
Selamat membaca semoga suka....
Jangan lupa likenya ya 💕
***
Vannya pergi meninggalkan kantor Zayn dengan wajah merah karena menahan amarah.
" Sial, Zayn itu selalu saja menguras kesabaranku kurang apa sih aku, cantik oke, body oke, semua juga oke. " gerutu Vannya sembari berjalan menuju mobilnya.
Vannya masih tidak habis pikir dengan Zayn, calon tunangannya itu, bahkan Vannya juga sudah melakukan berbagai macam cara agar Zayn mencintainya, namun selalu saja gagal hanya satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan Zayn dengan cara melewati tante Inne alias mamanya Zayn, karena tante Inne juga menyukai Vannya sebagai calon menantunya.
" Bakal aku aduin ke tante Inne, biar kena marah kamu Zayn, enak aja bisa bentak aku seenaknya kayak tadi! "
Kini Vannya melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh untuk segera sampai menuju di kediaman besar keluarga Zayn Jakson.
.
.
.
***
Jam menunjukkan pukul 09.45 WIB. Jasmeen berlari secepat mungkin untuk menuju De Resto & Brand cafe XX yang sudah di janjikan dengan pamannya, sepertinya Jasmeen sedikit terlambat akibat kelamaan mencari angkot yang tak kunjung lewat.
Aduh aku bisa telat untuk kesana nih, aahhh ini semua gara-gara gak dapat angkot tadi.
20 menit kemudian akhirnya Jasmeen sampai di tempat yang sudah dijanjikan oleh pamannya, dengan nafas yang tersengal-sengah akibat berlarian.
" Ah ak-aku capek sekali. " Gumamnya lirih.
Keringat Jasmeen bercucuran membasahi wajahnya, meskipun cuaca dibilang tidak terlalu panas, namun hari ini Jasmeen merasa sangat kepanasan akibat banyak berlari.
Jasmeen segera merapikan pakaiannya, ia juga merilekskan tubuhnya dengan cara menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan, sudah beberapa kali Jasmeen melakukan itu tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggil namanya.
" Jasmeen! " seketika Jasmeen langsung menoleh ke arah sumber suara.
" Paman! "
Paman Afrod melambaikkan tangannya kepada Jasmeen, agar gadis itu segera mendekatinya.
" Kamu dari mana saja, kenapa lama? " bisik paman Afrod di telinga Jasmeen.
" Maaf paman, Jasmeen terlambat gara-gara mencari angkot yang tak kunjung datang, " ujarnya lirih.
" Ya sudah tidak apa-apa, ayo masuk, " ajak paman Afrod.
" Calon suamimu sudah menunggu. " imbuh paman Afrod sembari berjalan dan diikuti Jasmeen dari belakang.
Deg... Jasmeen berhenti sejenak, jantungnya berdegup kencang, tidak tahu apa yang sekarang Jasmeen rasakan.
" Calon suamiku? " lagi-lagi kata itu yang ada pikiran Jasmeen.
Jasmeen menghela nafas, ia kembali berjalan memasuki cafe mengikuti langkah pamannya. Jasmeen menundukkan kepalanya, bahkan tak berani menatap kesembarang arah.
" Calon suami? siapa calon suamiku, apakah dia tua atau muda, Huwaaa semoga dia masih muda dan baik ya tuhan. " gumamnya dalam hati seraya mengikuti arahan dari pamannya.
Ketika Jasmeen sedang memikirkan wujud calon suaminya itu. Apakah laki-laki itu masih muda? atau sudah tua dan berjenggot? Ahhh memikirkan semua itu membuat Jasmeen semakin pusing dan juga merinding.
Jasmeen sebenarnya ingin menolak tetapi bagaimana lagi, ini semua sudah menjadi kesepakataan demi menyembuhkan ibunya.
" Jasmeen duduklah! " perintah paman Afrod kepada Jasmeen. Jasmeen menurut, namun ia tetap tak mau menatap sekelilingnya.
Terlihat banyaknya pria gagah yang berpakaian formal beserta jas hitam yang dikenakannya tepat berada didepan Jasmeen.
__ADS_1
" Jasmeen! " panggil paman Afrod lagi, seketika Jasmeen langsung mendongakkan kepalanya dan menjawab.
" Iyaa paman? "
Setelah itu Jasmeen menoleh ke arah dua pria yang sedang duduk disofa dengan santainya, berwajah tampan dan dingin, yang sudah tak asing bagi Jasmeen sekarang berada di depannya, seketika Jasmeen langsung terkejut saat melihat mereka.
