
Setelah mengantarkan Jasmeen ke Apartemen miliknya. Zayn dan Vano melanjutkan perjalanan ke kantor, hal tersebut justru membuat sekertarisnya itu bingung dan bertanya - tanya.
" Kenapa kau dari tadi menatapku Vano? " tanya Zayn yang merasa aneh dengan sikap sekertarisnya hari ini.
" Tuan yakin mau kerja? " Laki - laki itu bertanya karena merasa sangat penasaran.
" Menurutmu? " jawab Zayn. Vano mengira kalau dirinya dipanggil oleh bosnya itu hanya untuk mengantarnya ke Apartemen saja, namun ternyata tidak, mereka sekalian berangkat kerja.
" Baiklah tuan, " tanpa bertanya lagi Vano mengerti, ia tidak mau terlalu banyak bicara karena itu akan membuat mood bossnya menjadi buruk.
Selepas perbincangan kecil itu, suasana mobil menjadi hening sampai mereka berdua sudah tiba diperusahaan Matja Jakson, karena hari ini jam 10 pagi ada rapat penting.
Seperti biasa suasana kantor sangatlah baik, membuat Mood laki-laki itu juga terlihat baik, meskipun sebenarnya Zayn kekantor hanya alasan semata saja, ia tak mau seperti semalam, mencium istrinya dengan tiba tiba, karena semua itu akan tidak baik bagi perkembangan pernikahan mereka.
Sebenarnya Ada alasan sendiri untuk Zayn ingin menikahi Jasmeen, meskipun ada benarnya jika laki laki itu ingin menjadikan Jasmeen sebagai tameng penolakan perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya, tetapi sebenarnya ada alasan lain lagi yang membuat laki-laki itu ingin menikahi Jasmeen.
" Semoga dengan pernikahan ini dia bisa menerimanya. " gumamnya dalam hati seraya senyum-senyum sendiri memikirkan kejadian semalam. Padahal laki-laki itu hanya sekedar menciumnya tidak lebih, tapi kenapa hanya dengan hal kecil itu bisa membuat hatinya merasa bahagia.
Zayn melewati lobi kantor sampai ke lift pribadinya, tidak ada tanda-tanda yang aneh, hanya seperti biasa para karyawati perusahan Matja banyak yang mencuri pandang kepada atasannya itu.
.
.
***
" Kenapa dengan muka lo itu Bell, dari tadi ditekuk begitu, " tanya sahabat Bellva yaitu Lecya, ketika mereka berada dikantin sekolahannya.
" Gue kesel banget Cya. " seru gadis itu dengan mengecutkan bibirnya, dia terlihat tidak bersemangat hari ini.
" Ada apa? " sahut Chellsee.
" Karena kakak Lo? " sambung Lecya dengan tepat sasaran, karena ia sudah paham jika sahabatnya itu kesal dari rumah karena berdebat dengan kakaknya.
" Nah itu lo tahu! " seru Bellva malas.
__ADS_1
" Ada apa lagi sih, selalu aja ada masalah dengan kakak lo itu, sekali - kali gitu kalian berdua akur, jangan kayak tom and jerry ribut mulu, " tutur Lecya kepada Bellva. Namun gadis itu tak menjawab ucapan sahabatnya.
" Nah bener tuh, atau mending gak usah lo dengerin aja tuh ocehan kakak lo, kalo lagi marah, " sahut Chellsee.
" Hust, apaan sih lo itu Chell, selalu begitu ngajarin nih bocah yang nggak-nggak terhadap kakaknya, gak boleh, " ujar Mauren kepada Chellsee, lalu Chellsee mencibir menjawab ucapan temannya itu.
Mereka bertiga masih berdebat membicarakan sahabat dengan kakaknya tersebut, sementara Bellva, gadis itu masih bergelud dengan pikirannya sendiri.
" Tidak mungkin aku berbicara sesungguhnya kepada mereka, pasti mereka akan menjauhiku karena aku sudah tidak punya uang. " ujar Bellva didalam hatinya.
" Buka apa - apa sih, ya seperti biasalah, udah ah gue lagi males bahas soal dia, " balas Bellva kala itu, membuat ketiga temannya-pun akhinya mengerti dan berhenti membicarakannya.
" Ya sudah, ya sudah biarin ajalah Bell, yuk kita makan aja, pasti lo itu belum makankan? " tanya Lecya kepada sahabatnya tersebut.
