
“Hei lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku hah?!” teriak Eve saat dirinya di bawa ke kantor polisi. Pihak keamanan managemen hotel juga memberikan bukti penyerangan dari CCTV yang ada di area teras hotel.
“Kami tahu, Nyonya. Anda adalah wanita yang melakukan penyerangan pada Nyonya Alban,” kata seorang staf kepolisian yang berada di balik komputernya.
“Rhys adalah calon suamiku dan wanita itu merebutnya. Apa kamu tidak tahu kalau saat ini aku sedang mengandung anak dari Rhys Alban? Aku bisa menuntutmu karena berbuat seperti ini padaku,” kata Eve tak terima.
Staf polisi itu membetulkan letak kacamatanya kemudian melihat ke arah Eve, “apa anda memiliki bukti atas semua perkataan anda?”
“Bukti?” Eve terdiam dan melihat ke arah lain. Tentu saja ia tak memiliki bukti apa-apa, bahkan justru Rhys yang memiliki bukti bahwa anak yang ia kandung bukanlah milik Rhys.
Melihat Eve diam, membuat staf polisi itu menyunggingkan senyumannya, “tenanglah, Nyonya. Sebentar lagi anda akan kami izinkan untuk menemui Dad asli dari anak anda.”
“Apa maksudmu?” teriak Eve.
Namun pihak polisi tak lagi menjawab pertanyaan Eve. Ia terus saja membuat laporan dengan semua bukti yang ada. Untuk sementara, Eve akan dikenakan pasal wajib lapor. Hal itu karena saat ini Eve sedang hamil dan tak mungkin mereka akan memenjarakannya.
**
Alice sangat senang dengan perhatian yang diberikan oleh Mom Emmy. Ia kini telah 100% memanggilnya Mom. Mereka kini telah bersiap untuk kembali ke Kota Helsinki. Mom Anna pun kini telah mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Helsinki.
Menapakkan kaki di Kota Helsinki, membuat Alice menarik nafas dalam-dalam. Ia merindukan udara Helsinki. Ketiganya berjalan di dalam bandara menuju ke area luar di mana mobil telah menunggu mereka.
Sejak Alice memberinya kesempatan, Rafael tak menyia-nyiakannya. Ia terus berusaha memberinperhatian pada Alice dan juga calon anaknya. Meskipun kadang Alice masih terkesan cuek dan tak mempedulikannya, tapi Rafael terus berusaha meluluhkan hati wanita itu.
__ADS_1
“Mom!” panggil Rafael pada sosok wanita paruh baya yang kini tengah berdiri di dekat sebuah mobil berwarna hitam. Secara khusus ia datang ke bandara untuk menjemput putra sekaligus calon menantunya itu.
Rafael sudah menceritakan semua yang terjadi di Jepang pada Mom Sophia dan apapun yang terjadi, Mom Sophia akan selalu menganggap Alice sebagai menantunya.
“Halo, sayang,” sapa Mom Sophia pada Alice. Mom Sophia juga menyapa Mom Emmy yang adalah Mommy kandung dari Alice.
“Aku tidak dicium, Mom?” Tanya Rafael.
“Bosan,” jawab Mom Sophia sambil mempersilakan Alice dan Mom Emmy untuk masuk ke dalam mobil. Rafael berdecak kesal karenanya, namun karena tak mau kalah, ia langsung memeluk Mom Sophia dan menciumnya bertubi-tubi.
“Lihatlah, Al. Rafael begitu mencintai dan menyayangi Mommynya. Itu salah satu tanda bahwa ia juga akan mencintaimu, Mommy dari anaknya. Jangan mengacuhkannya lagi. Mom bisa melihat dia adalah pria yang baik. Jangan sampai ia lelah dan tak memperjuangkanmu lagi,” bisik Mom Emmy. Ia tak ingin putrinya kehilangan kesempatan untuk bahagia.
“Aku mengerti, Mom,” kata Alice pelan.
**
Celine meringis. Sudah beberapa kali ia merasakan sakit di perutnya. Ia menoleh ke arah jam kecil yang ia letakkan di atas nakas. Ia melakukannya atas anjuran dokter agar ia bisa menghitung setiap berapa lama sekali ia mengalami kontraksi.
Waktu sudah tengah malam dan sakit perutnya semakin sering. Ia bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Celine melihat bahwa ia mengalami flek, darah bercampur dengan lendir. Hal ini membuat ia sedikit takut, sehingga ia langsung keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya. Ia berselancar di dunia maya dan mencari tahu tentang hal itu. Ia bernafas lega setelah mengetahuinya, dan akhirnya ia kembali tidur setelah membersihkannya.
Keesokan paginya, Celine merasa sakit perut yang ia rasakan semakin bertambah. Rhys yang merasakan pergerakan di atas tempat tidurnya, mulai terbangun dan melihat Celine yang gelisah.
__ADS_1
“Ada apa, sayang?” tanya Rhys.
“Perutku sakit sekali, sepertinya aku akan melahirkan,” kata Celine.
Rhys langsung bangkit dari tempat tidur dan mencuci wajahnya. Ia mengganti pakaiannya dan mengambil tas yang telah mereka siapkan jika hal ini terjadi.
“Aku gendong ya,” kata Rhys.
“Jangan, nanti aku jatuh,” kata Celine yang tidak mau digendong. Ia takut jika ia tiba-tiba kontraksi, maka akan mengganggu konsentrasi Rhys dan pegangannya terlepas.
“Baiklah, aku tuntun ya,” Celine mengangguk, kemudian Rhys dan Celine keluar dari kamar tidur dan menuruni tangga.
Suasana masih agak gelap dan Kediaman Keluarga Alban pun masih sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang tengah sibuk di dapur. Rhys memanggil seorang pelayan dan memintanya memanggil supir untuk menyiapkan mobil.
Rhys menemani Celine di kursi belakang. Mereka langsung menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Rhys meminta penanganan terbaik. Ia tak tahan saat melihat Celine yang terus meringis menahan sakit.
“Tuan, anda bisa menemani Nyonya di ruang bersalin,” kata seorang perawat.
Mendapat kesempatan itu, tentu saja tak akan di sia-sia-kan oleh Rhys. Dengan menggunakan pakaian khusus, ia menemani Celine. Beberapa kali ia bertanya pada dokter, namun jawaban dokter selalu belum waktunya.
Celine kembali meringis saat merasakan sakit yang amat sangat, bahkan ia ingin sekali duduk dan menahan sakitnya, namun dilarang oleh seorang perawat karena hal itu justru akan memperlama proses pembukaan.
🌹🌹
__ADS_1