
Rafael meminta pada Rhys agar menyerahkan semua pengawasan Alice pada dirinya. Ia berjanji akan menjaga Alice dengan baik. Akhirnya Aunty Emmy pun diminta kembali ke rumah untuk mengawasi Aunty Anna yang semakin brutal saat mengamuk.
Rafael dengan setia mengawasi dan menjaga Alice, sementara Rhys akan membawa Celine berkeliling Kota Tokyo selama beberapa hari.
“Makanlah, aku akan menyuapimu,” kata Rafael.
Alice tak menanggapinya, malah mengambil alat makan yang lain dan menyantap buah yang ada di piring yang lain. Rafael menghela nafasnya pelan karena Alice benar-benar menganggapnya tak ada.
“Bisakah kita menghentikan dulu permusuhan di antara kita? Setidaknya sampai kamu pulih dan diperbolehkan pulang,” kata Rafael.
“Letakkan di sini, aku bisa makan sendiri,” kata Alice pada akhirnya.
“Aku akan menyuapimu.”
“Letakkan atau aku tidak akan makan sama sekali,” ancam Alice.
Rafael meletakkan piring makan Alice dan ia kini hanya duduk di samping Alice untuk menemani wanita yang ia yakini tengah mengandung anaknya itu.
Tokk tokk tokk …
Rafael bangkit dari kursinya dan mendekati pintu. Ia membukakan pintu kemudian tersenyum.
“Mom.”
“Dasar anak nakal! Kamu baru menghubungi Mommy sekarang. Seharusnya kamu mengajak Mommy saat berangkat,” Mom Sophia memukul bahu Rafael.
Wanita paruh baya itu pun masuk ke dalam ruangan, melewati Rafael. Alice yang mengenali orang tua Rafael pun menyapa.
“Aunty,” sapa Alice.
__ADS_1
“Sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya Sophia yang memegang kedua tangan Alice. Alice menghentikan makannya dan meminggirkan meja ber-roda itu.
“Aku baik, Aunty. Bagaimana kabar Uncle dan Aunty?” tanya Alice dengan sopan. Meskipun Rafael berbuat tak baik padanya, ia tak akan membenci Uncle Raul dan Aunty Sophia.
Hanya padaku ia seakan tak melihat dan tak mengganggap keberadaanku. - batin Rafael.
“Uncle dan Aunty baik. Kapan kamu akan pulang?” tanya Aunty Sophia.
“Aku tidak tahu. Aku sudah sangat bosan di sini,” kata Alice.
Mom Sophia melihat ke arah Rafael dan memberikan tanda dengan gerakan matanya. Rafael yang mengetahui maksud Mommynya itu pun keluar dari ruangan.
Rafael memang sengaja menghubungi Mom Sophia untuk membantunya meluluhkan hati Alice agar wanita itu mau menikah dengannya. Rafael juga telah berkata jujur pada Mom Sophia bahwa saat ini Alice tengah mengandung dan ia sangat yakin bahwa itu adalah anaknya.
Setelah Rafael keluar, Mom Sophia kembali menoleh ke arah Alice. Wanita paruh baya itu kembali menggenggam kedua tangan Alice.
“Sayang, Aunty secara pribadi ingin meminta maaf padamu, atas apa yang telah dilakukan oleh Rafael padamu.”
“Hmm … Rafael mengakui dan menceritakan semuanya. Hanya saja Aunty tak mengatakan pada Uncle karena kesehatan Uncle yang tak terlalu bagus.”
“A-aku …”
“Kamu tak perlu mengatakan apapun, Aunty mengerti bagaimana perasaanmu. Kalau saja Aunty bisa memukulnya, akan Aunty pukul hingga puas. Sayang, Rafael menyesal dengan semua perbuatannya. Ia berbuat seperti itu karena ia cemburu, karena ia mencintaimu.”
Alice diam dan menatap manik Aunty Sophia. Mata wanita paruh baya itu sudah mulai berkaca-kaca dan Alice tak suka melihat kesedihannya.
“Selama 2 bulan ini, ia terus bolak-balik ke Perusahaan Alban dan Perusahaan Albanie untuk bertemu dengan Rhys dan juga Finn. Namun, keduanya terus menolak dan membuatnya terpuruk hingga tak mempedulikan Perusahaan Keluarga Kaili.
Sungguh, Aunty sedih melihat keadaannya yang seperti itu. Kabar terakhir yang Aunty dengar, sebelum Rhys akhirnya mengajaknya datang ke sini menemuimu, ia melakukan penghancuran di lobby Perusahaan Alban. Ia melakukan itu agar Rhys mau menemuinya dan memberitahu di mana keberadaanmu.
__ADS_1
Berilah ia kesempatan, sayang. Aunty yakin ia akan menyayangi dan mencintaimu. Bukankah kalian juga akan menjadi orang tua?” Aunty Sophia mengusap perut Alice yang masih terlihat rata karena usia kandungannya yang masih sangat muda.
“Aunty juga mengetahuinya?”
“Ya, Rafael mengatakan semuanya. Ia tak menyembunyikan apapun dari Aunty,” kata Aunty Sophia.
“Aku masih bingung harus bagaimana menghadapinya, Aunty. Hatiku masih merasa sakit setiap kali melihatnya, karena selalu teringat setiap perkataannya yang begitu menusuk hati ini,” kata Alice.
“Berikan dia kesempatan, setelah itu terserah bagaimana keputusanmu selanjutnya. Aunty tak akan ikut campur lagi. Namun, jika memang kalian tak bisa bersama, izinkan Aunty untuk mengunjungi cucu Aunty dan Rafael tetap bertanggung jawab padanya.”
Alice menghela nafasnya pelan. Ia juga tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sebenarnya ia bisa dikatakan sangat mengenal kepribadian Rafael, hanya saja beberapa bulan belakangan ini, tidak … tepatnya setelah ia meminta tolong pada pria itu untuk membantunya mengurus perceraian Rhys dan Celine, ia menjadi berubah.
“Aku akan mencobanya, tapi jangan terlalu berharap padaku, Aunty. Aku akan tetap mengijinkan Aunty bertemu dengannya. Aku tak akan menghalangi,” kata Alice sambil memegang perutnya.
“Terima kasih, sayang,” Aunty Sophia memeluk Alice.
Sementara itu, Rafael berjalan mondar-mandir di depan ruang rawat Alice. Ia tak tahu apa yang akan Mom Sophia bicarakan, tapi yang pasti ia meminta bantuan Mommynya itu untuk meluluhkan hati Alice agar mau memaafkannya.
Ia menghela nafasnya kasar dan sesekali menyugar rambutnya ke belakang. Ia juga merasa sangat gelisah, seperti sedang menunggu sesuatu tanpa kepastian.
Ceklekkk
Saat pintu ruang rawat itu terbuka dari dalam, Rafael langsung menghampiri. Ia melihat wajah Mom Sophia yang datar, tak menampakkan kebahagiaan tapi juga tak menampakkan kesedihan.
“Mom, bagaimana?” tanya Rafael penuh harap.
“Mommy sudah mencobanya, tapi sepertinya hanya dirimu yang bisa merubah pendiriannya. Ia akan mencoba membuka kesempatan untuk memaafkanmu, tapi itu semua tergantung bagaimana kamu melakukannya,” ujar Mom Sophia.
“Terima kasih, Mom. Aku tak akan mengecewakanmu. Aku yakin keputusannya untuk memberikan kesempatan padaku, semua berkat dirimu. I love you, Mom,” Rafael mencium pipi Mom Sophia dan memeluknya.
__ADS_1
🌹🌹🌹