Love From My Husband

Love From My Husband
Chapter 5 - Tidak Punya Hati


__ADS_3

Flashback dikantor Afrod.


Afrod kembali berjalan menuju keruangannya, pria itu tampak bersemangat, dan tidak seperti biasanya, semua karyawan yang berada disana merasa ada yang berbeda dengan Direkturnya tersebut.


" Lihatlah tuan Direktur, dia terlihat bahagia sekali ya, " bisik salah satu karyawan dikantor Afrod itu dengan temannya.


" Iya bener. " jawabnya sambil menatap kearah Afrod yang sudah memasuki lift.


" Jelas tuan Direktur senanglah, kalian ini bagaimana sih, perusahan kita ini dikabarkan telah berhasil bekerja sama dengan perusahan Jakson's milik tuan muda Zayn yang ganteng tadi, " sahut salah satu temannya lagi.


Sontak membuat mereka yang ada disana begitu terkejut dan menatapnya karyawan yang baru saja bicara itu.


" Serius, bekerja sama dengan perusahaan milik tuan Zayn itu? wah jika memang benar, pantas saja tuan Direktur sangat terlihat bahagia hari ini. "


" Iya benar, aku juga ikut senang kalo begitu, aku kira kerja sama mereka tidak berjalan lancar, ternyata salah dugaanku ya, hebat sekali Direktur kita bisa mendapatkan hati tuan muda Zayn. " sahutnya.


" Ya jelaslah Direktur kita hebat kok. Tetapi aku sangat mengagumi tuan Zayn, sudah ganteng tajir lagi, perusahaannya ada banyak, wah jika aku jadi istrinya aku merasa menjadi wanita beruntung didunia ini, " ujar salah satu dari mereka sambil menghalu.


" Huu bukan kamu aja kali yang mau, aku juga mau kok, siapa sih yang gak tertarik sama tuh cowok, dia itu sudah menjadi idola semua cewek tau gak, sayangnya keperibadian laki - laki itu sangat begitu tersembunyi. "


" Ah iya bener tuh. "


" Hemm namanya juga laki - laki kaya gays, rata - rata semua seperti itu, ya sudah ayo kita kembali bekerja lagi, nanti jika tuan Direktur tau, bisa bisa kita semua akan dipecat dan dikeluarkan dari perusahaan ini, " seketika percakapan mereka berhenti, karena salah satu dari mereka menyudahi percakapan itu, lalu kembali bekerja dengan tugas masing - masing.


.


.


***


Afrod merasa senang karena dia berhasil membuat Zayn pria kaya itu mau bekerja sama dengannya. Afrod tidak akan rugi jika Zayn tidak memutuskan kerja sama dengannya.


Satu jam kemudian Afrod sudah hampir selesai membereskan laporan yang ada dimeja kerjanya, pada saat pria itu ingin beranjak pergi ke kamar mandi, tiba - tiba ponsel miliknya berdering nyaring, segera Afrod mengambil ponsel itu dari atas meja.


Pria itu langsung terkejut ketika melihat siapa yang sedang menelfonnya, tertera di ikon kontak milik Afrod bernama Direktur Matja Group yaitu Zayn Jakson.


" Hah ada apa tuan Zayn menghubungiku dijam seperti ini, tidak biasa laki - laki itu menelfon orang sepertiku, " pria itu bergumam sendiri didalam hatinya.


Afrod segera mengambil ponselnya lalu menyentuh dan menggeser tombol hijau yang tertera dilayar, dengan takut - takut lelaki paruh baya itu segera mendekatkan benda pipih itu kedaun telinganya.


" Halo tuan Afrod? " Zayn menyapa terlebih dahulu dengan suara yang begitu santai disebrang sana, suara itu langsung menggema ditelinga Afrod.


" Iya halo tuan Zayn."


" Maaf sudah mengganggu, saya hanya ingin berbicara satu hal penting dengan anda, bisa? ." Zayn tetap berbicara dengan santai, laki - laki itu tak tahu jika lawan bicaranya sedang gemetaran.


Afrod langsung kebingingan ketika mendengar ucapan yang barusan dilontarkan oleh Zayn, kenapa pria itu tiba - tiba ingin bicara dengannya, bukannya barusan dia mau bekerja sama dengannya.

