orangnya kau pasti mau kencan dengannya, kata temannya sih namanya Jasmeen, dia cantik men." Mendengar nama Jasmeen disebut, Zayn langsung tersentak dari duduknya.
" Apa lo bilang? " Ulangnya.
" Iya gue bilang nama cewek itu Jasmeen. " Seketika mata Zayn melotot ke arah Rangga, kemudian Zayn segera keluar ingin melihatnya sendiri, dari ruang lantai atas mata Zayn menyoroti area Club, setelah menemukan seseorang yang ia cari. Zayn menggeram matanya berubah memerah.
" Ada apa bro? " Rangga bertanya dengan kebingungan.
Zayn tak menjawab pertanyaan Rangga, malah laki - laki itu langsung berlari keluar, ternyata dia berpapasan dengan Vano.
" Zayn, ada non.... " Ucapan Vano terputus oleh Zayn, sebenarnya Vano juga ingin melapor kepada Zayn, namun Zayn lebih dulu mengetahuinya dari Rangga.
Begitulah mereka, jika sudah berada diluar pekerjaan Zayn, sekertaris itu memanggil Zayn tidak dengan kata tuan, melainkan dengan sebutan nama asli, karena semua itu permintaan Zayn sendiri, meskipun Vano menjadi sekertaris Zayn namun lelaki itu menganggap Vano adalah temannya.
" Ya aku tahu Vano. " Zayn berujar kepada Vano, kemudian ia kembali berjalan kearah Jasmeen, lalu Vano mengikuti Zayn dari belakang.
***
Jasmeen melangkahkan kakinya menyelusuri jalanan dengan lesu, pikirannya saat ini sedang kacau karena Lintang. Bagaimana bisa orang yang ia anggap teman sendiri dan telah mempercayainya bisa-bisanya akan menjual Jasmeen dengan cara yang sangat kotor.
Beruntung nasib baik sedang memihaknya. Jasmeen sangat bersyukur sekali karena ada yang mau menolong dirinya, kalau tidak saat ini mungkin Jasmeen akan habis di tangan pria mata kranjang itu.
Ponsel Jasmeen tiba-tiba berdering, tanpa melihat ikon kontak Jasmeen segera mengangkatnya.
" Halo selamat malam, apakah ini dengan nona Jasmeen Chalondra? " suara lembut seorang perempuan disebrang sana.
" Iya dengan saya sendiri, ini siapa? " tanya Jasmeen karena memang gadis itu tidak kenal dengan suara tersebut.
" Saya dari pihak rumah sakit nona, mau menyampaikan jika ibu anda kembali mengalami kesakitan dikepalanya lagi, mohon untuk anda segera datang kerumah sakit sekarang. " Seketika Jasmeen segera menghentikan langkahnya.
" Apaa ibuku kembali kesakitan?? baiklah saya langsung kesana sekarang! " Jasmeen menjawab dengan terkejut, mata Jasmeen kembali berkaca-kaca, ia terlihat begitu kacau, pikirannya hanya di penuhi rasa takut.
Setelah mendapat panggilan dari pihak rumah sakit, Jasmeen segera berlari di sepanjang jalan, sampai ia menemukan sebuah tumpangan untuk menuju kerumah sakit.
***
__ADS_1