LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#56


__ADS_3

Rafael memasuki ruang rawat Alice sementara Mom Sophia kembali ke Kota Helsinki. Mom Sophia tak bisa berlama-lama di sana karena Dad Raul juga membutuhkan keberadaannya.


Ia melihat Alice yang tengah duduk diam sambil memeriksa ponselnya. Sesekali ia tersenyum, tetapi lebih sering menampakkan wajah datarnya.


Rafael ingin mendekati dan menyelesaikan semua masalah di antara mereka, agar tak ada lagi kecanggungan.


“Al, bisakah kamu memberiku kesempatan? Aku tahu aku sangat bersalah padamu. Aku mengatakan hal-hal buruk tentangmu dan memperlakukanmu dengan tidak selayaknya. Aku tak akan membela diri dan menganggap apa yang kulakukan benar karena suatu hal, aku hanya ingin menebus semua kesalahanku. Al, aku mencintaimu. Sejak dulu, aku mencintaimu. Aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Rhys. Aku begitu takut kehilanganmu, apalagi jika Rhys bercerai dari Celine. Kalian bukanlah sepupu sedarah dan bisa saja kalian saling menyukai karena terbiasa bersama,” kata Rafael.


Alice menghentikan aktivitasnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas tinggi yang persis ada di sebelahnya. Sedari tadi ia juga hanya berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia mendengarkan semua yang dikatakan oleh Rafael.


“Kamu mengenalku lama, apa kamu masih tak bisa mengerti bagaimana diriku?” tanya Alice pada akhirnya.


“Aku takut. Aku sangat mencintaimu dan takut kehilanganmu. Aku tak ingin Rhys memilikimu. Al, maaf …”


“Aku akan mencoba memberi kesempatan padamu, tapi jangan memaksaku.”


“Aku mengerti. Terima kasih sudah memberiku kesempatan,” kata Rafael.


Alice tak ingin membuat Aunty Sophia merasa kedatangannya ke Kota Tokyo menjadi sia-sia. Ia berusaha menghargai apa yang diminta oleh Aunty Sophia.


Beberapa hari di rumah sakit, membuat kaki Alice lemas karena ia selalu berada di atas tempat tidur. Rafael mengambil sebuah kursi roda karena hari ini Alice sudah diizinkan untuk kembali pulang.


Sementara itu, Rhys dan Celine sudah kembali pulang ke Kota Helsinki. Rhys menyerahkan semuanya pada Rafael. Rafael pun berjanji akan menjaga Alice dan tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Alice.


Alice turun dari tempat tidur dan duduk di kursi roda. Rafael dengan sabar membantu setiap hal yang dilakukan oleh Alice, kecuali membersihkan dirinya.


Sebuah mobil telah menunggu mereka di teras lobby rumah sakit. Rafael menghentikan kursi roda Alice di dekat pintu mobil, kemudian membuka pintu tersebut. Sebelum Alice bangkit dari duduk, Rafael langsung menggendongnya ala bridal dan mendudukkannya di kursi belakang mobil.

__ADS_1


Wajah Alice menempel di dada Rafael dan membuatnya bisa menghirup harum maskulin dari tubuh pria itu, membuat jantungnya seketika berdetak dengan cepat. Ia langsung melepaskan diri saat sudah menyentuh kursi mobil karena tak ingin Rafael mendengar detak jantungnya.


Setelah meletakkan kursi roda di bagasi mobil, Rafael masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Alice. Alice memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia tak ingin melihat ke arah Rafael karena takut jika jantungnya akan kembali berdetak kencang dan cepat.


Sesampainya di rumah, di mana Mom Anna berada, dengan dibantu oleh Rafael, Alice pun turun. Tapi kali ini ia langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Rafael karena ia tak mau digendong lagi.


Rafael mendekatkan kursi roda pada Alice dan membiarkan wanita itu duduk. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Dari luar, terdengar teriakan yang Alice yakini adalah suara dari Mom Anna. Kursi roda Alice didorong oleh Rafael dan ketika melewati pintu, sebuah mangkok terbang ke arah Alice.


