
Finn pada akhirnya tak kembali ke Kediaman Keluarga Alban. Ia lebih memilih menemani Lynelle dan memesan makanan secara online.
“Pergilah. Aku tak apa sendiri di sini,” kata Lynelle.
“Tidak! Aku tak akan membiarkanmu sendiri. Nanti kamu kabur lagi,” kata Finn. Setiap kali melihat Lynelle, rasa ingin melindungi dari dalam dirinya terasa begitu besar.
Lynelle melihat ke arah Finn dan membuat tatapan mata mereka bersirobok. Lynelle langsung memalingkan wajahnya karena tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat. Sementara Finn justru tak berhenti, ia terus saja menatap Lynelle.
Finn bangkit dari duduknya dan mendekati wanita itu. Dengan cepat ia menyambar dagu Lynelle dan langsung mellumat bibir tipis wanita di hadapannya itu. Lynelle yang kaget dengan apa yang terjadi, ingin berusaha melepaskan. Tetapi debaran dan getaran dari tubuhnya seakan mengkhianatinya.
Lynelle menikmati ciuman yang diberikan oleh Finn, bahkan ia membalasnya.
“Menikahlah denganku. Aku akan menjaga dan melindungimu. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti dan melukaimu,” kata Finn.
Lynelle menundukkan kepalanya. Selain pria di hadapannya ini memiliki kaitan dengan keluarga Alban, ia juga tahu diri bahwa dirinya tak sederajat.
Finn kembali menaikkan dagu Lynelle agar wajah wanita itu melihat ke arahnya. Ia kembali menciumnya, mellumat dan memainkan lidahnya. Lynelle mengalungkan kedua tangannya di leher Finn dan keduanya menikmati ciuman mereka yang terasa begitu luar biasa.
“Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Pikirkanlah dulu, aku memberikan waktu padamu.”
**
2 bulan berlalu,
Lynelle tetap tinggal di apartemen Finn dan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Ia memastikan semuanya selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Ia juga selalu menyiapkan sarapan pagi dan makan malam untuk Finn.
Ia sudah terbiasa melakukan semua itu dan rasanya ada yang kurang jika tak melakukannya. Ia sudah mengatakan pada Finn bahwa ia tak perlu digaji, karena memiliki tempat tinggal saja ia sudah sangat bersyukur.
Hari ini, ia berencana akan mengantarkan makan siang untuk pria itu. Setelah Finn pergi, ia merapikan beberapa hal, lau langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan untuk memasak makan siang.
Lynelle sudah melihat kebaikan dan kesabaran Finn dalam menghadapinya selama 1 bulan ini, setidaknya ini adalah sedikit balas budinya.
Dengan menggunakan sebuah taksi online, Lynelle berangkat menuju rumah sakit Keluarga Alban. Sebelum memasuki rumah sakit itu, ia menghela nafasnya perlahan, “aku pasti bisa.”
__ADS_1
Selama 2 bulan ini, ia berusaha memerangi trauma dalam dirinya sendiri. Setiap Finn pergi bekerja, ia selalu membereskan rumah sambil bergumam ‘Keluarga Alban tak bersalah, ini takdir’.
Lynelle masuk ke dalam rumah sakit. Sejak mommynya meninggal, tak pernah sekalipun ia menginjakkan kaki pagi di tempat itu. Ia tak tahu di mana ruangan Finn, karena itu ia menuju ke bagian resepsionis.
“Permisi, saya ingin bertemu dengan Tuan Finn.”
“Sebentar, saya hubungi sekretarisnya dulu,” resepsionis itu mengangkat telepon dan menghubungi sekretaris Finn.
“Sepertinya mereka sedang keluar, Nona. Ini jam makan siang, mungkin Tuan Finn dan sekretarisnya sedang keluar makan siang,” lanjut sang resepsionis yang berusaha menghubungi sang sekretaris tapi tak ada jawaban.
“Baiklah kalau begitu. Oya, titipkan ini saja padanya. Terima kasih,” kata Lynelle dan meninggalkan meja resepsionis.
Lynelle berjalan menuju sebuah sofa di ruang tunggu besar yang ada di lobby. Ia tak memesan taksi lagi karena di depan rumah sakit biasa banyak taksi. Ia pun berjalan keluar dan mendekati salah satu taksi. Saat ia sudah berada di dalam, ia melihat Finn baru datang bersama dengan seorang wanita. Keduanya terlihat saling tersenyum dan bercanda.
