
Jasmeen menghela nafas panjang dan menghapus air matanya, ia mencoba menguatkan hatinya, kemudian gadis itu segera mengusap bekas air matanya, tidak seharusnya ia tak lemah seperti ini.
Jasmeen yakin jika dirinya bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi ibu Andini. Jasmeen mencoba untuk berusaha dan kuat menghadapi semua ini demi ibu tercinta.
Jasmeen segera berdiri dari duduknya. Namun gadis itu masih diam tempat. Dokter pun sudah keluar dari tadi setelah memberi kabar yang membuat Jasmeen kembali terpuruk lemah dan berpikir keras.
Jasmeen berjalan di depan pintu ruangan ibunya, lalu dengan tiba - tiba ada seseorang yang datang dan mengagetkannya dari belakang, sontak membuat Jasmeen langsung terperanjat kaget.
" HEY...! "
" Astaga. " Jasmeen terkejut ia memegang dadanya yang terasa akan loncat, ternyata dia adalah Daven.
Daven terkekeh pelan. " Hehe Maaf ya!"
Jasmeen tak membalas Daven, ia hanya menatap Daven dengan mata malas.
" Kamu ngapain disini lagi? siapa yang sakit? kenapa kamu sendiri dan dimana Bellva? " tanya Daven panjang lebar sampai Jasmeen tak muat untuk mencernanya.
" Brisik! " seru Jasmeen dengan cetusnya, lalu gadis itu kembali melangkah untuk menemui ibunya, ia segera masuk ruangan tanpa memperdulikan Daven yang masih berdiri ditempat, kemudian Jasmeen segera menutup pintu rapat-rapat. Daven yang melihat tingkah Jasmeen sembari menghembuskan nafasnya dan sedikit heran.
Siapa yang sakit ya kok aku penasaran.
Setelah Jasmeen memasuki ruangan ibunya, dari arah pintu gadis itu sedang menatap ibunya yang sedang tertidur pulas, Jasmeen langsung bisa bernafas dengan lega, dengan perlahan gadis itu mendekat ke arah ibu Andini dengan langkah lesu dan mata sendu, kemudiam Jasmeen duduk di samping ibu Andini lalu meraih tangannya dan memegang erat tangan sang ibu.
" Ibu, Jasmeen berjanji kepada ibu, ibu akan segera sembuh, tolong bersabarlah sebentar bu, Jasmeen masih berusaha, ibu harus kuat ya. " Jasmeen bergumam dengan kembali meneteskan air matanya.
Jasmen menoleh ke arah jam di dinding yang menandakan pukul 19.00 WIB, membuat Jasmeen terkejut seketika ia tersadar.
" Astaga sudah jam segini." Ponsel Jasmeen tiba-tiba bergetar terlihat di layar ikon kontak Jasmeen bernama Lintang.
Jasmeen segera menjauh dari ibunya untuk mengangkat panggilan dari Lintang.
__ADS_1
" Halo Lintang." Jasmeen berkata dengan lirih karena ia tak mau mengganggu tidur ibu Andini.
" Halo Jasmeen, hey kau kemana saja, aku sudah menunggumu dari tadi di taman, segeralah kemari." Balas Lintang di sebrang sana.
" Baiklah aku akan kesana sekarang, maaf aku masih dirumah sakit menemui ibukku dulu. "
" Oke, tapi jangan lupa berdandan yang cantik ya saat bertemu denganku, aku akan memberimu lowongan pekerjaan. "
Jasmeen dengan polosnya menjawab tanpa curiga apapun kepada perempian itu.
" Baiklah Lintang."
Lalu panggilan mereka terputus. Lintang sedikit tersenyum disebrang sana.
***
Kini Jasmeen kembali mendekati ibunya, gadis itu kembali meraih tangan ibu Andini.
" Ibu, Jasmeen pergi sebentar ya bu." Lirih Jasmeen berpamitan kepada ibunya yang masih memejamkan matanya. Jasmeen mengusap pelan kepala ibunya lalu mencium kening ibu Andini dengan lembut.
" Jasmeen, kamu mau kemana nak? " Ibu Andini bertanya lirih, wanita itu tak mempunyai tenaga untuk berbicara banyak.
Jasmeen merasa senang saat ibunya sudah kembali sadar.