__ADS_1


Pria paruh baya itu sungguh gemetaran, dia mulai menerka - nerka. Bagaimana jika Zayn akan membatalkan kerjasama mereka tadi siang, Afrod benar - benar akan sangat dirugikan.


" Baiklah tuan Zayn, silahkan anda bebas berbicara dengan saya. " balas Afrod lalu laki - laki itu terdiam.


Tiba - tiba panggilan mereka hening sejenak.


" Saya akan melanjutkan kerja sama denganmu tuan, asalkan saya boleh minta sesuatu? " ujar Zayn santai. Afrod langsung mengernyitkan dahinya.


" Minta sesuatu? Sesuatu seperti apa itu tuan? " Afrod bertanya dengan penasaran.


" Siapa gadis yang tadi, apa kau mengenalnya? " tanya laki-laki itu disebrang sana, masih dengan suara santai.


" Gadis? gadis yang mana tuan? " tanya Afrod begitu heran. Zayn mendengus disebrang sana.


" Maksudku gadis yang kau usir didepan lift tadi! "


" Jasmeen, ada apa tuan bertanya tentang gadis itu. " Afrod bertanya dengan nada tidak biasa, pria itu begitu terkejut.


" Ya itu dia maksudku, kenapa? sepertinya kau tidak terlalu suka saat aku bertanya tentang gadis itu, jika kau tidak suka lebih baik kerja sama ini kita batalkan bagaimana, aku tidak mau melanjutkan kerja sama denganmu! " Ancam Zayn dengan suara yang tetap santai.


" Eh ja-jangan tuan, " kata - kata yang keluar dari mulut Zayn itu membuat Afrod seperti disambar petir disiang bolong, membatalkan kerja sama dengan Zayn sama saja menghabisi bisnisnya sendiri.


" Sa-saya hanya ingin bertanya kepada tuan Zayn, kenapa tuan tiba - tiba bertanya tentang Jasmeen, dia itu keponakan saya." Afrod menjelaskan dengan nada terbata dan sedikit gemetaran, suaranya terlihat tidak baik saat membalas ucapan Zayn, dia terlihat begitu takut jika Zayn benar - benar ingin membatalkan kerja sama dengannya.


" Aku hanya memintamu untuk membujuk dia agar mau menikah denganku, aku ingin menikahinya! " Seru Zayn membuat Afrod semakin tak dapat menahan keterkejutannya.


" Kau tenang saja tuan, aku juga akan menawarkan kontrak kerja sama dengan perusahan besarku Matja dengan perusahan milikmu, jika kau mau menyetujui permintaanku, " sambung Zayn membuat Afrod lebih terkejut lagi.


" Apa! hanya demi menikah dengan Jasmeen, dia mau menawarkan kerja sama kontrak dengan perusahaanku, wah sungguh pernawaran yang sangat langka. " Beberapa saat kemudian setelah Afrod banyak berfikir, pria itu lalu menyetujuinya.


" Baiklah tuan Zayn saya menyetujui permintaan dari anda, saya akan berusaha membujuk gadis itu, " ujar Afrod menyetujui, kemudian panggilan mereka terputus. Awalnya kerja sama mereka hanya bekerja sama dengan perusahan kecil milik Zayn, yaitu Jakson's Corp.


.


.


.


***


Sebelum paman Afrod dan bibi Aleen berbicara dengan Jasmeen, tiba-tiba terdengar suara ibu Andini berteriak kesakitan di dalam kamar inapnya.


" Sakittt, kepalaku sungguh sakittt Arghhhhh. "


Suara teriakan ibu Andini membuat ketiga orang tersebut terkejut, dan berangsur masuk ke dalam untuk melihat keadaan ibu Andini. Jasmeen yang melihat ibunya kesakitan sembari panik dan menangis.


" Ibuuu, Ibu kenapa? tolong jangan seperti ini ibu." Jasmeen berkata dengan suara panik, gadis itu langsung menangis tersendu - sendu, namun ibu Andini tak merespon beliau tetap berteriak kesakitan.

__ADS_1


" Sakit sekali kepalaku, tolong ini benar - benar sakit sekali, Arghhh. "


Tak memakan waktu lama Dokter pun datang dengan langkah tergesa - gesa dan juga beberapa perawat mengikutinya di belakang.


" Mohon maaf, semuanya di harap keluar, biar saya menangani pasien." Dokter berkata tegas.