" Eh itu kau.....? "
Jasmeen masih tak menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan pria tampan yang sudah menolongnya diclub malam waktu itu.
" Maaf tuan, Jasmeen sedikit terlambat hari ini. " Ujar paman Afrod.
" Hmm, " balas laki - laki itu dingin.
" Eh apa maksud dari semua ini? pria ini kenapa ada disini juga? " Jasmeen masih sangat kebingungan saat melihat orang-orang yang pernah menolongnya waktu itu.
" Dimana calon suamiku? " hanya itu isi dipikiran Jasmeen saat ini.
" Vano! Serahkan map itu pada tuan Afrod! " perintah Zayn kepada Vano sekertaris pribadinya.
" Baik tuan. "
Vano segera menyodorkan sebuah berkas yang sedang dipegangnya, entah itu berkas apa mereka memberikkannya kepada paman Afrod.
Jasmeen tidak faham dengan semuanya, gadis itu tetap bergeming di tempat seraya memandang semua orang yang di depannya dengan pikiran bertanya-tanya.
" Sepertinya paman Afrod sangat senang sekali, bahkan dengan antusiasnya dia menandatangani berkas itu dengan cepat. " Jasmeen bergumam dalam hati.
Selesai menandatangani sebuah berkas, paman Afrod menyerahkan kembali kepada Zayn.
" Tuan Zayn senang bekerja sama dengan anda, " ucap pria paruh baya itu dengan wajah bahagianya.
" Hahah baiklah tuan Afrod, kau benar-benar memberikan keputusan yang sangat tepat! " serunya tak kalah senang sembari berjabat tangan dengan pria paruh baya tersebut.
" Terima kasih tuan Zayn, jika anda masih mau melanjutkan kerja sama dengan saya. " Afrod dengan senang hati membalas uluran tangan Zayn. Zayn sedikit tersenyum tipis ketika mendengar ucapan Afrod.
" Maksud mereka apaan sih, mengajakku kemari hanya untuk melihat mereka menandatangani sebuah berkas saja, lantas dimana calon suamiku yang dikatakan paman? " Batin Jasmeen dengan sedikit kesal lantaran dirinya hanya di diamkan saja.
" Jasmeen kau disini dulu, ikuti perintah tuan Zayn, dia-lah calon suamimu yang paman maksud, paman mau pergi dulu. " Ujar paman afrod sambil berdiri dari duduknya.
Deg.. Jantung Jasmeen berdegup sangat kencang, ia tidak menyangka jika laki-laki dingin didepannya itu adalah calon suaminya.
" Apa dia calon suamiku? apakan ini tidak salah? "
" Paman! paman serius? apa paman tidak salah tuan ini ...? " balas Jasmeen dengan bingungnya. Zayn yang mendengar tetap bergeming seraya memasang ekspresi yang dingin.
Dengan satu gertakan mata dari pamannya. Jasmeen mengerti, kemudian ia menuruti kemauan pamannya dan menunduk.
" Baiklah paman. " Balas Jasmeen pasrah, kemudian paman Afrod berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kali ini hanya ada tiga orang yang berada di dalam De Resto & Brand cafe tersebut, tidak ada yang berbicara sepatah katapun seusai kepergian paman Afrod dan dengan tiba-tiba Jasmeen memecahkan keheningan diruangan tersebut.
" Tuan. " Akhirnya Jasmeen memberanikan diri untuk bertanya, menatap Zayn dengan sedikit takut.
Namun Zayn segera menyela ucapan Jasmeen.
" Vano! "
" Iya tuan. "
" Berikan semua peraturan kepada gadis itu! " seru laki-laki bertampang dingin itu tanpa menatap Jasmeen.
Vano segera memberikan sebuah lembaran kertas khusus berisi peraturan kepada Jasmeen.
Dengan diselimuti rasa penasaran, gadis itu segera meraih kertas- kertas itu, kemudian membacanya. Setelah membaca banyaknya peraturan yang tertulis disitu Jasmeen begitu terkejut dengan isinya.
__ADS_1
" Apa-apaan ini, peraturan macam apa ini, semua tentang peraturan menjadi seorang istri Zayn Jakson? apa sungguh gila ini banyak banget. "
Jasmeen tercengang setelah membaca isi peraturan tersebut. Namun bagaimana lagi, Jasmeen sudah tidak bisa berkata apa-apa, yang bisa ia lakukan hanya menuruti kemauan laki - laki yang berada di depannya itu.
