
Alice mengira bahwa Celine akan meminta bantuan berupa hal yang lain, misalnya bertemu dengan Dad Harry. Namun ternyata ia meminta Alice untuk membantunya mengurus surat perceraiannya dengan Rhys.
“Kamu yakin?”
“Ya, aku sangat yakin.”
Alice pada akhirnya mengiyakan. Ia akan meminta bantuan sahabatnya, Rafael Alexi, untuk melakukan itu. Kekuasaan dan jaringan yang dimiliki oleh Rafael sangat besar, setara dengan Keluarga Alban, jadi pasti akan dengan mudah mengurus surat perceraian itu.
**
Di dalam sebuah kamar, kembali terjadi pergulatan panas antara seorang pria dengan seorang wanita. Mereka beradu saliva dan saling memuaskan satu sama lain.
“Kamu semakin hebat saja.”
“Tentu saja, kehamilan ini tak akan pernah menghalangiku.”
Pria itu kembali menghentakkan miliknya dan bergerak maju mundur, mencari kepuasan.
“Aku ingin lihat bagaimana wajah istrimu saat melihat hubungan kita.”
“Tentu saja ia akan melotot, tapi … aku tak ingin ia tahu. Aku ingin terus bebas berhubungan denganmu. Kamu sudah menjadi candu bagiku.”
“Kalau saja calon suamiku sepertimu, tentu aku tak perlu menjalankan rencana itu. Untung saja ada anak ini dan ia tak jadi meninggal. Kalau tidak, bisa gagal semua rencanaku,” ujar Eve.
“Jangan lupa masukkan aku dalam rencanamu. Aku sangat yakin bisa membantumu.”
“Baiklah. Aku juga yakin kamu akan sangat berguna,” Eve memutar tubuhnya, kini ia-lah yang berada di atas, ia yang berkuasa mengatur jalannya permainan.
Keduanya terus bergulat panas, tanpa mempedulikan perasaan pasangan mereka masing-masing. Mereka lebih memilih memuaskan gairrah dan hassrat mereka, dibanding menjaga kesetiaan.
**
Celine lebih banyak diam dan menurut saja setiap perintah yang dikatakan oleh Aunty Anna dan juga Rhys. Ia tak membantah ataupun menolak. Ke-diam-an Celine membuat Rhys sedikit aneh.
__ADS_1
Hari demi hari ia melihat aktivitas Celine karena ia berada di rumah seharian. Ia pun harus berusaha menahan sesuatu di bawah sana yang ingin dipuaskan.
“Bersihkan ruang kerjaku!” perintah Rhys hari ini.
Tanpa banyak bicara, Celine mengambil alat pembersih dan berjalan menuju ruang kerja. Ruangan yang tak pernah ia masuki, ruangan tempat di mana pembicaraan mengenai surat perjanjian itu ia dengar.
Di dalam ruangan itu, Celine membersihkan setiap sudut. Rhys yang menyuruh pun duduk di belakang meja dan memperhatikannya. Memandang wajah Celine agak lama, membuat kepalanya terasa sakit dan nyeri. Ia memegang kepala dan meremas rambutnya.
Celine yang melihat keadaan Rhys pun langsung mendekat, “kamu tidak apa-apa, Kak?”
Rhys yang fokus pada rasa sakitnya tak menyadari Celine yang kini berdiri di dekatnya. Hingga ia mencium wangi yang keluar dari rambut Celine, membuat sakit di kepalanya hilang.
“Mengapa kamu di sini? Siapa yang menyuruhmu mendekatiku?!” teriak Rhys tiba-tiba.
Celine tersentak kaget dan langsung menjauhkan tubuhnya. Ia hanya berinisiatif mendekat saat melihat Rhys kesakitan, tapi ternyata sikap Rhys kembali menyakitinya.
“Keluar! Cepat keluar!” teriak Rhys. Rhys harus menahan sesuatu di bawah sana yang terus meronta. Wangi rambut Celine membuatnya tak bisa menahan miliknya.
Setelah Celine keluar, ia membuka celananya sendiri dan miliknya kini telah berdiri dengan tegak, “Sialann, mengapa ia selalu membuatku seperti ini?!”
**
Saat ini di Amerika jam 7 malam sementara di London pukul 12 malam, seharusnya Eve sudah pulang dari jadwal pemotretannya. Namun, panggilan Rhys tidak diangkat sama sekali, membuat Rhys gusar dan kesal.
