
“Bagaimana keadaan rumah sakit, Finn?” tanya Rhys saat mereka melakukan pertemuan dengan sahabatnya itu.
“Perlahan aku akan membuat semuanya kembali seperti dulu,” Finn adalah salah seorang yang merasakan bagaimana rumah sakit milik Keluarga Alban itu sangat membantunya, terutama ketika ia harus membawa Mommynya berobat setelah mengalami KDRT.
“Terima kasih, Finn,” kata Rhys. Tanpa Finn, mungkin ia akan sangat kacau saat ini. Pertemuannya kembali dengan Celine pun karena ada campur tangan Finn di dalamnya. Kalau pria itu tidak mengajaknya berlibur, mungkin ia belum menemukan Celine dan kehidupannya tak akan seperti sekarang ini.
“Apa aku boleh mengangkat seorang asisten pribadi untuk membantuku?” tanya Finn.
“Tentu saja, Finn. Lakukanlah apa yang menurutmu baik dan perlu,” kata Rhys. Ia tahu bahwa pekerjaan Finn pasti banyak dan tak mungkin ia mengerjakan semuanya seorang diri.
“Terima kasih.”
“Oya, Celine mengundangmu makan malam di rumah. Jangan sampai tidak datang,” kata Rhys sedikit mengancam. Ia tidak mau Celine kecewa jika Finn tidak datang.
“Baiklah, aku akan datang. Tapi … aku boleh mengajak seseorang?” tanya Finn lagi.
“Seseorang? Siapa? Apa kamu sudah memiliki kekasih?” tanya Rhys ingin tahu.
“Ishhh … ah sudahlah. Aku harus kembali ke rumah sakit.”
“Jangan lupa nanti malam,” kata Rhys mengingatkan.
“Ya,” Finn melambaikan tangan sambil menjauh meninggalkan ruangan Rhys.
**
Alice mengerjapkan matanya. Sinar mentari telah masuk melalui sela-sela gorden. Semalam, ia menghabiskan malam panjang bersama dengan Rafael. Sangat berbeda dari sebelumnya, Rafael begitu lembut menyentuhnya, membuat dirinya seakan terbang melayang dan tak mengingat hal buruk dan kasar yang pernah dilakukan oleh pria yang kini adalah suaminya.
Cuppp
“Kamu sudah bangun, sayang?” Rafael tersenyum saat melihat Alice terbangun.
“Enghhhh …,” Alice sedikit menggeliat.
Rafael tersenyum. Ia memimpikan ini sejak dulu. Menjadikan Alice istrinya, tiap hari bangun dan melihat wajah bantal istrinya itu.
“Mengapa kamu sangat menggemaskan sekali, hmm?” Rafael mendekatkan tubuh Alice ke tubuhnya. Ia mengecup pucuk kepala Alice kemudian memegang dagu Alice dan menaikkannya hingga wajah mereka kini berhadapan.
“I love you.”
“I love you too.”
Rafael kembali membenamkan ciumannya di bibir Alice dan pagi itu, mereka kembali mengulangi olahraga di atas tempat tidur. Rafael melakukan semuanya dengan sangat lembut. Ia tak ingin Alice merasa trauma dengan apa yang pernah ia lakukan. Selain itu, ia juga harus menjaga kehamilan Alice.
**
“Bersiaplah, kita akan pergi makan malam,” kata Finn, sesaat setelah sampai di apartemen.
__ADS_1
“Makan malam?”
“Ya.”
Lynelle pun masuk ke dalam kamar tidurnya dan membuka lemarinya. Ia tak memiliki pakaian untuk keluar. Saat ia meninggalkan rumah, ia tak sempat membawa pakaian. Bahkan pakaian yang ada di dalam lemari, ia beli secara online dengan sedikit uang yang ia miliki.
Akhirnya ia menggunakan T-shirt dan celana jeans yang ia miliki. Yang terpenting sudah ia cuci dan bersih. Lynelle pun keluar dari kamar. Finn melihat ke arahnya dan baru menyadari bahwa Lynelle tak memiliki pakaian yang cocok.
“Ayo ikut denganku,” kata Finn.
Finn mengendarai mobilnya dan berhenti di sebuah butik, “Turun.”
Lynelle tahu bahwa Finn tak suka dengan penampilannya. Oleh karena itu, ia tak banyak bicara dan tak membantah.
“Pilihlah yang kamu suka,” kata Finn.
