LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#63


__ADS_3

Benzo bertambah marah pada anak buahnya ketika mengetahui bahwa mereka membawa Lynelle ke rumah sakit Keluarga Alban.


Brughhh


Ia menendang salah satu anak buahnya hingga terjerembab ke belakang.


“Dasar bodoh! Siapa yang menyuruh kalian mengantarnya ke sana hah?!” Teriak Benzo dengan wajah penuh amarah.


“Ru-rumah sakit itu yang pa-paling dekat, Bos. Wanita itu tak bergerak, bahkan tadi ia sudah tak bernafas,” salah satu anak buah Benzo berusaha menjelaskan.


Dengan nafas yang mulai memburu, Benzo berpikir bagaimana cara mengeluarkan Lynelle dari sana tanpa ia harus pergi. Tapi akan aneh jika Lynelle hanya diurus oleh anak buahnya saja.


Untuk saat ini, ia akan melihat situasi. Jika memungkinkan, maka ia akan menculik Lynelle dan membawanya keluar dari sana. Setelahnya, ia akan langsung menjual Lynelle agar tidak menyusahkannya.


**


Di sebuah ruang VIP rumah sakit, seorang wanita mengerjapkan matanya. Ia mendengar suara monitor detak jantung dan suara tetesan infus, akibat begitu sepinya ruangan itu.


“Apa aku masih hidup?” gumam Lynelle. Ia menghela nafasnya kasar dan memejamkan matanya kembali.


“Kenapa orang-orang itu berhasil menyelamatkanku? Aku tak minta diselamatkan. Aku tak mau!” Ia segera bangkit dari tidurnya dan melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya menelisik semua benda yang ada di dalam ruangan itu, mencari sesuatu yang bisa membantunya.

__ADS_1


Dengan tak mengindahkan rasa sakit, Lynelle mencabut jarum infus yang menancap di punggung tangannya. Ia juga melepaskan beberapa alat dokter yang menempel di tubuhnya.


Lynelle berjalan ke arah kamar mandi. Tak ada alat yang bisa ia gunakan, namun matanya melihat ke arah cermin dan mulai membesar. Ia kembali ke kamar tidur, ia mengambil termos yang ada di atas nakas, di samping tempat tidurnya.


Ia melemparkan termos itu ke arah cermin wastafel, namun tak pecah. Ia kembali lagi ke dalam kamar dan mencari benda yang lebih berat. Kini matanya tertuju ke arah kursi. Ia segera mengambil kursi itu dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Bughhh bughhh Prangggg ….


Senyum terbit di wajah Lynelle. Ia menghempaskan kursi yang ia gunakan ke lantai kamar mandi, kemudian ia duduk di lantai sambil melihat pecahan cermin yang ada di sana. Ia mengambil yang ukurannya agak besar dan terlihat runcing.


“Aku akan menyusulmu, Mom. Aku akan bahagia bersamamu. Di sini, hanya akan ada penderitaan. Daddy tak menyayangiku, tak ada yang menyayangiku,” gumam Lynelle sambil meneteskan air mata.


Lynelle mengarahkan bagian tajam dari pecahan cermin itu ke pergelangan tangannya. Ia pernah melihat di dalam film, hanya tinggal memotong urat nadinya saja.


Baru saja tangannya ingin menggores pergelangan tangan dengan cermin, tangannya langsung ditarik dan akhirnya pecahan cermin itu terpelanting.


“Apa yang kamu lakukan hah?!” Finn mengusap wajahnya kasar. Saat ia melewati depan ruang VIP tadi, tiba-tiba timbul keinginannya untuk masuk dan memeriksa. Baru saja ia membuka pintu, ia mendengar suara pecahan kaca seperti berhamburan. Ia langsung masuk dan menelisik ruangan itu.


Tempat tidur yang kosong membuat Finn berkesimpulan bahwa pasien berada di kamar mandi. Ia segera membuka pintu dengan perlahan. Matanya membulat ketika melihat Lynelle yang siap memotong pergelangan tangannya.


“Mengapa kamu mengangguku hah?! Apa kamu juga yang membuatku dirawat di sini? Ahhhh!!!” Lynelle menutup kedua telinganya seraya berteriak.

__ADS_1


Namun, ia tak meneruskannya ketika yang ada dalam pikirannya hanyalah satu kata, yakni mati. Ia kembali mengambil satu buah pecahan cermin tanpa mempedulikan keberadaan Finn.


Kembali ia ingin menyayat pergelangan tangannya, namun Finn kembali menarik tangan Lynelle hingga akhirnya Lynelle mengayunkan tangannya itu.


Srettt


Pecahan cermin itu melukai pipi Finn. Darah keluar dari sana dan Lynelle melihatnya.


“Tidak!! Mengapa kamu yang berdarah? Seharusnya aku. Mengapa kamu menghalangiku?! Ahhhh!!!” Teriak Lynelle lagi sambil menjambak rambut dengan kedua tangannya.


Kemudian ia berdiri dan tanpa merasa sakit, ia menginjak pecahan cermin itu dengan kedua kakinya. Keinginannya untuk mati sangat besar. Finn yang melihatnya langsung mengangkat tubuh Lynelle dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Tak ada perlawanan lagi dari Lynelle karena wanita itu sudah tak sadarkan diri. Finn membaringkannya di atas tempat tidur, kemudian menghubungi dokter, perawat, dan juga cleaning service.


“Sepertinya ia memerlukan seorang psikiater,” kata sang dokter setelah memberikan obat penenang. Mereka juga mengobati luka yang ada di kaki Lynelle, dan di pipi Finn.


Finn melihat ke arah Lynelle yang kini terlelap. Meskipun begitu, wajahnya sama sekali tak menampakkan ketenangan. Ia melihat seakan beban yang dialami wanita itu begitu besar.


Ia mengingat siapa wanita itu, wanita yang menabraknya tanpa meminta maaf. Ia juga adalah wanita yang membuat pernyataan buruk di media pertama kalinya karena kematian Mommynya.


“Salah satu dari kalian harus berjaga di sini, bergantianlah. Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Mengerti?!” Kata Finn.

__ADS_1


Ia segera keluar dari ruang rawat itu dan pergi dari rumah sakit. Ia harus menemui Rhys untuk membicarakan tentang informasi yang ia dapatkan hari itu.


🌹🌹🌹


__ADS_2