“Apa lagi yang sedang ia lakukan? Seharusnya ia sudah pulang dan beristirahat,” kata Rhys bermonolog sendiri.
Rhys pun akhirnya menghubungi Lila, manager Eve. Pada panggilan ke 3, akhirnya panggilan tersebut diangkat.
“Halo, Tuan Rhys.”
“Di mana Eve?” tanya Rhys.
“Eve sedang melakukan pemotretan,” jawab Lila.
__ADS_1
“Jam segini? Bukankah seharusnya ia hanya melakukan pemotretan pada siang hari? Mengapa sudah jam 7 malam masih melakukannya?”
“Maaf, Tuan Rhys. Memang ada sedikit perubahan jadwal. Nanti setelah selesai, aku akan langsung meminta Eve menghubungi anda.”
Lila sendiri bingung bagaimana menjawab pertanyaan Rhys, pasalnya saat ini Eve sedang bersama salah satu direktur Perusahaan NewMount. Lila terpaksa berbohong karena tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya, bisa-bisa ia dipecat oleh Eve.
“Sebaiknya aku segera menghubungi Eve,” gumam Lila yang langsung menekan layar ponselnya.
Rhys yang merasa kesal dengan Eve yang tak mengindahkan permintaannya untuk menjaga kesehatannya pun membanting ponselnya ke atas tempat tidur.
“Apa aku harus menarikmu pulang? Dan menghentikan semua kontrak yang kamu miliki?” Kata Rhys dengan ketus.
Ia keluar dari kamar tidur untuk pergi ke dapur dan mendinginkan kepalanya. Ia menuruni tangga dan melihat lampu dapur yang tidak menyala seperti biasanya. Ia pun menyalakannya dan tiba-tiba hatinya merasa kecewa karena tak menemukan Celine di sana.
Rasa kesal yang meliputi hatinya kembali naik, ntah mengapa setelah tak bisa menghubungi Eve dan tak menemukan Celine di dapur, amarahnya kembali muncul.
Setelah meminum air untuk menghilangkan dahaga dan mendinginkan kepalanya, ia naik kembali ke kamarnya. Namun, ia merasa ada yang kurang. Rhys akhirnya keluar dari kamar tidurnya, kemudian memandang ke lantai 3.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dan pasti Celine sudah tertidur. Ia pun naik ke atas. Udara yang dingin, membuat Rhys merasakan sesuatu, ia perlu kehangatan.
Pintu kamar Celine yang tak bisa tertutup rapat, dengan mudahnya dibuka oleh Rhys. Rambut Celine yang tergerai dan wajahnya yang begitu cantik dan polos seketika membuatnya ingin kembali merasakan nikmat dan kehangatan tubuh wanita itu.
Ia pun membuka selimut Celine dan menggendongnya, membawanya ke dalam kamar tidur miliknya. Suasana sepi di malam hari memudahkan Rhys membawanya tanpa terlihat oleh siapapun.
Rhys meletakkan Celine di atas tempat tidur. Ia mulai membuka pakaian Celine satu persatu hingga tubuh wanita itu polos. Penampakan di hadapannya langsung membuat sang junior menegang lebih dari biasanya. Bahkan ia merasakan sekujur tubuhnya panas.
Rhys mematikan lampu utama dan menyalakan lampu dinding. Suasana remang membuatnya semakin bergairrah. Ia pun mulai mencium bibir Celine dan melummatnya pelan. Ntah Celine sedang bermimpi, wanita itu membalas lummatan dan ciuman Rhys, meskipun matanya dalam keadaan terpejam.
Hal itu tentu saja membuat Rhys semakin bersemangat. Ia mulai menciumi seluruh tubuh Celine dan membuat wanita itu menggeliat dan mendessah.
Ahh suaranya indah sekali. - batin Rhys.
Rhys mulai memasukkan juniornya dengan perlahan, tak kasar seperti biasanya. Ia bergerak maju mundur, dan ikut mendessah karena milik Celine yang begitu nikmat dan menjepit miliknya.
__ADS_1
Kamar tidur itu kini hanya terdengar dessahan dan errangan yang membuat keduanya terus menikmati kehangatan. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersamaan dan Rhys kembali menyemburkan benih miliknya ke dalam rahim milik Celine.
🌹🌹🌹