
Setibanya kembali ke kantor, Zayn turun dari mobilnya setelah pintu dibukakkan oleh Vano.
Vano ialah sekertaris pribadi Zayn sekaligus juga teman Zayn. Vano mengabdi kepada Zayn sudah 5 tahun lamanya, selama 5 tahun tersebut Zayn selalu baik kepadanya, bahkan Zayn juga sudah menganggap Vano seperti saudara sendiri, karena umur mereka tidak terpaut jauh.
Zayn keluar dari mobilnya dengan sangat gagah menggunakan kaca mata hitam yang semakin menambah pesona ketampanannya yang ia miliki.
Zayn melangkahkan kakinya bersama Vano dan beberapa bodyguard yang mengikutinya dari belakang memasuki kantor miliknya, beberapa karyawan wanita yang tidak sengaja untuk mengintip keluar dan mulai berbisik-bisik membahas bos mudanya yang tampan.
" Wah tuan Zayn tampan sekali bila begitu. " Ujar seseorang karyawan wanita di kantor Zayn.
" Stttt, setiap hari tuan Zayn memang selalu tampan kali. " Sahut teman satunya.
" Ah iya bener banget." Ujar yang lainnya.
" Hey kalian! ayo kembali bekerja, jika nanti sekertaris Vano mengetahui kalau kalian sedang mengintip bos muda, bisa-bisa kalian semua pulangnya tanpa kepala lagi, " seseorang karyawan pria yang tidak sengaja mempergoki para karyawan wanita yang berusaha mengintip bos mudanya.
Tak lama kemudian mereka semua akhirnya bubar tanpa bersuara dengan sedikit ketakutan setelah mendengar ucapan yang di lontarkan karyawan pria tadi.
***
Jasmeen pulang kembali ke rumah sakit untuk menemui ibu Andini. Jasmeen menundukkan kepalanya di samping ibunya, ia memegang jari ibu Andini dan memegangnya dengan erat, seolah ia tak mau lepas dari ibunya, hal ini sudah menjadi kebiasaan Jasmeen setiap bertemu dengan ibu Andini.
" Ibu, ibu harus kuat ya, nanti malam ibu akan segera di operasi, semoga ibu cepat sembuh. Jasmeen juga sudah rindu dengan ibu yang sehat seperti dulu. " Lirih Jasmeen dengan sendu, sejenak ia memejamkan matanya membayangkan jika ibunya sudah sembuh pasti dia akan bahagia seperti dulu, tepat hampir 2 bulan lamanya ibu Andini di rawat di rumah sakit tersebut.
Kini Jasmeen memilih keluar sebentar dari kamar ibunya, sepertinya hari ini Jasmeen ingin sekali mencari udara segar, dunia yang di hadapinya sangat terlalu kejam apa lagi Jasmeen menghadapinya sendirian, sungguh membuat Jasmeen lelah, tetapi Jasmeen juga tidak mau menyerah begitu saja, ia sudah mempunyai prinsip sendiri untuk menghadapi dunia ini sebagai tantangan buat dirinya, sehingga Jasmeen harus bisa yakin dengan setiap langkah yang akan ia lalui.
Jasmeen memilih menuju taman yang berada didalam rumah sakit, ia menduduk tubuhnya di sebuah kursi panjang yang berada di taman tersebut, sesekali Jasmeen melamun, tatapan pandangannya kosong.
Jasmeen tak merasa jika dirinya telah di awasi seseorang dan benar saja, tiba-tiba Jasmeen merasakan sentuhan tangan yang lembut di bahunya, membuat Jasmeen tersentak seketika.
" Hay kakaknya Bellva." Suara seseorang pria yang tak asing bagi Jasmeen, seketika Jasmeen pun langsung menoleh.
__ADS_1
Pria itu tersenyum manis sembari menatap Jasmeen dengan tanpa dosa, pria itu tak lain ialah Daven. Jasmeen yang melihat Daven tersenyum kepadanya hanya bisa menghembuskan nafasnya.
" Oh iya kabar ibu kamu bagaimana? " Ujar Daven sembari duduk di seblah Jasmeen, sontak Jasmeen terkejut, bagaimana bisa dia tahu soal ibunya yang sakit, padahal dia juga tidak memberitahu masalah ini kepada siapa-siapa, ya selain adik perempuan Jasmeen dan juga pamannya.
Kali ini Jasmeen membuka suaranya.
" Apa Bellva yang memberitahumu? " Jasmeen bertanya sembari membalas tatapan Daven.
Dengan cepat Daven menggelangkan kepalanya.
