
" Tuan Zayn hari ini anda ada jadwal meeting dengan client dari kota XX jam 10 pagi, " ujar Vano kepada Zayn.
" Hm baiklah kau urus semuanya Vano! "
" Siap tuan. "
Satu jam kemudian Zayn dan beberapa clientnya sudah berkumpul diruang meeting, kali ini Zayn hanya duduk manis dikursi khusus direktur ruangan itu sambil mendengarkan perusahan lain melakukan briefing, dengan gerakan mata mengintimidasi lelaki itu semua orang yang ada diruang meeting tak ada yang berani bergerak dan melakukan acara meeting tersebut dengan serius.
" Jadi bagaimana dengan penawaran kerja sama kita tuan Zayn? " tanya salah satu wakil direktur diperusahan WT Corp, pria berumur kurang lebih 30 tahun itu sedikit gemetaran ketika manghadapi laki - laki angkuh seperti Zayn, sedari tadi Zayn menatap ke arah semuanya termasuk pria itu dengan tatapan mengintimidasi membuat semua orang yang menyadarinya menjadi takut.
Zayn mengamati setiap inci dari presentasi yang dilakukan oleh wakil direktur itu. lihat dari sisi lainnya Zayn puas dengan hasil presentasi yang dilakukan wakil direktur perusahaan WT tersebut.
" Baiklah saya terima tawaran kerja sama dengan anda, tuan Nero! " ujar Zayn santai, pria yang menginjak usia kepala tiga itu langsung menyeringai, ia tersenyum puas dan bangga akhirnya bisa mengambil hati seorang cucu dari perusahaan besar milik Matja Group.
" Wah benarkah tuan Zayn? terimakasih banyak akhirnya bisa bekerja sama dengan perusahaan anda, sungguh kehormatan besar bagi saja, " ujarnya dengan sopan, kemudian pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zayn. Zayn pun dengan senang hati menerima uluran tangan itu dengan gerakan santai.
" Baiklah meeting hari saya anggap selesai, saya harap semua bekerja dengan baik kedepannya! " seru Zayn menutup acara meeting sembari berdiri, kemudian semua orang yang ada diruangan meeting itu juga ikut berdiri dengan menunduk badannya menghormati Zayn.
Saat dirasa meeting sudah selesai. Zayn keluar beberapa saat dikuti oleh Vano yang sedari tadi mendampingi bosnya, namun kali ini Vano hendak terburu buru untuk mengikuti Zayn karena sedari tadi ponsel milik Zayn berdering, tetera nama panggilan diponsel Zayn bernama Grandpa, yaitu kakek Matja Jakson yang sekarang menempat diluar negeri.
" Halo Grandpa? " sapa Zayn saat mengangkat panggilan dari kakeknya.
" Dasar cucu Grandpa yang paling nakal, mau nikah gak ngasih kabar, mau anggap grandpamu ini sebagai apa ha? "
Seketika Zayn membulatkan matanya lebar, bagimana kakeknya bisa tahu, dia saja tidak ingin memberi tahu kakeknya karena Lelaki itu ingin mengadakan pernikahan secara diam - diam.
" Bagaimana Grandpa bisa tahu? "
" Cucu nakal! Apa kau lupa, kemarin kau habis mengenalkan seorang wanita kepada papa mamamu, dan papamu tadi bilang kalau kemarin tiba-tiba kau datang kemansion dengan membawa calon istri? "
" Ah shitt papa, " umpat Zayn dalam hati.
" Hem maaf Grandpa. Zayn lupa mengabari Grandpa, "
" Kau akan menikah besok? Grandpa akan pulang kemansion nanti malam!! " ujar Grandpa disebrang sana, dan itu membuat Zayn terkejut.
" Oh no no no Grandpa, Zayn gak mau Grandpa kesini, Zayn gak mau sampai Grandpa kecapekan diperjalanan terus sakit, Zayn juga mengadakan pernikahan ini secara sederhana kok Grandpa, besok setelah Zayn menikah Zayn janji, Zayn akan mengunjungi Grandpa ke Prancis bersama istri Zayn! " ujar Zayn membuat keputusan final, lelaki itu hanya tak mau jika kakeknya kenapa - kenapa saat berada dalam perjalanan kemari.
Dan terdengar suara hembusan nafas pelan dari Grandpa disebrang sana, menandakan lelaki baya itu sedikit kecewa.
" Hem baiklah anak nakal, kali ini Grandpa menyetujuimu, Grandpa akan tunggu kamu dan istrimu kesini, sekalian buatin cicit yang imut buat Grandpa ya hahaha. " Akhirnya Grandpa menyetujui meskipun dia menggoda cucunya itu, membuat Zayn bisa bernafas lega sekaligus menggeleng - gelengkan kepalanya pelan.
