Love From My Husband

Love From My Husband
Chapter 2 - Apa yang kau lakukan!


__ADS_3

Jasmeen berdiri di pinggir jalan, gadis itu menunggu sebuah angkot yang melintasi jalanan itu. Tak lama kemudian ada angkot yang melintas, membuat gadis itu langsung melambaikan tangannya untuk menghentikkan angkot tersebut dan menaikinya.


Sesampainya Jasmeen sampai dikota, gadis itu turun disebuah Butik baju yang lumayan besar, pintu Butik itupun bertulisan. " Di butuhkan karyawati. "


Senyum Jasmeen langsung mengembang ketika melihat tulisan yang ada dipintu tersebut, dengan menarik nafasnya dalam-dalam, gadis itu segera melangkahkan kakinya memasuki Butik tersebut.


" Permisi " Jasmeen menyapa salah satu karyawan Butik yang sedang berdiri menata beberapa baju di dalamnya.


" Iya mbak, ada yang bisa saya bantu? " tanyanya dengan berdiri seraya meletakkan sisa baju yang dipegang ditangannya.


" Maaf mbk apa benar Butik ini sedang membutuhkan karyawati? " Jasmeen menatap pegawai wanita itu dengan tersenyum ramah.


" Iya benar. "


" Kalau begitu saya ingin melamar disini mbak, bisa? " Jasmeen berujar seraya berdiri di depan wanita itu, pegawai wanita itupun menatap Jasmeen dari atas sampai kebawah dengan tatapan intens.


" Baiklah, ayo ikuti saya. " balasnya kemudian ia berjalan mendahului Jasmeen. Jasmeen-pun tersenyum lalu mengikutinya.


Tok Tok Tok!!


" Masukk. " Sahutan dari seorang wanita yang ada di dalam ruangan.


" Maaf bu bos jika sudah menganggu anda, diluar ada sesorang gadis yang ingin melamar pekerjaan disini."


" Oh, bawa dia masuk! " Pegawai wanita itu langsung mengangguk dan menundukkan kepalanya, kemudian kembali keluar memanggil Jasmeen.


" Mbak masuk saja bos sudah menunggumu didalam. " ujarnya datar.


" Ah baiklah, terima kasih, " balas Jasmeen sembari tersenyum tulus, lalu gadis itu segera berjalan memasuki ruangan tersebut.


" Bahkan denganku saja dia sudah sok manis, bagaimana jika dia sudah bertemu dengan bos, pasti akan bertambah sok manis lagi, memang ya jaman sekarang gadis gadis seperti itu sudah pintar untuk mencari muka, diluarnya aja terlihat baik, polos tapi nyatanya hatinya busuk. " gumam pegawai wanita itu dengan menatap tubuh Jasmeen yang menghilang dari balik pintu.


Lalu mereka berdua pergi dengan arah yang berbeda.


.


.


.


***


Jasmeen keluar dari Butik dengan langkah lesu, gadis itu bersedih lantaran lamaran pekerjaannya tidak diterima dengan alasan hanya menggunakan ijazah SMP, namun Jasmeen tetap tidak mau menyerah dia akan terus berusaha untuk mencari pekerjaan lainnya, agar dia bisa mendapatkan uang untuk membiayai operasi ibunya.


" Ya tuhan, aku harus melamar pekerjaan dimana lagi, " gadis itu bergumam seraya berjalan menunduk keluar dari butik yang baru saja dilamarnya itu, sambil membenarkan map coklat yang dipegang tangan kanannya.


Brukk!


Tiba-tiba gadis itu tidak sengaja menabrak seseorang saat membenarkan map ditangannya.

__ADS_1


" Maaf, maafkan aku! " serunya sembari mengambil mapnya yang terjatuh, lalu gadis itu mendongak kearah orang yang ditabraknya.


" Saya yang seharusnya minta maaf nona, apa anda baik-baik saja? " ujar seorang pria yang baru saja ditabrak oleh Jasmeen, pria itupun selesai menutup pintu mobil.


" Ah iya, aku baik-baik saja, " ucap Jasmeen, dia membenarkan tas jenjang dan map coklat yang dipegangnya.


