
" Bellva! " teriak Lecya yang kala itu sedang menghampiri Bellva dicafe bersama dengan seorang lelaki tampan sepulang sekolah.
Bellva menoleh kearah sember suara, terlintas senyum manis dibibirnya.
" Ah Lecya. "
" Wah kamu ternyata disini gak ajak-ajak sih Bell, " ujar gadis itu sembari menundukkan tubuhnya dikursi sebelah Bellva.
" Oh shit, apakah kamu tak tahu disini ngapain? " cibir Bellva sedikit cetus.
Kemudian Lecya menoleh ke arah lelaki didepannya, Lecya langsung mengernyit ia tak kenal dengan lelaki yang Bellva temui saat ini, setahu Lecya gadis itu hanya dekat dengan cowok keren yang bernama Daven.
" Siapa dia Bell, gebetan baru ya?? " tanya Lecya lirih kepada Bellva namun bisa didengar samar oleh Rangga.
" Saya Rangga teman Bellva, " ujar Rangga dengan tiba-tiba, Rangga mengulurkan tangannya kepada Lecya sembari tersenyum.
Dengan senang hati Lecya menerima uluran tangan dari Rangga.
" Tampan Bell wkwk, " bisik Lecya ditelinga Bellva, ia sengaja untuk menggoda sahabatnya itu.
Kemudian Bellva pun terkekeh geli, tak lama disambut tawa oleh Lacya, Rangga yang melihat tingkah kedua gadis didepannya hanya tersenyum.
" Oh ya tumben lo gak sama Daven? " bisik gadis itu ditelinga Bellva, seketika Bellva refleks menyiku lengan sahabatnya itu. Lecya pun memahaminya ia terkekeh lagi.
" Hey gadis tengil ngapain lo kesini sendirian, tumben gak sama Galen, biasanya kalian lengket kayak perangko, " ujar Bellva berniat mengalihkan pembicaraan.
Seketika gadis disampingnya itu langsung murung.
" Yah ini gue nemuin lo mau curhat Bell, " sungut gadis itu memasang raut wajah sedih.
" Oh shit jangan bilang kalian bertengkar lagi? " Lecya mengangguk samar, takut-takut Bellva memarahinya karena sifat Lecya yang sedikit kekanak-kanakan membuat temannya itu sering pusing untuk mengatasinya.
" Iya, semenjak mengantarkan pulang lo kemarin, gue sama Galen bertengkar, sampai sekarang belum baikan Bell, gue harus gimana? " curhat gadis itu yang sudah tidak tahu tempat, Bellva yang mendengarnya langsung memijat pangkal hidungnya pelan.
Sementara Rangga, is sedikit tak enak dengan kedua gadis didepannya sepertinya ada masalah penting mengenai temannya itu, lalu Rangga berniat untuk pamit pergi dari sana.
" Ehmm, " Rangga berdehem membuat kedua gadis itu menoleh seketika.
" Eh kak Rangga, maaf ada apa " Tanya Bellva melihat Rangga berdiri dengan senyum manisnya.
" Tidak apa-apa gadis manis, sepertinya saya tidak bisa lama-lama, ada urusan yang harus saya selesaikan sekarang, lain kali kita bertemu lagi ya, " ujar Rangga seraya berpamitan kepada Bellva. Bellva pun mengangguk ia terseyum manis ke arah Rangga, bagaimanapun saat ini sahabatnya lebih membutuhkan dia jadi Bellva menerimanya dengan dengan senang hati.
Sebelum Rangga pergi meninggalkan tempat itu, ia mendekat ke arah Bellva kemudian pria berparas tampan itu sedikit mencubit gemas pipi Bellva, seketika Bellva terkejut wajahnya berubah merah.
Lecya yang melihatnya pun dibuat melongo.
" Astaga cowok ini, " ujar Bellva dalam hati kemudian Rangga tersenyum puas ketika melihat wajah malu Bellva, lalu dia pergi meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1
" Ya tuhan kenapa jantungku dibuat berdebaran dengan lelaki angkuh itu sih, bisa-bisanya kau Jasmeen, " celutuk Jasmeen mengutuki dirinya sendiri.
Jasmeen berlari menuju toilet terlebih dulu setelah diantar pulang kembali ke rumah sakit oleh Vano sekertaris Zayn.
Setelah melewati perdebatan singkat yang menegangkan dikeluarga Zayn membuat gadis itu masih gemetaran, tangannya dingin berwarna putih pucat, bagimanapun sekarang Jasmeen sudah tidak bisa melakukan apa-apa, gadis itu harus menerima keputusan yang dibuat Zayn dan papanya, besok lusa ia akan menikah.