" It's okey Grandpa, itu tidak masalah terserah Grandpa saja. Zayn janji akan kesana jika semuanya selesai, " ujar Zayn. Beberapa saat kemudian panggilan mereka sudah diakhiri oleh Grandpa, lalu Zayn segera melempar ponselnya ke arah sekertaris Vano.
Sekertaris Vano menangkapnya dengan lihai, seolah hal tersebut sering ia lakukan ketika Zayn selesai mengangkat telponnya.
Zayn berjalan menuju ke ruangan miliknya, seraya memijat pelipisnya yang sedikit pusing jika habis berurusan dengan Grandpanya, Lelaki itu sudah berusaha sepenuhnya untuk menuruti kemuan sang kakek terutama menuruti permintaannya agar mau menerima alih tugas sebagai seorang direktur di perusahan besar miliknya, yaitu Matja Group.
Sejujurnya Zayn tidak berniat sama sekali akan keputusan yang diberikan kakeknya itu. Namun bagaimana lagi, mau tidak mau Zayn harus menurutinya, karena Grandpa Matja terus berusaha memaksa dirinya bahkan sesekali pernah mengancam Zayn dengan cara bunuh diri, agar lelaki itu mau menerima jabatan sebagai direktur perusahaan Matja, padahal masih ada cucu laki - laki Grandpa lainnya yang siap menggantikan posisi milik Zayn saat ini, selain Zayn, Grandpa juga memiliki cucu laki - laki, dia adalah anak angkat dari adik kandung papa Abda Jakson yang bernama paman Adien Marendra J, putra kedua Matja Jakson. Adien Marendra mempunyai anak angkat laki - laki seumuran dengan Zayn bernama Rendra Jakson.
__ADS_1
***
Sesampainya diruangan direktur tempat dimana Zayn diposisikan, saat ini sekertaris Vano bergegas untuk membuka pintu ruang kerja milik Zayn.
" Vano! "
" Iya tuan? "
" Pergilah, jauhi ruanganku sebentar, atau kau bisa pergi kemanapun yang kau mau, tidak usah menungguku diruangan! " ucap Zayn sambil melangkah memasuki ruang kerjanya.
" Saya tidak ingin kemana-mana tuan, saya akan menunggu tuan disini. "
" Hem terserahmu Vano, yang penting jangan menemuiku sebentar, jika ada orang mencariku bilang aku sedang sibuk tidak bisa diganggu. " ujar Zayn yang masih berada diambang pintu, sebelum Vano menjawabnya, laki laki itu segera menutup pintunya sedikit kasar.
Brakk...!!!
Dimana Vano masih mematung tak percaya didepan pintu tersebut, tak biasanya Zayn bertingkah seperti itu.
Karena terlalu pusing memikirkan Jasmeen dan Grandpa, sehingga membuat lelaki itu ingin menjernihkan pikirannya dengan cara merendam seluruh tubuhnya diatas bathub.
Zayn membuka kancing Jasnya satu persatu lalu melepasnya, tak lupa juga ia melepaskan kedua sepatu hitamnya dan melemparnya secara sembarangan, lelaki itu segera memasuki kamar mandi pribadinya yang berada diruang kerja miliknya.
Sudah setengah Jam lebih lelaki itu berendam disana, sesekali meremas rambutnya dengan kasar, entahlah ia ingin melakukannya, kepalanya terasa berat seperti ada banyak beban menumpuk disana, pikirannya sedang kacau.
Selesai dengan ritual berendamnya lelaki itu segera mengambil handuk dan melilitkan dipinggangnya, lalu mengambil sandal yang sudah tertata rapi disana, sekarang wajahnya sudah terlihat fresh, tubuhnya harum bau sabun Re-carge bercampur mint menyeruak diindra penciuman.
" Kauuu!!!! " Tunjuk Zayn terkejut, seketika laki - laki itu langsung terdiam tak percaya.
***
Kini Jasmeen melangkahkan kakinya menuju ruangan ibu Andini, dengan di dampingi seorang laki - laki tak lain ialah Daven.
" Jass? " tanya Daven disela mereka berjalan.
" Ya ada apa? "
" Kalo aku ikut jenguk ibumu boleh gak? " tanya Daven sedikit ragu, lelaki itu takut jika Jasmeen tidak mengijinkanya seperti hari - hari kemarin.
" Serius mau jenguk ibu? " tanya Jasmeen memastikan, lelaki itu mengangguk antusias.
