LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#62


__ADS_3

Finn pergi ke rumah sakit Keluarga Alban. Ia akan menyelesaikan beberapa hal dengan petinggi rumah sakit, sekaligus menyelidiki kejanggalan administrasi rumah sakit.


Baru saja Finn memasuki rumah sakit, ia ditabrak oleh beberapa pria berpakaian hitam dan bertubuh besar yang menggendong seorang wanita.


“Dia pingsan! Cepatlah!” teriak seorang pria itu dengan wajah panik. Bagaimana tidak panik kalau Tuan Benzo sudah terlihat penuh amarah tadi.


“Bawa ke bagian Unit Gawat Darurat,” kata salah seorang resepsionis dan menunjuk arah menuju ke sana.


Finn memperhatikan dan ia pikir inilah saatnya ia mencari tahu apa yang akan dilakukan oleh para petugas kesehatan saat mendapatkan pasien seperti saat ini. Ia mengikuti mereka ke bagian gawat darurat.


“Dokter, cepat rawat dia. Dia tak sadarkan diri setelah makan,” kata salah seorang pria bertubuh besar.


“Letakkan dia di sana dan selesaikan administrasi. Setelah selesai, kembalilah ke sini dan tunjukkan bukti pembayaran,” kata dokter jaga di bagian UGD tanpa melihat ke arah 2 orang pria itu.


“Tuan kami akan datang dan menyelesaikan semuanya. Cepat lakukan sesuatu dulu atau kami akan dihukum!” kata salah seorang pria itu lagi karena melihat wajah Lynelle yang mulai pucat.


“Cepatlah atau dia mati!” Teriak pria yang satu lagi dan mulai menarik kerah sang dokter. Hal itu membuat suasana di dalam ruang gawat darurat itu seketika mencekam.


“Sudah aturan di sini seperti itu. Kalau belum bayar, kami tidak bisa menjalankan proses perawatan,” kata sang dokter yang tetap keukeuh dengan pendiriannya.


Finn menghela nafasnya pelan saat melihatnya. Ia menggelengkan kepala karena apa yang dikatakan orang-orang ternyata benar, meski kadang ada sebagian yang mereka bantu karena melihat sosok yang datang bersama pasien.


“Tangani dia!” teriak Finn. Hal itu membuat dokter dan perawat di sana terlonjak kaget saat melihat keberadaan Finn. Asisten pribadi Rhys Alban itu tak pernah menginjakkan kakinya di sana dan ini adalah pertama kalinya.

__ADS_1


Dokter dan perawat segera mendekati Lynelle dan menanganinya. Namun, nafas wanita itu telah terhenti dan membuat dokter berteriak.


“Ambil Defribrilator!” Dokter berusaha memberikan tekanan pada dada Lynelle.


Setelah alat kejut jantung itu datang dan dinyalakan, mereka langsung bertindak dengan cepat. Mereka merasa grogi karena aktivitas mereka begitu diperhatikan oleh Finn.


Nitt nitt nitt ….


Monitor kini sudah menampakkan detak jantung, walaupun masih sedikit lemah. Kedua pria berbadan besar dan berbaju hitam itu pun menghela nafasnya lega.


“Pindahkan dia ke ruang VIP,” perintah Finn, “dan kamu, temui aku di ruanganku,” kata Finn pada dokter jaga itu.


**


“Al, Daddy dan Mommy mengundangmu ke rumah. Mereka mengajakmu makan malam, juga Aunty Emmy,” kata Rafael.


Rafael tersenyum. Ia sangat senang karena Alice-nya yang dulu telah kembali. Alice yang selalu menerimanya, Alice yang selalu tersenyum padanya, dan Alice yang selalu menerima dirinya apa adanya.


“I love you,” kata Rafael sambil menggenggam tangan Alice dan dibalas Alice dengan sebuah senyuman.


Memang Alice belum menjawab dengan kalimat yang sama, namun senyuman Alice sudah terasa cukup bagi Rafael.


“Nanti malam aku akan menjemputmu,” kata Rafael saat mengantarkan wanitanya itu kembali ke Kediaman Keluarga Alban. Ia tadi menghubungi Alice untuk makan siang bersama sekaligus membicarakan acara makan malam itu.

__ADS_1


“Aku akan menunggumu. See you,” Alice melambaikan tangannya pelan ke arah Rafael, kemudian masuk ke dalam rumah. Rafael pun segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.


Ketika malam tiba, Rafael yang sudah menjemput Alice dan Aunty Emmy, kini sudah memarkirkan mobilnya di halaman Kediaman Keluarga Kaili. Mereka masuk ke dalam secara bersama-sama. Aunty Emmy sedikit merasa canggung karena ia bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan Keluarga Kaili. Ia tadi sudah menolak untuk ikut, akan terapi Alice memaksanya karena bagi Alice, Aunty Emmy adalah Mommynya.


“Alice!” sapa Mom Sophia dan langsung memeluk wanita yang kini tengah mengandung cucunya itu.


“Selamat malam, Aunty. Terima kasih sudah mengundangku,” kata Alice sambil tersenyum.


Mom Sophia kemudin mendekati Aunty Emmy dan langsung menjabat tangannya. Aunty Emmy yang awalnya menunduk, langsung mendongakkan kepalanya karena tak mengira reaksi dari Mom Sophia.


“Terima kasih sudah mau datang,” kata Mom Sophia.


Mereka pun duduk bersama di meja makan dan memulai acara makan malam tersebut. Mom Sophia tak ingin menunda karena memikirkan Alice yang tengah mengandung. Calon menantunya itu pasti sudah lapar.


Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Tanpa basa basi, Mom Sophia langsung mengatakan keinginannya.


“Kami secara khusus mengundang Alice dan Nyonya Emmy ke sini, untuk melanjutkan niat Rafael. Seharusnya memang kami yang pergi ke Keluarga Alban dan melakukan lamaran secara resmi, akan tetapi kami ingin berbicara terlebih dulu secara kekeluargaan,” kata Mom Sophia.


“Aunty … ku rasa akan lebih baik kalau tidak perlu. Aku bukanlah Keluarga Alban yang sebenarnya, aku …,” sebelum Alice melanjutkan ucapannya, Mom Sophia langsung menggenggam kedua tangan Alice.


“Siapapun kamu, Aunty tidak peduli. Aunty akan tetap memintamu pada Keluarga Alban. Aunty menyayangimu, sayang,” kata Mom Sophia, “Terima kasih Nyonya Emmy. Anda sudah melahirkan seorang putri yang sangat cantik dan baik.”


Mom Emmy tersenyum dan di dalam hati sangat bersyukur. Setidaknya kehidupan putrinya bahagia, dengan memiliki keluarga yang akan menyayanginya, jika dirinya nanti sudah tidak ada.

__ADS_1


Malam itu, mereka berbincang menentukan rencana mereka untuk menemui Rhys, dan juga menentukan tanggap pernikahan keduanya.


🌹🌹🌹


__ADS_2