Love From My Husband

Love From My Husband
Chapter 29 - Berteriak Keras


__ADS_3

Bellva pulang dengan diantar oleh Rangga, sesampainya didepan rumah gadis itu turun dari mobil milik Rangga, tak lupa pula Bellva melambaikan tangannya pada Rangga dengan semangat.


" Bye kak Rangga, makasi sudah mau mengantarkanku ya, " ujar gadis itu dengan didiringi lambaian tangan pada Rangga.


Lelaki itu membalas senyuman kepada Bellva, kemudian mobil miliknya meninggalkan rumah Bellva.


Bellva dengan hati berbunga - bunga segera memasuki rumahnya, gadis itu lupa akan kakaknya yang sedang menunggu dirinya di rumah.


Ketika Bellva membuka pintu kamarnya tiba - tiba terdengar suara Jasmeen menghentikan langkah gadis kecil itu.


" Bellva! " seru Jasmeen sembari berdiri dari tempat duduknya, sedari tadi gadis itu menunggu adiknya pulang, ia tak sabar untuk bertanya kepada Bellva.


" Dari mana saja kamu! " imbuh Jasmeen membuat Bellva menghentikan langkah kakinya seketika, gadis kecil itu juga terlihat tersentak saat suara Jasmeen dengan tiba - tiba memanggilnya.


" Oh kak Jasmeen, kenapa kau ini suka mengagetkanku sih, " balas gadis itu dengan cetus.


" Kakak tanya kamu dari mana? " tanya Jasmeen sekali lagi, karena sedari tadi Jasmeen menahan amarahnya akibat Bellva.


" Kenapa memangnya, apa ada masalah hm? " balas Bellva sembari memutar tubuhnya menghadap ke arah Jasmeen, saat ini ia sungguh malas untuk berdebat dengan kakaknya.


" Dasar gadis ini! " gumam Jasmeen kemudian menghela nafas dan sedikit mendekat ke arah adiknya, ia tak mau tersulut emosi lebih parah lagi.


" Kenapa kau membohongi kakak hmm, kenapa tidak menemani ibu dirumah sakit? " Akhinya Jasmeen tude point, gadis itu berbicara dengan nada lembut pada Bellva. Jasmeen tahu jika adiknya tidak akan bisa diajak bicara baik - baik kalau dia juga ikutan tersulut emosi.


Bellva hanya diam saja, sepertinya gadis kecil itu enggan untuk membalas pertanyaan kakaknya.


" Kakak, aku capek baru pulang, nanti saja tanyanya ya, aku ngantuk mau tidur! " ujar gadis kecil itu dengan mengalihkan pembicaraan agar Jasmeen tidak terus bertanya tentang ibu kepadanya.


" Tidak! kamu harus jelasin ke kakak dulu Bellva, kenapa kamu tidak menemani ibu dirumah sakit, dari mana saja kamu tadi ha? apa kamu tidak tau ibu disana sendirian dan dia juga sedang merindukanmu! "

__ADS_1


Bellva dengan cepat menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.


" Cukup! " teriak Bellva kesal.


" Jangan bahas ibu, aku gak mau bahas ibu! aku kesal dengan dia, kakak tahu kan 1 tahun yang lalu bagaimana sikap ibu pada saat ayah sedang sakit, kakak tau gak sih ibu gak peduli dengan ayah, sampai ayah meninggal gara - gara ibu, ibu jahat kak! " imbuhnya dengan posisi sama, gadis kecil itu menutup kedua telinganya, dan melototkan matanya kepada Jasmeen.


Jasmeen terdiam, ia terkejut ketika mendengar ucapan adiknya. Jasmeen benar - benar tidak tahu alasan adiknya membenci ibu, mungkin dirinya dulu tidak terlalu memperhatikan Bellva, meskipun Jasmeen menyayangi Bellva, namun gadis itu tidak tahu apa yang dialami adiknya sehingga membuat Bellva membenci ibu Andini.


" Bellva, kakak gak bermaks.. " ujar Jasmeen dengan suara lembut, namun Bellva segera memotong ucapan kakaknya itu.


" Cukup kak! Bellva bilang sudah cukup, jangan bicara lagi dan jangan bahas ibu, asal kakak Jasmeen tahu, tadi Bellva sempat ke rumah sakit, karena teringat ayah, tiba - tiba Bellva kembali pergi dari sana! Bellva. Bellva capek kak. Bellva masih belum bisa bertemu dengan ibu, Kakak ngertiin Bellva dong! " balas gadis kecil itu dengan diiringi lelehan air mata membasahi pipi manisnya, kemudian ia segera menyentak pintu dengan kasar lalu menutupnya dengan keras meninggalkan Jasmeen mematung tak percaya didepan kamar Bellva, gadis kecil itu menangis didalam kamar.


