Love From My Husband

Love From My Husband
Chapter 30 - Sudah Cukup!


__ADS_3

" Bagaimana bisa wanita sialan itu bisa masuk kesini Vano? " tanya Zayn datar dan dingin kepada sekertaris Vano, meskipun Zayn menganggap sekertaris itu sudah seperti temannya sendiri, namun kali ini laki - laki itu sedikit kesal kepada sekertarisnya itu.


" Maafkan saya tuan, saya tadi sedang berada di toilet, pada saat saya kembali ke ruangan tuan, ternyata tuan berteriak memanggil nama saya, " ujar sekertaris itu menjelaskan, ketika lelaki itu melihat Zayn marah, ia tidak berani untuk bercanda atau sekedar bicara non formal.


" Saya baru saja bertanya kepada beberapa satpam dan petugas resepsionis, wanita itu telah berkata kalau dia juga mengaku sebagai kekasihnya tuan Zayn dan memberi sebuah bukti foto tuan Zayn bersama wanita itu, jadi mereka semua tidak bisa melawan wanita itu tuan, " Vano melanjutkan penjelasannya pada Zayn.


Zayn berdecih karena wanita itu menganggap Zayn sebagai kekasihnya, padahal sudah jelas mereka bukan siapa - siapa, apalagi wanita itu sudah meninggalkan Zayn selama 2 tahun begitu saja.


Dan pada akhirnya Zayn bisa memaklumi kesalahan Vano ketika selesai mendengar penjelasan darinya.


" Baiklah - Baiklah yang terpenting wanita itu sudah enyah dari hadapanku, jangan sampai dia muncul dihadapanku lagi! dan aku sudah memaafkanmu Vano, lain kali bekerjalah dengan benar, " ujar Zayn sembari berdiri dan menepuk bahu Vano tersebut.


Vano langsung mendongakkan kepalanya.


" Baik, terima kasih banyak tuan."


Zayn membalas dengan berdehem.


" Oh ya Vano, bagaimana dengan besok? apa semua sudah beres? " tanya Zayn tanpa menatap sekertarisnya itu.


Vano mengerti yang dimaksud Zayn, apalagi jika bukan hari pernikahan Zayn besok, mereka akan melaksanakan pernikahan secara sederhana tanpa mengadakan resepsi apapun.


" Sudah beres semua tuan. "


" Baiklah aku percaya padamu Vano, lalu bagaimana dengan ibu dari gadis itu???? "


" Sudah beres juga tuan, beliau tidak akan tahu jika putrinya menikah dengan anda besok, sesuai permintaan yang diminta nona. "


Zayn mangut - mangut pertanda mengerti, meskipun ia sedikit tidak setuju, namun bagaimana lagi itu adalah syarat yang diminta oleh Jasmeen. Zayn tidak bisa menolak, laki - laki itu hanya bisa menurutinya.


" Siapkan mobil, aku mau pulang! "


" Siap tuan, " kemudian mereka berdua berjalan keluar dari kantor dan sekertaris Vano segera mengambil mobilnya.


***


Malam Harinya.


Jasmeen keluar dari kamarnya menuju dapur, sesekali matanya menoleh kearah kamar sang adik, dan ternyata kamar itu masih tertutup rapat, hal itu justru membuat Jasmeen sangat merasa bersalah.


Jasmeen ingin sekali membujuk adiknya untuk diajak bicara baik - baik, namun percuma saja kalau Bellva masih mengurung diri didalam kamarnya, Jasmeen tidak bisa berbuat apa - apa ia hanya bisa menunggu adiknya keluar kamar dengan sendirinya.


" Em apa lebih baik aku memasak untuk Bellva ya, pasti dia lapar karena tadi pulang tidak makan terlebih dulu, ya sudah deh lebih baik aku memasak makanan kesukaannya, " ujar gadis itu dengan senyum mengembang dibibirnya.


Jasmeen segera mengambil sebuah celemek kemudian dipasang ditubuhnya, lalu gadis itu mengambil pisau untuk mengupas bawang bombay dan bumbu jawa lainnya dengan lihay. Jasmeen menyelesaikan cepat, memasak makanan kesukaan adiknya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Semenjak ibunya sakit Jasmeen mulai bisa memasak, gadis itu juga pandai menghafalkan semua resep makanan yang pernah diberi oleh ibunya, rasa dari masakannya pun tak kalah sedapnya dari masakan ibu Andini.