Alice yang kaget dan tidak siap, langsung mengangkat kedua tangannya untuk menghindari mangkok itu mengenai wajahnya. Namun dengan cepat Rafael langsung berdiri di depan kursi roda Alice agar mangkok itu tak mengenainya.


Pranggg


Mangkok itu terjatuh persis di belakang Rafael dan pecah. Makanan yang berada di dalamnya berhamburan dan membuat lantai kotor. Pakaian Rafael pun kotor di bagian belakang dan basah.


“Raf,” kata Alice saat melihat Rafael yang berdiri di hadapannya.


Mom Anna yang melihat kepulangan Alice, menyunggingkan sebelah bibirnya. Apalagi ia melihat Alice pulang bersama dengan seorang pria. Tatapan Mom Anna pada Alice terasa berbeda dan Alice menyadari itu.


“Dari mana saja kamu?! Apa kamu di luar sana bersenang-senang dan meninggalkanku sendiri di sini dengan pelayan?! Seharusnya kamu di sini menemaniku! Dasar anak tidak tahu diuntung!” kata Mom Anna.


“Kita kembali ke kamar, Nyonya,” ajak Aunty Emmy yang tak ingin melihat putri kandungnya dihina seperti itu.


“Singkirkan tangan kotormu itu! Aku tak suka dilayani olehmu. Aku tahu kamu iri denganku yang memiliki segalanya,” kata Mom Anna yang langsung menjambak rambut Aunty Emmy.


“Ahhh, Nyonya!” teriak Aunty Emmy meringis. Ia cukup kaget dengan apa yang dilakukan oleh majikannya itu.


“Mom, hentikan!” kata Alice.

__ADS_1


“Diam kamu! Kamu tak berhak untuk memerintah diriku. Kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya anak seorang pelayan yang tak berkelas seperti dia. Ya, dia-lah Mommy kandungmu! Wanita miskin yang tak ada harganya sama sekali!” kata Mom Anna sambil menghempaskan Aunty Emmy.


“Aunty, masuklah ke dalam,” kata Alice yang tidak ingin membahas masalah itu saat ini. Aunty Emmy pun akhirnya meninggalkan mereka.


Alice menghubungi seorang dokter yang biasa memeriksa Mom Anna. Ia memintanya datang untuk membantunya. 30 menit akhirnya dokter itu datang. Alice meminta bantuan dokter itu untuk menenangkan Mom Anna dengan memberinya obat penenang.


“Sepertinya sel kanker yang ada di kepalanya sudah mulai menyebar hingga ia merasa sakit di kepalanya sehingga menyebabkannya tak dapat mengontrol emosinya,” jelas sang dokter.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Alice.


“Sepertinya perawatan di rumah sakit akan lebih baik. Kami bisa mengawasinya dan melakukan tindakan dengan segera. Kita juga harus melakukan serangkaian test lagi untuk melihat kembali penyebarannya,” kata sang dokter.


“Baiklah, Dok.”


Sebuah ambulans didatangkan untuk membawa Mom Anna ke rumah sakit. Kini, Alice sudah berada di dalam kamar bersama dengan Rafael.


“Gantilah pakaianmu. Maafkan Mommy,” pinta Alice.


“Aku tidak apa-apa. Jangan kuatir. Bagaimana perasaanmu?” tanya Rafael.


“Aku tidak apa-apa. Aku sudah mengetahui semua kebenaran itu. Bisakah kamu memanggilkam Aunty Emmy ke sini? Aku ingin bicara dengannya,” kata Alice.


“Tentu saja,” Rafael pun keluar setelah membantu Alice berpindah dari kursi rodak ke atas tempat tidur.


Aunty Emmy masuk ke dalam kamar tidur Alice. Ia menundukkan wajahnya, tak berani menatap putrinya itu.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2