" Ibu, ibu sudah sadar. " Jasmeen kembali mendudukkan tubuhnya, lalu terukir senyum manis dibibirnya.
Ibu Andini menangguk pelan, terlihat wajah ibunya semakin pucat. Jasmeen sangat tidak tega melihatnya.
" Ibu kembali beristirahatlah dulu, Jasmeen mau pamit keluar sebentar ada tugas yang harus Jasmeen selesaikan. " Jelas Jasmeen terpaksa berbohong kepada ibunya.
" Kamu yakin nak, jangan tinggalin ibu sendiri, ibu masih merindukkanmu." Suara ibu Andini yang semakin melemah. Sejujurnya ibu Andini merasakan rasa gelisah kepada Jasmeen saat ini.
__ADS_1
" Ibu, Jasmeen tidak akan kemana - mana. Jasmeen cuma pergi sebentar kok dan Jasmeen hanya mengerjakan tugas sekolah Jasmeen, nanti kalau Jasmeen sudah menyelesaikannya Jasmeen berjanji akan kembali kesini lagi dengan cepat, ibu tenang ya, Jasmeen akan baik - baik saja." tutur Jasmeen dengan nada lembut, gadis itu berusaha menyakinkan ibunya agar tidak menghawatirkan dirinya, karena Jasmeen tahu itu tidak baik untuk kesehatan ibunya.
Dengan berat hati ibu Andini menganggukkan kepalanya pelan untuk menyetujui permintaan putrinya. Jasmeen langsung tersenyum kemudian ia kembali mencium kening ibunya dengan lembut.
" Terimakasih ibu, " tutur Jasmeen kepada ibunya.
" Iya nak hati - hati, " balas ibu Andini lirih.
Jasmeen keluar dari ruangan ibunya, gadis itu segera mencari perawat terlebih dahulu, karena gadis itu meminta tolong kepada salah satu perawat untuk menjaga ibu Andini, tak lupa Jasmeen juga berpesan kepada sang perawat tersebut untuk menghubungi dirinya jika ada sesuatu yang terjadi dengan ibu Andini, dan perawat itupun mengangguk ia bersedia untuk menjaga ibu Andini.
***
Jasmen berjalan dengan sedikit berlari menuju halte yang dekat dengan rumah sakit, gadis itu mencari sesuatu kendaraan yang bisa ia tumpangi di malam hari.
" Aduh malam - malam begini jelas tidak ada angkot, aku harus naik apa ya untuk menemui Lintang! " gumam gadis itu dalam hati.
Jasmeen menatap kesemua arah, matanya tak berhenti menyoroti tempat tersebut, saat gadis itu menoleh ke arah kanan, tiba - tiba ia terfokus dengan seseorang pengendara sepeda motor yang melintasi jalanan itu sendirian. Jasmeen yang melihatnya segera menghentikan pengendara tersebut.
" Eh Mas tunggu, berhenti! " seru Jasmeen dengan cepat, gadis itu langsung menghadang sepeda motor yang berada di depannya itu.
" Ada apa mbk, mbk ini mau mati atau bagiamana? " ucap pria itu dengan cetus, karena pria itu begitu terkejut dengan datangnya Jasmeen yang tiba - tiba menghadang motor miliknya.
Jasmeen sedikit menahan tawanya.
" Hehe maaf mas, boleh aku minta tolong nggak mas, tolong antarakan saya ke taman XX, saya ada acara sama teman saya disana mas dan itu sangat penting, saya mohon ya mas, tolong antarkan saya. " Jasmeen berkata dengan mata berkaca-kaca dan tanpa persetujuan pria tersebut Jasmeen segera duduk di jok belakang penumpang.
" Eh mbk, saya kan belum menyetujuinya." Protesnya dengan menjulurkan tangannya untuk menghadang Jasmeen.
" Ayo lah mas antarkan saya, kali ini saja, saya benar - benar butuh bantuan. " Pria itu ingin menjawab. Namun Jasmeen segera mengeluarkan uang lembaran biru di hadapannya.
" Nih mas kembaliannya ambil saja, ayo berangkat tolong saya." Pria itu terdiam menatap uang yang diberikan Jasmeen lalu segera ia ambil dan menyetujuinya.
__ADS_1
" Baiklah mbak ayo saya antarkan kesana." Jasmeen tersenyum kemudian mereka menuju taman yang sudah di janjikan oleh Lintang.
***