Beberapa menit kemudian setelah makanannya sudah matang dan sudah ditata rapi oleh Jasmeen, tiba - tiba terdengar suara pintu dari kamar Bellva terbuka, sontak membuat Jasmeen langsung menoleh ke arahnya.


Dan benar saja gadis itu melihat adiknya keluar kamar dengan mata yang sedikit sembab, Jasmeen dengan senang hati segera menyapanya.


" Dek udah keluar, " ujar Jasmeen sembari mendekat ke arah Bellva.


Bellva terdiam ia tak membalas ucapan kakaknya, ketika Jasmeen tahu Bellva diam saja dia merasa bersedih, dan perasaan bersalahnya semakin banyak.


" Dek maafin kakak soal tadi! "


" Ya sudah kalau kamu gak mau maafin kakak gak apa - apa, sekarang ayo kita makan dulu, kamu belum makan-kan? kamu pasti lapar, kakak udah siapin makanan kesukaanmu itu, " ujar Jasmeen lagi, namun tetap tidak ada balasan dari adiknya.


" Dek! " seru Jasmeen sekali lagi dan akhirnya Bellva mau membuka suaranya.


" Aku minta uang, aku gamau makan, aku mau keluar sama Lecya dan teman - temanku, " balas Bellva dengan cetus.


Sangat berat mengijinkan Bellva keluar rumah apalagi pada malam hari.


" Tidak boleh! kakak tidak mengijinkanmu keluar, apalagi ini malam hari! "


" Pokoknya aku minta uang! "


" Tidak kakak gak akan kasih kamu uang, kalo kamu minta uang buat nongkrong sama temen - temenmu, kamu sudah pernah janji ke kakak-kan? gak akan kayak gini lagi Bell. " Jasmeen berkata dengan suara agak tinggi, gadis itu mulai tersulut emosi lagi.


" Baiklah kakak akan memberimu uang! " sontak membuat langkah Bellva berhenti dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Jasmeen.


" Tapii...." ucapan Jasmeen kala itu menggantung, membuat Bellva mengernyitkan dahinya kesal.


" Apa? " tanyanya dengan cetus.


" Kamu makan dulu bersama kakak, kakak udah nyiapin makanan kesukaan kamu, kalo kamu gk makan siapa yang mau menghabiskan makanan itu, nanti setelah kamu makan kamu kakak kasih uang, gimana? " ujar Jasmeen terpaksa, iya Jasmeen terpaksa menuruti Bellva yang bersikap seperti itu, karena memang Bellva marah karena dirinya.


Bellva diam, tanpa menjawab ucapan kakaknya gadis itu langsung berjalan menuju meja makan. Jasmeen yang melihat adiknya mau makan itu senang dan merasa lega akhirnya ia bisa membujuk Bellva, meskipun dengan cara seperti ini Jasmeen tidak merasa keberatan yang terpenting Bellva mau makan, kemudian Jasmeen mengikuti Bellva makan disampingnya.


Mereka berdua makan bersama dengan keheningan, hanya ada suara adu sendok dan piring saja. Jasmeen memaklumi itu, sesekali gadis itu menoleh ke arah Bellva yang sedang makan dengan lahap.


" Bellva pasti kelaparan tadi gara - gara aku, " gumam Jasmeen dalam hati.


***


" Tumben lo telat Bell? " tanya Lecya kepada Bellva.


Saat ini Bellva sudah berada dicafe bersama teman - teman lainnya, seusai melakukan makan malam bersama Jasmeen. Bellva segera menagih janji, gadis itu meminta uang kepada Jasmeen tanpa basa - basi lagi Bellva keluar dari rumahnya dan menuju ke Cafe yang sudah dijanjikan bersama teman - temannya itu.

__ADS_1


Disana sudah ada Lecya, Galen, Chellsee, Josua dan satu lagi yaitu Daven, iya Daven Steve, laki - laki itu datang karena mendapat paksaan dari Galen sahabatnya, sejujurnya Daven enggan untuk berkumpul seperti ini, namun laki - laki itu tidak ada pilihan lain selain menuruti ajakan sahabatnya.