" Dek! " panggil Jasmeen dengan merasa bersalah, ia tidak tega jika harus melihat adiknya menangis seperti itu, baginya ibu dan Bellva itu sangat berharga.


Tok Tok Tok!!! Jasmeen mengetuk pintu kamar Bellva.


" Kakak egois sama seperti ibu, kenapa kakak semakin lama semakin seperti ibu, aku benci, aku benci semua ini, aku benci ibu, ibu jahat. Hiks, " lirih Bellva sambil menangis diatas tempat tidurnya, dengan posisi tengkurap mendekap bantal, gadis kecil itu menangis sesegukan.


Merasa percuma menggedor kamar adiknya berkali - kali akhirnya Jasmeen memutuskan kembali menuju kamarnya dan menunggu Bellva menenangkan dirinya dahulu, saat ini Jasmeen benar - benar merasa bersalah kepada adiknya.


" Kenapa Bellva setiap aku bahas ibu jadi seperti itu, kenapa???? dan apa alasannya! " gumam gadis itu sambil berjalan ke kamarnya.


" Apa aku kali ini keterlaluan dengan dia? " imbuh Jasmeen dengan diselimuti perasaan bersalah.


***


Disisi lain.


" Vanoo! " teriak Zayn dengan suara keras, sehingga membuat beberapa karyawannya yang berada diluar ruangan Zayn itu ikut mendengarnya.

__ADS_1


Dengan langkah cepat dan terburu - buru sekertaris Vano pun bergegas memasuki ruangan Zayn dengan ditemani beberapa bodyguard lainnya, mereka semua sontak panik dan tersentak ketika mendengar bos mudanya berteriak keras seperti itu.


Setibanya diruangan Zayn, sekertaris itu terkejut dengan kedatangan wanita yang duduk di meja Zayn, kali ini Vano benar - benar bersalah dan ceroboh membiarkan seseorang memasuki ruangan bos mudanya sembaranganan, apalagi seseorang yang paling dibenci oleh tuannya, dia tidak bekerja dengan baik, dia terlalu lalai, padahal jelas tadi suasana tuannya membaik, namun saat ini Vano melihat dengan mata kepalanya sendiri terlihat jika tuannya begitu marah, rahangnya terlihat mengeras, gara - gara kedatangan wanita 2 tahun yang lalu ini dengan tiba - tiba.


" Bos Zayn maafkan saya, saya telah lalai dan tidak bekerja dengan baik, " ujar sekertaris itu dengan menundukkan badannya sopan, ia sudah faham kalau bosnya sedang naik darah saat ini.


Tidak peduli dengan ucapan Vano. Zayn segera memerintahkan Vano untuk mengusir wanita didepannya itu.


" Usir wanita itu! paksa dia aku sudah muak melihat wajahnya, " perintahnya dengan nada marah.


" Baik tuan, " dengan langkah cepat sekertaris Vano mendekati Devita yang sedang terkejut mendengar ucapan dari mulut Zayn.


" Hey bby apa yang kau lakukan, kenapa mengusirku, aku datang kesini untukmu! " Balas Devita yang tidak terima karena diusir begitu saja.


Sekertaris Vano dengan 2 bodyguard lainnya segera menyeret Devita keluar dari kantor Zayn.


" Tidak! jangan usir aku, hey sekertaris bodoh lepaskan aku, apa kau tuli! kau lupa denganku, hey lepaskan, aku mau berbicara dengan Zayn, Zayn Zayn! " Devita meronta ronta dengan memanggil nama Zayn berulang kali.


Selepas perginya Devita. Zayn mulai bisa mengendalikan emosinya.


" Berani - beraninya wanita itu menginjakkan kakinya ditempatku lagi! " gumam Zayn sembari berjalan menuju kamar peribadinya, kemudian laki - laki itu segera masuk kedalam kamarnya yang berada didalam ruang kerjanya itu untuk mengambil Jas dan celana baru.


***


Hai hai hai semuanya Author balik lagi😁 maaf ya terlalu lama updatenya, Author super sibuk nih hehe, Author juga sempet²in loh ini nulisnya😭 maafin Author ya kakak²🙏


Oh ya terimakasih juga pada kalian yang masih mau menunggu cerita ini, Author sangat bahagia sekali.


Kalau boleh ni tinggalin like, vote dan rate bintang 5 ya kakak² Raders, terimakasih❤🥰

__ADS_1


__ADS_2