Pov
" Maa paaa! " sapa Zayn yang tiba-tiba datang membuat semua orang terkejut seketika.
" Ah Zayn kau kembali cepat sekali sayang, " ujar mama Inne tersenyum senang namun saat wanita paruh baya itu terfokuskan oleh gadis disamping putranya, dia berubah memasang wajah tak ramah.
" Ya, Zayn kesini mau bilang sama ma.. " Ucapan Zayn kala itu terpotong oleh mama Inne.
" Jangan bilang dia yang katanya akan menjadi calon istrimu! " Zayn tersenyum miring ketika mendengar tebakan tepat dari mamanya.
" Ya tebakan mama benar, kenalkan ini calon istri Zayn! " ujar Zayn penuh penekaan dikata calon istri, membuat wanita paruh baya itu terkejut, lalu Zayn menggenggam jari tangan Jasmeen dengan erat.
" Perkenalkan nama saya Jasmeen, " ujar gadis itu memperkenalkan namanya, mama Inne dan Vannya mentap Jasmeen dengan tajam.
Papa Abda yang mendengar pernyataan dari putranya itu merasa senang.
" Jadi dia calon istrimu Zayn? " tanya papa Abda menatap kearah Jasmeen dengan intens, mama inne yang melihat ekspresi aneh suaminya itu sedikit tersenyum, ia mengira jika suaminya itu tidak akan setuju.
Kali ini Vannya si wanita bar-bar itu itu hanya bisa menonton saja, untuk sementara waktu Vannya tak berani memprotes karena ada papa Abda, ia memilih menahan geramnya, meskipun dihatinya beberapa kali wanita itu sudah mengeluarkan umpatan kotor untuk Jasmeen.
" Sial! Zayn benar-benar tidak bermain dengan ucapanya, " sungut Vannya dalam hati.
" ****** beraninya kau merebut calon tunanganku awas saja, " gumam Vannya lirih namun tak di dengar oleh orang disekitarnya, ia menatap ke arah Jasmeen dengan tatapan mengintimidasi gadis itu.
Ya tuhan kenapa suasananya malah seperti ini, lebih menyeramkan dengan yang kukira sebelumnya.
Jasmeen membalas genggaman tangan Zayn, meskipun gadis itu berusaha untuk tegar, namun kali ini ia sudah mulai ketakutan, telapak tangannya mulai dipenuhi dengan keringat.
" Cantik! " ujar papa Abda dengan tiba-tiba, mama Inne yang mendengarnya pun seketika melototkan matanya, sungguh diluar dugaan, ia kira papa Abda tidak akan setuju dengan gadis itu, pakaiannya yang dibilang rendah membuat dirinya tidak pantas untuk mendampingi putra sulungnya itu.
" Jadi papa setuju? " tanya Zayn dengan senyum penuh kemenanagan.
Papa Abda tertawa renyah. " Ya papa setuju! " tungkasnya.
" Tidak mama tidak setuju, papa ini apa-apa an sih, lihatlah dia tidak pantas untuk masuk dikeluarga kita lihat pakaiannya saja seperti itu, apa lagi kepribadiannya, kalian tidak mikir disini ada Vannya, dia yang akan menjadi tunangan Zayn sekaligus calon istrmu Zayn, " ujar mama Inne sembari menatap kearah Vanna, wanita berwajah kebaratan itu sengaja memasang ekspresi sedih.
" Tidak! keputusan Zayn tidak bisa diganggu gugat lagi, Zayn akan menikah dengan Jasmeen besok lusa ada yang keberatan? " tanya Zayn dengan santainya, ia tahu jika dua wanita didepannya itu tidak terima, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa jika Zayn tetap bersikeras untuk menikahi gadis cantik yang dibawanya itu.
" Baik papa setuju, lusa kalian menikah, biar semuanya papa bantu mengurusnya, " tungkas papa Abda sama halnya dengan putranya itu, Zayn tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia bisa menghindari perjodohan antara dirinya dan wanita yang tidak disukainya.
Seketika Jasmeen terkejut, ia melototkan matanya tak percaya, lalu Jasmeen mendongak menatap Zayn yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
Apa? aku akan menikah lusa, ah ini gila, bagaimanapun semua ini begitu cepat sekali.
__ADS_1
Jasmeen ingin memprotes keputusan yang dibuat Zayn namun sebelum Jasmeen membuka suaranya, lelaki itu segera menarik tangan Jasmeen dan membawanya mengikuti papa Abda.
