LOVE TRAUMA

LOVE TRAUMA
#61


__ADS_3

“Mom!!” Rafael sangat bahagia sekali. Setelah mengantar Alice pulang, ia tidak kembali ke Perusahaan Kaili, tapi langsung pulang ke rumah.


“Kamu itu sudah besar, masih teriak-teriak saja. Seperti anak kecil,” gerutu Mom Sophia yang sedang memakan rujak buah.


Kehamilan Alice, bukan Alice atau Rafael yang mengidam, tapi malah Mom Sophia. Wanita itu tiba-tiba saja menginginkan rujak buah yang rasanya asam.


“Aku berhasil, Mom! Aku berhasil!”


“Berhasil apa? Apa kamu sudah berhasil membujuk Alice untuk menikah dan tinggal di sini?” kata Mom Sophia dengan nada sedikit mengejek karena sudah 2 bulan ini putranya itu tak berhasil merayu Alice untuk menikah, padahal Mom Sophia ingin sekali Alice tinggal dengannya dan mereka bisa saling berbincang bersama.


“Apa Mommy akan memberiku hadiah?”


“Cepat katakan!” Mom Sophia sudah sangat gemas dengan putra semata wayangnya itu.


“Alice menerima lamaranku, Mom! Kamu akan menikah!” teriak Rafael sambil memeluk Mom Sophia.


“Benarkah?! Yeayyyyy!!!” Mom Sophia ikut berteriak dan memeluk Rafael. Hal itu terdengar hingga Dad Raul pun keluar dari kamar tidurnya.


“Berisik sekali!” ungka Dad Raul. Dad Raul memicingkan matanya saat melihat Rafael. Ia masih sangat marah pada putranya itu. Ia pun langsung kembali ingin menutup pintu kamar, akan tetapi Mom Sophia langsung menahannya.


“Dad! Ini kabar baru!”


“Ada apa? Apa anak ini berulah lagi?” tanya Dad Raul.


“Alice menerima lamaran Rafael, Dad. Itu artinya mereka akan menikah dan kita akan tinggal bersama menantu dan cucu kita di sini. Pasti rumah kita akan sangat ramai. Aku senang, Dad!” kata Mom Sophia sambil memeluk Dad Raul.


Wajah Dad Raul kini tersenyum. Sejak beberapa bulan lalu, senyum itu hampir tak terlihat karena perbuatan Rafael yang sangat menyakiti hatinya.


“Minggu depan! Mereka harus menikah minggu depan!” kata Dad Raul dengan tersenyum bahagia.


“Ajak Alice ke sini, sayang. Sekalian Mommynya. Kita akan membicarakan pernikahan kalian,” kata Mom Sophia.

__ADS_1


“Baik, Mom. Thank you,” Rafael mengecup pipi Mom Sophia. Setelahnya, ia masuk ke dalam kamar tidur untuk menghubungi Alice.


**


“Istirahatlah dulu. Semalaman kamu terus terjaga karena Nix meminta ASI,” kata Rhys. Terlihat dengan jelas wajah lelah istrinya itu. Namun, Celine sama sekali tak mengeluh. Ia bahkan tak membiarkan Rhys terbangun karena ia tahu kalau Rhys harus bekerja.


“Hmm … aku tidur sebentar ya, mumpung Nix juga sedang lelap,” kata Celine.


“Aku akan ke ruang kerja menemui Finn. Ia sudah menungguku sejak tadi.”


Celine pun membaringkan tubuhnya dan tidur di sebelah Nix. Tubuhnya yang lelah, membuatnya cepat terlelap.


Rhys keluar dari kamar tidur dan menuju ke ruang kerja. Ia sangat yakin Finn sudah menggerutu di dalam sana karena terlalu lama menunggu.


Ceklekkk


“Akhirnya dia datang juga,” kata Finn mengusap dada.


“Apa ada masalah baru?” tanya Rhys.


“Bisakah semuanya diredam?”


“Tidak semudah itu. Media memilih menaikkan berita ini karena kamu tidak mau memberi mereka berita mengenai Nix. Jadi agak sulit untuk meredamnya.”


“Cari wanita itu dan minta dia untuk bertanggung jawab atas perkataannya,” kata Rhys tak mau mengalah.


“Setelah wanita itu bersuara di media, beberapa pasien juga mengeluhkan hal yang sama. Mereka berkata bahwa pelayanan kita berdasarkan uang. Tak ada uang maka mereka akan dibiarkan begitu saja.”


“Apa kamu sudah mencari tahu tentang semua hal itu?” tanya Rhys.


“Aku mencari tahu secara diam-diam. Jika kita terlalu terbuka, ku rasa mereka akan bergerak lebih hati-hati dan itu akan menyulitkan kita. Jadi biarkan saja mereka beranggapan kalau dirimu mempercayai mereka,” jawab Finn.

__ADS_1


“Idemu bagus juga, Finn. Baiklah, lakukan yang terbaik dan segera dapatkan penjahatnya.”


“Hmm …”


**


Benzo mengurung Lynelle di sebuah kamar. Ia sedang berpikir apa yang harus ia lakukan pada Lynelle. Memiliki Lynelle merupakan sebuah keuntungan untuknya. Ia bisa menjual wanita itu dengan harga tinggi di pelelangan.


Pranggg


Seorang pelayan yang masuk ke dalam kamar yang ditempati Lynelle, harus berhadapan dengan seorang wanita yang marah sekaligus takut. Ia menepis nampan berisi makanan yang dibawakan oleh pelayan.


“Pergi! Keluar!!” teriak Lynelle.


Benzo yang mendengar hal itu, langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar tidur itu. Matanya menatap nyalang ke arah Lynelle dan membuat wanita itu takut hingga memundurkan tubuhnya, menjauhi Benzo.


“Pegangi dia dan paksa untuk makan! Aku tak mau menjual wanita kurus! Tidak bernilai sama sekali!” Benzo memerintahkan anak buahnya untuk memegangi kedua tangan dan kaki Lynelle, kemudian dengan paksa memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Mom! Mengapa kamu meninggalkan aku. Seharusnya Mom mengajakku dan tidak membiarkanku hidup menderita seperti ini. - batin Lynelle.


Pelayan dan anak buah Benzo terus saja menyuapi Lynelle hingga tiba-tiba wanita itu terbatuk dan tak dapat bernafas. Ia mulai kejang dan membuat pelayan itu ketakutan.


“Bagaimana ini?” tanya mereka.


“Kita harus membawanya ke rumah sakit. Kalau dia sampai mati, Tuan Benzo pasti akan membunuh kita,” kata anak buah Benzo.


Mereka pun segera keluar sambil membawa Lynelle yang sudah tak sadarkan diri.


“Apa yang kalian lakukan?!” teriak Benzo yang masih berada di ruang duduk, tak jauh dari kamar Lynelle.


“Ia tidak bernafas, Tuan,” jawab salah seorang pelayan dengan nada ketakutan. Ia takut jika ia berbohong, maka hukuman yang akan ia terima akan jauh lebih berat.

__ADS_1


“Sialannn!!!” teriak Benzo.


🌹🌹🌹


__ADS_2