" Kau tenang saja, kita tidak akan menikah dulu, besok kau harus ikut pergi denganku, kau akan dijemput oleh orang suruhku, " ujar lelaki itu dingin.
" Ta-tapi bagaimana dengan ibu saya, saya tidak mungkin meninggalkannya begitu saja, sekarang beliau sedang sakit. " ucap Jasmeen terbata dengan setengah memohon, meminta tetap berada disamping ibunya.
" Nona tidak terlalu khawatir, besok nona cukup mengikuti arahan tuan kami saja, setelah itu nona bisa kembali lagi untuk menemui ibu Anda lagi. "
" Ah begitu ya, baiklah terima kasih. " Jasmeen membalas dan menundukkan kepala karena sedikit malu.
" Tapi apa saya boleh minta satu syarat kepada anda. " Imbuh Jasmeen seraya memejamkan matanya takut.
Zayn terlihat tertawa renyah.
" Hahaha memang apa yang ingin kau minta? dan siapa kau disini? hey gadis kau ini sungguh lucu sekali. " Zayn tertawa terbahak-bahak kali ini.
Jasmeen bergeming ia masih mencerna kata-kata yang di lontarkan oleh Zayn.
Zayn yang melihat Jasmeen hanya diam saja, segera memanggil Vano dan membisikinya sesuatu. Vano pun menuruti semuanya ia terlihat mengangguk samar.
Tidak tahu apa yang mereka bicarakan saat ini, yang jelas tidak merubah Jasmeen untuk berpikir dan mencernanya.
" Ehem! " deheman keras yang mengagetkan Jasmeen berasal dari suara Vano, seketika Jasmeen sedikit tersentak dan menoleh ke arahnya.
" Baiklah nona Jasmeen, tuan Zayn mau menerima syarat dari nona, silahkan usulkan satu syarat biar kami kabulkan untuk anda, " ujarnya kepada Jasmeen, seketika Jasmeen terkejut, dia kira permintaannya akan ditolak mentah-mentah.
Kemudian Jasmeen menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan. Zayn sendari tadi hanya melirik Jasmeen menyunggingkan sedikit senyumnya.
" Baiklah saya hanya minta, jika suatu hari saya menikah dengan tuan ini, saya mohon acara pernikahannya diadakan secara diam - diam jangan sampai ibu saya mengetahuinya dan juga setelah saya menikah dengan tuan ini saya boleh pergi untuk sekolah lagi, " ujar Jasmeen dengan nada polosnya, takut-takut syarat yang diajukannya akan ditolak.
Seketika tawa semua orang pecah. Jasmeen yang melihat mereka tertawa langsung mengernyitkan dahinya.
" Apa permintaanku ada yang lucu? "
" Kenapa anda meminta syarat itu nona? " tanya Vano dengan begitu heran.
" Kenapa? apa anda keberatan dengan syarat yang saya ajukan? " Jasmeen kembali bertanya dengan polosnya.
Vano bergeming, kemudian ia menoleh ke arah Zayn.
" Bagaimana tuan? " Vano bertanya sembari menundukkan kepalanya kepada Zayn.
Zayn bergeming sejenak, kemudian menghembuskan nafasnya.
" Kau tadi minta berapa syarat? " Zayn bertanya tanpa menatap Jasmeen.
" Em satu tuan. "
" Coba kau ulang lagi syaratmu? " Ucap Zayn, kemudian Jasmeen segera mengulanginya.
" Eh bentar.... Apa aku termasuk meminta 2 syarat. "
" Eh.. em, maaf tuan maaf sa-saya tidak ta..." lalu terpotong oleh ucapan Zayn dengan cepat.
" Oke tidak apa-apa! jika itu maumu aku akan mengabulkannya, lagian memang aku akan mengadakan pernikahan ini secara diam-diam tanpa kau memintanya, " cetus lelaki itu datar.
Entah kenapa Jasmeen langsung merasa senang dan bisa bernafas dengan lega setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Zayn.
" Baiklah tuan terima kasih. " Jasmeen sedikit merasa senang, ada keuntungan dengan pernikahan ini, akhirnya dia bisa sekolah kembali, meskipun dia sudah berbohong kepada ibunya tetapi suatu hari saat ibunya sudah sembuh. Jasmeen sudah bisa kembali sekolah seperti anak-anak pada umumnya.
" Meskipun aku memperbolehkanmu untuk bersekolah lagi, kau tetap harus menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri, mengerti? "
" Baik tuan, saya mengerti "
__ADS_1
Zayn senyum tipis. " Gadis yang pintar. "
***