Love From My Husband

Love From My Husband
Chapter 17 - Nenek Lampir


__ADS_3

Zayn menuruni anak tangga dengan ekspresi datar seperti biasanya, untuk melakukan sarapan pagi bersama keluarga, jarang-jarang Zayn bisa pulang dan berkumpul bersama dengan keluarganya.


" Kak Zayn! " suara adik perempuan Zayn yang bernama Rena memanggilnya dari arah belakang.


Seketika Zayn memutar kepalanya dan menoleh ke arah sumber suara, kemudian Rena tersenyum manis lalu mendekati kakaknya.


" Kita turun bersama ya kak, " ajak Rena sembari berdiri di sebelah Zayn.


" Hmm baiklah ayo. " Zayn menerima ajakan adiknya dengan senang hati, lalu lelaki itu tiba-tiba mengangkat tangan kanannya untuk mengacak acak rambut milik sang adik.


" Kau masih sama seperti waktu kecil Ren, " ujar Zayn dengan tertawa renyah mengingat akan sifatnya yang jahil terhadap Rena.


" Huh kak Zayn ini kebiasaan deh, dari dulu selalu saja menjahiliku, " ujar Rena tersenyum kecut, kebiasaan mereka sejak kecil setiap bertemu.


Lalu Rena segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah kakak tercintanya itu sementara Zayn ia terkekeh geli melihat ekspresi wajah Rena.


" Gak papa lah sudah lama kakak tidak menjahilimu seperti waktu kecil, jarang-jarang juga-kan kakakmu pulang kerumah begini, " ujarnya sembari berjalan beriringan menuruni tangga bersama adiknya.


Rena tersenyum senang lalu menangguk, benar yang dikatakan kakaknya itu, lelaki itu memang jarang pulang, sekali pulang hanya sebentar lalu pergi lagi, setiap kebiasaan mereka berdua ketemu Zayn selalu menjahili adiknya dari kecil.


Kemudian mereka berdua kembali melangkahkan kakinya menuju meja makan, dan disana ternyata sudah ada mama Inne, papa Abda dan seorang wanita yang sedang melebarkan senyum bangganya ke arah Zayn, wanita itu tak lain ialah Vannya yang dengan menunggu kedatangan Zayn untuk sarapan bersama.


Zayn menatap semua orang yang sudah menunggunya disana dengan berdecak sebal.


" Ck, persetan dengan wanita itu lagi ngapain dia kesini, " gumam Zayn namun ternyata didengar samar oleh Rena.


" Sudah-lah kak, jangan dihirukan keberadaan nenek lampir itu, biarkan saja dia, biarkan dia bicara sama mama saja, kita tidak usah membuka suara, " bisik Rena ditelinga kakaknya, sejujurnya Rena juga sangat malas melihat keberadaan Vannya yang tiba-tiba sudah berada di Mansionnya pagi-pagi sekali.


Vannya tersenyum senang ketika melihat calon tunangannya itu menuruni anak tangga.


" Zayn cepat sini duduk, ayo kita sarapan, " ujar mama Inne dengan berdiri seraya menunggu kedatangan putra sulungnya untuk menikmati sarapan pagi bersama.


Zayn tak bergeming, ia menatap mamanya dengan mata jengah, sepertinya mood Zayn hari ini tidak terlalu bagus.


" Kenapa dia ada disini? " tanya Zayn acuh tak acuh kepada mamanya, yang Zayn maksud tentang keberadaan Vannya yang tiba-tiba sudah ada dipagi hari untuk mengikuti sarapan bersama keluarganya itu.

__ADS_1


" Sudah Zayn duduklah dulu, " ujar mama Inne dengan manisnya dan ia sudah menyiapkan kursi yang akan diduduki oleh putranya, papa Abda dan Rena yang melihat tingkah laku mamanya hanya bisa diam saja dan sedikit menggelengkan kepalanya heran.


Tanpa membalas ucapan mamanya, Zayn segera duduk dengan memasang ekspresi datar dan dingin ciri khasnya.


Sarapan pagi hari berlangsung sunyi, tak ada yang berbicara sepatah katapun dari mereka, hanya terdengar suara dentingan garbu dan pisau di atas piring.


Terlihat Vannya yang diam saja, dia makan tanpa ada rasa malu sama sekali, sesekali Vannya mencuri pandang ke arah Zayn saat makan berlangsung, sejujurnya Zayn sangat muak dengan semua ini, tetapi demi menghargai orang tuannya, Zayn lebih memilih duduk diam dan segera menghabiskan makannya dengan cepat.


" Bagaimana dengan pertunanganmu sama Vannya Zyan? " tanya mama Inne setelah selesai makan.


Zayn tetap bergeming ia sangat malas untuk membahas soal pertunangannya dengan Vannya. Zayn sama sekali tak menganggap keberadaan Vannya yang masih ada disana.


