
Rhys tersenyum saat kembali menginjakkan kaki di Desa Lauterbrunnen. Ia menghirup udara banyak-banyak, setelah turun dari mobilnya. Ia berhenti di depan penginapan “Adam’s Stay”.
“Aku datang, istriku,” gumam Rhys sambil tersenyum.
Ia pun masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat 2. Di bagian bawah terdapat minimarket dan bagian atas diperuntukkan sebagai kamar sewa.
“Selamat siang, apa masih ada kamar kosong?” tanya Rhys basa-basi. Sebelumnya ia telah meminta Finn untuk memastikan bahwa penginapan itu memiliki kamar kosong dan harus tepat di depan kamar yang ditempati oleh Celine.
“Ada, Tuan. Dan itu salah satu kamar terbaik milik kami. Berapa lama anda ingin menginap?” tanya Aunty Giza.
Rhys memberikan beberapa lembar uang dan Aunty Giza langsung tersenyum, “1 bulan?”
“Ya, kalau nanti saya betah, akan langsung saya perpanjang.”
Aunty Giza tentu sangat senang sekali. Ia pun menunjukkan jalan pada Rhys menuju kamar yang akan ia sewakan. Aunty Giza membuka pintu dan menyerahkan kuncinya pada Rhys.
“Terima kasih banyak,” kata Rhys sebelum Aunty Giza pergi meninggalkannya.
Rhys sangat tahu kalau saat ini Celine pasti sedang berada di kamarnya. Tetapi, ponselnya berbunyi dan menampakkan pesan dari salah satu orang kepercayaannya.
Saat ia membuka pesan, terlihat beberapa buah foto di mana Celine sedang dipeluk oleh seorang pria dari samping. Mereka bahkan mengunjungi seorang dokter kandungan.
“Bukankah ini laki laki yang bekerja bersamanya di sekolah?” Rhys masih ingat dengan wajahnya.
“Apa mereka memiliki hubungan?” gumamnya.
Mengapa mereka pergi ke dokter kandungan? Apa saat ini Celine hamil? Apakah itu anak mereka? - Berbagai pertanyaan seakan terus berputar di dalam kepalanya.
Rhys merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kembali memandang foto-foto yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya. Perasaan bahagia yang tadi ia rasakan saat sampai di Desa Lauterbrunnen, tiba-tiba menguap. Yang ada kini adalah perasaan gelisah dan takut. Ia tak ingin kehilangan Celine untuk ketiga kalinya.
Pertama, saat ia kehilangan ingatannya. Kedua, saat Celine pergi dari rumah Keluarga Alban dan mengajukan perceraian.
__ADS_1
“Tidak! Ia tidak akan secepat itu melupakanku,” kata Rhys berusaha menyemangati dirinya sendiri.
“Kamu masih istriku dan selamanya akan tetap menjadi istriku,” baru selesai ia berbicara sendiri, ia mendengar suara mobil berhenti di depan penginapan.
Rhys bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Dari atas, terlihat Celine turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam penginapan, begitu pula pria itu.
Rhys mendekati pintu kamarnya dan meletakkan telinganya di sana. Ia mendengar suara tapak kaki di koridor penginapan dan pintu kamar yang tepat di depannya pun terdengar dibuka kemudian ditutup.
Hahhh - Rhys bernafas dengan lega ketika mengetahui bahwa Celine sudah kembali ke dalam kamarnya.
Dengan santai ia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Ia melihat pria yang bersama dengan Celine tadi tengah berbicara dengan Aunty Giza. Rhys berpura-pura memilih barang di minimarket tersebut sekaligus mendengar pembicaraan mereka.
Rhys bukan tipe penguping, tetapi ia tak mau jika sampai benar ada hubungan antara Celine dengan pria itu.
“Bagaimana keadaan kandungan Celine?” tanya Aunty Giza.
“Mom tanyakan saja padanya. Aku kan hanya diminta mengantarnya saja,” kata Albert. Ia menjawab pertanyaan Aunty Giza tapi matanya tak menatap Mommynya itu.
“Hera,” jawab Albert singkat.
“Kamu masih memikirkannya?” tanya Aunty Giza.
“Aku tadi melihatnya, Mom. Ia sedang hamil.”
“Dan Mommy yakin itu pasti bukan anakmu. Sudah! Jangan pikirkan dia lagi. Kalau di antara 2 wanita hamil, Celine dan Hera. Mommy lebih memilih Celine.”
“Mom!”
“Apa? Apa kamu akan membela wanita itu? Atau kamu mau kembali padanya?”
“Bukan seperti itu, Mom.”
__ADS_1
“Kalau kamu mau kembali padanya, pergilah! Tapi jangan pernah lagi kembali ke sini. Mommy tak akan menganggapmu lagi sebagai putra Mommy,” Aunty Giza langsung masuk ke dalam sebuah ruangan yang tepat berada di belakang area kasir. Di sana adalah ruangan khusus miliknya.
Rhys tersenyum melihat keduanya. Ia mengelus dadanya dan semakin lega. Meskipun Aunty Giza menginginkan Celine menjadi menantunya, tapi putranya itu mencintai wanita lain.
Namun seketika mata Rhys membulat ketika ia menyadari sesuatu.
Hamil? Celine hamil! Itu pasti anakku. - Rhys yang tadi berpura-pura memilih barang, bergegas naik lagi ke lantai atas.
**
Alice kini tengah duduk diam di dalam ruang kerjanya. Hari ini memang Hari Sabtu, tapi ia terpaksa pergi ke Albanie karena banyak yang harus ia kerjakan.
Beberapa kali ia mencoba menghubungi Celine, tapi tak pernah berhasil. Panggilannya selalu tak tersambung. Pesannya pun tak terkirim. Hal itu membuat hati Alice menjadi gelisah, ia takut terjadi sesuatu pada Celine.
Ia mengambil telepon yang ada di atas meja dan menghubungi sekretarisnya, “Tina, siapkan tiket ke Bern untuk besok pagi.”
“Anda akan pergi?”
“Ya, ada sesuatu yang harus kukerjakan.”
“Baik, Nona.”
Sementara itu di rumah, Aunty Anna masih mengurung dirinya di dalam kamar. Ia begitu syok saat mengetahui bahwa suaminya itu melakukan pencurian uang di Perusahaan Alban. Dan yang paling membuat hatinya sakit adalah ketika ia mengetahui bahwa suaminya itu ternyata berselingkuh dengan Eve, calon istri keponakannya.
Terlalu banyak menangis, membuat matanya terlihat sembab dan wajahnya sedikit pucat. Ia bahkan tak keluar kamar hingga Alice meminta pelayan mengantarkan makanan untuk Mommynya itu.
Alice sudah tahu semuanya, dan ia tak bersedih sama sekali. Dulu, ia juga pernah memergoki Daddynya itu saat masuk ke dalam sebuah hotel bersama seorang wanita.
Aunty Anna berjalan menuju lemari. Ia membuka lemari itu dan mengeluarkan sebuah kotak. Kotak di mana tersimpan foto-foto mereka berdua. Ia langsung merobeknya dan melemparkannya. Ia bahkan mengeluarkan semua pakaian milik suaminya itu, hingga kamar tidur mereka kini sudah seperti kapal pecah.
“Aku tak akan pernah memaafkanmu, Ronald! Kamu memilih wanita ular itu! Membuatnya akan selalu memandang rendah diriku. Sialannnn kamu, Ronald!!!” Aunty Anna terus berteriak di dalam kamar tidurnya sambil membuang semua barang-barang milik suaminya itu.
__ADS_1
🌹🌹🌹