Love From My Husband

Love From My Husband
Chapter 11 - Siapa Vannya?


__ADS_3

Selamat membaca semoga suka....


Jangan lupa likenya ya 💕


***


Sesampainya di depan pintu Bellva masuk kedalam rumahnya dengan keadaannya yang tidak terlalu sadar, langkah gontai akibat efek dari minuman keras.


Bellva memasuki rumah, seketika itu ia sadar dan terkejut melihat pintu rumahnya yang ternyata sudah tidak terkunci.


" Aduh mati aku, apa kakak sudah pulang ya atau apa aku tadi lupa untuk mengunci pintunya, " dengan refleksnya Bellva memukul keningnya sendiri dengan sedikit keras sampai ia meringis kesakitan.


" Bodohh, dasar bodoh banget aku ini. " Akhirnya Bellva mengutuk dirinya sendiri, akibat kecerobohan yang sudah ia perbuat.


Bellva membuka pintunya pelan, kemudian ia berjalan dengan mengendap-endap agar tidak terdengar oleh kakaknya. Bellva kembali menutup pintunya dengan sangat pelan agar tidak mengeluarkan suara.


Setelah berhasil menutup pintunya tanpa mengeluarkan suara Bellva merasa lega, ia kembali melanjutkan langkahnya yang masih mengendap-endap mendekati kamarnya. Namun saat berada didekat kamar tiba-tiba Bellva menghentikan langkahnya, ia sedikit terkejut ketika mendapati kakaknya sedang tidur di sofa.


" Ah gawat ada kakak beneran, aduh gimana ini. " Gumam Bellva dengan raut wajahnya yang mulai pias.


Bellva berusaha menangkan dirinya lalu kembali melangkahkan kakinya dengan langkah lebih pelan untuk menuju kamarnya.


" Ayo sedikit lagi Bellva kamu sampai kamarmu, " batin Bellva dengan keringat yang mulai bercucuran.


Perlahan-lahan Bellva memegang handel pintu kamarnya, pada saat akan membuka pintu kamarnya tersebut, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara Jasmeen.


" Ehem, dari mana saja kamu Bell, sampai jam segini baru pulang? " Seketika tubuh Bellva menegang, ia memejamkan matanya dengan sedikit gemetaran karena takut jika Jasmeen memarahinya.


" Mati aku bisa mati, kenapa kakak bangun dulu sih. " guman Bellva dalam hati.


" Eh, kakak sudah bangun ya hehe. " Ujar Bellva berniat mengalihkan pembicaraan.


" Jangan mengalihkan pembicaraan Bell, kamu belum menjawab pertanyaan kakak, dari mana saja kamu, kenapa tidak tahu waktu? " Jasmeen bertanya sekali lagi sembar beranjak berdiri dari sofa.


" Em Bellva habis dari rumah temen kak, " balasnya dengan sedikit takut, kemudian Jasmeen berjalan hendak menghampiri Bellva.


" Jangan kesini jangan kesini, aku mohon. "


Bellva memejamkan matanya berharap kakaknya tidak mendekat. Bellva menahan nafasnya saat Jasmeen mulai berjalan ke arahhya, ia takut ketahukan jika habis minum minuman keras. Jasmeen memegang pundak Bellva, seketika Bellva terkejut.


Deg. Jantung Bellva berdetak tak karuan, keringatnya sudah bercucuran membasahi tubuh dalamnya.


" Hey. " Jasmeen memanggil Bellva sembari memegang pundak adiknya tersebut.


Seketika Bellva membalikkan badannya kemudian menatap takut ke arah Jasmeen.


" Kakak ini bicara denganmu, jawab yang jelas Bellva! " seru Jasmeen menatap dalam adiknya. Jasmeen ingin sekali mendengar penjelasan jujur dari adiknya


" Kenapa wajahmu pucat begitu? " sambung Jasmeen ketika melihat wajah adiknya yang nampak mulai pucat, membuat Bellva semakin seperti terpojok.


" A-aku habis diajak jalan Lecya kak, em kakak bisa tanya langsung ke dia besok dia aku suruh kesini bagaimana? " Balas Bellva sedikit terbata, dengan mengangkat dua jari tangannya, sebisa mungkin gadis itu mengatur mimik wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan.


Jasmeen terdiam, ia sedikit merasa ada yang aneh dengan sikap adiknya hari ini.