Ada rasa aneh yang hadir di dalam hati Lynelle. Ia tak suka melihat kebersamaan Finn dengan seorang wanita, bahkan keduanya terlihat begitu dekat.
Tak ada yang benar-benar menyayangi dan mencintaiku. Mereka hanya kasihan karena melihat keadaanku. - batin Lynelle.
Lynelle pun kembali ke apartemen. Ia membereskan beberapa pakaian yang dibelikan oleh Finn. Ia tidak membawa pakaian yang mewah dan mahal, hanya pakaian sehari-hari saja. Ia akan pergi saat Finn pulang nanti. Ia tak ingin pergi tanpa berterima kasih atas semua yang telah Finn lakukan.
“Tuan Finn,” sapa sang resepsionis. Semuanpegawai rumah sakit kini sudah mengenali Finn. Semua proses di rumah sakit pun sudah kembali seperti semula.
“Ya,” Finn bersama sang sekretaris mendekati resepsionis itu, “ada apa?”
“Ada seorang wanita yang menitipkan ini untuk anda, Tuan,” resepsionis itu memberikan sebuah paperbag pada Finn.
Finn melihat ke dalam paperbag tersebut.
Lyn.
“Di mana dia?” tanya Finn.
“Dia sudah pergi, Tuan. Mungkin sekitar 15 menit yang lalu.”
__ADS_1
“Baiklah. Deb, handle semua kerjaanku dulu. Hari ini aku tak akan kembali.”
“Lalu bagaimana meeting dengan Tuan Alan?” tanya Debora.
“Tolong mundurkan saja. Ada hal yang harus kuselesaikan,” jawab Finn.
“T-tapi …” Debora terus berusaha menghalangi Finn agar tak pergi. Ia yakin Finn akan menemui seorang wanita yang tadi membawakannya makan siang.
Finn langsung menuju ke mobilnya dan melajukannya ke apartemen. Ia langsung naik lift dan membuka pintu apartemennya.
“Lyn!”
“Kamu sudah pulang? Ku kira akan pulang malam,” kata Lynelle.
“Mau ke mana kamu?” tanya Finn saat melihat koper di sebelah Lyn.
“Aku mau pamit. Aku sudah terlalu lama menyusahkanmu di sini, kebetulan Paman dan Bibiku memintaku tinggal bersama mereka,” jawab Lyn. Ia tak ingin membebani Finn dengan keberadaannya, apalagi jika Finn ingin berhubungan dengan wanita lain.
“Kamu tak akan ke mana-mana, Lyn. Tempatmu adalah di sini, bersamaku,” kata Finn.
“Jangan mengasihaniku lagi. Aku akan menjadi lemah jika kamu terus seperti itu. Berbahagialah. Jangan menyukaiku hanya karena rasa kasihan.”
“Menurutmu begitu?”
“Ya,” jawab Lyn singkat. Melihat tawa Finn tadi, ia mengambil kesimpulan bahwa Ia tak berhak menghalangi kebahagiaan Pria itu.
“Aku pamit. Kalau nanti aku sudah ada uang, aku akan mengganti semua uang yang kamu keluarkan untukku.”
“Jika kamu keluar selangkah saja dari apartemen ini, aku tak akan mengejarmu, aku juga tak akan menahanmu.”
“Aku tahu. Terima kasih atas semuanya. Berbahagialah. Selamat tinggal,” Lyn mengambil sebuah tas kecil yang ada di samping koper. Ia tak jadi membawa koper itu.
Lynelle melangkahkan kakinya keluar dari apartemen, tanpa menoleh ke belakang lagi. Sementara Finn, ia menahan dirinya untuk tak melangkah. Namun, ia tak bisa. Ia langsung memutar tubuhnya dan mengejar Lyn.
__ADS_1
Saat melihat Lyn masuk ke dalam lift dan pintu tertutup, Finn langsung masuk ke tangga darurat dan turun dari sana. Ia sudah menunggu selama 2 bulan ini, berharap Lynelle bisa luluh dan menyatakan cinta padanya. Tapi wanita itu malah memilih meninggalkannya.
🌹🌹🌹