Sejenak Jasmeen terdiam ia memikirkan sesuatu, gadis itu teringat dengan kata - kata adiknya Bellva, jika pulang sekolah dia akan mampir ke rumah sakit menemani ibunya.
" Jika disana ada Bellva, mungkin Daven bisa bertemu Bellva lagi, boleh juga tuh, " gumam Jasmeen dalam hati.
" Hem boleh, ayo! "
" Benarkah, kau memperbolehkanku Jass? " tanyanya memastikan, Jasmeen tersenyum sembari mengangguk.
Sesampai didepan ruangan ibu Andiini, kini Jasmeen dan Daven membuka pintu rawat ibu Andini, ketika gadis itu berhasil mendorong pintu, tiba - tiba ia dikagetkan dengan suara ibu Andini memanggil namanya.
__ADS_1
" Jasmeen! " seru ibu Andini sembari tersenyum ke arah Jasmeen.
" Loh ibu sendirian? " tanya Jasmeen begitu heran, sambil menoleh kesana kemari, pasalnya tadi pagi Bellva berjanji akan menemani ibunya di rumah sakit.
Ibu Andini mengangguk pelan.
" Iya sayang, kamu sudah dua hari tak mengunjungi ibu, ibu kesepian! " balas ibu andini lirih, seketika membuat Jasmeen merasa bersalah.
" Maafin Jasmeen bu, " balas Jasmeen sembari meletakkan tasnya diatas nakas, lalu Ibu Andini terfokuskan oleh pria yang ada disamping putrinya tersebut.
" Siapa dia nak? " tanya ibu Andini beralih menatap ke arah Daven, dengan sigap lelaki itu segera mengenalkan diri kepada ibu Andini.
" Perkenalkan nama saya Daven tante, teman Jasmeen, " ujar Daven sembari mencium punggung tangan milik ibu Andini. Wanita paruh baya itu tersenyum seraya menerima kedatangan Daven dengan senang hati.
" Oh ya bu, bukannya Bellva tadi menemani ibu ya? " tanya Jasmene penasaran.
" Bellva? tidak tuh nak. Bellva tidak pernah kesini sama sekali, semenjak ibu sakit, " balas ibu Andini dengan raut wajah kecewa ketika dia ingat dengan putri bungsunya tersebut, ibu Andini langsung sedih, tidak tahu kesalahan apa yang sempat dilakukan dirinya sampai putri bungsunya itu membencinya.
Setelah mendengar perkataan ibu Andini. Jasmeen langsung terdiam, ia menahan kesal kepada adiknya tersebut, bagaimana bisa Bellva berbohong kepadanya lagi, katanya dia sudah janji mau merubah sifatnya. Namun ternyata tidak, sungguh keterlaluan gadis itu, kini Jasmeen tak bergeming ia masih bergulat dengan pikirannya sendiri.
" Jasmeen, ada apa nak? " tanya ibu Andini kepada Jasmeen. Namun gadis itu tak merubah posisinya.
Tak ada sahutan dari Jasmeen ibu Andini segera menoleh ke arah Daven.
" Kenapa dengan Jasmeen nak Dav? " tanya ibu Andini khawatir.
" Bentar tan jangan khawatir, biar Daven yang tanya, " jawab Daven, lalu ibu Andini mengangguk dan mengiyakan teman putrinya tersebut.
" Hey Jasmeen! " seru Daven sembari memegang pundak milik gadis itu.
Jasmeen langsung tersadar dari lamunannya dan sedikit tersentak ketika merasakan sentuhan tangan Daven memegang pundaknya.
" Ah Daven, ada apa? "
" Kamu kenapa? ibumu barusan memanggilamu, tapi kau malah melamun? " tanya lelaki itu, kemudian Jasmeen langsung beralih menatap ibu Andini.
" Ibu maaf, " lirih Jasmeen.
Ibu Andini tersenyum lega.
" Ada apa denganmu nak, apa ada masalah? "
Jasmwen menggeleng dengan cepat seraya memegang tangan ibunya. " Tidak bu, Jasmeen tidak apa - apa kok, Jasmeen hanya kepikiran sama ibu, "
" Kenapa kamu masih mengkhawatirkan ibu nak, ibu baik - baik saja kok, ibu bisa menjaga diri jika memang ada sesuatu hal yang penting untukmu, " ujarnya dengan lembut, sehingga membuat putrinya itu tersenyum lalu memeluk ibunya.
Sedari tadi Daven tak lepas mengawasi Jasmeen, lelaki itu merasakan seperti ada yang disembunyikan dari gadis itu.
***
__ADS_1