" Syukurlah kalau begitu, kalau nona tidak apa-apa, "


" Vano cepat! " suara seorang laki-laki didalam mobil berhasil membuat kedua Jasmeen sedikit terkejut.


" Baik tuan. " Pria yang bernama Vano itu membalas dengan cepat namun sopan.


" Baiklah nona, saya pamit mau mengantarkan bos saya. " Ujar pria itu berpamitan pada Jasmeen.


" Ah tentu tuan, silahkan, " balas Jasmeen kepada pria tersebut, lalu pria itu segera berlari mengintari mobil dan memasuki kemudi.


.


.


***


.


.


Hari ini Jasmeen menyerah, dia menghela nafas pasrah, hampir seharian penuh gadis itu hanya berjalan dengan masuk keluar beberapa toko dan tetap tidak ada hasilnya, lamaran pekerjaan Jasmeen selalu di tolak karena alasan yang sama. Jasmeen juga melamar diberbagai rumah makan atau warung - warung kecil lainnya tetapi mereka semua tidak sedang membutuhkan karyawan.


Kini Jasmeen memilih istirahat sejenak, dia duduk di sebuah kursi panjang dipinggir taman. Jasmeen meletakkan mapnya di sebelah kanan tempat duduknya, lalu mengambil sebuah tisue kecil dari dalam tas untuk mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya. Terik matahari hari ini cukup panas, namun tak membuat kulit putih Jasmeen berubah hitam.


Jasmeen meneteskan air matanya, saat dia teringat dengan keluarganya yang masih utuh. Jasmeen kembali bersedih sekarang, dia sama sekali tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan seperti ini, ayahnya sudah meninggalkan dirinya, sementara ibunya juga sedang mengalami sakit parah. saat ini Jasmeen hanya bisa berusaha dan berdoa kepada tuhan.


Saat dirasa Jasmeen sudah cukup lama berada disana, gadis itu segera menyeka air matanya, kemudian memilih untuk kembali pulang menemui ibu Andini yang terbaring dirumah sakit. Jasmeen berdiri dari duduknya, lalu pergi dari tempat tersebut.


Jasmeen kembali berjalan melewati sebuah taman yang panjang, namun kini langkah Jasmeen tiba - tiba terhenti, karena dari kejauhan gadis itu seperti melihat sosok perempuan yang ia kenal, dan perempuan itu seperti adiknya.


" Ah iya benar itu memang seperti Bellva! " ucap Jasmeen yang jelas mengenal ciri dan postur tubuh milik adiknya, saat itu Bellva bersama dengan seorang laki - laki, mereka berdua begitu dekat dan sangat mesra.


Jasmeen melihat adiknya dekat dengan laki - laki yang dilihatnya itu menjadi kesal, bukan berarti Jasmeen cemburu dengan adiknya itu, namun justru gadis itu tidak mau jika adiknya akan terjerumus oleh pergaulan bebas, seperti banyak yang dilihatnya disebuah berita sosial media.


Dengan cepat Jasmeen kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah Bellva. Saat itu Bellva sedang tertawa bahagia dan bercanda ria dengan seorang laki - laki tampan.


Ketika laki - laki itu hendak mencium Bellva, dengan tiba - tiba tangan Jasmeen mendarat tepat dipipinya.


Plakkkkk....!


" Ahssstttt. " laki - laki itu langsung terkejut, dan mendesis kesakitan sambil memegangi pipinya yang nampak memerah akibat tamparan dari Jasmeen. Jasmeen menatap laki - laki itu dengan tatapan tajam.


Sontak Bellva juga ikut terkejut, gadis itu langsung berdiri dan melototkan matanya ke arah Jasmeen.

__ADS_1


" Apa yang baru saja kamu lakukan !! " bentak Bellva kepada Jasmeen, kala itu Bellva langsung terbakar emosi akibat ulah kakaknya.


Kali ini Jasmeen sangat marah, tanpa menjawab pertanyaan Bellva, gadis itu segera meraih tangan adiknya dengan kasar lalu menariknya pergi dari laki - laki yang ada disamping Bellva. Tetapi laki - laki itu juga tak mau kalah, dia ikut menarik tangan Bellva yang satunya.


