
Tiga tahun yang lalu, ketika mereka masih kuliah di kampus elite kota XX, pertama kali Devita melihat Zayn ketika lelaki itu sedang membaca buku di sebuah taman dekat kampus mereka.
" Dev, tuh lihat Zayn pria tampan dikampus kita loh, " ucap salah satu teman Devita bernana Rania.
" Mana? " tanya Devita.
" Itu tu! " Rania menunjuk ke arah Zayn yang sedang duduk sambil membaca buku.
" Dia? " jawab Devita seolah olah meremehkan Zayn.
" Ganteng sih, tapi kutu buku gitu, yelah! " cibir gadis itu lagi.
" Ck, kamu ini gadis bodoh! apa kamu gak kenal sama dia? " tanya Rania memastikan sembari menatap punggung Devita yang sedang berjalan mendahuluinya.
" Gak! " jawabnya sombong.
" Cih pantes aja, lo tau gak dia itu siapa? dia itu berasal dari cucu keluarga kaya tau gak, keluarga Matja Jakson, putra satu-satunya dari Abda jakson pemilik perusahaan terkenal dinegara kita! " ujar Rania seraya mengeraskan suaranya, sontak membuat Devita langsung menghentikan langkahnya.
Cucu dari Matja Jakson? putra Abda Jakson? .
" Serius lo? " tanya Devita dengan membalikkan tubuhnya menghadap Rania.
" Ya iya lah serius, masa gue bohong sih, disini dia itu penggemarnya banyak tau, yah walaupun sikapnya menyebalkan dingin seperti es gitu! " ujarnya sembari menatap Zayn dari kejauhan.
***
Sepulang dari kampus. Devita segera keluar bersama Rania dari kelasnya, sebelum pulang gadis itu berlari ke arah kamar mandi terlebih dahulu untuk merapikan pakaiannya diikuti oleh Rania, tak lupa juga gadis itu menyisir rambutnya didepan kaca besar dengan lihai.
" Ran Ran, gimana gue udah cantik belum? " tanya Devita kepada Rania temannya.
Rania berdecak sebal, kalau tahu gini caranya dia gak akan bilang kepada Devita tentang Zayn karena dirinya juga mengagumi lelaki itu.
" Ya, " jawab Rania singkat.
" Ih kok lo gitu sih ngejawabnya, sewot! "
Rania memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
" Tahu gini gue gak akan bilangin elo Dev, " balas Rania jutek.
Devita terkekeh pelan.
" Salah sendiri lo bilangin gitu ke gue, yah lo tau sendiri lah ya kalau gue ketemu cowok tajir kek gitu gimana, masa lo jadi teman gue udah lama masih ga faham sih Ran, " jelas gadis itu seraya meletakkan sisir kedalam tas kecil miliknya.
Benar kata teman - temannya, Devita Rexiva seorang gadis cantik bertubuh sempurna, bisa dibilang seorang primadona kampus, dia suka mendekati cowok - cowok ganteng plus tajir, contohnya seperti Zayn Jakson, pria itu sudah masuk ke dalam list kategori pria idaman Devita Rexiva.
" Yelah tau gue, sono cepat deketin tuh Zayn sebelum dia pulang, ikhlas gue kalo Zayn emang mau sama lo, " ujar Rania dengan nada remeh.
" Yeee lo tuh sewot amat jawabnya, lo harus yakin ke gue lah, gue pasti bisa rebut tuh hati cowok kutu buku yang katanya dingin " balas Devita dengan seringainya, gadis itu sangat percaya diri
" Hem percaya! "
" Nah sekarang gue dah cantik belum sih? " tanya Devita lagi, sedari tadi gadis itu bertanya hampir 10 kali kepada Rania tapi belum juga dijawab.
" Ya ya lo sudah cantik, teman gue seorang primadona kampus kok gak cantik. "
" Nah tumben lo bener, wkwk"
" Dah dah lah sono kejar tuh Zayn ganteng sebelum supirnya jemput, lo harus dapetin dia, awas aja kalo sampek gak dapet. " balas Rania sembari menatap ke arah Devita yang mulai berlarian keluar dari toilet wanita.
***
Mata Devita juga tak berhenti menyoroti area sekolahnya, saat Devita terfokus oleh Zayn berjalan ke arah gerbang gadis itu segera berlari ke arahnya.
" Hay Zayn tunggu, " teriak Devita sembari berlari ke arah Zayn, lelaki itu seketika menghentikan langkahnya.
Zayn tak menjawab ucapan Devita, lelaki itu hanya memutar tubuhnya menatap datar Devita.
