LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#53


__ADS_3

Dokter mulai memasang bantuan pernafasan pada Alice. Detak jantungnya melemah dan oksigen yang masuk ke paru-parunya seakan berkurang dengan drastis.


“Keluarga Nona Alice?” tanya seorang dokter yang keluar dari ruang tindakan.


“Keluarganya belum datang, Dok. Mereka sedang menuju ke sini,” jawab Aunty Emmy. Ia tak ingin serta merta mengakui Alice sebagai putrinya. Ia tak ingin putrinya menolaknya dan merasa sedih ataupun kecewa karena memiliki Mom seperti dirinya.


“Apakah suaminya juga akan datang?” tanya sang dokter.


“Suami? Dia belum menikah, Dok,” jawab Aunty Emmy.


“Saat ini ia sedang mengandung. Usia kandungannya sekitar 9 minggu. Untuk lebih pastinya nanti saya akan menghubungi dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”


“Lalu, apa yang terjadi dengannya?” tanya Aunty Emmy kuatir.


“Ia mengalami gagal nafas hingga paru-parunya tak mendapatkan cukup oksigen. Hal ini berpengaruh pada kerja jantungnya hingga membuatnya tak sadarkan diri.”


“Terima kasih, Dok. Saya akan segera memberitahukan hal itu pada keluarganya,” ujar Aunty Emmy.


Aunty Emmy terduduk di salah satu sofa ruang tunggu yang berada persis di depan ruang tindakan. Ia memegang dadanya dan meremasnya. Kini kejadian yang sama terjadi pada putrinya, hamil di luar pernikahan.


“Ini kesalahanku. Jika saja aku bisa menjaganya dan tak memberikannya pada Nyonya Anna, mungkin hal ini tak akan terjadi,” gumam Aunty Emmy yang begitu kecewa dengan dirinya sendiri.


Sementara itu, Aunty Anna masih saja melempar barang-barang yang bisa ia raih. Ia sangat sensitif karena semua yang terjadi pada dirinya, terutama kondisi tubuh dan kesehatannya. Ia hanya terus berteriak dan mengamuk di dalam kamar, sementara seorang penjaga yang dikirimkan oleh Finn telah sampai di sana.


**


“Rhys, katakan padaku … Apa yang terjadi pada Alice?” Wajah Rafael menampakkan kekuatiran yang amat sangat, “Mengapa kamu mengatakan kalau aku tidak ikut, mungkin tak akan bertemu dengannya lagi?”


“Kamu akan mengetahuinya nanti,” jawab Rhys. Ia juga harus memastikan semuanya terlebih dahulu dengan dokter.


“Kamu mengantuk lagi?” tanya Rhys pada Celine yang ikut pergi bersamanya, meski kandungannya sudah mencapai 7 bulan.

__ADS_1


“Hmm …,” jawab Celine sambil menyandarkan kepalanya ke dada Rhys.


“Tidurlah … cup,” Rhys mengecup kening Celine dan mengusap punggung belakang istrinya itu.


Rhys menggunakan pesawat pribadinya kali ini, demi kenyamanan Celine. Rafael terus melihat ke jendela pesawat dan duduknya pun gelisah. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Alice dan meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan.


13 jam berada di dalam pesawat terasa begitu lama bagi Rafael, sementara Rhys dan Celine justru beristirahat di dalam sebuah ruangan khusus di mana disediakan sebuah tempat tidur di dalamnya.


Saat menginjakkan kaki di Kota Tokyo, perasaan Rafael semakin tak menentu. Jantungnya berdetak cepat dan hatinya gelisah. Ia mengikuti langkah Rhys dan Celine menuju ke sebuah mobil yang telah disiapkan oleh Finn.


“Ke hotel,” kata Rhys.


“Rhys, apa kita tidak langsung menemui Alice?” tanya Rafael.


“Setelahnya. Aku tak mengajak Celine karena tak baik baginya berkeliaran di rumah sakit. Aku ingin istriku nyaman terlebih dahulu,” jawab Rhys.


“Tidak apa-apa, sayang. Antarkan saja dulu Tuan Rafael, nanti kamu baru mengantar dan menemaniku,” kata Celine.


“Aku sudah tertidur di pesawat tadi, jadi aku tidak lelah,” jawab Celine.


Rhys memerintahkan supir untuk mengantarkan Rafael terlebih dahulu ke rumah sakit. Ia akan membiarkan pria itu berada di sana dan mengetahui kondisi Alice sementara ia akan menemani istrinya terlebih dahulu.


“Terima kasih, Rhys,” kata Rafael saat mereka tiba di rumah sakit.


“Finn sudah memerintahkan mereka memindahkannya ke ruang VIP, no kamar VIP02,” kata Rhys.


“Hmm … aku mengerti. Terima kasih sekali lagi.”


Rafael pun masuk ke dalam rumah sakit, sementara Rhys menuju ke hotel. Rafael melihat petunjuk arah, hingga ia dengan mudah menemukan kamar VIP 02 yang merupakan ruang rawat Alice.


Ceklekkk

__ADS_1


Sunyi, hanya ada suara dari alat-alat kedokteran yang membuatnya tak sepi. Rafael melihat Alice terbaring di atas tempat tidur dengan sebuah alat bantu pernafasan. Di sampingnya, tampak seorang wanita paruh baya yang menggenggam tangan Alice.


“Permisi,” sapa Rafael.


Aunty Emmy yang mendengar suara Rafael pun mengangkat kepala dan membuka matanya. Ia melihat sosok seorang pria yang pernah ia lihat dulu sering berada di Kediaman Keluarga Alban.


“Tu-tuan Rafael,” kata Aunty Emmy.


“Aunty Emmy … Aunty di sini?” tanya Rafael.


“Ya, saya mendapat tugas menjaga dan menemani mereka selama berada di Jepang,” jawab Aunty Emmy.


Rafael kembali menoleh ke arah Alice, “apa yang dokter katakan?”


“Ehhhh ….,” Aunty Emmy bingung harus menjawab apa dan ia juga tak terlalu mengerti tentang kedokteran. Ia pun akhirnya hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin sembarangan berbicara, terutama tentang kehamilan Alice.


Tak berselang lama, seorang dokter masuk ke dalam ruang rawat Alice dan kembali memeriksanya.


“Anda suaminya?”


“Bu-bukan, Dok,” jawab Rafael.


“Ah sayang sekali. Begini saja, saya titipkan ini dan tolong diberikan pada suaminya. Saya akan kembali lagi untuk memeriksa kandungannya nanti,” kata dokter kandungan yang melakukan USG pada Alice.


“Ini?” tanya Rafael.


“Itu hasil USG kandungan Nona Alice. Saat ini ia sedang mengandung dan usia kandungannya 8 minggu,” jawab dokter kandungan itu.


Anakku? - batin Rafael.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2