" Iya mending kita makan aja, lo mau pesen apa, gue pesenin deh tapi lo yang bayar ya wkwk, seperti biasa, " sahut Mauren.
" Hemm gak ah, gue lagi gak selera makan, " ujar Bellva beralasan, sebenarnya gadis itu juga lapar, karena uang simpanannya sudah habis membuat dia harus berpuasa sebentar, dan menyembunyikannya dari teman - temannya.
" Yakin? gue lihat lo dari kemarin lo gak beli apapun Bell? " sahut Chellsee.
" Aduh ini semua gara-gara kakak gak pulang jadi aku gak dapet uang jajan, mau aku samperin ke rumah sakit tapi males ketemu ibu, ditelfon berulang ponselnya gak aktif lagi, " gerutu Bellva didalam hatinya, saat teman-temannya itu bertanya.
" Woy Bell malah ngelamun? kesambet ntar lo! " seru Lecya menyentuh tangan Bellva, membuat teman-temannya yang ada disana menjadi menatap Bellva.
" Eh apa, kenapa? " tanya Bellva terkejut saat Lecya menyadarkan lamunannya barusan.
.
.
***
Selepas kepergian Zayn. Jasmeen mulai merapikan pakaiannya didalam almari yang berukuran besar dikamarnya, awalnya gadis itu terkejut saat melihat sebagain isi dari almari tersebut, karena banyak sekali pakaian berbranded milik laki laki itu, serta banyak jam tangan yang tersimpan rapi didalamnya, dan ups Jasmeen tidak sengaja membuka salah satu rak kecil yang ada ditengah almari tersebut, dia melihat semua pakaian dalam milik suaminya yang sudah tertata rapi, dengan cepat Jasmeen kembali menutupnya dengan rapat.
" Astaga apa yang baru saja aku lihat! " gumam Jasmeen seraya jantungnya berdetak tak karuan, merasa malu akan tingkahnya barusan, membuat Jasmeen tidak lagi penasaran.
__ADS_1
Gadis itu segera merapikan pakaiannya dengan cepat, agar dia bisa menemui ibunya dirumah sakit, karena hari ini selepas merapaikan pakaiannya. Jasmeen boleh menemui ibunya.
Sehabis menata rapi semua barang-barangnya kini Jasmeen keluar dari rumah itu dan mencari sebuah angkot. Namun disana ternyata tidak ada satu angkotpun yang membuat Jasmeen kebingungan.
" Disini tidak ada angkot aku harus naik apa, kalau naik taksi pasti uangku tidak akan cukup, " gumamnya didalam hati, lalu Jasmeen memilih berjalan sampai menemukan sebuah angkot.
Sebelum Jasmeen melangkahkan kakinya, tiba-tiba gadis itu terkejut saat mendengar suara clakson mobil berbunyi dan terlihat menghampirinya.
" Tin tin! "
Jasmeen berhenti kemudian mengernyitkan dahinya ketika melihat mobil tersebut.
" Daven? " ujar Jasmeen saat kaca mobil yang dilihatnya itu diturunkan.
Daven tersenyum. " Mau kemana jalan sendirian? " tanya lelaki itu sembari turun dari mobilnya.
" Aku-- "
" Kerumah sakit? " tukas Daven dengan cepat. Jasmeenpun mengangguk seraya menatap laki laki yang saat ini ada didepannya.
" Ya sudah berangkat bareng aku saja, aku juga mau kesana! " ajak Daven kepada Jasmeen.
Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Daven menarik tangan Jasmeen dan membukakan pintu untik gadis itu.
" Mari Princces! " seru Daven dengan lembut agar gadis itu menerima ajakannya. Jasmeen terdiam, dia memikirkan sesuatu.
" Hem jika disini tidak ada angkot dia mau naik apa, mumpung ada Daven yang menawariku tumpangan, lebih baik aku terima saja, " gumamnya dalam hati akan tetapi pada saat Jasmeen ingin melangkah memasuki mobil Daven tiba - tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat dihadapan mobil Daven.
Seseorang laki laki keluar dengan cepat dari mobil itu, dan Jasmeen terkejut saat melihatnya.
***
Halo saya balik lagi nih😁, jangan lupa kasih hadiah update dari saya dengan cara tinggalin like, komen dan rate bintang 5-nya ya, oh ya jangan lupa vote juga kalau mau.
Terimakasih🧡
__ADS_1