
Selama diperjalanan menuju rumah sakit, Jasmeen membisu matanya menatap luar kaca mobil, gadis itu tidak mengajak seseorang didalam kemudi berbicara, hanya suara hening menyelimuti keduanya.
Merasa tidak enak dengan Daven. Jasmeen kembali memikirkan kejadian tadi, ia takut jika Daven mencurigai sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan dirinya dan Zayn, karena gadis itu tidak mau ada seorangpun mengetahui itu, termasuk Daven, karena Daven sudah kenal dengan ibunya Jasmeen, dia tidak mau jika Daven akan memberitahu ibunya.
" Nona Jasmeen! " seru seorang laki-laki yang membuat gadis itu terkejut sembari berjalan mendekatinya, dan Jasmeen tahu siapa dia, siapa lagi jika bukan laki-laki yang sempat menjemput dirinya waktu pergi ke butik.
" Hans? " Ya laki laki itu saat ini sedang menjemput Jasmeen, karena baru saja laki-laki itu mendapat perintah dari bossnya.
" Ada apa? " tanya Jasmeen mengernyitkan dahinya sembari menjauhi pintu mobil Daven, dan seketika itu pula pandangan Daven beralih menatap laki-laki itu.
" Saya diutus tu-- " sebelum Hans melanjutkan ucapannya. Jasmeen langsung menyahutnya dengan cepat.
" Ah iya aku mengerti! " seru Jasmeen dengan menyambar tangan laki-laki itu lalu menariknya.
" Maaf Daven, aku pamit berangkat bersama dia saja, karena ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannya, " ujar Jasmeen lalu menarik tangan asisten dari suaminya itu mendekati mobil mereka.
Kala itu Daven lagi-lagi dibuat heran dengan orang-orang yang dekat dengan Jasmeen.
" Kenapa saat aku ingin mengajak Jasmeen, dia selalu dijemput orang, ini kacau aku jadi sulit untuk mendekatinya, " umpat laki-laki itu sambil mengawasi mobil Jasmeen dan Hans meninggalkannya.
" Dan... siapa lagi mereka kenapa bisa membawa Jasmeen seenaknya, apa jangan-jangan semua ini ada keterkaitannya dengan tuan muda Zayn Jakson, " gumam Daven yang masih berdiri didekat mobilnya.
" Hum tapi itu tidak mungkin, tante Andini saja bilang jika keluarga Jasmeen tidak mengenalnya, " sambung laki-laki itu lalu segera berjalan mengintari mobil dan memasukinya.
.
.
***
Ditempat lain kediaman Abda Jakson.
" Ma, pa! " Sapa Rena kala itu sedang menghampiri kedua orang tuanya diruang keluarga mereka.
" Iya sayang ada apa? " tanya mama Inne sembari menatap putrinya tersebut.
" Aku ada kabar bahagia untuk kalian! " seru Rena kepada kedua orang tuanya, membuat papa Abda dan mama Inne penasaran.
" Apa itu sayang? " mama Inne bertanya lagi, namun Rena malah tersenyum.
" Rena mau bilang kalau Rena--- " ucapan Rena kala itu menggantung karena dia sengaja ingin membuat kedua orang tuanya itu lebih penasaran.
" Rena mau bilang apa? " tanya papa Abda yang ikut penasaran karena tingkah putrinya tersebut.
" Kalau.... Rena sudah berhasil menyelesaikan Skripsi dan ujian akhir kampus ma, pa. Rena telah dinyatakan lulus! " seru gadis itu dengan senyum bahagia, hal itu justru membuat mama Inne dan papa Abda terkejut, mereka berdua juga langsung ikut senang ketika mendengar ucapan yang dilontarkan putrinya itu.
__ADS_1
" Benarkah itu sayang, wah selamat ya sayang, anak mama yang cantik sudah lulus, mama tidak menyangka kamu lulus secepat ini? " tutur mama Inne dengan memeluk hangat putrinya tersebut, wanita itu merasa bangga kepada Rena, putri bungsunya itu.