" Siapa kamu, kenapa menamparku dan menarik tangan Bellva seenaknya! " seru laki - laki itu sambil memegangi tangan Bellva, lalu menatap Jasmeen dengan sedikit tajam.


Jasmeen segera memutar tubuhnya menghadap ke arah laki - laki tersebut.


" Diam kamu! seharusnya aku yang bertanya, kamu itu siapa beraninya menyentuh adikku, aku adalah kakaknya Bellva! " Sontak laki - laki itu langsung terdiam, ternyata Bellva mempunyai seorang kakak.


Meskipun Jasmeen sedikit galak, laki - laki itu tidak takut. Malah dia penasaran dengan Jasmeen dan juga membuat hati laki - laki itu tertarik kepada Jasmeen.


Tanpa menunggu jawaban dari laki - laki itu. Jasmeen menarik kembali tangan Ballva lalu membawanya pergi sampai jauh dari pandangannya.


Ketika tangan Bellva ditarik oleh kakaknya, gadis itu hanya diam saja. Bellva menatap punggung Jasmeen kesal.


" Lepaskan tanganku kak! " Bellva meronta melepaskan tangannya dari Jasmeen. Bellva berhasil karena gerakan tangan Bellva sangat kuat. Bellva segera berlari dengan cepat meninggalkan Jasmeen yang mematung tak percaya.


" Bellvaaa!!! " teriak Jasmeen dari kejauhan namun Bellva tak menghiraukannya, gadis itu tetap berlari dengan cepat sampai tak terlihat lagi oleh kakaknya, Bellva sangat tahu sifat kakaknya, kalau kakaknya sudah marah tidak ada yang bisa menenangkannya.


" Anak itu, keras kepala sekali " Jasmeen bergumam dengan menghela nafas kasar, lalu Jasmeen memilih membiarkan adiknya itu dan segera bergegas menuju kembali kerumah sakit untuk menemani ibunya.


***


" Dasar kak Jasmeen, suka sekali menggangguku, beruntung aku bisa kabur dari dia, kalau tidak, kali ini dia akan mengurungku lagi, aku tahu betul saat dia marah, sial. " Bellva berucap di sela-sela ia berjalan.


Bellva berlari kembali ketaman, matanya menyorot mengelilingi taman, saat gadis itu menemukan seseorang yang ia cari Bellva langsung berteriak memanggilnya.


" Kak Daven. "


Laki - laki itu menoleh, saat hendak memasuki mobilnya, dan Bellva sudah berlari ke arahnya dengan nafas yang tersenggal - senggal.


" Ahhh a-aku capek kak." ujar Bellva seraya mengatur nafasnya.


" Bellva, kamu kok bisa sampai kesini lagi, nanti kakakmu nyariin bagaimana? " Daven bertanya kepada Bellva yang menghampirinya.


Daven Steve laki - laki muda tampan dan kaya, berumur 19 tahun, dia anak dari keluarga terpandang, penerjemah semua bahasa. Daven steve adalah kakak kelas Bellva dulu, yang tertaut 3 tahun dari umur Bellva, mereka berdua bertemu saat sedang berada dipesta Galen teman Daven.


" Tidak, dia sudah pergi aku tadi kabur darinya." Jelas Bellva yang mulai bisa mengatur nafasnya.


" Ngapain lo kabur? "


Ketika mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Daven. Bellva langsung mengernyitkan dahinya, gadis itu tidak suka dengan nada bicara Daven yang menurutnya terlalu ikut campur dengan urusannya. Daven yang melihat raut wajah Bellva berubah kesal hanya mendengus.


" Hmm... Ya sudah ayo kita pergi dari sini, " ajak Daven. Bellva-pun mengangguk dan memasuki mobil Daven lalu duduk di samping kursi kemudi Daven, kemudian mereka berdua pergi meninggalkan taman itu.


Sebenarnya Daven masih penasaran dengan kakaknya Bellva, karena Bellva tak pernah bercerita jika dia mempunyai kakak kandung.


***

__ADS_1


__ADS_2