Kini Jasmeen menangis histeris, melihat raut wajah ibunya yang kesakitan, ia takut melihat keadaan ibunya yang semakin tak kontrol atau lebih tepatnya semakin memburuk, kemudian paman Afrod segera menarik tubuh Jasmeen agar keluar dari ruangan ibunya.


" Ayo kita keluar, biar Dokter memeriksa ibumu dulu." tutur paman Afrod kepada Jasmeen.


" Paman, ibukku. " Jasmeen keluar ruangan dengan masih menangis, paman Afrod yang melihat jasmeen menangis menjadi tidak tega, sementara bibi Aleen ia tak peduli sama sekali.


Beberapa menit berlalu Dokter pun keluar. Jasmeen segera mendatangi Dokter.


" Dokter, bagaimana keadaan ibu saya, dokter tolong bicaralah." Jasmeen mengayun-ayunkan tubuh dokter dengan diselimuti rasa paniknya.


" Maaf nona, ibu anda harus segera dioperasi secepat mungkin, kalau tidak keadaan beliau akan semakin memburuk dan kemungkinan tidak akan bisa terselamatkan."


Jasmeen melemas seketika, dia terduduk di dekat kursi depan ruangan ibunya dirawat, gadis itu kembali berfikir keras dan menatap sembarang arah dengan tatapan kosong.


" Bagaimana bisa aku mendapatkan uang banyak itu dalam waktu sesingkat ini. " gumam Jasmeen dalam hati.


Saat dirasa Dokter sudah pergi meninggalkan mereka, paman Afrod segera mendekati Jasmeen. Kini paman Afrod melihat Jasmeen murung, ia ingin menghentikan niatnya untuk berbicara dengan Jasmeen. Afrod menatap keponakannya dengan tatapan iba.


" Jasmeen sabar, " hanya itu yang bisa Afrod ucapkan, Aleen yang mendengarkannya langsung melotot ke arah suami.


" Papa ini bagaimana sih, kelamaan tau nggak, katanya papa mau bicara dengan Jasmeen, ayo bicara lah, mama sudah gerah berada disini. " Cetus Aleen membuat Jasmeen tak bergeming ia hanya menangis dan sesekali melamun.


" Mama. " ucap lirih Afrod karena ia tak mau memperkeruh suasana, karena saat ini situasinya tidak tepat.


" Papa ini kelamaan, hey Jasmeen. " Aleen sedikit berteriak dan meninggikan suaranya kepada Jasmenn. Jasmeen hanya menoleh ke arah Aleen dengan mata sembab.


" Ada apa lagi bibi, apa kalian belum puas melihat ini semua, ibuku benar-benar sakit, kenapa kalian kesini hanya untuk berdebat, dimana rasa simpati kalian, ibuku sakit dan itu adalah adik kalian sendiri, apa kalian tidak punya belas kasih sama sekali. " Jasmeen berkata dengan lirih, matanya mulai berkaca-kaca sejujurnya ia sedikit gemetaran ketika berbicara seperti itu, kali ini ia hanya ingin tenang tanpa di usik oleh kedua orang di depannya. Aleen yang mendengar ucapan Jasmeen seperti itu langsung melototkan matanya.


" Apa kamu bilang!! Hey dasar anak tidak tahu sopan santun, beraninya kamu menceramahi bibimu sendiri, asal kau tahu paman dan bibi kesini hanya mau..." Ucapan Aleen terpotong oleh suaminya.


" Mama, cukup! " Bentak Afrod dengan menahan amarahnya, seketika Aleen membungkam mulutnya dan memasang ekspesi kesal.


" Ayo lebih baik kita pulang, lain kali saja kita bicarakan ini dengan Jasmeen." Afrod berbicara kepada istrinya dengan sedikit tegas.


" Jasmeen paman pulang dulu, besok paman kesini lagi. " Afrod berpamitan kepada Jasmeen, namun Jasmeen tak bergeming, ia hanya melamuni akan nasib ibunya.


Tanpa berkata-kata lagi Afrod segera menarik kasar tangan istrinya sampai jauh dari ruangan tersebut, setelah kepergian paman dan bibi Jasmeen, ia kembali menangis sesegukan.


Hiks kalian jahat, kalian sungguh tidak punya hati nurani, ibuku sakit parah namun kalian tak peduli.


***

__ADS_1


__ADS_2