Rena langsung mengangguk antusias dan membalas pelukan dari mamanya, lalu bergantian dengan papa Abda, pria itu juga mengucapkan selamat atas kelulusan putrinya.
Rena adalah gadis yang cerdas, dia menuruni bakat yang dimiliki oleh papa dan kakaknya. Rena menyelesaikan kuliahnya itu hanya dengan 2 tahun saja, karena Rena selalu fokus dengan pendidikkannya, sehingga memudahkan dia untuk menyelesaikan kuliah itu dengan cepat, terlebih lagi gadis itu sangat pintar dan cerdas, sehingga membuatnya lebih mudah untuk melewati masa kelulusannya.
" Terima kasih ma, pa, lusa Rena wisuda, mama sama papa dan kak Zayn harus datang ke wisuda Rena. Rena ingin sekali kalian datang, dan tidak ada alasan apapun untuk kalian menolak termasuk kakak! " ujar Rena seraya menatap penuh permohonan kepada kedua orang tuanya itu.
" Iya nak kami pasti datang, tapi tidak tahu dengan kakakmu itu, kan dia sudah menikah, lebih baik kamu membujuk kakakmu sendiri nanti, " tutur papa Abda dengan tersenyum, laki laki itu segera melanjutkan meneguk kopi miliknya.
" Hem iya ya, Rena lupa dengan kakak jika dia sudah punya istri, " gumam wanita itu namun masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya.
" Oh ya pa, ma, aku penasaran dengan wanita pilihan kakak, aku ingin sekali bertemu, seperti apa dia apakah dia cantik dan baik? " tanya Rena kala itu, papa Abda pun tersenyum, sementara mama Inne, wanita itu langsung merubah ekspresinya.
" Dia anaknya cantik, baik, dan sopan! " ujar papa Abda.
" Benarkah pa! " sahut Rena berbinar senang ketika baru saja mendengar ucapan dari papanya.
" Jika memang dia wanita tipe seperti itu aku akan sangat setuju dan bersyukur karena kakak sudah mendapat pendamping yang baik, tidak seperti... Vannya dan Dev-Dev, ah siapa itu lupa aku, pokoknya yang pernah hadir dimasa lalu kakak! " seru Rena sedikit kesal jika ia teringat dengan wanita-wanita yang pernah mendekati kakaknya tersebut.
" Rena! " tegur mama Inne kala itu, ia sedikit tidak suka jika putrinya itu menyebut nama Vannya dan menjelek-jelekkannya.
" Ada apa sih ma, kan bener kata Rena, tidak seperti wanita yang pernah hadir dimasa lalu kakak, " sahut Rena menatap mamanya yang menampakkan kekesalannya itu.
" Sudah-sudah jangan ribut, mulai deh kalian ini. Rena papa dan mama pasti akan hadir diacara wisudamu, dan untuk kakakmu nanti kabari saja! " seru papa Abda kepada putrinya tersebut.
" Baik pa, " balas Rena kemudian, gadis itu berpamitan pergi menuju kamarnya. " Mama selalu saja membela wanita itu dari pada aku! " gumam Rena lirih sampai tidak terdengar orang tuanya, gadis itu merasa kesal akan tingkah mamanya yang terlalu suka berlebihan terhadap Vannya.
Lalu papa Abda langsung menoleh ke arah istrinya tersebut, wanita itu masih terlihat sangat kesal.
" Mama kenapa sih, sama anak sendiri suka ribut! " tutur Abda kepada istrinya.
" Ya mama tidak suka jika Vannya selalu dijelek-jelekin pa, mama itu tahu betul bagaimana Vannya, dia anaknya baik kok, tidak seperti wanita masa lalunya Zyan yang jahat itu! " seru mama Inne.
Papa Abda lalu menghela nafasnya pelan. " Ma dengerin papa, bukan berarti Rena berbicara seperti itu karena menjelekkan Vannya, dia tadi bicara kalau dirinya beruntung jika melihat kakaknya mendapat wanita baik seperti Jasmeen. " ujar papa Abda menasehati istrinya.
