
“Aku ikut senang akhirnya kamu memutuskan untuk menerima lamaran Rafael, Al. Seharusnya kamu sudah melakukannya sejak beberapa bulan yang lalu,” kata Rhys.
“Maaf. Aku hanya ingin melihat kesungguhannya,” kata Alice.
Alice baru membicarakan semua yang terjadi saat makan malam kemarin di kediaman Keluarga Kaili pada Rhys keesokan harinya.
“Mereka akan datang ke sini segera setelah ada persetujuan darimu,” lanjut Alice.
“Aku akan menyetujui apapun yang kamu inginkan, Al. Asalkan kamu bahagia, maka aku juga akan bahagia.”
“Terima kasih, Rhys.”
Celine yang keluar dari kamar tidur, langsung menghampiri Alice, “kamu sungguh akan menikah, Al? Aku senang sekali mendengarnya.”
“Hmm, terima kasih Lin.”
Celine pun ikut duduk di antara Alice dan Rhys untuk membicarakan rencana pernikahan Alice. Untung saja putra mereka sudah tertidur, jadi Celine bisa sedikit bersantai.
Tak lama berselang, Finn masuk ke dalam Kediaman Keluarga Alban. Pipinya yang diplester, membuat ketiga orang yang tengah duduk di ruang keluarga, menatap ke arahnya dan seakan mencari tahu.
“Apa yang kalian lihat? Ini?!” tanya Finn sambil menunjuk pipinya. Ketiga orang tersebut pun menganggukkan kepalanya.
Namun, Finn sama sekali tak menjawap rasa ingin tahu mereka. Ia malah mendekati Rhys.
“Ada sesuatu yang harus kubicarakan, penting,” kata Finn.
Rhys menangkap raut wajah serta nada bicara yang sangat serius pada diri Finn. Hal ini membuat Rhys akhirnya bangkit dari sofa ruang keluarga itu.
“Aku ke ruang kerja dulu, sayang,” kata Rhys kemudian mengecup pucuk kepala Celine.
Di dalam ruang kerja, Rhys dan Finn langsung duduk di sebuah sofa panjang dengan sebuah meja di hadapannya.
“Katakanlah.”
__ADS_1
“Uncle Ronald masih memegang kendali pada beberapa petinggi di Rumah Sakit,” kata Finn.
“Waktu itu memang Dad Dave pernah meminta Uncle Ronald untuk mengurus beberapa hal, terutama setelah Mommy meninggal,” jelas Rhys.
Finn menghela nafasnya kasar, “hari ini aku berbicara dengan salah seorang dokter di bagian gawat darurat. Bukan suatu kebetulan juga, karena aku mengikuti seorang pasien yang akan dibawa ke sana.”
“Kamu ingat tentang wanita yang berbicara dengan begitu lantang di media bahwa rumah sakit kita hanya memikirkan uang, uang, dan uang?” Tanya Finn.
Rhys menganggukkan kepalanya, “tentu saja! Aku tidak terima dia mengatakan hal seperti itu tentang rumah sakit keluargaku.”
“Aku bertemu dengannya tadi di rumah sakit,” kata Finn.
“Bertemu? Dia masih datang ke sana setelah apa yang dia katakan? Bukankah dia bilang kita hanya mementingkan uang, lalu kenapa dia terus saja datang?” Tanya Rhys.
“Dia datang sebagai pasien.”
“Maksudmu?”
Sekali lagi Finn menghela nafasnya, “Wanita itu mengalami henti jantung yang akhirnya memerlukan defribrilator. Saat itulah ntah mengapa hatiku seakan remuk. Berapa banyak pasien yang sudah mengalami hal seperti itu?”
“Lalu?”
“Setelah detak jantung wanita itu kembali, aku meminta mereka menempatkannya di ruang VIP. Aku juga berbicara secara pribadi dengan dokter yang berrugas di bagian gawat daturat itu,” lanjut Finn.
“Sampai saat ini, Uncle Ronald masih memegang kendali atas mereka. Memang tak banyak yang tahu, akan tetapi dokter jaga itu dan seorang wanita di bagian kasir, menjadi lini terbawah bagi mereka. Mereka sengaja memilih orang-orang yang tak berdaya dan tak bisa menolak permintaan mereka, untuk menjalankan semua rencana mereka,” Finn terus menjelaskan.
“Gila! Ini gila, Finn! Kita harus mengambil tindakan secepatnya,” kata Rhys.
“Aku berpikir bahwa sebaiknya untuk sementara waktu, kamu memimpin rumah sakit milik Aunty dulu. Kita akan menyingkirkan orang-orang yang membelot dan setia pada Uncle Ronald.”
“Aku tidak bisa. Meskipun rumah sakit itu juga adalah bagian dari hidupku, tapi aku tak mungkin meninggalkan Perusahaan Alban.”
“Kamu bisa! Buktinya waktu kamu mengejar Celine ke Desa Lauterbrunnen, kamu bisa tak memikirkan perusahaan,” kata Finn mencebik.
__ADS_1
Rhys terkekeh, “bagaimana kalau kamu saja Finn yang di sana. Biar Perusahaan Alban dan Albanie aku yang akan memimpinnya. Aku masih bisa meminta bantuan Alice.”
Finn tampak berpikir. Namun dengan segera ia menganggukkan kepalanya, “baiklah.”
**
Dokter kembali memberikan obat penenang kepada Lynelle karena kembali mengamuk. Ia terus berteriak meminta seorang dokter untuk melakukan suntik mati padanya. Ia bahkan akan memberikan surat rumah sebagai alat pembayarannya.
“Ia benar-benar tidak baik-baik saja,” kata Dokter Abe.
“Ya, karena itulah kami memerlukan anda untuk membantunya,” kata dokter lainnya.
Dokter Abe adalah seorang psikiater yang memiliki jam terbang cukup bagus, meskipun usianya terbilang masih muda. Dokter Abe melihat ke arah Lynelle yang terbaring dengan wajah yang begitu penuh beban.
“Baiklah, aku akan membantu,” kata Dokter Abe.
Finn yang baru selesai berbicara dengan Rhys, kembali ke rumah sakit untuk mengambil alih semuanya. Tentu saja ia datang telah berbekal surat kuasa dari pemimpin tertinggi Keluarga Alban itu.
Namun langkah kakinya bukan menuju ke ruangan di mana para peringgi rumah sakit sedang menunggunya, melainkan ke arah ruang rawat di mana Lynelle berada.
Ia membuka pintu perlahan. Ia melihat Lynelle yang sedang tidur, tetapi ada seseorang di sampingnya.
“Siapa kamu?” tanya Finn yang memang tak terlalu mengenal dokter-dokter yang ada di rumah sakit Keluarga Alban.
“Saya Dokter Abe, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus seorang psikiater. Apa anda keluarganya?” tanya Dokter Abe.
“Bukan. Apa anda tidak ada pekerjaan lain Dokter Abe? Pasien sedang beristirahat dan saya rasa anda tidak perlu berada di sebelahnya dan menungguinya seperti itu,” kata Finn dengan ketus.
“Anda juga sebaiknya tidak berada di sini, Tuan. Sebaiknya anda keluar karena selain keluarganya sebaiknya tidak berada di sini,” balas Dokter Abe.
Kedua pria itu saling menatap dengan tatapan tajam yang ntah artinya apa. Finn segera keluar dan menuju lantai atas di mana ruang meeting berada. Para petinggi rumah sakit telah menunggunya.
🌹🌹🌹
__ADS_1