" Hmm kakak ini tahu, kalau kamu bermain dengan teman-temanmu, tapi kakak mohon ingatlah waktu, kamu itu seorang wanita Bellva, jangan sampai kamu melebihi batas wajar kalau bermain, ingat ucapan ayah tidak? kita sama-sama perempuan harus bisa menjaga tubuh dan kehormatan sendiri, kakak hanya tidak mau kamu kenapa-kenapa saja, jika kamu ingin bermain ya bermainlah, kakak tidak akan melarangmu tetapi jangan sampai lupa waktu. " Jasmeen menasehati Bellva dengan panjang lebar, sejujurnya ia ingin marah kepada adiknya itu, namun jika ia marah, itu tidak akan ada hasilnya malah akan memperkeruh suasana.


Bellva mendengar nasehat kakaknya ia menundukkan kepala tanpa menjawab kakaknya, karena ucapan kakaknya itu ada benarnya juga.

__ADS_1


" Iya kakak maafin Bellva jika Bellva lupa waktu, tetapi Bellva janji, Bellva tak akan mengulanginya lagi, tapi tolong jangan marah ya plisss. " Balas Bellva dengan sedikit rasa bersalah, beruntung dia tidak di marahi kakaknya kali ini, karena telah pulang malam bermain di bar club.


" Hm ya sudah kamu tidur saja, besok kamu sekolah. " Jasmeen berkata dengan nada berbeda.


Bellva mengela nafas lega jika dirinya hanya dinasehati saja oleh kakaknya.


" Iya kak, " balas Bellva tersenyum lalu ia kembali ke kamarnya.


Jasmeen yang melihat tingkah adiknya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Ke-esokan paginya.


Jasmeen sedang membersihkan rumahnya, setelah pagi tadi Bellva sudah berangkat ke sekolah. Jasmeen berpikir untuk membersihkan rumahnya dulu, dari pada tidak melakukan kegiatan apa-apa pagi ini.


Sudah lama Jasmeen tak membersihkan rumahnya semenjak kesibukannya mengurus ibu Andini di rumah sakit membuat dirinya lupa akan kewajibannya saat di rumah.


Selesai membersihkan rumah Jasmeen akan berangkat ke rumah sakit lagi untuk menjenguk ibunya, karena nanti malam ibu Andini akan segera di operasi.


Selesainya membersihkan seluruh rumahnya yang sedikit berantakan dan tidak terlalu besar. Jasmeen memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tepat saat Jasmeen membuka pintu kamar tiba-tiba ponsel Jasmeen bergetar, itu pertanda ada satu pesan yang masuk didalamnya.


" Temui paman di Brand cafee XX jam 10 pagi, habis ini kau akan bertemu dengan pria yang akan paman calonkan sebagai calon suamimu. "


Glekk... Jasmeen menelan salivanya dengan berat ketika membaca pesan dari pamannya tersebut.


" Apa calon suami? " gumamnya pelan.


Jasmeen masih tidak menyangka jika sebentar lagi dia akan menikah dan mempunyai suami di umurnya yang terbilang masih muda. Jasmeen menghela nafas pasrah dan membalas pesan dari pamannya tersebut.


" Baik paman. "


***


.


.


" Bagaimana apa kau sudah berhasil membujuk gadis itu? " suara Zayn di sebrang sana bertanya kepada Afrod.


" Sudah tuan, saya berhasil membujuk Jasmeen, dia menyetujui menikah dengan anda. " Zayn langsung tersenyum tipis, meskipun Afrod tidak mengetahuinya.


" Baiklah nanti kita bertemu di Brand cafe XX tuan Afrod. " Ujarnya tanpa menunggu Afrod membalas ucapannya. Zayn segera mematikan telponnya.


Entah apa yang ada dipikiran Zayn setelah mendengar persetujuan dari Afrod ia tersenyum seolah sedang ada rencana lain yang akan dilakukannya.


" Vano! " Zayn memangil sekertarisnya, setelah selesai bertelfon dengan Afrod. Vano dengan sigap segera mendekat ke arah Zayn ketika ia mendengar teriakan dari laki-laki itu.


" Iya tuan? " balas Vano sopan.


" Atur pertemuanku dengan Afrod di Brand Cafe XX! "


Tanpa bertanya lagi. Vano mengangguk dan mengiyakan. " Siap tuan. "


Setelah beberapa menit kemudian tiba - tiba ada seorang mengetuk pintu ruangan Zayn.


Tok tok tok.

__ADS_1


" Masuk! " serunya dingin.


Wanita itu masuk dengan menundukkan kepalanya sopan kepada Zayn.


" Maaf mengganggu waktu anda tuan, ada nona Vannya di bawah, beliau sudah kami larang untuk masuk dan menunggu di lobi tetapi beliau masih memaksa ingin bertemu dengan tuan. "


Zayn mendengus kasar setelah mendengar ucapan dari wanita yang berdiri didepannya itu.