Bellva memasang wajah kesalnya, gadis itu tak membalas ucapan sahabatnya terlebih dulu, ia segera mendudukkan tubuhnya dikursi sebelah Lecya.


" Biasa lah Cya apa lagi yang bisa membuatku begini dirumah?? " ujar Bellva membuat Lecya langsung mengerti.


" Ada apa? " tiba - tiba Chellsee ikut bertanya ketika obrolan mereka berdua berhenti sejenak.


" Biasa lah, apa lagi kalo Bellva tidak bertengkar dengan kakaknya? ya-kan Bell? " Balas Lecya sedikit mengeraskan suaranya, sontak membuat perhatian Daven langsung terlaih kepada ketiga gadis tersebut.


" Yelah, kalo gue jadi lo sih ya mending gak gue dengerin tuh, aku juga punya kakak cewek untung dia lagi diluar negeri jadi gak terlalu ngerepotin, " ujar Chellsee langsung di sahut oleh kekasihnya yaitu Josua.


" Kok gitu sih Chell sama kakak sendiri? " tanya Josua keheranan.


Seketika membuat pandangan Chellsee berganti menatap kekasihnya itu. Chellsee menatap kekasihnya dengan tajam.


" Kenapa??? Emang benarkan kalau kakakku crewet! " balas Chellsee ketus.


" Tapikan gak gitu juga Chell, bagaimanapun dia itu tetap kakak kandungmu! " Seru Josua sedikit kesal kepada kekasihnya itu.


" Oh jadi kamu belain kakakku iya? kamu suka sama dia dari pada aku iya? " tanya Chellsee dengan nada tinggi, dan seketika suara Chellsee itu membuat semua pengunjung disana terfokus kepada mereka.


Josua-pun langsung membeku, sejenak lelaki itu terdiam dan tidak bisa berkata - kata lagi, ketika dituding seperti itu oleh Chellsee.


" Sudah cukup! " tukas Bellva menghentikan pertengkaran kedua temannya itu.


" Kalian berdua apa - apaan sih, kenapa jadi bertengkar begini, kita niatnya mau ngapain disini? jangan malu - maluin tau gak, lihat banyak pengunjung menatap kita semua! " imbuh Bellva dengan nada tegas, gadis itu sedikit malu dengan tingkah sepasang kekasih didepannya itu, tidak hanya Bellva saja, melainkan lecya, Galen dan Daven juga sama.


" Betul kata Bellva, kalian jangan ribut dong, mending kita lanjutin seneng - senengnya bagaimana? " Lecya memberi keputusan kepada temannya itu, dengan gerakan menaik - turunkan alisnya dengan lihay.


" Dan elo Bro! mending minta maaf aja deh sama Chellsee dari pada masalahnya gak kelar, kita disini niatnya mau kumpul dan seneng - seneng bro? " imbuh Galen kepada Josua, mereka sibuk menenangkan sepasang kekasih itu, namun beda halnya dengan Daven, laki - laki itu hanya diam saja tidak membuka suaranya sama sekali, pikirannya saat ini sedang dipenuhi dengan masalah Bellva dan Jasmeen.


" Ada masalah apa diantara Bellva dan Jasmeen, sampai Bellva terlihat begitu sangat kesal? " Begitulah isi pikiran Daven, laki - laki itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


Galen yang menyadari jika Daven diam saja segera menegurnya.


" Woy Dav jangan diam aja, sekarang yang terlihat kesambet malah elo lagi? " tanya Galen seketika membuat teman - temannya menoleh kepada Daven.


Daven yang sedang bergulat dengan pikirannya itu langsung tersadar.


" Eh kenapa? " tanyanya membuat teman - temannya menjadi bingung.


" Elo yang kenapa itu? " sahut Josua.


" Gue gak apa - apa kali! " balasnya, sehingga membuat teman - temannya itu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Ya sudah kalo begitu ayo lanjutkan senang - senang kita hari ini, jangan ada yang ribut atau aneh - aneh lagi ya! " sindir Lecya kepada sepasang kekasih itu dan juga Daven, karena tadi pada saat Daven melamun. Josua dan Chellsee sudah baikan. Josua meminta maaf duluan kepada Chellsee, dan Chellsee-pun memaafkan kekasihnya itu demi teman - temannya.


***


__ADS_2