" Ya? "
Dalam hati Devita berdecak sebal.
" Lelaki ini bener - bener dingin, kalau bukan gara - gara kaya, sudah ogah gue mendekatinya. "
" Ini aku mau ngembaliin buku kamu tadi jatuh di halaman, gak sengaja tahu kamu pemiliknya karena hanya kamu yang lewat disana, " ujar Devita menunjukan raut wajah malu - malu, seperti gadis yang tengah mencari perhatian seseorang.
__ADS_1
" Oh iya, makasi, " balas Zayn, pertama kalinya Zayn membalas ucapan seorang perempuan.
" Iya sama - sama ya sudah aku mau pulang dulu ya, " pamit Devita, saat gadis itu kembali berjalan. Namun tiba - tiba Zayn menghentikan langkahnya.
" Eh tunggu! "
Devita menghentikan langkahnya kemudian gadis itu memutar tubuhnya menghadap ke arah Zayn.
" Iya ada apa? "
" Em namamu siapa? "
" Aku Devita! "
" Nanti malam kalau mau main ke rumahku, aku undang kamu untuk makan malam bersama keluargaku? " tanya lelaki itu dengan tampang serius.
Apa dia mengajakku makan malam dirumahnya? ini serius, berarti aku berhasil dong.
" Kamu beneran ngajak aku makan malam? " tanya gadis itu memastikan, Zayn membalas dengan anggukan kepala sembari tersenyum kepada Devita.
Gila, lelaki ini kalau senyum ganteng banget, tajir lagi, gak sabar nanti malam aku kesana, boleh nih buat bikin Rania panas hati wkwk.
" Boleh aku mau, " jawab gadis itu dengan antusias.
Sejak saat itu Zayn dan Devita menjadi akrab, bahkan mereka berdua semakin dekat, berita tentang mereka dikampus sudah tersebar luas dengan status mereka pacaran, padahal tidak. Zayn dan Devita tidak pernah berpacaran mereka hanya saling dekat saja.
Pada saat itu Zayn memang benar - benar sudah menaruh hati kepada Devita, lelaki itu tidak berniat untuk menjadikan Devita sebagai pacarnya. Namun lelaki itu ingin segera menikahi Devita, karena menurut Zayn status pacaran itu tidak penting, yang terpenting mereka segera menikah dan memiliki hubungan yang sah.
Tetapi pada dua tahun yang lalu, saat Zayn ingin membicarakan pernikahannya dengan Devita, setelah mendapat restu dari papa Abda dan mama Inne, lelaki itu dengan antusias segera mengemudikan mobilnya menuju rumah Devita, untuk menjemput gadis yang disukainya itu, Zayn memang tak memberi kabar dulu kepada Devita, lelaki itu berniat ingin memberikan Devita sebuah suprise.
Namun, sesampainya dirumah keluarga Devita, lelaki itu begitu terkejut ketika melihat pemandangan didepannya, saat itu Devita sedang bersama dengan seorang pria, mereka begitu mesra sekali dengan langkah menuju kerumahnya, dan ternyata disana mereka berdua juga sudah disambut oleh kedua orang tua Devita dengan raut wajah bahagia.
Zayn langsung mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras, ketika melihat adegan menyakitkan didepannya itu, dengan sigap lelaki itu membuang jauh bouquet bunga mawar yang sempat ia beli dijalan tadi, Zayn pulang dengan membawa amarah yang sangat besar.
Sesampainya dirumah Zayn membuka pintu dengan kasar, rasa marah bercampur kecewa menjadi satu, berani beraninya gadis itu membuat kecewa dan mempermainkan seorang Zayn Jakson.
Semenjak kejadian itu, Devita tak pernah bertemu dengan Zayn, begitu juga sebaliknya, lelaki itu sudah tak ingin tahu mengenai kabar Devita, pasalnya salah satu bodyguard Zayn mempergoki Devita dibandara bersama keluarganya sepertinya mereka ingin pindah keluar negeri, melihat banyak barang yang mereka bawa pada saat itu.
__ADS_1
Hari demi hari Zayn lalui tanpa Devita, lelaki itu mulai menunjukan sikap dinginnya kepada semua orang, dia lebih banyak diam, dan memfokuskan dirinya terhadap dunia kerja, Zayn juga tak peduli dengan orang lain, ia sangat membenci perempuan yang bernama Devita Rexiva. Zayn menjadi seorang pria dingin dan angkuh, selalu menatap lawan jenisnya dengan tatapan mengintimidasi, setiap orang yang melihat tatapan itu menjadi takut.
Bersambung