" Suruh dia masuk! " Ujar laki-laki itu dengan kesal.


" Vano kau tetap disini, jangan keluar! " seru Zayn kepada Vano.


" Baik tuan. "


Vannya Arsinta , wanita yang cantik dan anggun, dia menyukai Zayn sejak lama tetapi Zayn tidak menyukai Vannya. Vannya telah dijodohkan dengan Zayn oleh mama Inne, mama kandung Zayn Jakson.


Sejujurnya Zayn enggan menerima perjodohan ini. Namun karena mama Inne yang bersikeras ingin menikahkan Zayn dengan Vannya, anak dari teman sosialita mamanya Zayn, sehingga membuat Zayn selalu ingin menghindari dari perjodohan konyol ini.


Beberapa detik kemudian kedatangan seorang wanita cantik dan anggun yang bernama Vannya itu, ia memasuki ruangan Zayn tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Sayang. " Vannya memanggil Zayn dengan suara manja seraya memasang senyum yang sangat manis, Namun Zayn tidak membalasnya, ia hanya melirik Vannya sekilas.


" Sayang kamu tahu gak tuh karyawan - karyawan kamu sudah pada resek semua ke aku, ngehalang aku untuk bertemu denganmu, padahalkan aku calon tunanganmu sayang. " Vannya mencibir ketika ia teringat dengan beberapa karyawan Zayn yang berusaha melarang dirinya menemui Zayn calon tunangannya.


Saat dirasa tetap tidak ada jawaban dari Zayn. Vannya mendengus sebal.


" Sayang kenapa diam saja sih, dari tadi aku bicara terus sama kamu tapi tidak kamu balas, aku capek tau! " Seru wanita itu dengan nada kesal.


" Hmm ada perlu apa kesini? " Tanya Zayn dingin, pertannyaan itu justru membuat Vannya semakin kesal.


" Ih kamu ini kenapa malah tanya begitu, terserah aku dong mau ngapain kesini, kan aku calon tunangan kamu, " balas Vannya dengan manjanya. Zayn sesekali hanya mendengus mendengar ucapan yang di lontarkan Vannya, ia merasa tidak nyaman ketika didekati wanita itu.


Vano yang sendari tadi berdiam disitu hanya menampakkan ekspresi datar dan sedikit tidak sika, seolah ia sedang jijik melihat tingkah calon tunangan bos mudanya.


Vannya kembali mendekati Zayn dengan lebih dekat, tangannya menggelayut ke leher Zayn, tanpa disadari Zayn risih dengan perlakuan Vannya, ia melepaskan tangan Vannya dengan kasar dari lehernya.


" Ah sakit, kasar banget sih kamu Zayn, " ujar Vannya marah, kali ini Vannya tidak terima dengan perilaku kasar Zayn.


" Nanti aku bilang ke tante Inne, kalau kamu habis kasar ke aku Zayn. " sambung Vannya yang masih tidak terima.


Zayn mendengar ancaman Vannya semakin geram setiap Zayn menolak didekati Vannya, wanita itu selalu saja mengucapkan kata ancamannya itu, lalu Zayn menatap Vannya dengan tatapan tajam.


" Kau mau mengadu? mengadulah sana padA mama sepuasmu, aku tidak peduli! " seru Zayn seraya membentak Vannya.


Vannya yang tidak terima di bentak oleh Zayn itu juga semakin geram, kemudian keluar dari ruangan Zayn tanpa sepatah katapun dengan wajah merah padam menahan amarah.


Zayn mendengus lagi kemudian memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing, seolah ia bingung merasakan sifat Vannya yang sangat kekanak-kanankan itu.


" Aku harus cepat menghindari perjodohan konyol ini, bagaimanapun juga aku tidak mau hidup dengan wanita manja sepertinya nanti. " gumam Zayn dalam hati.


Vano yang melihat Zayn seperti itu hanya bisa menahan tawanya. Zayn melirik ke arah Vano yang sedang berusaha menahan tawanya.


" Tertawalah Vano jangan di tahan! "


" Hahaha, maafkan saya tuan. " ujarnya dengan tertawa terbahak - bahak, kali ini lelaki itu tidak bisa menahan tawanya ketika melihat reaksi kesal dari bosnya itu atau lebih dikenal dengan temannya.


Zayn tak menegur tawa sekertarisnya, lelaki itu masih mendengus kesal, dan melirik ke arah Vano sekilas.

__ADS_1


***


__ADS_2