Mama Inne sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, kedua lelaki yang dicintainya itu pergi meninggalkan dirinya dan Vannya, bagimana pun keputusan suaminya sudah tidak bisa diganggu gugat.
" Zayn! " seru papa Abda menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada jauh dari ruang keluarga.
" Papa ingin bicara berdua sebentar denganmu! " ujar papa Abda berjalan menjauhi Zayn dan Jasmeen, Zayn mengangguk ia menyuruh Jasmeen untuk menunggunya sebentar kemudian mengikuti papanya.
" Ya pa? ada apa. " Zayn bertanya menatap ke arah papanya setelah mereka menjauhi Jasmeen yang sedang dilanda kebingungan.
" Kamu benar-banar yakin mau menikahi gadis itu? " tanya papa Abda seraya menatap lekat Jasmeen dari jauh.
" Iya dong pa, apa papa kira Zayn juga main-main seperti mama? " tanya Zayn lalu mengangkat satu alisnya.
" Hahahah tidak Zayn. " Papa Abda tertawa renyah, ketika melihat ekspresi putranya.
" Jika kamu benar-benar ingin menikahinya, papa berpesan jaga dia, sayangi dia seperti mama dan papa menyayangi dirimu, seperti papa menyayangi mama mu, jangan sakiti dia apapun alasannya, kamu tahu kan meskipun mamamu sifatnya seperti itu tapi papa tetap mencintanya sampai sehidup semati, " imbuh papa Abda sedikit menghela nafas pelan, kali ini papa Anda sepertinya sudah menyerah untuk mencari anak dari alm.sahabatnya itu, bagaimanapun juga putranya sudah menemukan gadis yang dicintainya, ia sebagai orang tua hanya bisa mendukung dari belakang.
Setelah keduanya melewati obrolan singkat papa Abda bergantian memanggil Jasmeen diruang kerjanya untuk bicara berdua, agar tidak diganggu oleh istrinya.
***
" Nak Jasmeen! " panggil papa Abda ketika Jasmeen sudah ada diruang kerja miliknya.
" I-iya om, " jawab Jasmeen ragu, sedari tadi ia gemetaran, Jasmeen duduk dikursi depan meja kerja papa Abda.
" Apakah kamu yakin mau menikah dengan Zayn? " tanya papa Abda lagi.
Jasmeen bingung menjawabnya, bagaimanapun juga ia sudah berjanji kepada Zayn jika dirinya bersedia menikah dengan lelaki itu, meskipun sejujurnya gadis itu ingin menolaknya, namun apalah daya jika dia menolak ibunya yang akan menjadi sasaran si tuan muda yang angkuh itu.
" Kenapa diam nak, apakah kamu tidak siap? " imbuh papa Abda lagi, Jasmeen yang mendengar ucapan papa Abda jadi galagapan.
" Sa-saya siap om, " balas Jasmeen terbata.
Sejujurnya papa Abda sedikit penasaran dengan tingkah aneh calon menantunya barusan.
" Yakin? atau jangan-jangan kamu dipaksa menikah dengan Zayn, iya nak? " tanya papa Abda yang tepat sasaran, seketika Jasmeen menggeleng cepat.
" Tidak om tidak, saya mau menikah dengan tuan, eh maksud saya Zayn dengan tulus dari hati saya sendiri, " ujarnya lagi-lagi Jasmeen gelagapan dan terpaksa berbohong.
" Apakah kamu mencintainya? "
" Iyaa om! " Sebenarnya Jasmeen tidak mencintai Zayn, ia terpaksa berbohong lagi dan melakukan semua ini hanya untuk menjaga keselamatan ibunya.
" Baiklah jika memang begitu om tidak memaksamu, om minta suatu hari jaga dia, support dia, Zayn anaknya seperti itu kamu tahu sendiri kan, om hanya bertanya kepadamu apakah kamu benar-benar ingin menikah dengannya jika tidak, lepaskan saja jangan memaksa kan hatimu, " ujar papa Abda menjelaskan.
" Tidak om, saya bersedia menikah dengan anak om, " tungkasnya malu-malu kemudian papa Anda sedikit tersenyum setelah mengetahui tingkah lucu gadis cantik yang telah dipilih putranya itu.
" Sepertinya gadis ini, gadis yang baik, semoga kau tidak salah lagi memilih wanita Zayn, " papa Abda berkata dalam hati.
__ADS_1
***