" Pa, papakan belum tahu sifat aslinya gadis itu, mama yakin dia tidak terlalu baik untuk Zayn! "
" Ma, apapun keputusan Zayn sudah bulat dan dia sudah menikahi gadis itu, lagian ayah Matja saja menyetujui mereka, apa mama mau berbuat aneh-aneh lagi untuk menjodohkan putra kita dengan Vannya? " ujar pria itu sembari berdiri dari duduknya, ia berniat pergi dari sana, kemudian mama Inne langsung membungkam ketika berbicara mengenai papa Matja setuju dengan pernikahan cucunya.
.
.
***
__ADS_1
Setibanya dirumah sakit, Jasmeen bergegas menemui ibunya.
" Ibu! " Sapa Jasmeen lirih, ketika gadis itu sudah memasuki kamar rawat ibunya, dan pada akhirnya ibu Andini yang masih istirahat itupun langsung membuka matanya ketika dia mendengar suara dari Jasmeen.
" Jasmeen! " seru ibu Andini dengan berbinar senang, lalu memeluk putrinya itu dengan hangat, karena dia sangat merindukan putrinya tersebut.
" Kemana saja kamu nak, ibu kangen kamu, ibu takut jika kamu melupakan ibu, sudah dua hari ibu tidak melihatmu, " tutur ibu Andini disela mereka masih berpelukan.
" Maafin Jasmeen ya bu, Jasmeen sangat sibuk, sekolah Jasmeen tidak ada henti-hentinya mendapat tugas, maafin Jasmeen ya, " ujar Jasmeen yang terpaksa berbohong, kala itu ibu Andini pun akhirnya memaklumi, wanita paruh baya itu mengertikan kesibukan putrinya.
Ketika mereka berdua saling melepas rindu, tiba - tiba saja pintu dari kamar ibu Andini pun terbuka.
Ceklek..!
" Permisi, " sapa seorang laki-laki sambil membawa bouqet bunga, dan beberapa buah-buahan ditangannya.
" Daven! " seru Jasmeen terkejut.
" Nak Daven! " sapa ibu Andini, dengan menaikkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
" Jasmeen, tante Andini! " sapa Daven berjalan mendekati mereka berdua, sambil memberikan bouqet bunga dan buah-buahan yang sempat ia beli tadi dijalan.
" Terima kasih nak Daven, kenapa jadi repot-repot begini. " seru ibu Andini dengan tersenyum hangat kepada laki-laki itu.
" Tidak apa-apa tante! " sahut laki-laki itu seraya mengalihkan pandangannya kepada Jasmeen. Jasmeen yang dipandang oleh Daven seperti itu merasa gugup.
" Eh Da-Daven mari duduk, " ujar Jasmen berdiri dari duduknya dan menyuruh laki-laki itu menduduki kursinya tersebut.
" Ah tidak udah Jasmeen, kamu saja yang duduk disitu, aku bisa duduk disana saja! " seru Daven sambil tersenyum ramah.
" Nak Daven terima kasih ya, selama dua hari ini nak Daven sudah menemani ibu di rumah sakit, ketika Jasmeen lagi sibuk! " seru ibu Andini yang justru membuat putrinya itu terkejut.
" Apa, jadi selama ini yang membantu menemani ibu selama dirumah sakit itu Daven, " gumam gadis itu didalam hatinya.
Mereka bertigapun melanjutkan obrolan mereka, sampai dirasa Jasmeen dan Daven tidak lagi merasa canggung, mereka berdua sudah berteman baik. Jasmeen menganggap Daven sebagai kakak, karena umur Daven yang sedikit lebih tua darinya, sementara untuk Daven sendiri, laki - laki itu ingin menganggap Jasmeen lebih dari seorang adik.
.
.
***
Halo saya balik lagi nih😁, jangan lupa kasih hadiah update dari saya dengan cara tinggalin like, komen dan rate bintang 5-nya ya, oh ya jangan lupa vote juga kalau mau.
Terimakasih🧡
__ADS_1