" Ah tante jangan dibicarakan sekarang. " Vannya menimpali pertanyaan mama Inne dengan nada malu-malu, sejujurnya dihati Vannya ia merasa sangat senang bahkan sebentar lagi kemenangan ada ditangannya.


" Ya sebentar lagi! " seru Vannya didalam hati.


Sebelum mama Inne membalas ucapan Vannya, Zayn segera memotongnya.


" Papa. " panggil Zayn beralih menatap papanya, mama Inne yang melihat tingkah Zayn sembari sedikit terkejut.


" Ya Zayn? ada apa? " tanya balik papa Abda sembari menatap putranya tersebut.


Lalu Zayn berganti menoleh kearah mamanya dengan ekspresi datar dan sedikit melirik sinis ke arah Vannya, kemudian Zayn sedikit tersenyum tipis.


" Zayn akan membawa wanita Zayn kesini, habis ini dia akan Zayn jemput, kalian tidak usah khawatir tentang pasangan yang akan Zayn NIKAHI, " ucap Zayn penuh penekaan diakhir kata, sontak semua orang terkejut dibuatnya, apa lagi Vannya yang mematung tak percaya.


" Jika Zayn harus menikah, Zayn akan menikah tetapi dengan pilihan Zayn sendiri. " imbuh Zayn dengan ekspresi datarnya.


" Benarkah Zayn? baiklah bawa dia kemari? " papa Abda merasa sangat senang dengan keputusan putranya tersebut, meskipun papa Abda belum menemukan anak dari sahabatnya yang hilang, setidaknya papa Abda sedikit lega karena bukan Vannya atau wanita dimasa lalu putranya yang akan menikah dengan Zayn.


Namun lain halnya dengan Vannya dan mama Inne, mereka tampak membeku di tempat, dengan wajah pucat pasi, sejenak mama Inne melirik kearah Vannya yang tak berani membuka suaranya.


" Papa, Zayn! kalian tidak bisa gitu dong! " akhirnya mama Inne membuka suara karena tidak terima dengan keputusan yang di buat oleh putranya tersebut.


" Mama tidak berhak melarang Zayn lagi! Zayn sudah besar ma, Zayn tidak mau menerima wanita dari mama begitu saja, mama belum tahu sifat aslinya dia. " tumpal Zayn penuh penekaan terhadap mamanya, Zayn sedikit meninggikan ucapannya seraya menunjuk kearah Vannya.

__ADS_1


Seketika mama Inne membungkam mulutnya, ia tak berani membalas ucapan dari putranya, tak lama kemudian Zayn segera beranjak pergi untuk meninggalkan mansion tersebut.


" Argghh! "


" Zayn kamu mau kemana? hey Zayn! " mama Inne berteriak memanggil Zayn namun seperti biasa Zayn tak mau mendengar panggilan dari mamanya ia tetap melanjutkan langkahnya pergi keluar Mansion tersebut dengan memasang ekspresi dinginnya.


Zayn pergi keluar dari Mansionnya untuk menuju Apartemennya dulu sebelum berangkat ke kantor, tampak sekertaris Vano sudah siap menunggunya di depan teras dengan pakaian rapi yang dikenakannya.


Sekertaris Vano menundukkan kepalanya hormat sembari membuka pintu mobil untuk Zayn.


" Selamat pagi tuan Zayn yang tampan. " sapa Vano dengan sedikit menongga Zayn, lelaki itu juga tak lupa untuk menundukkan kepalanya sopan.


" Hmm. " balas Zayn dingin kemudian ia segera memasuki mobil tersebut. Vano melihat raut wajah Zayn yang kesal menjadi heran, karena bosnya itu tidak pernah seperti ini dipagi hari, terkadang hampir setiap hari Vano selalu menggoda Zayn. Namun kali ini tanggapan lelaki itu sungguh berbeda, sepertinya moodnya pagi iki kurang bagus.


Vano segera masuk kedalam mobil dan mulai melanjukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan Mansion tersebut.


Selama diperjalanan, Zayn tetap bergeming dengan memasang ekspresi kesalnya, tidak biasanya Zayn seperti itu, sesekali Vano sedikit melirik kearah bosnya itu dari kaca sepion.


Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan Zayn.


" Maaf tuan, bagaimana dengan nona Jasmeen? " tanya Vano disela perjalanan menuju Apartemennya.


" Ah shit iya aku hampir saja kelupaan dengan gadis itu. " batin Zayn dengan meraup wajahnya frustasi.


" Bagaimana dengan Hans apa di menjemput gadis itu dirumahnya? " tanya Zayn datar kepada Vano.


" Hans belum kesana tuan, Hans masih menunggu perintah dari anda, " jawab Vano dengan cepat.


Zayn berdecak lagi.


" Suruh Hans menjemputnya sekarang! " perintahnya.


" Baik tuan, " kemudian mobil mereka kembali melaju menuju Apartemen Zayn tanpa ada hambatan.


***

__ADS_1


__ADS_2