" Bukan, bukan Bellva, aku saja sudah lama tidak bersama dengan Bellva semenjak terakhir kalinya kau menamparku di taman waktu itu. " ujar Daven yang kembali mengingat kejadian waktu Jasmeen menamparnya gara-gara Daven menyentuh adik kesayangannya.
Sontak Jasmeen merasa sedikit malu jika mengingat kejadian waktu itu.
" Hmm, soal itu aku minta maaf, aku gak sengaja, karena aku refleks dan terbawa emosi, aku akui aku gak suka bila adekku di pegang-pegang cowok yang gak jelas, apa lagi bermesraan seperti waktu itu dengan pria sembarangan lagi. " Sindir Jasmeen kepada Daven.
Daven terkekeh. " ya ya gak papa, aku yang seharusnya minta maaf, karena aku tak tahu jika Bellva itu adik kesayangan kamu. "
Jasmeen yang mendengarnya hanya memutar bola matanya jengah.
" Oh ya, sebagai permintaan maafku, apa kamu mau aku ajak makan, aku deh yang traktir. " Daven berusaha ingin mengajak Jasmeen.
" Gak! aku gak mau lagian habis ini aku ada urusan, " tolak Jasmeen, sejujurnya saat ini Jasmeen sangat lapar, baru saja ia keluar dari ruangan ibunya hanya untuk mencari udara segar, sekaligus ingin membeli nasi bungkus.
" Beneran ni, aku yang traktir loh. " Ajaknya lagi, Daven tahu jika saat ini Jasmeen sedang lapar.
" Hm. "
" Kalau kamu gak mau ya sudah, tapi aku akan tetap memaksa kamu untuk mau aku traktir. " Ujar Daven, tanpa menunggu persetujuan dari Jasmeen, Daven pun langsung menarik tangan Jasmeen.
" Eh apaan sih, lepas hey pria jelek. "
__ADS_1
Mendengar ejekan pria jelek yang dilontarkan oleh Jasmeen, Daven tersenyum namun Jasmeen tidak mengetahui jika pria yang membawanya tersebut telah tersenyum, karena Jasmeen sedang sibuk melepaskan tangannya dari genggaman Daven, genggaman Daven di tangan Jasmeen terlalu kuat sehingga membuat Jasmeen terpaksa untuk mengikuti langkah Daven yang akan membawanya entah kemana, semakin Jasmeen memberontak semakin erat pula genggaman Daven.
Setibanya di restoran kecil sebelah rumah sakit Daven dan Jasmeen memilih meja deretan nomer 3, Daven menyuruh Jasmeen untuk duduk.
" Tunggu disini, aku akan memesankan makanan untukmu, ingat kamu jangan kemana-mana aku bisa menemukanmu dengan mudah, sekarang aku hanya ingin meneraktirmu saja sebagai permintaan maafku kepadamu. " Daven berusaha menjelaskan niatnya kepada Jasmeen agar Jasmeen tidak kabur.
Sumpah demi apapun, saat ini memang Jasmeen sangat lapar, namun saat berurusan dengan Daven, Jasmeen terlalu gengsi untuk menerima tawarannya.
" Hmm. "
Daven tersenyum, kemudian ia segera beranjak untuk memesan makanan.
15 menit kemudian.
Makanan yang di pesan Daven sudah siap untuk disantap, Jasmeen melihat hidangan di depannya dengan berbagai macam makanan yang sudah di pesan oleh Daven seraya ngiler begitu melihat banyaknya makanan enak.
" Banyak banget makanannya? " Jasmeen bertanya sembari menatap Daven.
Daven terkekeh lagi. " Biarin aku memang sengaja memesan ini semua, tuh lihat badan kamu semakin kurus saja, berbeda dengan pertama kali kita bertemu ditaman waktu itu. "
Mendengar ucapan Daven, Jasmeen merasa malu, memang saat ini Jasmeen terlihat semakin kurus karena ia tidak terlalu mementingkan dirinya sendiri, yang selalu ada di pikiran Jasmeen hanya ibunya.
" Ya sudah jangan kebanyakkan mikir cepat dimakan nanti keburu dingin loh, " ujar Daven kepada Jasmeen
" Kamu gak makan? " tanya Jasmeen dengan ragu.
Daven menggeleng cepat. " Tidak, aku sudah bilang kalau aku tidak lapar, makanlah ini semuanya untukmu. "
Dengan sedikit ragu Jasmeen mengambil semangkok sup iga yang sudah menggugah selera Jasmeen, kemudian setelah mendapat aba-aba dari Daven dan tanpa ragu lagi Jasmeen menyantapnya dengan lahap karena perut Jasmeen sudah tidak bisa diajak kompromi, Daven yang melihat Jasmeen makan dengan lahap sembari tersenyum hangat.
" Cantik. " Batinnya lagi.
__ADS_1
***