“Tapi …”
Finn meminta pramuniaga untuk membantu Lyn. Ia tak membawa Lyn ke butik mahal karena memang tujuan mereka hanyalah kediaman Keluarga Alban, bukan acara besar. Hanya saja Finn tak bisa membiarkan Lynelle hanya menggunakan T-shirt dan celana jeans.
“Ayo!” Mereka langsung menuju ke Kediaman Keluarga Alban.
Berhenti di sebuah rumah besar yang bagaikan istana, Lynelle terdiam dan tak membuka pintu.
“Turunlah, kita sudah sampai.”
“Rumah siapa?” tanya Lynelle.
“Alban? Tidak, aku tidak mau! Aku mau pulang!” teriak Lynelle tiba-tiba.
“Lyn!”
“Aku tidak mau!” teriak Lynelle lagi.
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan bilang padanya.”
Finn pun turun dari mobil dan masuk ke dalam Kediaman Keluarga Alban. Lynelle menggelengkan kepalanya. Setiap mendengar nama Alban, ia akan selalu teringat bagaimana Mommynya meninggalkannya.
Lynelle melepas seatbelt dan membuka pintu mobil. Ia berjalan keluar dari gerbang. Petugas keamanan berusaha memanggilnya namun ia tak peduli.
Sementara itu di dalam rumah,
“Finn!”
“Rhys, bisakah kamu katakan pada Celine bahwa aku akan sedikit terlambat?”
“Bagaimana terlambat? Kamu sudah ada di sini saat ini,” ujar Rhys.
__ADS_1
“Aku harus mengantar temanku lebih dulu,” kata Finn.
“Ajak saja temanmu untuk masuk. Semakin ramai akan semakin bagus. Celine pasti akan senang,” kata Rhys.
“Tapi …”
“Cepat! Ajak saja dia masuk,” kata Rhys.
Finn akhirnya keluar lagi dan akan berusaha untuk membujuk Lynelle terlebih dahulu. Saat keluar, ia mengatur kata-kata yang akan ia sampaikan, agar Lyn mau masuk. Mata Finn menyipit ketika tak melihat keberadaan Lynelle di dalam mobilnya.
“Uncle, di mana temanku?” Tanya Finn.
“Keluar tadi. Uncle sudah berusaha memanggil, tetapi ia tak mendengar.”
“Terima kasih, Uncle.”
Finn kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Bisa-bisanya Lynelle malah keluar dari mobil dan meninggalkannya.
**
Jalan yang begitu sepi, membuat Lyn sedikit bergidik ngeri. Apalagi saat itu sudah gelap dan sekeliling terasa sunyi.
“Tinggal di lingkungan mewah tidak enak sekali, sepi dan menyeramkan,” gumamnya.
“Bisa-bisanya dia mengajakku ke rumah Keluarga Alban. Apa dia tidak tahu kalau aku membenci mereka? Aku benci mereka! Mereka yang menyebabkan Mommyku meninggal!” gerutu Lynelle sambil menendang sebuah batu.
Sebuah cahaya menyorot ke arahnya, kemudian terdengar bunyi klakson. Mobil itu berhenti di sampingnya dan terlihat Finn turun dari mobil.
“Mengapa kamu pergi?” tanya Finn.
“Aku tidak mau ke sana. Aku benci mereka!” Jawab Lynelle.
“Mereka orang baik, Lyn. Mereka tidak bersalah atas apa yang terjadi di rumah sakit.”
“Kamu membela mereka? Tentu saja! Kamu bagian dari mereka kan? Aku mau pulang. Sudah tinggalkan aku.”
“Lyn!”
“Pergilah! Aku tidak membutuhkan siapa-siapa,” Lynelle meneruskan jalannya dan tidak mempedulikan Finn.
“Lynelle! Berhenti!”
Lyn berdecak kesal dan tetap meneruskan langkahnya. Biarkan Finn mengira ia keras kepala, sehingga ia tak perlu kembali ke sana.
“Lyn!” Finn meraih lengannya dan menarik tubuh Lynelle ke arahnya sehingga tubuh Lyn menubruk dada Finn. Ia menahan tubuh Finn dengan tangannya agar tidak langsung menempel dengan tubuhnya.
“Lepaskan aku!”
__ADS_1
“Aku tak akan melepaskanmu!” Lynelle bisa merasakan pelukan Finn yang semakin lama semakin erat padanya, hingga ia merasa bingung dengan apa yang terjadi dengan pria itu.
🌹🌹🌹